Jodoh Florence

Jodoh Florence
Tante Aira 1


__ADS_3

Hari berganti hari begitu cepat rasanya. Saat ini Aiko duduk di depan meja riasnya, meratakan alas bedak kemudian dilanjutkan sapuan bedak padat merek kesukaannya merata di permukaan kulit wajahnya. Tak lupa ia menambahkan lip balm di bibir tipis berwarna merah muda miliknya. Sempurna. Tampilan minimalis tak mengurangi kesan ayu di wajahnya.


Ekor mata gadis itu menangkap sebuah alat penambah warna rona pipi, ia menyambar cepat dan mengoleskan dengan kuas di kedua pipinya untuk membuatnya terlihat ceria, tapi tidak dengan hatinya. Rasanya ada dentuman keras mengetuk dada dan membuat Aiko tak tenang.


Ingin rasanya Aiko menitikkan air mata, bahwa tanpa terasa hari yang tak diharapkan olehnya segera tiba. Pertemuan dengan seseorang yang sudah dijodohkan dengannya bahkan sebelum ia lahir ke dunia.


Tok Tok Tok


Pintu diketuk seseorang dari luar. Aiko menyelesaikan tampilannya dengan berdiri membolak - balikkan tubuhnya memastikan bahwa tak ada yang kurang dari dirinya.


Aiko membuka pintu, senyum merekah dari wajah ayu Mami yang berdiri tepat di depan pintu seolah menyambutnya keluar dari kamar.


"Sudah siap?" tanya Mami sedikit berbasa - basi saat melihat penampilan putrinya.


Aiko tak menjawab ia hanya mengangguk dan dianggap sebagai jawaban oleh Mami. Mami tersenyum pada Aiko, dengan segera Aiko menggelayuti lengan ibunya. Tas selempang kecil miliknya ia taruh tepat di depan perutnya.


Kedua perempuan berbeda generasi ini turun ke bawah, menuruni anak tangga perlahan dan menemui Papi yang sudah lumayan lama menunggu.


* * *


Saat yang sama, di rumah Kyo dan Flo...


Flo keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan bathrobe dan berjalan mendekati lemari besar, memilah - milah dress apa yang harus ia kenakan hari ini. Biasanya setiap hari minggu, ia akan bangun siang setelah melaksanakan sembahyang bersama Kyo. Namun hari ini berbeda, karena kedua keluarga besar akan bertemu.


Kyo yang menyusul dari kamar mandi memperhatikan keadaan kamar yang masih berantakan dan itu karena ulahnya. Lelaki itu terkekeh, kemudian mengambil pakaian miliknya yang tergeletak di lantai dan mengumpulkan satu per satu di tangan. Kyo meletakkan baju kotor di keranjang khusus pakaian kotor untuk dicuci.


Flo mengambilkan satu setel pakaian santai untuk keluar rumah, bukan pakaian formal untuk Kyo.



Flo melihat Kyo yang masih santai memakai pakaian yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Ganteng ya ternyata laki gue...

__ADS_1


"Yang, kok ngelamun?" tanya Kyo pada istrinya usai memakai pakaiannya dan menyibakkan rambut hitam miliknya.


"Nggak apa - apa. Udah telat nih, yuk buruan berangkat nyusulin mereka. Kamu sih yang bikin telat!" rajuk Flo seraya mengerucutkan bibir.


"Kok aku sih? Kan kamunya juga nggak nolak!" elak Kyo tak mau seratus persen disalahkan.


"Kamu itu kebiasaan deh, kayak orang minum obat, pagi, siang dan malam sampai kadang aku nggak bisa mengimbangi kemauan kamu ya mau nggak mau aku pasrah dong," bantah Flo yang kini sudah tak malu lagi mengungkapkan perasaannya.


Kyo kembali terkekeh. Kemudian membelai perut istrinya dari balik dress yang dikenakan oleh Flo.


"Biar cepet jadi Kyo junior disini," harap Kyo sembari tersenyum simpul.


"Gimana bisa jadi? Kan aku masih pakai pil penunda kehamilan, Bukannya kita udah pernah bahas masalah ini?" tanya Flo kemudian mendaratkan tubuhnya di sofa empuk yang ada di dalam kamar mereka.


"Iya, tapi kan kemarin kamu denger omongan Mama sama Mami, mereka yang mau jagain anak kita..." ucap Kyo santai.


"Huuu, terus kamu nya nggak mau ngurusin gitu?" tuduh Flo sambil berkacak pinggang.


"Aku ngomong seperti ini karena aku udah siap kalau seandainya Tuhan ngasih aku anugerah dengan adanya buah hati kita di rahim kamu. Kalau Tuhan udah ngasih ya pastinya siap nggak siap aku harus ngurusin dia, nggak akan lepas dari tanggung jawab aku sebagai orang tua nantinya. Bukan cuma enak bikinnya aja, Yang. Meskipun emang enak sih... " ucap Kyo bernada mesum pada ujung kalimatnya.


Flo mencubit lengan Kyo sekuat tenaga, ia ingin memberikan hukuman pada suaminya.


"Kata orang lahiran itu sakit tahu!"


"Kata siapa?" bantah Kyo.


"Kata orang - orang, apalagi kelahiran anak pertama, pasti sakit banget. Aku takut..."


"Makanya coba dulu biar tahu pasti rasanya! Nggak cuma dengerin omongan orang - orang," celetuk Kyo dan seketika mendapat tatapan tajam dari Flo.


"Enak di kamu, sakit di aku."


"Kan ada aku di samping kamu, Sayang."

__ADS_1


"Udah ah, nanti kita bahas lagi. Nggak akan ada habisnya kalau mau membahas masalah Kyo junior, lagipula kita belum lulus sma, masih ada beberapa bulan lagi, mungkin setelah itu aku akan bener - bener siap...."


"Lama banget, Yang..." ucap Kyo dengan wajah sendu, Flo tahu kini suaminya merasa kecewa.


Flo meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan Kyo.


"Aku ralat ya, tunggu aku siap lahir dan batin. Karena menjadi seorang ibu itu tanggung jawabnya sangat besar, aku nggak mau anakku nanti kurang kasih sayang dari aku. Kamu bisa ngerti kan?" harap Flo.


Kyo mengangguk paham, tadinya Kyo mengira bahwa Flo tak mau mempunyai anak darinya karena melihat mereka masih sma atau terlalu muda hingga membatasi ruang gerak Flo. Namun kini Kyo yakin bahwa istrinya membutuhkan kesiapan luar dalam dan Kyo harus mengerti itu.


Kyo berdiri dari sofa dan menggandeng Flo keluar dari kamar. Menitipkan rumah pada bi Imas, adik bi Imah yang sekarang menjadi asisten rumah tangga di rumah mereka. Ada pula pak Sami, suami bi Imas, yang menjadi tukang kebun dan serabutan disana.


Kyo memberikan helm pada istrinya dan membantu Flo menaiki motor sportnya. Kini perjalanan mereka dimulai, karena banyak orang yang telah menunggu kedatangan sepasang pengantin baru itu.


* * *


Kyo dan Flo sudah sampai di tempat tujuan. Flo turun dari motor perlahan dengan bantuan Kyo. Mereka berdua memasuki pemakaman umum siang itu.


Kyo mencari keberadaan keluarganya yang lain, karena diluar tadi mereka melihat mobil Papi dan Papa mertua telah terparkir. Meskipun siang itu cuaca tak begitu mendung namun hawa dingin tetap menelusup ke tulang - tulang bahkan suasana yang mendukung ke arah horor semakin membuat bulu kuduk keduanya berdiri.


Melihat Flo telah melepas jaket dan di letakkan di atas motor, Kyo melepaskan jaket miliknya dan menutupi tubuh bagian atas Flo agar tak kedinginan. Mereka tetap bergandengan meskipun tidak berjalan bersisian. Flo mengekor di belakang Kyo.


Pandangan sepasang pengantin itu fokus pada Mami dan Mama yang berjongkok di samping batu nisan. Raut wajah yang sedih bercampur bahagia terlihat jelas. Kyo dan Flo mendekat dan kini berkumpul dengan kedua keluarga mereka.


Aiko yang berdiri di belakang Mami hanya menundukkan kepala.


"Aira, kami datang kesini untuk menberitahu kamu bahwa keinginan terakhir kamu akan terlaksana. Anakku mau menikah sama anak kamu. Kita akan jadi besan. Cilla juga sekarang jadi besanku. Kita semua besanan, iya kan?" ucap Mami menahan tangis.


Mama mengelus lembut punggung Mami. Pandangan itu membuat hati Aiko terenyuh. Ucapan Mami begitu menohok relung jiwanya yang paling dalam.


Jika dengan pengorbanan dari Aiko bisa membuat tante Aira di surga dan Mami bisa bahagia, akan Aiko lakukan. Meskipun Aiko nggak tahu siapa calon suami Aiko nanti, semoga dia laki - laki yang baik... Harap Aiko dalam hati sembari mengamati tulisan yang ada di nisan tersebut.


* * *

__ADS_1


__ADS_2