Jodoh Florence

Jodoh Florence
Welcome to the world


__ADS_3

Lanjuuuttt lagi kakak


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote yaa.. 🙏🙏🤭🤭


_________________________________________


Hari ini genap sudah 40 minggu usia kehamilan Flo. Minggu lalu ia merasakan kontraksi palsu, sedikit hilang sedikit datang. Namun kali ini rasanya berbeda. Kontraksi yang ia rasakan semakin sering.


Flo berteriak memanggil nama suaminya. Kyo datang terburu - buru hendak menunaikan shalat ashar, ia sudah berwudhu dan mendekati sang istri dengan tatapan bingung.


"Ada apa, Sayang?" tanya Kyo khawatir melihat sang istri yang wajahnya pucat dan berkeringat. Kyo mengambil selembar tisu dan mengusap lembut wajah Flo.


"Sakitnya makin sering. Sakit, Yang…." keluh Flo, ia merintih kesakitan. Kyo mengajaknya duduk di tepi tempat tidur.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang aja!" ajak Kyo.


"Tunggu, Yang. Kok berhenti lagi sakitnya, udah kamu sekarang shalat dulu supaya kita lebih tenang. Aku ke kamar mandi dulu, mau pipis," tolak Flo secara halus lalu menyuruh Kyo menjalankan sembahyang terlebih dahulu. Kyo menurut.


Flo berjalan perlahan dan hati - hati menuju kamar mandi. Usai menuntaskan hajatnya, ia mendapati kain segitiga miliknya memperlihatkan sesuatu. Sedikit panik ia rasakan.


Lendir bercampur darah terpampang nyata disana. Ia keluar dari kamar mandi sambil mengelus perutnya yang terus bergerak aktif. Nampaknya baby boy di dalam perutnya meronta ingin segera keluar. Flo menahan rasa sakitnya lalu mendekati Kyo yang telah selesai menjalankan shalat.


"Yang, makin sering kontraksinya terus ada darah campur lendir di itunya aku," jelas Flo sambil menunjuk tubuh bagian bawah dengan matanya. Kyo paham lalu menghubungi Mama Cilla dan Mami Conchita.


Setelah menghubungi dua wanita paruh baya yang berharga dalam hidupnya, lelaki itu segera mengajak sang istri menuju mobil. Mobil yang dihadiahkan dari Papi Yuta dan sebagai sarana transportasi karena kehamilan Flo yang semakin besar. Kini pasangan suami istri itu sudah bersiap menuju rumah sakit yang menangani dari awal kehamilan Flo.


* * *


Flo diharuskan berjalan - jalan di dalam salah satu ruangan menunggu pembukaan lengkap. Sejam yang lalu, dokter yang memeriksanya memberitahukan padanya baru pembukaan tiga. Kontraksi yang ia rasakan semakin sering, Flo tetap berjuang demi sang bayi. Ia tak boleh stres atau mengeluh. Kyo merasa kasihan melihat Flo yang kesakitan. Tampak bulir - bulir keringat membasahi pelipis Flo, dengan penuh kasih Kyo menyekanya.


"Aw, aw, aw…" Flo kembali meringis kesakitan. Kyo keluar memanggil dokter, dan bertepatan dengan datangnya Mama Cilla beserta Mami Conchita.


Tak menunggu lama, dr. Merta yang menangani Flo datang dan memeriksanya.


"Sabar, Mas. Baru pembukaan tujuh." jelas dr. Merta.


"Apa, Dok? Gimana saya bisa sabar, saya kasihan sama istri saya. Kalau bisa ditukar, lebih baik saya saja yang merasakan sakit. Atau kalau ada alternatif lain dari dokter, saya mau. Lakukan apapun dok untuk menghentikan sakitnya." pinta Kyo memelas.


"Kemungkinan bisa memakai opsi operasi caesar, induksi, vacuum? Bagaimana? Tapi setelah diperiksa, pasien bisa melakukan persalinan secara normal karena posisi bayi sudah bagus dan tinggal menunggu pembukaan sempurna,"


"Pembukaan sempurna? Maksudnya?"


"Pembukaan sepuluh,"

__ADS_1


"Sepuluh?" Kyo memutar bola matanya, ia bingung mencerna ucapan sang dokter.


"Sepuluh centimeter, sebesar ini," jelas dr. Merta sembari tersenyum.


"Hah? Bisa kembali normal lagi kan dok?" pertanyaan polos keluar dari mulut Kyo.


Pletak


Efek malu dan bingung dengan tingkah putranya, Mami Conchita menyentil kening Kyo.


"Mami malu punya anak kayak kamu! Bukan waktunya permasalahin ini, Kyo! Kan nanti diperbaiki lagi jalan lahirnya! Haduh, pusing kepalaku!" celetuk Mami Conchita, Mama Cilla tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Udah, kamu keluar dulu sana! Makin lama disini yang ditanyain malah yang nggak - nggak!" usir Mami Conchita. Kyo mengerucutkan bibirnya kemudian keluar dari ruangan menunggu dipanggil oleh sang istri jika dibutuhkan.


"Dok, jika bisa normal, saya mau melahirkan secara normal saja. Sakit ini biar saya rasakan dan nikmati, karena ini momen pertama kali dalam hidup saya. Saya akan berusaha dan bertahan, Dok," Flo memutuskan keinginannya.


Dr. Merta mengangguk lalu keluar dan menyuruh Flo berjalan lagi di dalam ruangan hingga pembukaan selanjutnya.


* * *


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, pembukaan baru sampai sembilan. Flo datang ke rumah sakit dari jam empat sore dan kurang lebih tujuh jam ia merasakan kontraksi yang semakin sering. Kyo menghubungi Tian dan Randy agar menemaninya disana.


Tak lama kemudian duo somplak datang dan menemani calon bapak yang tengah kalang kabut. Kyo berjalan mondar - mandir sambil berkacak pinggang di depan ruangan Flo dirawat.


"Lo bisa duduk dulu nggak sih? Kayak setrikaan aja lo!" celetuk Tian sambil bersedekap.


"Kalian pada nggak tahu gimana perasaan gue sih? Gue tuh kepikiran terus sama bini dan calon anak gue. Kalian belum ngerasain sih!" seru Kyo.


"Mohon maaf mungkin anda khilaf, kan gue juga bakal calon bapak, Bro. Malah calon anak gue dua loh!" Tian menimpali.


Kyo menoleh ke arah Tian.


"Oh, iya. Gue lupa. Terus gue harus gimana?" tanya Kyo sekali lagi meminta pendapat dua sahabatnya.


"Berdoa dan temenin bini lo sana!" titah Tian.


"Lah gue ada di depan juga gara - gara diusir sama nyokap gue! Masa iya gue masuk lagi! Bisa - bisa gue disembur!" elak Kyo.


"Ya udah gue yang masuk!" ucap Tian asal.


"Eittss, ngapain lo! Dia bini gue! Minggir lo!" usir Kyo yang menghadang Tian untuk masuk ke dalam.


Tian terkekeh saat Kyo sudah berada di dalam.

__ADS_1


"Iseng banget sih lo!" ledek Randy.


"Lah seneng aja godain tuh anak, salah siapa bikin bininya hamil! Giliran mau lahiran dia kayak gitu! Hadeh, ck, ck, ck," jawab Tian santai sambil tersenyum. Randy hanya geleng - geleng kepala menanggapi ucapan Tian.


* * *


Di ruangan bersalin..


"Ayo bu, tarik nafas dalam - dalam dan hembuskan. Semangat, Bu..." titah dr. Merta yang membantu jalannya persalinan.


"Dok, nggak kuat, aw, aw... Aargghhh...." Flo kelelahan dan berkeringat menahan rasa sakit seolah nyawanya akan tercabut dari raga.


"Ayo, Sayang.. Kamu kuat, buat anak kita," pinta Kyo menguatkan sang istri, padahal lelaki itu juga sekuat tenaga menahan sakit akibat dijambak, dipukuli dan dicubit Flo. Lukisan dari tangan Flo terlihat nyata pada tangan, lengan, dan rambut Kyo. Kyo ikhlas diperlakukan seperti itu demi wanita yang dicintainya yang sedang bertaruh jiwa dan raga.


"Bu, rambutnya sudah kelihatan. Ayo mengejan lagi, pelan - pelan Bu..." titah dr. Merta dan Flo mengikuti instruksi dengan sekuat tenaga.


"Ooeekkkk... Ooeekkk..." tangis bayi memecah kesunyian dini hari itu.


Tepat pukul 00.35 wib, jabang bayi yang lucu telah lahir dan memberi warna baru bagi pasangan suami istri muda itu. Suasana semakin haru.


Kyo bersujud di lantai, mengucapkan rasa syukur atas kelahiran bayi tercinta pada Tuhan. Bayi berjenis kelamin laki - laki dengan berat 3300 gram dan panjang 50 cm. Lahir secara normal dan tak kurang suatu apapun. Kyo mengecup kening Flo dalam dan lama, lelaki itu berulang kali mengucapkan terima kasih pada Flo yang telah memberinya bayi lucu untuknya. Lebih tepatnya untuk keduanya.


Tak lama kemudian perawat datang memberikan bayi tampan itu pada Flo untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) supaya tercipta hubungan yang kuat antara ibu dan bayi.


"Welcome to the world, anggota baru. Papa sayang kamu, nak...." ucap Kyo saat melihat sang bayi tengah dipotong tali pusarnya dan dibersihkan tubuhnya dari lemak juga darah yang masih menempel.


* * *


Usai keluar dari ruang bersalin, Flo dan bayinya telah kembali ke ruang perawatan. Dan disana sudah datang kedua orang tua masing - masing ditambah Gerald dan Aiko. Tian dan Randy menunggu di luar.


Kini bayi tampan itu telah beralih ke tangan sang ayah, Kyo dengan lembut mengadzani buah hatinya. Dan tampak sang bayi mendengar lantunan seruan Allah di telinganya, ia terdiam hingga Kyo berhenti dan menatap lekat bayi kecilnya.


"Mau dikasih nama siapa, Kyo? Bayinya lucu sekali, mirip banget sama kamu pas masih bayi. Aduh kayak lihat kembaran kamu loh!" tanya Mami Conchita dan diangguki Papi Yuta usai Kyo mengadzani sang putra.


"Namanya Kei Ichiro Kashiwabara," ucap Kyo.


"Lah kok ora ono unsur jowone kuwi jeneng anakmu?" tanya Mami mempemasalahkan nama cucu perdana.


(Artinya : Lah kok nggak ada unsur jawa dalam nama anak kamu?)


"Namaku juga nggak ada, Mi. Hayooo.." kilah Kyo sembari mengulas senyum tipis.


Mami Conchita hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, arti namanya apa?" tanya Mama Cilla.


"Putra pertama yang diberkati, beruntung dan luar biasa," jelas Kyo. Akhirnya semua anggota keluarga menyetujui nama bayi tampan tersebut dan memanggilnya Baby Kei.


__ADS_2