Jodoh Florence

Jodoh Florence
Pacar vs Calon Suami


__ADS_3

Kyo dan Flo beradu pandang, mereka berdua kompak memikirkan nasib Randy pasca diputuskan oleh Aiko. Lelaki yang dilihatnya kali ini terlihat lusuh, tak cocok sekali dengan wajah tampan yang ia miliki.


Randy memejamkan kedua matanya usai menghabiskan sebatang rokok terakhir, ia sudah menandaskan satu bungkus rokok dalam waktu kurang lebih enam jam. Hebat untuk ukuran seorang lelaki bernama Randy yang notabene bukan perokok aktif.


Yang pasti bukan berdecak kagum karena tingkah polah Randy, Kyo kali ini benar - benar ingin mengumpat kesal. Bagaimana bisa Randy jadi seperti cerobong asap begini? Gila! Rekor atau pencapaian tergila yang pernah dicetak Randy.


"Lo nggak sayang nyawa? Bukannya cari cara yang bikin lo tenang malah nyari masalah baru, cari penyakit tahu nggak! Emang kalau lo sakit karena ini, Aiko bakal mau balik sama elo? Ayo, Ran! Gue tahu lo orang yang kuat. Semua pasti ada hikmahnya, gue juga sedih kalian putus. Tapi mau gimana lagi kalau takdir nggak bisa menyatukan kalian berdua?" ucap Kyo berusaha menasehati dan menyadarkan Randy.


Randy masih tak menjawab, sepatah katapun tak keluar dari bibirnya. Bahkan Kyo curiga, jangan - jangan dia ngomong panjang lebar seperti itu malah ditinggal tidur oleh Randy. Namun setelah diperhatikan lebih dekat, kecurigaannya tak terbukti, Randy membuka matanya yang tadi sempat ia pejamkan beberapa saat. Pandangan Randy fokus ke langit - langit atap teras rumah.


"Ran..." panggil Flo.


Randy menatap ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Spontan Randy duduk. Kyo dan Tian saling melirik. Dari tadi mereka menasehati, memanggil nama Randy tak ada sahutan, giliran yang memanggil Randy adalah Flo, dengan cepat lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah gadis tersebut.


"Udah malam, Aiko, kok kamu ada disini?" tanya Randy dengan kesadaran yang dipertanyakan. Randy merapikan rambutnya yang berantakan dan menatap ke arah Flo yang ia sangka Aiko.



Tian berbisik di telinga Kyo.


"Jangan - jangan temen kita satu ini bukan cuma hati doang yang sakit, tapi mata dan otaknya juga kena? Masa bini lo disangka Aiko? Wah lama - lama nih anak jadi sedeng!"


Bisik Tian sambil bergidik ngeri membuat bulu kuduknya merinding.


"Lo jangan bikin gue khawatir dong, masa iya efek diputusin bisa sampai kayak gitu?" jawab Kyo bingung sekaligus gelisah.


Kyo mendekati pemuda itu dan menangkup kedua bahu Randy hingga kini fokus melihat Kyo.


"Bilang sama gue kalau lo masih Randy yang gue kenal! Dia bini gue namanya Florence, bukan Aiko! Buka mata lo baik - baik, Ran!" seru Kyo.

__ADS_1


Tatapan Randy nanar, kembali ia melihat Flo yang sempat ia sangka Aiko. Berulang kali ia mengerjapkan mata untuk memastikan bahwa yang ia lihat memang Aiko. Kesadarannya kembali pulih. Dan ternyata gadis ayu yang kini tersenyum manis ke arahnya adalah Flo. Betapa malunya ia kali ini karena bisa - bisanya ia salah menyebut nama seseorang.


"Maaf..." ucap Randy saat itu juga, segera ia beranjak dari kursi yang ia duduki. Dengan cepat Randy menyampirkan tas ransel ke bahu kanannya.


"Lo mau kemana?" tanya Tian penasaran.


"Gue balik dulu!" jawab Randy lesu.


"Jangan!" pekik Tian lagi.


"Kenapa?" tanya Randy seraya memutar mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.


"Sekarang gue minta lo tidur aja di rumah gue! Ini perintah! Kalau lo emang nganggap gue sahabat sekaligus saudara lo!" ucap Tian tak main - main.


Mau tak mau Randy mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah setelah mendengar ancaman dari Tian.


"Oke, gue tinggal tidur dulu, kepala gue pusing," pamit Randy pada sekelompok manusia yang masih berada di teras rumah. Randy masuk ke dalam rumah Tian dan segera mencari kamar Tian untuk ia gunakan merebahkan tubuhnya yang lelah.


"Gue jadi nggak enak sama Randy, Yan!" ucap Kyo serius. Flo memilih menjadi pendengar setia dan duduk di samping suaminya.


"Sama, baru kali ini dia beneran suka sama cewek eh abis itu diputusin. Tapi gue nggak nyangka sampai segitu parahnya dia frustasi!" Tian tak sadar saat ia berbicara berulang kali menggelengkan kepalanya.


"Lo mau gue ingetin apa udah inget sendiri? Kejadian lo dulu malah lebih tragis kan?" seru Kyo mengingatkan kembali kenangan buruk Tian sewaktu diputuskan oleh Lovina.


"Iya, iya, gue inget. Hampir sebulan gue pemulihannya, bukan cuma pemulihan hati, tapi badan juga. Makanya Randy gue suruh tidur disini, gue takut kalau dia tetep memaksakan pulang bakal ada kejadian yang nggak - nggak. Gue nggak mau itu terjadi sam Randy. Cukup gue aja!" ujar Tian tulus.


"Gue juga sependapat. Gue juga tahu, Aiko pasti sebenarnya nggak menginginkan ini terjadi. Gue lihat mereka saling cinta, bukan perasaan main - main. Tapi apa mau dikata, kalau yang namanya pacar bahkan kalah dengan status calon suami. Aiko udah dijodohkan sama anak sahabat nyokap." terang Kyo.


"Heemm, oh iya Flo, lo mau minum apa?" Tian menganggukkan kepala menanggapi ucapan Kyo, kemudian fokusnya teralih pada Flo.

__ADS_1


"Air putih aja," jawab Flo.


"Aduh, jauh - jauh cuma mau minum air putih! Gue buatin teh panas aja ya, biar badannya nggak kedinginan. Secara ini udah setengah sembilan. Maklum kita nggak pakai jasa asisten rumah tangga. Tenang aja, teh bikinan aku pasti enak kok." ucap Tian bangga, ia segera berlalu masuk ke dalam rumah.


"Songong banget itu bocah, kalau gitu mending nggak usah nawarin. Tinggal bikin aja, ntar juga tandas dari cangkirnya." Kyo menimpali ucapan Tian.


"Kamu apaan sih?"


"Nggak suka aja sama basa - basinya Tian, itu anak kalau ada cewek bening pasti kayak gitu. Heran aku, kalau ngomong sama cewek mulutnya manis bener. Giliran ngomong sama cowok kadang nggak terkontrol mulutnya," ucap Kyo jengah. Flo tersenyum manis.


"Jangan bilang kamu cemburu sama perhatian Tian ke aku," tebak Flo.


"Cemburu sama istri nggak salah dong, bagaimana pun juga dia kan dulu juga pernah suka sama kamu. Wajar dong aku nggak suka kamu diperhatiin cowok lain, secara aku kan suami kamu," rajuk Kyo, kali ini membuat Flo jengah.


"Suka - suka kamu aja lah, emang susah menghadapi suami posesif kayak kamu," ucap Flo santai.


Tak berselang lama, Tian keluar membawa nampan berisi tiga gelas teh panas dan sepiring kue buatan ibunya.


"Nyokap lo kemana? Tumben rumah sepi bener," tanya Kyo.


"Lagi ke rumah nenek, sama bokap dan mbak Tisya juga. Gue kan anak paling ganteng di rumah ini. Kalau mbak Tina emang belum balik dari kerjaan, maklum wanita karir," jelas Tian, anak bungsu dari tiga bersaudara yang songong sedari lahir ini menjelaskan satu per satu.


Kyo melihat sekeliling yang memang suasananya cukup sepi, saat itu juga ia menemukan ide.


"Gue punya ide, biar Randy bisa bangkit dari keterpurukannya. Lo setuju nggak?" tanya Kyo pada Tian.


"Ide apa dulu nih? Mau ngenalin Randy ke cewek?" tebak Tian yang seketika mendapat toyoran di kepalanya.


"Dasar pikiran lo, abis putus langsung nyari cewek aja! Nggak lah, gue pengen dia bisa perlahan melupakan rasa sakitnya, yaitu dengan...."

__ADS_1


Tian penasaran dengan ucapan Kyo tanpa sadar mulutnya melongo saking rasa ingin tahunya yang besar.


* * *


__ADS_2