
"Nggak sabaran amat!" celetuk seseorang yang kini terlihat menyeringai mendekati pasangan suami istri yang belum genap sehari tersebut.
Ujian lagi kah? Batin Kyo.
Kyo mulai khawatir pada seorang lelaki yang santai mendekatinya tanpa merasa berdosa karena ikut andil menjauhkan dirinya dengan Flo beberapa hari ini. Gerald tersenyum seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
"Ada apa lagi, Bang? Belum puas bikin gue kesel beberapa hari ini?" tanya Kyo ketus.
"Deuh, suudzon banget banget sih lo, adek ipar! Positive thinking dong, hehehe, gue kan cuma ngikutin instruksi bokap sama nyokap aja, jadi kalau lo mau nyalahin noh orangnya di luar!" ucap Gerald santai. Kyo mendengus kesal.
"Gila lo, Bang! Mana berani gue, mau dipecat jadi mantu apa? Ogah deh!" elak Kyo. Gerald terkekeh, puas mengerjai adik iparnya.
"Gue titip adek kesayangan gue satu - satunya ya, tolong jaga dia, jangan pernah lo sakitin atau bikin dia nangis. Jaga selalu hatinya ya, lo paham maksud gue kan?"
"Iya, Bang!"
Flo menatap suami dan abangnya bergantian. Ada rasa haru yang membuncah dalam hatinya. Entahlah perasaan apa itu. Ia pun tak paham. Tak terasa kedua matanya berkaca - kaca. Segera ia mengambil tisu dan menyeka perlahan supaya make up yang sudah melapisi kulit menyempurnakan wajahnya tidak terhapus dengan percuma.
"Udah, udah, sekarang kalian berdua buruan jalan ke depan, ke pelaminan, siap - siap dipajang disana, pasang senyum jangan lupa, kering - kering deh tuh gigi, hahaha," ledek Gerald mencoba mencairkan suasana yang melow.
"Pajangan? Ikan hias kali, Bang! Jangan sirik ya, Bang! Gue doain abang cepet nyusul bawa calon bini di pelaminan, jangan cuma diajakin pacaran nggak jelas! Buwahahaha," balas Kyo tak mau kalah.
"Yang!" panggil Flo, menyadarkan Kyo bahwa sang istri sudah siap dan tak mau menunggu lama.
Kyo mengulurkan tangan menyambut sang istri untuk berjalan bersisian dengannya menuju pelaminan. Pasangan suami istri itu berjalan dengan mesra, jemari keduanya saling mengait enggan terlepas. Gerald menatap keduanya hingga mereka tak terlihat lagi.
Gerald menyembunyikan rasa haru dan bahagia yang bercampur jadi satu di dalam hatinya, ia berharap sang adik bahagia bersama Kyo. Bahkan saat ini, anak sulung dari keluarga Permadi tampak menitikkan air mata dan bersandar di dinding.
Semoga kalian selalu bahagia, gue cuma bisa mendoakan, dan kalian yang menjalani. Tuhan, jaga mereka selalu...
__ADS_1
* * *
Flo dan Kyo saat ini menjadi raja dan ratu sehari. Keduanya menjadi sorotan. Yang satu cantik dan satu lagi tampan. Seolah tak memiliki cela untuk dicerca. Sempurna. Hanya kata itu yang dapat terucap saat melihat keduanya.
Para tamu undangan yang datang adalah keluarga besar, kerabat, dan kolega dari kedua keluarga. Teman sekolah yang menghadiri pernikahan hanya para sahabat kedua mempelai.
Randy menggandeng erat tangan Aiko, Tian sedang bercanda dengan Aurel, Lily dan Dinda ikut berkumpul dengan Gerald karena sama - sama jojoba (jomblo jomblo bahagia). Mereka bertugas menjadi pagar ayu dan pagar bagus. Senyuman dari mereka tak pernah surut melihat mempelai yang tengah berbahagia.
Acara berikutnya adalah bersalaman dengan mempelai, Kyo dan Flo tampak sedikit kelelahan dengan tamu yang datang dan berfoto ria, lelah karena terus menyunggingkan senyum setiap diminta sang fotografer supaya hasilnya bagus dan natural.
Hingga datanglah seseorang yang mendekati keduanya. Kyo lebih tenang, namun berbeda dengan Flo. Karena seingatnya ia tak pernah mengundang orang tersebut untuk datang ke hari bahagianya di pelaminan. Bukan karena belum move on dari lelaki ini, namun tak enak hati atau lebih tepatnya kikuk. Menghargai perasaan sang mantan. Ya, Judith, nama lelaki yang kini berdiri di depannya sembari menampilkan senyum terbaiknya tapi tidak dengan matanya yang terlihat berkilat.
Darimana dia tahu gue nikah hari ini? Kok gue nggak inget ya kalau ngundang dia! Batin Flo bertanya - tanya dan segera mendapatkan jawaban dari bibir suaminya.
"Aku yang ngundang dia," ucap Kyo santai.
"Oh," jawab Flo singkat.
"Ada apa lo nyari gue dan ngajak ketemuan disini?" tanya Judith di tempat mereka janji temu. Ia masih sibuk memotret pemandangan yang terhampar indah di depan mata. Kedua matanya kini beralih pada Kyo yang berdiri di sampingnya.
"Nih," Kyo menyodorkan sebuah amplop coklat berukuran sedang.
Judith menerima amplop tersebut yang ternyata berisi undangan pernikahan mantan kekasih yang masih sangat ia dambakan. Sedikit terkejut namun masih dapat ia sembunyikan dengan rapi, rasa kecewa yang kini menyelimuti hatinya. Dengan berat hati ia membaca seluruh rangkaian kata demi kata isi surat undangan tersebut.
"Apa maksud semua ini?" tanya Judith tegas.
"Lo udah baca kan? Gue harap lo mengikhlaskan Flo bersanding sama gue. Gue juga mau berterima kasih, kalau waktu itu lo nggak putus sama dia, mungkin saat ini kami nggak bisa bersama. Gue berharap lo bisa datang di hari pernikahan kami. Doa tulus yang gue harap dari lo."
__ADS_1
"Nggak salah yang gue denger barusan? Secara nggak langsung lo lagi minta restu dari gue? Kyo, lo sehat kan?" tanya Judith sembari mengernyitkan dahi keheranan.
"Lo nggak salah denger, gue cuma mau buka mata dan pikiran lo, supaya lo bisa mengikhlaskan Flo sama gue. Gue bisa lihat dari mata lo yang selalu melihat Flo dengan penuh cinta. Biarkan kami bahagia. Gue akan buktiin cinta gue ke dia. Lo nggak perlu khawatir tentang dia lagi!"
"Cih! Lo nggak takut acara lo gue bikin berantakan?" Judith tersulut emosi, tangannya mengepal.
"Gue yakin lo bukan orang yang seperti itu, gue harap lo bisa menyempatkan hadir, doa tulus yang gue harap keluar dari mulut lo. Lo pasti bisa mendapatkan cinta dari seorang perempuan yang baik, meskipun itu bukan Flo. Gue tunggu..." Kyo segera berlalu meninggalkan Judith yang masih diam termangu, menatap surat undangan berwarna dark grey bertuliskan nama Flo dan Kyo beserta gambar keduanya yang tengah tersenyum. Sakit rasanya, luka tapi tak berdarah. Judith tersenyum sedih mencoba melepas serta mengikhlaskan gadis pujaan hatinya.
Kembali ke realita,
Judith melangkahkan kakinya menapaki tempat berdirinya sang mantan yang terlihat sangat cantik dan anggun. Andai orang yang bersanding dengan Flo adalah dirinya, pasti ia akan sangat bahagia, batin Judith seolah meronta. Ia mengerjapkan mata, menyadarkan dirinya sekali lagi bahwa yang ada di depan mata adalah Flo dengan lelaki lain.
Senyum terulas dari bibirnya, ia berusaha tegar dan ikhlas melepaskan orang yang masih sangat ia sayang bersama orang yang tepat. Ia yakini itu di dalam hati kecilnya.
Tiba gilirannya untuk menyalami sang mempelai, Judith memeluk Kyo dan tersenyum padanya dengan tulus.
"Gue titip Flo ya, jaga selalu dia, jangan pernah buat hatinya terluka. Semoga kalian bahagia, doaku menyertai kalian."
"Makasih untuk doanya dan udah mau datang kesini." jawab Kyo tenang.
Judith menepuk bahu Kyo pelan. Ia beralih pada sang mempelai perempuan.
"Ternyata kata - kata kita dulu kejadian juga ya, kita bakal ketemu di pelaminan. Tapi bukan untuk bersanding denganmu sebagai mempelai. Kamu yang jadi mempelai, aku jadi tamu undangan. Ahh, kok jadi melow gini, intinya selamat berbahagia ya," Judith berusaha menampakkan senyum terbaiknya. Meskipun rasa getir kini datang menghinggapi perasaannya.
"Ayo mas, kita foto dulu," titah sang fotografer memberi komando.
Judith ditarik oleh Kyo, dan kini posisinya berdiri di tengah kedua mempelai. ðŸ˜
Kyo dan Flo tersenyum ke arah kamera, begitu pula Judith yang awalnya bingung namun segera menyesuaikan. Senyum mengembang dari ketiganya.
__ADS_1
Judith segera menghamburkan diri bergabung dengan tamu undangan yang lain meskipun terkadang sesekali ekor matanya melihat sang mantan yang tersenyum bahagia bersama Kyo.
* * *