Jodoh Florence

Jodoh Florence
Masih Ada Harapan


__ADS_3

Keanu masih menatap lekat Flo yang berjalan bersama lelaki lain, menaiki motor dan hingga terdengar suara deru motor semakin menjauh dari rumah. Keanu menundukkan kepalanya, menatap lesu pada bunga yang masih ada di genggaman tangan. Hingga tepukan pelan di bahu ia rasakan, menyadarkannya kembali dari lamunan sesaat.


"Lo suka sama adek gue, Bro?" Tanya Gerald sambil memandangi wajah sahabatnya yang terlihat lesu.


"Bukan hanya suka, Rald. Tapi cinta. Lo ingat nggak omongan gue kemarin? Kalau gue mau ngejar cewek itu kemanapun dia berada..." Ucapan Keanu terhenti sesaat, seolah ada sesuatu tercekat dalam tenggorokannya.


"Jangan bilang itu adek gue?" Tanya Gerald penuh selidik, menajamkan matanya memandang ekspresi Keanu saat ini.


"Iya, lo ga salah. Dia emang adek lo, cewek yang selama ini gue cari. Gue udah bikin kesalahan sama dia dulu, dan sekarang gue pengen menebus segalanya. Dia cinta pertama gue, Rald." Keanu kembali menundukkan kepala, berat rasanya. Kelopak matanya mulai basah mengingat kenangan indah bersama Flo.


" Kok lo bisa suka sama adek gue? Dia masih anak kecil, Bro! Kapan tepatnya kalian berdua saling mengenal satu sama lain?" Gerald mulai serius, dilipatkannya kedua tangan di depan dada.


"Gue ketemu dia pas kita masih kelas XII sma, Rald. Dulu gue kirain dia juga anak sma, ternyata dia masih anak smp. Dia terlihat dewasa. Di masa yang seharusnya anak cewek pada ngajakin orang tuanya jalan ke mall atau kemana gitu, dia malah ke perpustakaan. Lucu ya, Rald?" Ucap Keanu seraya tersenyum kecut. Ingatan Keanu terngiang jelas pertemuan pertama kalinya dengan Flo.


"Miris gue denger kisah cinta lo. Sebenarnya lo datang di waktu yang nggak tepat, dia sekarang udah punya pacar dan dia juga udah...." Gerald mencoba menjelaskan hubungan sang adik.


"Stop, Rald! Gue nggak mau denger hal itu, masih ada harapan buat gue. Gue yakin itu. Sebelum janur kuning melengkung, bukankah kita boleh berharap lebih? Bukankah mereka hanya pacaran?" Keanu mencoba tersenyum seraya mendongakkan kepalanya menatap jelas Gerald yang termangu.


"Ini bukan Keanu yang gue kenal!" Gerald tak percaya dengan perubahan sikap Keanu.


"Cinta bisa mengubah segalanya, Rald. Ada saat dimana sebuah rasa harus diperjuangkan, dan itulah cinta."


"Itu bukan cinta! Itu obsesi, coba lo renungkan baik - baik. Itu benar - benar cinta atau obsesi karena nggak bisa dapatkan dia lagi?"


"Ini cinta, Rald. Dan gue yakini itu. Gue selama ini menutup hati buat siapa? Buat Flo, Rald. Tolong lo bisa mengertikan perasaan gue." Keanu amat serius dengan setiap perkataannya. Gerald tak bisa membantah lagi.


Keanu melihat keadaan sekitar, mengedarkan pandangan ke area taman halaman depan tampak asri dengan rumput yang hijau dan bunga - bunga tertanam rapi di setiap pot. Terdapat ayunan kayu yang berada di ujung taman hampir berdekatan dengan pintu gerbang. Ia kembali tersenyum mengingat senyuman Flo yang teduh seperti oase di gurun yang gersang.


"Gue cabut dulu, Rald. Ada urusan mendadak. Ini bunganya buat lo aja...." Keanu memberikan seikat bunga yang ia genggam pada Gerald yang masih diam termangu, lelaki itu pasrah menerima pemberian bunga Keanu.


"Gue masih normal, Bro." Gerald menimpali ucapan sahabatnya setelah kembali sadar dari diamnya beberapa saat yang lalu. Keanu terkekeh kemudian berlalu meninggalkan Gerald.


Gerald merasa iba dengan keadaan dan sikap Keanu, karena dia tahu penyebab perginya Keanu selama ini.

__ADS_1


***


Jam pelajaran pertama sudah dimulai, semua siswa sudah memasuki kelas masing - masing. Berbeda dengan kelas Flo, saat ini sudah waktunya jam olahraga, tapi ketua kelas memberitahukan bahwa para siswanya tidak usah berganti baju olahraga dulu karena akan ada pengumuman dari Pak Susilo.


Lima belas menit kemudian, Pak Susilo masuk ke dalam kelas. Beliau berdiri di depan mejanya sembari tersenyum ramah.


"Anak - anak, hari ini bapak mau memberitahukan bahwa pada hari ini akan ada guru baru yang akan membantu bapak mengajar olahraga. Karena kalau bapak sendiri, cukup kewalahan juga. Hehehe." Pak Susilo menyampaikan berita dengan santai dan ada candaan di dalamnya.


"Perempuan atau Laki - laki, Pak?"


"Kalau laki - laki, ganteng nggak Pak?"


"Masih muda nggak, Pak?"


Pertanyaan siswa siswi bergantian membuat suasana kelas menjadi riuh seperti pasar.



Trio somplak yang tak hanya berisi Kyo, namun ada Tian dan Randy mulai ikut bicara. Ketua kelas juga ikut membantu agar suasana kelas kembali damai dan tenang.


"Baiklah tidak perlu berlama - lama, mari silakan masuk...." Pak Susilo menyuruh seseorang yang masih berada di luar untuk masuk ke dalam kelas.


Seketika kelas hening, terutama para siswi melihat guru baru yang memperkenalkan diri sangat antusias. Bagaimana tidak, gurunya lelaki yang masih teramat muda dan satu lagi, Tampan. Itu kuncinya.



"Selamat pagi semuanya." Sapa Keanu pagi ini pada seluruh siswa, menyunggingkan senyum yang menghiasi wajah tampannya.


"Selamat pagi, Bapak." Jawab semua siswa serempak terutama siswi yang semangat 45.


Flo terkesiap melihat Keanu. Aurel memperhatikan ekspresi Flo kemudian menyikut lengannya pelan.


"Kenapa, Flo?" Tanya Aurel penasaran. Flo menggeleng pelan hanya membalas pertanyaan Aurel dengan senyum palsunya.

__ADS_1


Tak berbeda jauh dengan Kyo. Lelaki ini menatap Keanu dengan puluhan pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya.


'Mau apa lagi sih dia? Bisa suatu kebetulan banget jadi guru disini!'


Kyo menatap punggung Flo sejenak, kemudian menepuk bahu kekasihnya pelan.


"Hai...." Kyo tersenyum pada Flo saat menoleh ke belakang, mereka berdua saling menatap. Ada kegelisahan di mata gadis itu. Kyo bisa memahami alasannya.


"Kamu nggak apa - apa ada dia disini?" Tanya Flo yang justru mengkhawatirkan Kyo. Kyo mengangguk pelan.


"Aku nggak apa - apa sementara ini, nggak tahu kalau besok. Hehehe." Kyo mencoba menampilkan senyumnya padahal Flo tahu jika lelaki itu tengah cemburu.


'Pintar sekali kamu, Kyo. Bisa - bisanya menutupi perasaanmu yang sebenarnya! Ya Tuhan, apakah ini yang dimaksud Keanu tadi pagi di rumah? Astaga....'


"Nama saya Keanu Perwira, kalian boleh memanggil saya Pak Keanu saja." Keanu memperkenalkan diri dengan senyum yang tak henti tersungging dari bibirnya.


"Wah, masih muda banget, masa dipanggil bapak sih?" Pak Susilo menggoda Keanu.


"Terus dipanggil apa ya Pak bagusnya? Abang atau kakak aja ya?" Goda Aurel pada guru barunya.



Tian di belakangnya spontan menendang kursi yang diduduki Aurel sembari memelototkan matanya. Flo dan Kyo menggelengkan kepalanya melihat genitnya Aurel. Tian memalingkan wajahnya menahan cemburu. Randy menahan tawa.


"Saya kan lebih tua dari semua siswa di kelas ini. Jadi lebih baik panggil Bapak saja, toh nantinya saya juga akan menjadi bapak - bapak." Keanu mulai bisa mengakrabkan diri dengan para siswa. Pria 22 tahun ini memang terkenal mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


"Ada yang mau ditanyakan sama Pak Keanu sebelum kelas olahraga dimulai?" Tanya Pak Susilo.


"Pak sudah punya calon belum?" Sisil yang terkenal genit di kelas mulai berani menanyakan tentang privasi Keanu.


"Menurut kalian bagaimana?" Tanya Keanu penuh misteri yang membuat para siswi penasaran. Mereka mulai menerka - nerka, tatapan Keanu terhenti pada sosok gadis yang sedari tadi mengalihkan perhatiannya. Senyumnya mengembang untuk sang gadis.


***

__ADS_1


__ADS_2