
"Kamu tahu nggak kenapa aku ketawa?"
Kyo menggelengkan kepala, ia heran.
"Aku ngerasa jadi artis dadakan tahu nggak? Mana pesannya aneh lagi ngegap pasangan selingkuh di counter buku XXX, buwahahahaa..." Flo sampai memegangi perutnya karena tawanya yang begitu lepas. Gadis itu tak pernah merasa selucu ini dalam hidupnya. Kyo makin heran.
Aneh, ini beneran Flo calon bini gue bukan sih? Batin Kyo, ia sampai menggaruk tengkuknya yang tak gatal melihat tingkah Flo. Kyo menatap gadisnya lebih lama, sampai ia tersenyum sendiri.
"Kayaknya ada yang sengaja mau bikin kita berantem deh! Menarik!" gumam Flo seraya menyeringai, baru kali ini gadis itu menampakkan sisi lain dari dirinya.
Flo mengepalkan tangannya, ia bertanya dalam hati sembari mencoba mengingat kejadian sewaktu di counter buku, adakah yang janggal? Kenapa posisi orang yang memotret dirinya tidak begitu jauh? Berarti bisa disimpulkan, foto itu diambil dari jarak dekat. Tapi siapa?
Kyo meraih tangan Flo dan menariknya.
"Kamu kenapa sih, kok malah jadi serius banget suasananya? Kamu juga belum jawab pertanyaanku loh," ucap Kyo.
"Oh iya, aku ngerasa jadi artis dadakan, Yang. Karena lucu aja gitu, bisa - bisanya di toko buku ada paparazzi, aneh kan? Terus dikirim ke kamu lagi! Lucu, aneh bikin geli. Sumpah!" Flo masih saja terkekeh geli membayangkan siapa yang tengah bekerja keras membuat dirinya dan Kyo bertengkar.
"Kok aneh? Kamu nggak lihat aku lagi cemburu? Malah ketawa sampai nangis gini pula!" Kyo mendengus sebal.
"Dan apa kamu percaya kalau aku ada maen sama Judith?" Flo menatap tajam pada lelaki yang duduk berhadapan dengannya.
"Percaya nggak percaya!" ucapan Kyo terdengar ambigu, Flo melepaskan genggaman tangan Kyo.
"Sekarang kamu pikir ulang, kalau kamu percaya sama hasutan si pengirim misterius ini, berarti kamu lebih memilih mengakhiri hubungan kita! Karena sebuah hubungan yang tidak dilandasi kepercayaan akan sia - sia. Jadi keputusan ada di kamu. Yang penting, aku udah jujur."
Glek
Kyo menelan ludahnya kasar mendengar ucapan Flo yang seolah sedang memberikan ancaman atau ultimatum padanya. Ancaman mematikan bersamaan dengan tatapan dingin yang gadis itu berikan membuat nyalinya ciut.
"Aku percaya kok sama kamu. Dan aku seperti ini supaya kamu lebih terbuka sama aku. Dengan siapa kamu saat ini? Lagi apa? Dimana?" Kyo mulai posesif.
"Ok, aku juga salah, nggak ngabarin kamu kalau tadi ketemu Judith. Itu pun nggak disengaja. Kalau aku emang niat mau selingkuh kenapa nggak dari dulu aja? Kenapa harus sekarang? Di saat aku sudah memutuskan menerima kamu sebagai calon suami aku. Aku nggak pernah maen - maen dengan sebuah ikatan pernikahan, karena buat aku, menikah itu sekali seumur hidup dan hanya kematian yang memisahkan. Itu prinsip hidup aku." ucap Flo tegas.
"Beneran?" Kyo menatap penuh harap.
__ADS_1
"Apanya?"
"Ucapan kamu barusan, kamu nggak bohong kan?"
"Kamu udah tahu pasti jawabannya, nggak perlu aku ulang lagi. Aku nggak suka bertele - tele. Dan lagi aku jadi tambah penasaran, apa maksud orang itu dengan ngelakuin permainan yang penuh tantangan seperti ini?"
"Udahlah, Yang. Aku nggak mau respon orang itu, biarin aja, sekuat apapun dia mau ganggu hubungan kita, kalau dari kita berdua bisa saling mengerti pasti dia akan kalah dengan sendirinya. Udah ya, nggak usah diperpanjang. Aku nggak mau kita berantem."
Flo mengangguk mantap dan menunjukkan senyum manisnya.
Tantangan, aku datang!
" Yang, kita acting ya, pura - pura bermesraan biar si paparazzi itu kesel lihatnya! Aku nggak tahu dia menargetkan aku atau kamu. Kayaknya seru deh, biar dia tahu rasa!"
"Sejak kapan kamu jadi kayak gini, Yang? Kamu ketularan Aiko deh, jangan bar - bar! Aku nggak suka! Lagian daripada pura - pura mending beneran aja, aku nggak nolak kok, Yang. Hehehe."
"Huuuu, itu sih maunya kamu! Modus!" ledek Flo.
"Iya modus aku, biar kamu seneng." balas Kyo tak mau kalah.
"Idih, enak aja!" elak Flo.
"Nggak mau! Inget tempat dong, Yang!"
"Kalau di rumah boleh berarti ya?" rengek Kyo.
"No, no, no, inget kata Papa tadi, mulai besok kita di pingit. Nanti sampai rumah, aku mau tidur. CAPEK! Beberapa hari ini kita nggak ketemu dulu ya, dan satu lagi, nggak perlu antar jemput aku juga. Besok aku diantar bang Gerald sampai hari H. Ketemu di sekolah juga nggak boleh saling sapa, biar kangen!" ucap Flo tanpa dosa.
"What????" pekik Kyo terdengar nyaring, beberapa orang mengamati keduanya hingga berkasak kusuk tak jelas. Flo tak ambil pusing.
Flo berinisiatif menggenggam jemari Kyo hingga saling bertaut dengan jemarinya. Kyo terlihat bahagia namun ucapan Flo membuatnya sedikit menahan kesal.
"Lihat kanan kiri kayaknya ada yang perhatiin kita, pura - pura mesra, Yang!" pinta Flo sembari menyunggingkan senyumnya. Kyo menghela nafas kasar.
"Baiklah, baiklah!" jawab Kyo pada akhirnya, ia mengikuti permainan gadisnya.
__ADS_1
Flo dan Kyo asyik bermesraan tanpa tahu di tempat yang tak jauh dari mereka, ada seseorang yang geram menahan emosi melihat kemesraan pasangan kekasih itu.
* * *
Kyo membuka pintu mobil untuk Flo setelah sampai di depan pintu gerbang rumah Flo.
"Ini beneran kalau kita bakal dipingit, Yang? Aku nggak lagi mimpi kan?" tanya Kyo memastikan.
"Heemm," deheman dari Flo sudah bisa menjadi jawaban. Kyo sedikit cemberut, Flo tersenyum melihatnya.
Imut ekspresinya kalau lagi ngambek! Batin Flo.
"Sabar, cuma beberapa hari kok. Nggak nyampe setahun, yang penting kan tiap hari masih bisa ketemu di sekolah. Jangan cemberut ah, cepet tua loh!" ledek Flo.
"Biarin!" Kyo merajuk. Flo terkekeh.
Flo mendekati Kyo hingga jarak keduanya semakin dekat. Dan...
CUP
Flo mencium pipi Kyo. Kyo terkesiap mendapat hadiah dari Flo. Hadiah yang amat ia nantikan. Senyum bahagia kembali terlihat di wajah lelaki itu. Ia berniat membalas ciuman Flo, tiba - tiba....
Ceklek Gregg
Pintu gerbang di dorong dari dalam oleh seseorang, dan ternyata orang itu adalah Papa Radith. Tatapan tajam dari Papa Radith menyurutkan niat Kyo untuk mencium sang kekasih. Raut kecewa jelas terlihat di wajahnya seolah membingkai nyata sedari tadi. Kyo hanya mampu menghela nafas panjang kemudian tersenyum ke calon mertua.
"Ingat, belum halal!" tegur Papa Radith.
Kyo tersenyum kecut, dan Flo segera masuk ke dalam rumah.
Pintu gerbang rumah Flo belum tertutup sempurna, namun kepala seseorang terlihat menyembul dari sana, melihat Kyo sembari tersenyum mengejek.
"Sabar ya, jangan marah!" ledek Papa Radith meniru logat Jarjit di cerita kartun kembar gundul dengan jari telunjuk yang bergoyang ke kiri dan ke kanan.
Setelah itu pintu gerbang sedikit demi sedikit tertutup hingga tak bercelah, Kyo menahan kesal. Seolah kejadian barusan menjadi paripurna dan pelengkap dari semua hal yang menyebalkan pada hari ini.
__ADS_1
Sabar sabar sabar! batin Kyo seraya mengelus dada berkali - kali.
* * *