
Flo dan Aiko berjalan berdua menyusuri setiap tempat yang ditawarkan di resort tersebut. Mereka memanjakan mata di gazebo samping kolam renang yang disana banyak lelaki dan perempuan yang tengah asyik bermain air.
Kedua gadis namun berbeda status itu kini tengah menikmati jus jeruk dan salad buah yang sudah dipesan Aiko sebelumnya.
Pandangan Flo fokus pada minuman yang telah ia sesap, sambil memainkan sendok yang bertengger di dalamnya, mengaduk - aduk memutari air yang menggenang di dalamnya namun pikirannya melanglang buana entah kemana.
Aiko menepuk punggung tangan Flo, menyadarkannya dari lamunan sesaat. Flo sedikit terkesiap dan melayangkan senyum di kedua sudut bibirnya pada Aiko.
"Lo kenapa? Dari tadi gue perhatiin lo diem mulu!" tanya Aiko pada akhirnya sembari menyeruput minumannya.
Flo menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaannya.
"Sini pinjem hape lo," pinta Aiko.
"Buat apa? Noh," tanya Flo tapi tetap menunjukkan letak ponselnya di atas meja dengan lirikan matanya.
"Nanya mbah gugel map, destinasi terdekat yang menawarkan gua di dalamnya?"
"Lo mau semedi?"
"Nggak salah nanya tuh? Harusnya pertanyaan itu buat lo! Lo minta gue ngajak jalan - jalan dan malah berakhir lihat pemandangan punggung disini sambil diem. Lama - lama gue kesel deh,"
"Kok gitu?"
"Ya iyalah, lo cemburu kan?" tebak Aiko.
"Iya,"
" Ah, nggak asik loh langsung nebak gitu aja! Nggak seru ih!"
"Lah gue jujur kok malah dibilang nggak seru!"
"Aduh, aduh, sejak kapan lo jadi sebucin ini?"
"Bucin sama laki sendiri kan nggak salah," elak Flo.
"Kalau lo cemburu kenapa ditahan? Kenapa lo ngijinin laki lo berduaan sama itu cewek? Kesel deh, gue lihat lo diem kayak gitu! Jujur tapi nahan, sakiiiittt!" ledek Aiko seraya menunjukkan jari telunjuk ke dadanya.
"Nah mending gue jujur, daripada diem - diem aja nggak ngomong terus terang sama pasangan! Gue nahan kan ada alasannya." bantah Flo lagi.
"Lah gue juga! Kan gue pernah bilang waktunya belum tepat!"
__ADS_1
"Lo mau dia tahu dari orang lain atau dari lo?"
"Udah ah, sekarang lo jadi pinter debat sama kayak laki lo. Untuk kali ini gue ngalah aja deh. Eh btw, gimana rasanya malam pertama?" goda Aiko seraya tersenyum jahil.
"Apaan sih, malah ganti topik beginian! Malu ah gue," jawab Flo gengsi.
"Deuh, malu! Buwahahhaha, nah gitu dong gue seneng deh lo akhirnya asik diajak ngomong juga."
"Lo juga pakai nanya yang vulgar begitu ke gue! Apa iya gue proklamirkan ke orang kalau gue udah nggak virgin?"
"Hehehe, kan biar gue bisa siap - siap..."
"Siap - siap buat apa?" tanya Randy yang tiba - tiba sudah bergabung bersama Tian cs. Aurel segera menyeruput jus milik Flo sesaat setelah mendaratkan pantatnya di kursi samping Flo.
"Eh, maen seruput aja!" pekik Aiko.
"Biarin, wekkk! Orang yang punya nggak sewot, iya kan Flo?" Aurel menjulurkan lidahnya pada Aiko dan berganti menatap wajah Flo yang sedikit lesu.
Flo mengangguk mantap dan tersenyum tulus pada kekasih Tian. Aurel membalas senyuman Flo namun ada yang lain yang menarik perhatiannya karena tak ada Kyo di samping Flo.
"Kyo kemana?" tanya Aurel penasaran.
"Nggak usah dikasih jatah aja tuh anak, Flo!" seru Tian dengan santai.
"Jatah apaan? Uang jajan?" Aurel bingung.
"Aduh ini anak, otaknya rada lemot!" ejek Lily sembari menyenggol Dinda.
"Masa gitu aja nggak paham, Rel! Apalagi mereka berdua semalam kayaknya abis belah duren loh! Jangan - jangan istilah ini lo juga nggak tahu?" gantian Dinda yang tersenyum mengejek kepolosan Aurel.
"Wah tega, masa belah duren nggak ngajakin kita?" Aurel menimpali ucapan Dinda dengan serius.
"Astaga! Lo minta sama Tian sono!" Aiko menepuk keningnya.
"Iya, Sayang. Ayo ajak aku belah duren!" ucap Aurel dengan mimik wajah serius membuat Tian malu bukan kepalang.
"Nggak sia - sia loh, Yan. Praktekkin sono dari majalah cap kelinci yang lo punya! Punya cewek kelewat polos apa stupid sih?" Lily menimpali lagi.
Tian yang dulu pernah memiliki majalah dewasa bersampul cap kelinci hanya bisa cengengesan menahan malu.
"Loh kan gue ngajak belah duren kenapa harus pakai majalah cap kelinci? Tambah bingung gue! Itu majalah apaan?" Aurel masih belum paham, membuat para sahabatnya geleng - geleng kepala.
__ADS_1
"Kembali ke topik awal, siap buat apa, Beb?" tanya Randy menengahi perdebatan para wanita.
"Aiko minta dinikahin, Ran!" giliran Flo yang buka suara sembari tersenyum smirk.
"Kalau dia mau menikah muda, gue sih ayo aja! Aiko mau nggak nikah sama gue?" tantang Randy membuat Aiko panas dingin, keringat dingin membasahi pelipis gadis manis itu.
Nggak semudah itu, Randy! Batin Aiko seolah ingin menjerit tapi tak bisa.
"Nah lo, sekarang saatnya lo jujur sama Randy. Itu anak udah ngelamar secara nggak langsung tuh, udah bilang aja masalah lo ke dia!" bisik Flo di telinga Aiko. Aiko membulatkan matanya tanda tak percaya dan takut menjadi satu.
"Gue takut dan bingung gimana cara ngomongnya!" bisik Aiko pada Flo, tangannya sedikit gemetar, Flo paham apa yang dirasakan Aiko.
"Lo tuh ya, kadang suka ngomongin sambil ceramah panjang kali lebar ke orang, giliran buat diri sendiri malah takut. Perjuangin dong! Kalian harus saling berbagi segala rasa, suka dan duka bersama, jadi lo nggak stres sendiri. Biar ada temennya! Yakin deh, kalau dia emang beneran sayang sama lo, dia pasti akan cari cara buat menyelesaikan masalah kalian berdua."
"Seyakin itu lo?"
"Lo kan pacarnya Randy, kok malah tanya sama gue? Situ sehat kan?"
"Astaga, mulut lo ya!" Aiko terkejut dengan ucapan Flo yang semakin mirip dengan Kyo. Cubitan di pinggang Flo menjadi andalan Aiko membuat gadis itu terkekeh.
"Kalian berdua pada bisik - bisik apaan? Pada ngegosip ya?" tanya Aurel antusias.
"Emang gue kayak lo!" bantah Aiko.
"Woy, pada disini kalian! Gue cariin muter - muter ternyata malah asik ngerumpi!" celetuk Kyo dengan santainya.
"Nah, ini si pembobol gawang akhirnya datang juga!" ledek Tian sembari tersenyum remeh.
"Pada ngomongin apaan sih?" Kyo kebingungan.
"Kyo, kasih tahu temen kita satu ini yang keonengannya tak perlu diragukan lagi, artinya belah duren tuh apa?" pinta Lily sembari menunjuk Aurel.
"Oh, kenapa nggak nanya sama Tian aja, Rel! Dia pasti bakal jelasin dengan sedetail - detailnya, hahaha," Kyo terkekeh geli sendiri sambil melirik Tian yang mengerucutkan bibirnya.
"Kawin aja belum, kok malah gue yang disuruh jelasin! Hadeh," ucap Tian terdengar malas.
"Udah jelasin aja!" Randy menyuruh Tian sembari menepuk bahunya, dalam hati ia pun ikut menahan tawa.
"Jadi, belah duren itu...." Tian bingung, lelaki ini mengedarkan pandangan ke segala arah mencari kata yang tepat untuk menjelaskan pada kekasihnya.
* * *
__ADS_1