
"Kan udah dibilang, aku mau makan kamu..." ucap Kyo santai. Wajahnya semakin mendekat ke wajah istrinya.
Waduh bangunin macan tidur nih!
"Kyo, kita lagi di jalan!" pekik Flo tanpa sadar ia kemudian spontan memejamkan matanya.
Wajah Kyo semakin mendekat ke wajahnya, bahkan ia bisa merasakan deru nafas lelaki itu menyapu kulit wajahnya, membuat ia gugup.
Ceklek
"Udah," ucap Kyo santai setelah memasangkan seatbelt istrinya.
"Apanya? Nggak kerasa tuh," Flo keceplosan, dengan sigap ia menutup mulutnya dan merutuki kepolosannya yang seolah meminta lebih pada suaminya.
"Aku masangin seatbelt kamu, Yang. Apanya yang nggak kerasa coba? Jangan - jangan kamu minta dicium ya?" goda Kyo yang puas melihat Flo tersipu malu.
"Apaan sih," elak Flo sembari memalingkan muka, menatap ke jendela mobil dan melihat pemandangan sekitar yang nampak lengang hanya beberapa kendaraan melintas di jalan itu.
Cup
Kecupan itu menempel di pipi Flo saat ia menoleh ke arah sang suami. Dilihatnya sang tersangka pencium pipinya itu kembali fokus menyetir stang bundarnya.
Entah apa yang merasuki Flo saat ini, atau penunggu jalan kah yang menyuruhnya, kini Flo mencium sang suami dan berbisik di telinga Kyo hingga membuat lelaki itu sedikit kalang kabut.
"Ini cuma ciuman selamat siang, kalau di rumah, udah beda lagi. Lebih hot daripada ini," goda Flo kemudian terkekeh.
"Wah istri aku nantangin nih!" Kyo semakin bersemangat dengan godaan istrinya, padahal tadi ia merasakan bete yang teramat sangat saat melihat kedekatan Flo dengan Oma Silvia. Entah cemburu atau tidak ingin Flo diambil mantu oleh nenek Keanu tersebut, ia pun masih bingung menerjemahkan perasaannya.
"Iya dong, masa aku kalah sama suami? Istri juga bisa agresif, hehehe,"
"Udah pinter ya istriku, siapa sih yang ngajarin?"
"Suami aku lah," jawab Flo cepat, membuat Kyo mengemudikan mobilnya lebih cepat supaya segera sampai rumah. Hati lelaki itu berbunga - bunga dan tentunya menantikan kejutan dari istrinya.
* * *
Lain Flo, lain Aiko...
Keluarga besar Aiko dari Osaka sudah sampai di bandara, mereka bersiap pulang. Disana pun ada Richard dan Kirei.
Tatapan dingin masih Aiko layangkan pada gadis yang sedang bersama Richard. Ia sedikit kurang nyaman dengan adanya Kirei, mungkin ia masih mengingat kejadian masa lampau.
Kirei mendekati Aiko. Aiko segera membuang muka dan pasang wajah tak suka pada Kirei. Kirei tahu benar Aiko tak menyukai kedatangannya apalagi niat awalnya yang datang karena ingin menemui Kyo, bahkan berterus terang masih menyukai Kyo. Ia menundukkan pandangannya namun segera ia memberanikan diri menyapa Aiko.
"Aiko!" panggil Kirei lirih namun masih bisa di dengar Aiko.
"Nggak usah basa basi, kamu mau bilang apa? Anggap aku baik hari ini, karena mau ngomong sama kamu." tegas Aiko sambil bersedekap.
"Mungkin terdengar mustahil buat kamu mendengarnya, tapi aku jujur hanya ingin berbaikan denganmu, Aiko. Masih pantaskah aku menjadi temanmu?" tanya Kirei ragu - ragu.
"Teman?" beo Aiko.
__ADS_1
"Apa aku tidak boleh menganggapmu teman?"
"Sejak kejadian waktu itu, aku juga bingung masih bisa menganggapmu teman atau nggak. Jujur aku kecewa, tapi mau gimana, buat aku semua sudah berlalu. Lagipula orang yang kamu suka juga udah nikah. Tolong jangan pernah berharap pada sesuatu yang nggak mungkin. Lupakan Kyo!" ujar Aiko dengan nada melunak daripada sebelumnya.
"Boleh aku bercerita? Kamu mau mendengarkan?"
"Heem," deheman dari Aiko menjawab pertanyaan Kirei.
"Ternyata selama ini aku terlalu berharap pada seseorang yang nun jauh disana, aku di Osaka dan dia di Indonesia. Aku merindukannya tapi dia tidak. Bahkan menyebut namaku dalam mimpinya pun tak pernah ia lakukan. Aku terlalu sibuk mengejar cinta yang tidak mungkin berbalas dan malah mengabaikan orang yang selalu memperhatikan aku."
"Sakit dong?" celetuk Aiko asal.
"Awalnya sakit tapi sudah ada obatnya, bukan pelampiasan atau pelarian tapi kenyataan yang membuat aku sadar, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Aku belajar bahasa yang lelaki itu pakai, agar dia dan aku bisa lebih dekat. Tapi kenyataannya aku salah, semua nggak selalu sesuai dengan prediksi aku. Aku senang jadi bisa belajar bahasa asing dan mendekatkan aku dengan lelaki yang mencintaiku." jelas Kirei.
"Richard?"
"Iya,"
"Baru sadar?"
"Iya,"
"Hahaha, Syukurlah kamu sadar juga. Sebenarnya aku masih kesal sih sama kamu karena egois dan berambisi buat dapatin Kyo. Yah, namanya anak remaja pasti bisa lakuin kesalahan nggak masuk akal seperti itu. Dan untuk itu, aku tarik ucapanku tadi. Aku mau kok maafin kamu." ucap Aiko sembari menepuk bahu Kirei.
" Terima kasih," ucap Kirei bahagia mendengar ucapan Aiko yang sudah memaafkan dirinya.
"Kamu cantik, nggak pantas jadi pelakor,"
"Ada deh, tanya Richard aja, mungkin dia udah paham. Makanya kalau belajar bahasa Indonesia yang benar jangan nanggung, jadi nggak bingung. Hehehehe,"
"Iya, nanti aku mau buka kamus lagi. Aku mau belajar lebih banyak," senyum Kirei mengembang dengan sempurna, Aiko membalas senyum Kirei dengan tulus.
Mau kamu cari di kamus bahasa apapun juga nggak bakalan ketemu! Hadeh...
* * *
Flo dan Kyo sudah sampai di rumah, saat ini untuk sementara mereka tinggal di rumah Kyo. Sepasang pengantin baru itu buru - buru masuk ke dalam kamar Kyo. Lebih tepatnya Kyo yang mendominasi.
Kyo meletakkan koper sembarang tempat, ia menarik pergelangan tangan Flo dan merebahkan gadis itu ke atas tempat tidur. Flo terkejut melihat tingkah laku Kyo yang menjadi super agresif seperti itu.
Kyo melepaskan jaket dan kaos yang melekat di bagian atas tubuhnya dan menyisakan celana panjang jeansnya. Ia melihat Flo dengan penuh nafsu. Pandangan lelaki itu menyapu dari atas sampai bawah tubuh istrinya yang masih mengenakan mini dress sembari tersenyum genit.
Flo bingung dengan tatapan Kyo yang seperti ingin menerkam dirinya namun apalah daya, ia tak bisa menolak. Lelaki itu menghujani wajahnya dengan ciuman, turun ke leher dan tangannya pun tak tinggal diam, berusaha melepaskan dress yang di pakai istrinya.
Tak pernah terbayangkan dalam pikiran Flo, hanya karena ucapannya di mobil tadi bisa membuatnya kewalahan menghadapi gairah Kyo yang sudah berapi - api tingkat dewa.
Nggak lagi - lagi gue godain Kyo! Waduh bisa - bisa nggak bisa jalan gue besok!
Nada dering ponsel Kyo mengagetkan dua insan yang akan mereguk indahnya surga dunia. Mau tak mau, Kyo menghentikan aktivitasnya dan menundanya untuk nanti, saat ini ia beralih pada penelpon yang mengganggu mereka.
Shit! Siapa sih yang ganggu gue? Awas aja kalau nggak penting! Abis lo sama gue! Gerutu Kyo dalam hati.
__ADS_1
Tian is calling....
Dengan ekpresi yang tak bisa diungkapkan kata - kata, Kyo menerima panggilan dari sahabat somplaknya.
📞 Ada apa, Yan?
📞 Woy, sabar dong bro. Gitu amat sama gue? Jangan - jangan gue telepon di waktu yang salah nih,
📞 Udah buruan ngomong, ada apa? Kalau lama, gue tutup nih!
📞 Nih, telinga gue sakit bener dijewer nyokap lo tadi. Bisa - bisa gue jadi penghuni baru Way Kambas, masih merah ini..
📞 Gue matiin nih!
📞 Peace, jangan dong! Hehehe, iya iya gue serius sekarang. Tadi gue sempat nongkrong sama anak - anak, eh ketemu Boim sama Mayang. Mereka mau ngadain reuni temen - temen esempe, mereka nanyain elo. Untung Aurel nggak bilang kalau lo sama Flo udah nikah!
📞 Oh iya gue lupa ngasih tahu Boim! Biarin aja mereka tahu, kalau gue udah punya bini.
📞 Bukan gitu, nanti mereka bisa ngirain *kalau kalian nikah muda tuh karena si cewek hamidun!
📞 Hamidun*?
📞 Bunting, ah elah masa kayak gini harus gue yang jelasin! Hadeh, ck, ck...
📞 Akan lebih enak kalau diganti dengan kata hamil. Bini gue orang bukan sapi!
📞 Ah elah, iya deh, terserah lo aja deh, ya udah selamat menyalurkan hasrat lo! Biar cepet ada Kyo junior! Dasar maniak lo, bro!
📞 Eh, kampret lo ya, ngatain gue. Eh tapi nggak apa - apa deh, itung - itung ngurangin dosa. Mendingan gue dong ada tempat buat menyalurkan hasrat, nah elo? Apa nggak berujung di jemari lentik elo! Buwahahahha...
📞 Kampret lo!
Tian mematikan panggilan yang masih terhubung. Kyo tertawa puas dan hendak melanjutkan aksinya, mencetak Kyo junior dalam pikirannya. Namun apalah daya harapannya tak sesuai ekspektasi, sekarang yang harus ia lihat dan dapatkan, sang istri tertidur pulas dengan selimut tebal yang sudah menutupi sebagian tubuhnya. Kyo kasihan melihat Flo yang nampak kelelahan.
Sementara bagian bawah Kyo terus meronta meminta haknya untuk melanjutkan tugas mulia. Mau tak mau Kyo harus menuntaskan hasratnya di kamar mandi tercinta sembari membayangkan tubuh istrinya. Mungkin ini yang dinamakan karma is real.
Kampret lo, Yan! Dendam gue sama elo! Dendam ini dendam kesumat! Awas lo besok! Gerutu Kyo di dalam kamar mandi.
Sementara tersangka yang disumpahi oleh Kyo kini tengah bersin berkali - kali.
"Gue mau pilek apa ya?" Tian bertanya pada dirinya sendiri seraya menyeruput teh hangat buatan ibunya di teras rumah.
* * *
Jangan lupa like ya kakak - kakak, nggak susah kok, 😂😂😂,
Kalau suka jadikan favorit 😀
Rate 5 ❤️❤️❤️
Dukung terus karyaku yaa,
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏