
Keesokan paginya, waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 wib. Flo menggeliat diatas tempat tidurnya, tangan kanannya bergerilya mencari ponsel yang ada di atas nakas.
"Pagi - pagi gini siapa sih yang telpon, heran deh nggak tau kalau gue ngantuk banget apa? Awas aja nih kalau nggak penting..." Gerutu Flo setelah mendapatkan ponsel miliknya, matanya mengerjap saat mendapati siapa yang telah berani mengganggu mimpi indahnya. Judith? 'Mau apa lagi sih dia?'
📞 Iya halo, ada apa, Dith?
📞 Maaf ganggu kamu sepagi ini, aku cuma mau minta waktu kamu sebentar. Besok senin siang sepulang sekolah tolong temui aku di uks. Please...
📞 Mau ngomong tentang apa sih, Dith?
📞 Tentang aku, kamu dan Mecca. Setelah itu aku nggak akan maksa atau ganggu kamu lagi. Sebagai mantan pacar setidaknya kamu juga bisa menghargai waktu yang pernah kita lalui bersama. Kamu mau kan nemuin aku sebentar?
📞 Kalau masalah aku sama kamu, ok lah. Tapi kalau tentang Mecca, aku nggak mau bahas dia lagi, Dith.
Bayangan tentang insiden tempo hari saat Flo menjambak Mecca terlintas sesaat. Terus terang ia sendiri pun kaget bisa melakukan hal itu. Efek emosi yang tidak bisa ditahan lagi, membuatnya bimbang dan malu jika bertemu dengan makhluk bernama Mecca.
📞 Tapi dia mantan te--.....
📞 Mantan teman? Oke, tapi juga harus diingat bahwa dia pernah ada di hidup kamu sama seperti aku. Kami berdua pernah ada di hidup dan hati kamu. Aku tahu kamu sudah cukup dewasa dan bijak. Setidaknya pandanglah dia sebagai sesama manusia. Bisa?
📞 Dith!
Suara Flo memelas.
📞 Flo...
📞 Tapi tolong jangan buang waktu aku buat ngomong tentang dia lama - lama, aku males...
📞 Berarti boleh lama kalau tentang kita? Hahaha.
📞 Diiiiitttthhhhhh....
📞 Iya, iya, makasih ya. See you tomorrow, I'll be waiting...
📞 Ngomong apa sih kamu? Haha, ya udah deh, aku mau mandi dulu.
📞 Iya, sana gih. Pasti kamu baru bangun tidur, tuh ada iler di mulut, ada kotoran di mata, rambut acak - acakan. Hahaha...
📞 Juuudddddddiiiiitttthhh!!
Flo mematikan panggilan yang masih terhubung dengan Judith.
'Sembarangan tuh orang! Masih berani dia ngeledekin gue? Tapi emang bener sih, hehehe. Jadi malu!' Flo berdiri di depan meja rias yang ada di kamarnya, menatap pantulan dirinya yang ada di kaca. Betapa absurd dirinya sekarang. Ia segera berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar dan memulai konser solonya berjam - jam tanpa gangguan siapapun.
***
Flo keluar dari kamarnya, menutup pintu perlahan dan menuruni anak tangga. Ia melihat sekeliling terlihat sepi seperti tak ada satupun manusia selain dirinya.
Langkah Flo terhenti di depan kamar abangnya. Ia mengetuk pintu namun tak mendapat sahutan dari si empunya kamar.
Terbukalah lebar - lebar kamar Gerald saat ini, tidak ada orang di dalam sana. Pintu ditutup kembali. Flo terdiam, ia memikirkan ucapan Judith tadi pagi saat menelponnya. Ia bersandar di dinding samping kamar Gerald. Tak disadari olehnya, sudah ada dua makhluk yang kini intens menatap dirinya.
"Waw, so Sexy..." Ucapan dari mulut lelaki inilah yang membuat lamunan Flo buyar. Kyo.
"Arrggghhh... Dasar cabul!" pekik Flo kencang. Sembari kedua tangan menutupi dada yang terekspose hanya terbalut tangtop putih. Kyo dan Gerald melirik satu sama lain. Sedetik kemudian, mereka berdua tergelak bersama seolah menggema memenuhi semua ruangan yang ada di dalam rumah. Wajah Flo merah padam, bagaimana tidak, pagi itu dirinya sudah mendapat godaan dari kekasih barunya, Kyo. Kyo melihat jelas lekuk tubuh gadis itu yang tertutup tangtop dan hotpant. 'Sumpah, malu pisan euy...'
***
Tok Tok Tok
__ADS_1
Pintu kamar Flo diketuk seseorang, ia melongokkan kepalanya keluar melihat siapa gerangan, ternyata Aiko. Flo membukakan pintu kamarnya dan mempersilakan teman kecilnya masuk.
"Nggak ngedate sama Randy apa?" Tanya Flo pada Aiko yang diketahui saat ini sudah merajut asmara dengan Randy sahabat Kyo.
"Nggak, dia lagi ngantarin Maminya ke rumah Oma."
"Lo nggak diajakin?"
"Lah emang gue siapanya?"
"Pacar kan?"
"Tapi, ortu kita berdua belum pada tahu kalau udah jadian. Bisa - bisa geger dunia khayangan kehilangan bidadarinya yang udah diambil paksa sama Randy!"
"Gue nggak diambil Randy kok, kan gue diambil saudara elo!"
"Kutu kupret, maksudnya tuh gue."
"Hahaha, kirain. Bukannya di khayangan sono, elo jadi nenek sihir?"
"Deuh, mimpi apa gue semalam? Punya sahabat kadang kalem, kadang kurang se ons. Ampuuunnnn...." Aiko berpura - pura mengatupkan kedua tangannya memohon ampun.
"Sembarangan itu mulut kalau ngomong. Huh..." Flo bersungut - sungut sembari mencari celah untuk menggelitik Aiko hingga terjatuh di atas tempat tidur. Mereka tergelak bersama beberapa waktu hingga akhirnya mereka berdua mendengar seseorang sedang memetik gitar dan bersenandung.
" Siapa tuh yang nyanyi?" Tanya Aiko pada Flo yang masih meringkuk nyaman.
"Abang gue kali!" jawab Flo spontan.
"Bukan, ini kayaknya Kyo deh. Suaranya dari samping. Di balkon apa ya?" Aiko menggandeng Flo dan menuju tempat mereka mendengarkan alunan lagu tersebut.
**Harga yang harus kubayar
Hanya untuk sebuah percintaan
Hidupku hancur, hidupku merana
Aku, mati tak mau
Hidup pun tak mampu
Mengapa begini
Aku patah hati
Sakit hati
Sakitnya setengah mati
Aku jadi gila
Karna sebuah cinta
Rasanya hanya ingin mati, saja**...
Lagu dari BRE - Setengah mati, yang kini dinyanyikan Kyo. Kyo? Aiko dan Flo keheranan, bukan lagu cinta yang ia mainkan malahan lagu patah hati yang terdengar.
"Kyo?" Teriak Aiko membuat lelaki itu menghentikan petikan jemari dari gitar miliknya.
"Gue nggak tuli! Ngomong biasa aja, nggak usah pakek nyolot!"
"Hehehe. Gue kan cuma manggil. Nah lo kenapa nyanyi yang sedih, harusnya yang seneng dong!" Jawab Aiko tak mau disalahkan.
__ADS_1
"Tuh, bang Gerald lagi patah hati. Ya gue nyanyiin aja biar terhibur." sahut Kyo enteng.
"Lagu yang lo nyanyiin punya aura membunuh yang kuat buat bang Gerald tahu nggak? Nyanyi tuh lagunya Passenger yang Let her go. Bagus tuh..." Aiko protes.
"Heh anak siamang! Itu lagu sama aja, auranya lebih nyakitin lagi."
"Nah lo juga kan anak siamang! Otak kita sebelas dua belas, alias nggak beda jauh."
"Udah, udah, Upin Ipin, bisa diem nggak! Bukannya bikin gue ketawa malah nambah bikin sesek!" Gerald menengahi perdebatan anak kembar itu, kemudian ikut berkumpul duduk di ruang keluarga. Ia sudah menghabiskan sebatang rokok di balkon depan ruang keluarga yang terpisahkan pintu dan dinding kaca.
"Abang kenapa?" Tanya Flo saat mendekati Gerald.
"Abang putus sama Yola. Pas kapan hari abang nggak bisa jemput kamu. Niatnya ngasih surprise buat Yola, malah keduluan dia yang ngasih kejutan tak terduga buat abang." Jawab Gerald berusaha untuk tenang.
"Kejutan apa, Bang?"
"Dia lagi Kissing sama mantannya di dalam apartemennya. Dan parahnya, kalian tahu nggak abang bilang apa?"
"Apa, Bang?" tanya mereka bertiga bersamaan.
"Sorry, gue langsung masuk, gue cuma mau ngasih kenang - kenangan berupa ucapan, yang nggak akan gue ulang tuk kedua kalinya, selamat tinggal Yola, semoga elo bahagia."
"Gila parah! Bang Gerald keren..." Aiko berdecak kagum, Gerald melongo. Gadis itu mengacungkan kedua ibu jari tangannya pada Gerald.
"Aduh, ini anginnya kok bisa masuk sih! Kelilipan nih abang..." Gerald mengucek kedua matanya berpura - pura sambil tertawa. Tawa yang cukup memilukan karena dibarengi dengan isakan kecil di dalamnya.
"Bang, kalau mau nangis, nangis aja. Peluk Flo, Bang!" Flo mendekati abangnya dan membuka kedua tangannya untuk memeluk Gerald. Gerald menghambur ke dalam pelukan Flo. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di bahu sang adik tercinta.
"Sabar ya, Bang." Ucap Aiko tulus.
"Flo masih nggak nyangka mbak Yola tega seperti itu sama Abang! Padahal menurutku dia perempuan yang baik dan setia."
"Tapi hampir sebulan kami jarang ketemu, Dek. Wajarlah, dia butuh pelarian. Yang bisa ada di sampingnya saat dia butuh, mungkin mantannya lebih luang untuk nemenin dan menyayanginya. Abang mencoba ikhlas, Dek."
"Masih nggak bisa dipercaya aja, Bang. Kayak mimpi kalau mbak Yola bisa kayak gitu?"
"Pernah ditulis oleh Jules Verne, manusia itu tidak ada yang sempurna dan tidak pernah merasa puas. Nah itu yang beneran Abang tangkap dengan kejadian Yola kemarin." Tutur Gerald dengan suara yang memberat.
"Bang, yakinlah bahwa hidup abang lebih berharga dari sebuah tusuk gigi..."
"Maksudnya?"
"Kalau tusuk gigi, dia dipakai sekali kemudian dibuang karena udah nggak ada artinya. Kalau hidup abang itu cuma sekali dan harus dilalui bersama orang yang bener - bener tepat. Suatu saat pasti mbak Yola bakal nyesel kehilangan abang." Ujar Flo mantap dan diangguki Kyo sebagai persetujuan. Kyo dan Aiko diam - diam menahan tawa. Dengan cepat, Kyo menarik Flo dan berlari ke bawah namun sebelumnya ia memberikan wadah tusuk gigi yang ada di meja kaca pada Gerald. Aiko menyusul.
" Kyo, maksudnya apa nih?" Gerald mulai menggerutu.
"Kalau mau nangis, sembunyi disitu aja, Bang. Banyak temennya. Hahaha." Jawab Kyo sembari berlari, kabur dari amukan Gerald.
"Sialan, gue dianggap tusuk gigi sama tuh three minions. Awas ya kalian..." Gerald mulai bisa tersenyum sembari memegang wadah tusuk gigi.
***
Terimakasih yang sudah mampir,
Ikuti kisah Flo dan Kyo...
Jangan lupa like, koment dan vote
Untuk mendukung author amatir ini
🙏🙏🤗🤗
__ADS_1