
Usai makan - makan bersama dengan modus pajak jadian dari Kyo untuk teman sekelas yang disiapkan secara terpaksa oleh Tian, mereka berdua bersiap - siap pulang ke rumah.
Flo beranjak dari tempat duduknya, hendak menyampirkan tas ransel berwarna abu - abu ke pundak, Kyo tersenyum ke arahnya.
"Kamu kenapa senyam - senyum kayak gitu?" Tanya Flo yang merasa aneh.
Kyo mengelap ujung bibir Flo dengan ibu jarinya, membersihkan sisa selai coklat yang tertempel.
"Makan aja belepotan, gimana nanti mau ngurusin aku, Sayang?"
"Hubungannya apa coba? Nggak sempat ngaca aku, tapi kan udah ada kamu."
"Kenapa sama aku?" Tanya Kyo pura - pura tak mengerti.
"Bukannya kamu selalu perhatiin apapun tentang aku sedetail mungkin, jadi nggak masalah dong. Mau aku kotor, belepotan, acak - acakan, kamu tetap sayang sama aku kan?"Rayuan Flo yang membuat Kyo mengangguk pelan sembari tersenyum.
"Iya dong, aku bahkan rela jadi tangan kamu untuk menyuapimu, menjadi kaki kamu untuk melangkah ke depan, aku bisa buktiin sekarang juga. Apa mau aku gendong sampai parkiran?" Kyo bergantian merayunya.
"Nggak ah, aku bisa jalan sendiri. Ayo pulang..." Flo meninggalkan Kyo yang masih berdiri di posisinya.
"Sayang?" Panggil Kyo pada gadis yang beberapa langkah jauh darinya.
"Apalagi? Malu ah ngegombal disini, nanti aku jadi ketularan kamu. Ngerayu mulu!"
"Sini dong!" Kyo mengulurkan lengannya pada Flo, dan gadis itu paham apa yang diinginkan oleh Kyo. Flo kembali ke posisi Kyo berdiri, ia segera menggelayuti lengan lelakinya.
"Manja!" Seru Flo, Kyo terkekeh.
"Biarin! Manja sama pacar sendiri nggak salah dong!" Sahut Kyo enteng.
"Kyo! Lihat tempat dong!" Tian mengkritik sahabatnya.
"Yan, bilang aja lo iri. Noh, udah ada yang bisa digandeng!" Randy membela Kyo sambil menunjukkan telunjuknya ke arah Aurel.
"Emangnya Aurel mau?" Ledek Kyo.
"Maulah, dia kan pacar aku! Iya kan, Sayang?" Jawab Tian cepat menanggapi ledekan Kyo pada dirinya. Tian beranjak dari bangkunya dan mengulurkan tangan pada Aurel dan disambut baik dari gadis manis itu.
"Lah, gue cabut dah. Lihat kalian berdua kayak gitu, bikin pengen!" Randy melangkahkan kakinya keluar kelas menuju kelas Aiko.
"Deuh, bucin dia!" Ledek Tian pada Randy yang sudah tidak kelihatan batang hidungnya.
"Lo juga sama!" Kyo balas meledek.
__ADS_1
"Gue? Kita kali!" Jawab Tian santai, dengan segera mengajak Aurel keluar dari kelas.
"Iya, iya, udah. Jangan lupa nanti sore kita kumpul jam empat latihan basket. Dah ye, kita balik dulu. Inget, Yan. Anak gadis diantar pulang, jangan diculik! Lo kan kadang suka amnesia kalau udah bawa cewek!" Kyo menceramahi Tian. Aurel melirik tajam pada Tian.
"Kamu kayak gitu, Yan?" Tanya Aurel agak emosi. Melepaskan genggaman Tian secara paksa sepihak.
"Jangan percaya sama Kyo, Sayang! Dia sembarangan ngomong!"
Aurel meninggalkan Tian hingga membuat lelaki itu kelimpungan.
"Mulut lo lemes bener kayak emak - emak lagi ghibah! Itu dulu ya, sekarang udah tobat gue. Insyaf! Belum ada sehari jadian, udah berantem aja! Awas lo ya, untung sohib, kalau nggak?" Tutur Tian tegas pura - pura mengancam. Segera ia mengejar Aurel. "Sayaaaaaangggg.... Tungguuuu....."
Kyo tertawa puas bisa mengerjai Tian, Flo tak segan langsung menyikut lengannya dan memberi beberapa cubitan.
***
Sesampainya di parkiran, Kyo segera menyalakan motor, memberikan helm serta memasangkan di kepala Flo, mengaitkan tali pengikat hingga terdengar bunyi 'klik'.
"Kyo, aku masih ada yang ganjal deh di pikiran. Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Flo ragu - ragu.
"Tanya aja, Yang."
"Tapi jujur ya?"
"Kamu ingat nggak pas tempo hari kakiku terantuk meja di ruang baca rumah kamu?"
"Ingat kok, kenapa tiba- tiba ngomongin itu?" Kyo penasaran, ia mematikan mesin motornya. Melihat jelas sang kekasih hati.
"Kamu sengaja dengerin percakapanku sama Aiko? Tolong dijawab..."
"Flo..."
"Please..."
"Apa itu penting?"
"Ya. Sebenarnya bukan masalah penting atau tidaknya, tapi di hati aku berasa aneh aja. Sekarang dengerin dulu aku ngomong alasanku... (Menarik nafas sebentar lalu menghembuskannya). Pertama, kamu kesal kalau ketemu aku , ketus tiap diajak ngomong. Dua, musik di ponsel kamu nggak ada satupun alias kosong. Tiga, kamu tahu pas kakiku terantuk kaki meja, padahal aku nggak teriak loh! Berarti boleh dong aku menyimpulkan pikiranku kalau..."
Kyo mengulurkan tangannya, menggenggam tangan sang kekasih dan tersenyum manis seraya memberikan penjelasan.
"Ok, Fine. Aku jujur. Iya, kamu nggak salah kok. Aku emang sengaja ada disitu. Dengerin apa yang kalian berdua bicarakan. Pura - pura dengerin musik padahal nggak ada satupun lagu di ponsel. Waktu itu aku pernah bilang kan, mau memastikan perasaanku ke kamu. Aku takut ini hanya sebuah obsesi, tapi ternyata emang beneran perasaanku ke kamu adalah sebuah rasa cinta."
__ADS_1
"Boleh nggak nih aku geer dengernya?" Flo terkekeh pelan. "Aiko tahu?" Lanjutnya.
"Nggak kayaknya, tapi kapan hari itu dia nggak sengaja nemuin foto kamu di kamar aku. Sepertinya dia mulai sadar kalau aku suka sama kamu. Hehehehe. Masih ada yang mau ditanyakan?"
"Aku aneh sama kamu, yang ada ya kalau orang suka sama cewek tuh dideketin kek, ngomong yang enak di dengar, ngasih perhatian lah dan berusaha gimanapun caranya biar bisa deketin itu cewek...."
"Aku mau jadi lain dari yang lain, nggak mau sama. Biar kamu selalu ingat bahwa aku berbeda. Nggak sama kayak pria lain di luar sana yang merebutkan kamu untuk jadi pacarnya."
"Aduh, ternyata itu toh alasan kamu. Pantesan, kadang itu mulut kayak abis makan sambal, pedes mulu kalau ngomong! Berarti, Aiko emang sengaja comblangin kamu sama aku ya? Tuh anak, sinyalnya kuat juga kalau udah ngomongin masalah hati. Hehehe." Flo tertawa puas. Ia menatap Kyo malu - malu, pipinya merona.
"Nggak masuk akal ya caraku ke kamu?"
"Nggak apa - apa. Lucu aja dengernya. Berarti kemarin Aiko emang sengaja nyuruh aku ke kamar kamu biar bisa nemuin foto aku, dengan alasan nyuruh ambil novel di kamar kamu waktu itu. Aiko, aiko." Gumam Flo sembari tersenyum membayangkan wajah Aiko.
"Kamu nggak marah kan?"
"Marah nggak ya?" Diliriknya wajah Kyo yang bingung, Flo kembali tertawa. "Nggaklah, ngapain juga aku marah? Aku senang kok, jadi tahu siapa kamu sebenarnya. Bahkan, Superhero sekalipun juga bisa kalah kalau yang dilawannya menyangkut masalah hati."
"Tapi aku bukan Superhero! Aku hanya seorang lelaki biasa yang jatuh cinta sama perempuan bernama Florence Alesha Permadi." Kyo menatap serius, Flo dibuatnya canggung.
"Kamu nggak lagi ngelamar aku kan?" Tanya Flo sembari menunduk malu.
"Cepat atau lambat aku pasti melamar kamu. Semoga kamu memang jodoh yang diberikan Tuhan buat aku..." Harap lelaki itu.
"Aduh, manis bener. Pantes gula di rumah aku habis, kamu yang ambil ya? Hahaha."
"Ah kamu merusak suasana romantis kita, Yang." Kyo mencebikkan bibir, merajuk.
Flo gemas melihatnya, dicubitnya pipi kanan Kyo.
"Makasih, Sayang. Aku padamu..." Ucap Flo sembari membuat tanda hati dengan kedua tangannya. Membuat lelaki di hadapannya tersipu malu.
***
Terimakasih yang sudah membaca karyaku,
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa 🙏🙏
Dukung karyaku dengan like, koment yang membangun atau saran boleh loh, saya terima dengan senang hati...
Yang punya poin, boleh loh vote disini... 🤗🤗
Yang suka dengan cerita ini, jadikan favorit yaa 🤗🤗🙏🙏
__ADS_1