Jodoh Florence

Jodoh Florence
Menyudahi Hubungan


__ADS_3

Tiin Tiin


Klakson motor Randy terdengar dari luar, Aiko berlari kecil ke arah pintu gerbang namun sebelumnya ia masih sempat untuk menjulurkan lidah pada Kyo.


Aiko membonceng Randy setelah memakai helm. Flo dan Kyo memandangi keduanya hingga tak terlihat lagi.


Kyo mengambil motornya dan segera membonceng Flo.


"Kok aku ngerasa ada hawa aneh ya?" gumam Kyo lirih, Flo penasaran dengan ucapan Kyo.


"Hawa aneh gimana?"


"Aiko aneh!"


"Kamu tuh yang aneh! Udah deh, buruan berangkat sekolah nanti kita bisa telat," ajak Flo.


"Siap, my wife." Kyo menjawab dengan raut wajah semanis mungkin menatap istrinya.


Kyo melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju sekolah tercinta.


* * *


Sepulang sekolah...


Aiko dan Randy duduk berdampingan di bangku taman sekolah. Aiko menunduk, ia bingung harus memulai dari mana.


Randy yang merasa ada gelagat aneh dari Aiko hanya sabar menanti meskipun dalam hati bertanya - tanya.


"Ran..." ucap Aiko ragu.


"Iya..."


"Aku.. Aku..."


"Ada apa?"


"Maaf...."


"Untuk apa? Kamu nggak melakukan kesalahan sama aku, kenapa minta maaf?" Randy cukup bingung dengan ucapan Aiko yang terpotong - potong.


"Maafin aku, aku mau menyudahi hubungan kita..."


"Kenapa? Aku salah apa? Kalau aku ada salah mending kamu ngomong aja, jangan tiba - tiba bilang putus kayak gini!" tanya Randy yang memberondong membuat Aiko bingung menjawabnya.


Terlihat raut muka Randy yang terluka dan kecewa. Aiko makin tak enak hati.


"Aku bingung jelasinnya. Aku dilema, Randy. Dilema sampai aku tuh nggak bisa berkata - kata. Mulut aku kayak kekunci, dan kuncinya hilang nggak tahu dimana. Aku juga nggak mau kita putus, Ran. Aku sayang banget sama kamu...."

__ADS_1


"Kalau sayang kenapa harus putus? Tolong jelasin ke aku, Ai..."


"Aku dijodohin dari bayi sama anak sahabat Mami. Dan sebentar lagi kami akan dipertemukan setelah sekian lama untuk membicarakan masalah pernikahan. Aku bener - bener nggak nyangka dengan semua skenario hidupku, Ran. Jujur aku juga nggak mau pisah sama kamu, tapi satu sisi ini adalah permintaan kedua orang tuaku. Maafin aku, Ran.... "


Aiko menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangisannya cukup memilukan. Randy segera mendekap Aiko ke dalam pelukannya.


"Aiko, jangan nangis lagi. Aku terima semuanya dengan ikhlas jika ini membuat kamu tenang. Tapi jangan pernah memaksa aku buat melupakan kamu. Sejujurnya, aku pengen rebut kamu tapi aku nggak mau nantinya kamu di cap anak durhaka sama orang tuamu. Aku pikir cinta nggak harus memiliki itu cuma isapan jempol belaka atau cerita novel berbau cinta tapi ternyata itu memang ada. Dan aku ngerasain itu sekarang."


"Maafin aku...." ucap Aiko dengan tersedu - sedu.


Aiko mendongakkan kepala memberanikan diri menatap wajah Randy.


"Boleh aku peluk kamu?"


"Silakan, sepuas kamu. Kalau kamu butuh aku, kamu tinggal bilang aja. Pelukan ini, hati ini, cinta ini, cuma buat kamu," jawab Randy tulus.


Randy membentangkan kedua tangannya menerima tubuh Aiko yang menghambur ke dalam pelukannya. Sakit memang! Kecewa apalagi? Syok pastinya! Namun apalah daya, jika itu sudah menjadi suratan takdir.


Aiko menangis tersedu - sedu di pelukan Randy untuk yang terakhir kali dengan status pacar.


* * *


Randy mengantar Aiko pulang ke rumah. Meskipun tidak lagi menjadi pacar dari Aiko, namun ia cukup bahagia karena Aiko masih membolehkan dirinya mengantar gadis itu pulang.


Aiko turun dari motor sesampainya di depan pintu gerbang rumahnya. Entah karena apa, tangan Aiko spontan mengelus bahu Randy.


Randy hanya menjawab ucapan Aiko dengan senyuman yang ia paksakan. Senyum paksa yang mati - matian ia lengkungkan di wajah tampannya.


Aiko masuk ke dalam rumah saat pak Dadang sudah membukakan pintu gerbang untuknya.


Randy melajukan motornya dengan kecepatan super lambat bahkan mungkin dengan orang yang sedang berjalan mereka bisa saja bersisian.


Jangan tanyakan perasaan Randy saat ini. Hancur pastinya, sakit yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi dalam hidupnya.


Sekali lagi Randy merasakan kehilangan, kehilangan orang yang ia sayang dalam hidupnya. Tanpa terasa kedua manik matanya berkaca - kaca.


* * *


Sebenarnya Aiko ingin sekali menanyakan siapa gadis yang kemarin dipeluk oleh Randy. Tapi ia tak mau menambah daftar panjang pertanyaan yang membuatnya semakin berat melepaskan Randy. Mungkin dengan diam semua akan terjawab suatu saat nanti. Atau bisa jadi, gadis tersebut adalah pengganti dirinya.


Randy, semoga kamu bahagia, meskipun nggak sama aku lagi...


Aiko menatap wallpaper ponselnya, terdapat gambar dirinya dengan Randy yang tengah tertawa. Tawa yang pastinya akan ia rindukan.


Gadis itu mengingat kembali awal pertemuan dengan Randy, hingga berpacaran bahkan sampai berpisah. Semua itu menjadi kolase yang indah dalam bayangannya. Senyum Randy yang menyejukkan hatinya, lelaki yang mampu bersabar dengan sikapnya yang jauh dari kata elegan, bahkan bisa dibilang bar - bar.


Randy, aku sayang sama kamu. Sayangku ke kamu nggak akan pernah bisa dilupakan, aku juga sakit Ran... Sakit....

__ADS_1


Aiko menangis histeris di dalam kamarnya, tanpa ia tahu bahwa seseorang mendengar tangisannya.


Mami mendengar tangis Aiko hanya bisa menahan sesak di dada. Ia tahu putrinya pasti akan berat menjalani ini semua.


Maafin Mami, Aiko....


* * *


Flo masuk ke dalam rumahnya diikuti Kyo di belakangnya. Gadis itu merindukan suasana kamarnya sendiri yang lebih terkesan feminim dan nampak sejuk.


Flo merebahkan tubuhnya yang lelah di tempat tidur. Kyo menatap istrinya dengan senyum membingkai jelas di wajahnya. Terbersit pikiran nakal untuk mengajak sang istri melakukan ritual seperti semalam. Melihat posisi Flo yang terlentang, membuatnya semakin bersemangat.


Namun keinginan hanya tinggal keinginan tidak berakhir menjadi kenyataan. Karena Flo menyadari seringai mesum Kyo dengan cepat.


"Kamu mau ngapain?" tanya Flo saat Kyo sudah berada di atasnya, hendak menindih dirinya.


"Mau olahraga," jawab Kyo cepat.


"Nggak bisa!"


"Dosa loh, nolak keinginan suami. Kita kan pengantin yang lagi anget - angetnya, Yang..." ucap Kyo manja sembari tangannya bermain - main di atas perut istrinya. Mengingat Flo masih berada dalam kungkungannya, membuat Kyo tersenyum penuh arti.


"Lagi ada tamu,"


"Biarin, kan ada bang Gerald, biar dia yang nemuin tamunya." jawab Kyo yang masih belum paham maksud ucapan Flo.


"Aku yang lagi ada tamu, tamu bulanan, namanya haid. Paham?"


"Apa?" seru Kyo sedikit terkejut, bagaimana bisa tamu itu datang di waktu yang tidak tepat seperti saat ini? Padahal semalam, ah...


"Udah paham kan?" tanya Flo sembari terkekeh geli melihat ekspresi suaminya yang sedang manyun.


"Kenapa harus sekarang sih? Nggak asik ah, terus ini gimana?" tanya Kyo sembari menunjuk dengan jari telunjuknya pada alat tempur yang sudah menegang bersiap memasuki istana Flo.


Flo tersenyum dan menunjukkan arah kamar mandi pada Kyo. Kyo paham namun ia masih mencoba cara lain.


"Kamu nggak pengen sing a song, Yang?" rayu Kyo dengan penuh maksud.


"Nggak mau, nanti aku bisa muntah, ke kamar mandi gih, sekalian mandi," jawab Flo santai karena paham arti sebenarnya kata - kata Kyo. Nggak jauh - jauh dari menyenangkan suami lah.


Mau tak mau Kyo menarik tangan istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Entah apa yang akan dilakukannya pada Flo, yang pastinya tidak mungkin bercinta. Bisa jadi hanya menemani, atau ah entahlah.... Hanya mereka berdua yang tahu.


* * *


**Jangan lupa like, koment dan vote yaaa,


Dukung karya author ini yaaa supaya lebih Semangat lagi... Ahaay..

__ADS_1


🙌🙌🙏🙏🙌🙌**


__ADS_2