
Sedikit menceritakan kisah cinta lelaki yang bernama Sebastian Wijaya....
Jika kamu menyukai sesuatu maka berusahalah untuk mendapatkan, jika kamu memiliki sesuatu maka jagalah, karena jika yang kau miliki hilang dari jangkauanmu, disitulah kamu akan kehilangan dan berkorban pun hasilnya akan sia - sia. Belum tentu yang telah hilang akan menjadi milikmu kembali, karena bisa jadi kamu hanyalah perantara agar yang lain dapat memilikinya....
"Ini buku apaan lagi?" Tian tak sadar mengambil salah satu buku, yang berjudul Pejuang Cinta. Ia terperanjat kemudian tersenyum kecut. Cih...
Tian menutup buku yang barusan ia baca. Seorang penulis mengatakan hal demikian. Ia bergidik ngeri, ada perasaan dalam hatinya yang tak tenang. Apakah itu? Niat hati ingin duduk di kursi baca yang ada di perpustakaan malah seketika ia urungkan. Tian bersembunyi di belakang rak buku. Ia mengintip seseorang yang tak jauh dari pandangannya.
"Deuh, jantung gue kenapa sih? Halo Sebastian, lo nggak lagi jealous kan?" Tian bertanya pada dirinya sendiri. Dilihatnya Aurel sedang duduk di samping, ah menyebut nama lelaki lain yang ada di samping Aurel pun ia enggan.
Tian membalikkan badannya. Ia tak mau menatap gadis itu bersama lelaki lain.
" Gue nggak mungkin cemburu! Nggak mungkin banget! Gue lagi demam aja ini pasti!" Tian meyakinkan dirinya sendiri tentang yang ia rasakan.
"Tian!" Panggil Aurel yang tiba - tiba sudah di sampingnya.
"Astaga! Kaget gue. Lo ngapain disini?" Pertanyaan konyol Tian membuat Aurel menatapnya bingung. Gadis itu memperhatikan buku yang sedang dipegang oleh Tian.
"Lo tanya gue? Gue disini mau baca buku, masa iya mau tidur! Oh iya, lo lagi nyari tips buat deketin siapa?" Tanya Aurel yang membuat Tian gugup. 'Gugup? Seorang Tian gugup sampai ngomong pun gagap? Bangun, Yan!'
"Deketin apaan sih? Gagal paham gue!"
"Tuh!" Aurel menunjuk buku yang dipegang Tian dengan jari telunjuknya.
"Oh ini, ini, gue salah ambil buku tadi. Lagi mau gue balikin nih, lihat nih." Tian berakting mengembalikan buku, Aurel pergi meninggalkannya. Sebelum Aurel kembali ke tempat duduknya lagi, Tian menarik tangan Aurel hingga membuat gadis itu terkejut.
"Lo kenapa sih, Yan? Ada apa?"
"Lo nggak usah deket - deket sama dia!"
"Dia, dia, dia punya nama, Yan. Dia kan..."
"Gue nggak peduli dia namanya siapa, mau dia Leonardo decaprio, mau Brad pitt, gue nggak peduli. Dia playboy, Rel."
"Nah, lo punya kaca nggak di rumah? Diri sendiri playboy malah ngatain orang lain playboy? Sadar dong!"
"Gue nggak suka lo deket sama dia!"
__ADS_1
"Lo punya hak apa? Lagipula gue juga bukan milik elo."
"Karena sekarang elo milik gue!" Tian terkejut sendiri dengan ucapannya. Ternyata benar emosi bisa membutakan segalanya. Tidak hanya cinta yang bisa membuat orang buta. 'Ah kepalang tanggung dah!' Umpatnya dalam hati.
"Yan, Sadar, Yan!" Aurel menepuk pipi Tian pelan. "Lo kesambet apaan? Wahai jin yang ada di tubuh Tian, tolong keluarlah, dia itu nyebelin, songong, sok tahu, dan masih banyak lagi jeleknya. Ayo keluar!" Aurel bersikap seperti mbah dukun yang sedang membantu orang kesurupan.
"Rel, segitu jeleknya ya gue di mata lo?" Bisik Tian di telinga Aurel.
Mereka kembali sadar bahwasannya saat ini masih berada di perpustakaan. Hingga ada beberapa siswa yang terlihat kasak kusuk membicarakan mereka berdua.
"Hehehe. Gue lupa kalau masih disini, abis lo juga aneh. Ngomong ngelantur kayak gitu! Makanya sadar dong, Yan. Jangan suka bikin orang baper! Stop godain cewek - cewek, entar lo serius malah dianggap lagi ngeprank. Nyaho lo!" Aurel memberi saran sembari terkekeh geli dengan ucapan konyol dari Tian.
"Demi apapun, Rel. Hari ini gue Sebastian Wijaya serius tentang perasaan......" Belum selesai Tian berbicara, Aurel menariknya keluar dari perpustakaan. Mereka terus berjalan hingga berhenti di dekat gudang penyimpanan alat olahraga yang lengang.
"Lo mau ngomong apa, Yan?" Tanya Aurel penuh selidik.
"Gue, eh itu, gue...."
"Ampun dah, tadi aja ngomongnya lancar banget, sekarang malah gagap. Apaan sih?"
"Gue, gue suka sama lo, Rel!"
"Tatap mata gue, Rel!" Tian memegang kedua bahu Aurel hingga membuat keduanya berhadapan.
"Apa sih?" Aurel masih saja tertawa membuat Tian gemas.
CUP
Aurel terkesiap mendapat ciuman di keningnya. Ia menatap heran pada lelaki yang saat ini tengah menggaruk kepalanya.
"Yan?"
"Iya, gue suka sama elo, Rel. Gue baru sadar." Tian menundukkan kepalanya.
"Bukannya lo suka sama Flo ya? Atau jangan - jangan gue cuma mau dijadiin pelarian karena lo nggak bisa dapatin Flo? Gila lo, Yan!"
"Rel, dengerin penjelasan gue dulu! Terserah lo mau percaya atau nggak. Please..."
"Ya udah, gue kasih waktu lima menit."
__ADS_1
"Apa? Lima menit?"
"Nggak mau ya udah, gue cabut..."
"Ok. Lima menit. Dengerin gue, awalnya gue emang suka sama Flo dari pertama masuk sekolah ini. Tapi dulu banyak yang ngejar - ngejar dia. Gue sadar diri. Sampai dia pacaran sama Judith pun gue masih suka dia. Tapi setelah itu gue bener - bener sadar perasaan yang berawal dari rasa suka itu berubah menjadi kagum. Itu gue sadari pas kemarin kita tahu bahwa Flo pacaran sama Kyo. Dia emang bukan jodoh gue." Tian berhenti sesaat membiarkan oksigen masuk ke dalam rongga pernafasannya.
" Yan... "
" Gue baru sadar ternyata perasaan gue buat elo. Sering berdebat sama lo bikin gue kangen kalau sehari aja nggak ketemu sama elo. Gue jujur, Rel. Gue nggak mau kehilangan orang yang gue sayang. Lo mau nggak jadi pacar gue?"
"Yan!"
"Please, Rel jawab yang bener! Jangan yan - yan terus! Nama gue Tian, Rel."
"Lah, nama gue Aurel bukan rel, rel kereta api apa?" Aurel bersungut - sungut. Tian menahan tawa.
"Kok kita nggak ada romantisnya sama sekali sih? Hahaha." Tian tertawa sembari menatap lekat gadis di hadapannya.
"Kita? Lo kali! Hahaha." Aurel menatap lelaki tampan yang sudah mengutarakan isi hati padanya. Ia tersenyum penuh arti.
"Berarti kita udah jadian ya?"
"Perlu dijawab?" Tanya Aurel yang masih tetap menyunggingkan senyum manisnya.
"Nggak! Gue udah tahu jawabannya. Sekarang lo pacar gue. Eh, salah. Kamu sekarang pacar aku. Hehehe." Tian mulai bucin.
Aurel mengangguk pasti dan itu membuat Tian segera menautkan jemari tangannya dengan jemari lentik milik Aurel. Mereka bergandengan tangan menuju kelas.
Tian mengingat kembali ucapannya pada Kyo.
'Ah, bodo amat dah, traktir ya traktir! Oh my Goodness, sebulan? Semangat, Yan. Lo harus bisa! Uang jajan gue sebulan raib deh ni hawa - hawanya.' Rutuknya dalam hati. 'Semoga Kyo lupa sama janji gue, tolooooongggg! Buat dia amnesia, Ya Tuhan. Sebulan aja lupanya, abis itu kalau bisa tetep lupa! Jangan sampe inget!'
***
Pict *Aurel dan Tian*
***
__ADS_1