
"Flo!" panggil Gerald seraya mendekati ketiga orang yang ia kenal.
"Abang, ada apa?" tanya Flo penasaran.
Keanu dan Oma Silvia saling melemparkan lirikan satu sama lain. Gerald tersenyum pada Oma Silvia dan segera menggandeng Flo di depan mereka.
"Maaf saya jadi mengganggu obrolan kalian, soalnya kami buru - buru mau pulang, ada yang harus kami kerjakan di rumah. Terpaksa Flo saya ajak pulang sekalian. Nggak apa - apa kan, Oma? Atau masih ada yang mau dibicarakan? Biar saya tunggu disini aja, " ucap Gerald tergesa - gesa.
"Kalau nak Gerald buru - buru, biar Flo diantar sama Keanu aja!" jawab Oma Silvia sembari tersenyum, manis sekali dan sangat jelas maksud dari ucapannya agar Flo kembali dekat dengan cucunya.
"Oh nggak apa - apa, Oma. Soalnya ini sudah jadi misi saya... Oops.." Gerald keceplosan segera menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Misi?" beo Oma Silvia.
"Maksud saya, Permisi. Ya sudah Oma, kami pulang dulu," pamit Gerald pada Oma Silvia, kemudian menoleh ke arah Keanu yang berhadapan dengan dirinya. "Kita balik dulu ya, Bro."
"Oke, Thanks ya, udah mau nganterin adek lo kesini. Good luck ya buat skripsi lo, kalau udah wisuda jangan lupa undang gue," ucap Keanu sembari menepuk bahu Gerald dan menyalaminya.
"Sama - sama, Bro. Tenang aja, gue nggak lupa sama lo dan juga temen - temen yang lain. Yuk duluan..."
Tatapan Oma Silvia terlihat sendu, seolah belum rela berpisah dengan Flo. Tapi apa daya situasi tidak mendukung pertemuan mereka lebih lama lagi.
* * *
Gerald masih menggandeng tangan adiknya hingga parkiran mobil. Membuka pintu mobil untuk Flo supaya duduk di sampingnya. Takut - takut Flo duduk di belakang dan menganggapnya sebagai sopir pribadi.
Flo memasang seat belt nya, kemudian melihat abangnya duduk di belakang kemudi sambil cengengesan. Flo mulai merasa aneh dengan tingkah laku Gerald.
Ada yang nggak beres nih, apa yang kau sembunyikan dariku Ferguso?
"Abang kenapa?" tanya Flo pada Gerald yang tengah fokus pada ponselnya.
"Kenapa gimana maksudnya?" sahut Gerald tanpa melihat wajah Flo.
"Tadi abang bilang misi itu karena keceplosan kan? Bukan mau bilang permisi, iya kan? Misi apaan?"
"Misi permisi, nggak percaya banget sama abang?" Gerald masih tetap mengelak padahal gerak tubuhnya sudah bisa ditebak, lelaki yang tak pernah berbohong ini mencoba mengelabui sang adik.
"Pinter banget ya sekarang, udah mau bohongin Flo? Kebaca tahu nggak, Bang?"
"Apa iya? Wajar aja sih, muka abang kan muka anak tak berdosa, masih suci dan polos! Hehehe."
"Huwek, tempat sampah mana nih? Mendadak mual lihat abang kayak gitu. Oh mungkin efek ngejomblo kali ya, Bang." Flo terkekeh.
"Nggak lakinya, nggak bininya, sama aja, mulutnya kebanyakan merica, hawanya bikin panas sama nyinyir mulu!" Gerald mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Kok jadi bahas Kyo sih, Bang? Apa jangan - jangan abang tadi disuruh Kyo buat datangi aku ke dalam?" Flo mulai curiga.
"Rahasia dong!"
"Oh gitu, ya udah, mulai sekarang aku aku kamu kamu, Flo nggak mau lagi ngomong sama abang!" ancam Flo pada abangnya dengan mimik wajah serius, Gerald menghela nafas kasar.
"Sebenarnya, ini misi rahasia, nggak sembarang orang boleh tahu. Kalau sekarang abang punya job baru."
"Makin nggak nyambung nih abang gue, otaknya emang kudu dibenerin nih," gumam Flo lirih namun masih bisa di dengar Gerald.
"Abang punya kerjaan freelance, jadi detektif cinta. Hehehe."
"Otak abang emang bukan lagi sedikit parah tapi emang udah parah banget ini, dan siapa juga yang mempekerjakan abang jadi detektif cinta? Pasti sama - sama anehnya. Nggak yang nyuruh sama yang disuruh. Ck, ck, ck," sindir Flo menohok sang abang, Gerald hanya mengedikan bahu.
"Siapa lagi kalau bukan babang Kyo? Apa ada lagi stok manusia langka kayak dia? Disuruh nyari obat sakit perut buat Maminya bukannya ke apotek malah sampai disini, demi siapa coba? Hampir sejauh 10 kilometer dari rumah,"
"Demi siapa, Bang?" tanya Flo polos, Gerald tersenyum remeh.
"Demi kamu lah, abang juga sebenarnya nggak mau, tapi demi kenyamanan bersama abang rela ngelakuin ini."
"So sweet, my brother. Aku terharu," Flo cengengesan meledek Gerald.
"Apaan sih, emang tugas abang adalah menjauhkan semua usaha para pelakor, pebinor atau kerabat yang mau mengganggu hubungan orang."
"Iya, Bang. Flo paham dan nggak kaget juga,"
"Kan abang belajar dari pengalaman masa lalu, Flo bisa mengerti kok, Bang. Sabar ya, Bang."
"Wah, ni anak kebangetan ya, secara nggak langsung ngatain abang belum move on ya?"
"Lah emang iya kan?"
"Heem," Gerald menyudahi perdebatan kecil dengan Flo, kembali fokus untuk mengemudikan mobilnya. Sebelum keluar dari parkiran, pandangannya tertuju pada sseseorang yang membuatnya terpaku.
Dia....
* * *
Lain Flo lain Kyo. Kyo yang sepulang dari apotek membelikan obat sakit perut dan memberikan pada Mami segera masuk ke dalam kamarnya. Membuka galeri ponselnya, menatap lekat potret gadis yang menjadi wallpaper benda berbentuk pipih itu.
"Apa yang kalian bicarakan? Kok aku jadi nggak tenang ya! Ya Tuhan, semoga kecemasanku nggak terjadi. Jangan buat Flo menjauh dari aku, " doa Kyo tanpa mengalihkan pandangan dari potret Flo di ponselnya.
Tok Tok Tok
"Ada orang di dalam nggak?" tanya Aiko dari balik pintu. Kyo meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur. Membukakan pintu untuk saudara kembarnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Kyo yang terlihat suntuk dan mempersilakan Aiko untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Lo kenapa? Jelek banget muka lo, pakek ditekuk segala!"
"Jangan nambahin bete gue deh, lo ada apa kesini? Penting nggak?" Kyo serius kemudian berjalan mendekati tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya. Kedua tangannya menjadi tumpuan untuk kepalanya.
"Ternyata kita senasib, Kyo."
"Senasib apanya?" Kyo terdengar antusias dengan obrolan Aiko, lelaki itu bangun dan duduk bersila seraya menatap jelas kedua manik mata berwarna coklat kehitaman di hadapannya.
"Gue juga dijodohin,"
"Masa?"
"Awalnya gue juga nggak percaya, lo aja yang barusan denger aja nggak percaya apalagi gue? Tapi ini kenyataannya, Kyo. Gue harus gimana?" Aiko panik, matanya mulai berkaca - kaca. Isakan mulai terdengar dari bibir mungilnya.
"Jangan nangis dong, nanti dikira Mami sama Papi, gue yang bikin elo nangis. Terus gimana?"
"Gue pengen Mami sama Papi cabut itu perjodohan, katanya anak tante Aira udah diajak ke Surabaya sama om Justin, tapi beberapa hari yang lalu mereka bisa ketemu lagi sama om justin dan membahas masalah ini. Randy mau ditaruh dimana dong, Kyo? Gue udah beneran sayang sama dia, hiks hiks.. "
"Stop nangisnya, sekarang kita kudu cari cara, tapi kalau menurut gue mending lo temuin dulu aja Om Justin sama anaknya, terus lo bilang aja, lo udah punya pilihan sendiri."
"Andai ngomongnya segampang membalikkan telapak tangan, Kyo. Udah dari kemarin gue temui mereka. Lo nggak inget apa cerita masa lalu Mami sama tante Aira buat nikahin gue sama anaknya?"
"Maaf, gue lupa. Masalah gue aja udah berat apalagi ketambah yang barusan. Auto nggak kuat kapasitas otak gue buat mikirin hal begituan!"
"Lo sih enak, dijodohin sama cewek yang lo suka dari dulu. Nah gue, bentukannya gimana dia saat ini aja gue nggak tahu! Gimana dong ini?" Aiko menggigit bibirnya, kemudian sudut bibirnya menurun. Tertekan batinnya saat ini. Dilema.
"Diem ah lo, berisik banget. Biar gue mikir dulu," pinta Kyo serius dan mulai berpikir.
To be continue...
* * *
Hai para readers, bagi yang sudah membaca karya amatir daku, daku minta dengan sangat,
Bantu
Like 👍👍
Komen
Rate 5 🤭🤭
Vote (suka rela yaa...)
__ADS_1
NO SPAM, PLEASE 🙏🙏🙏🙏
Saling support, matur nuwun sedaya kemawon... 🙏🙏🤗🤗