Jodoh Florence

Jodoh Florence
Menepati Janji 2


__ADS_3

Flo menikmati makan paginya dengan hati yang kurang nyaman. Entahlah, hanya dia sendiri yang tahu. Kyo tak henti - hentinya membelai rambut dan pipi Flo. Seperti gemas setiap melihat wajah cantik istrinya. Pemandangan itu membuat Aiko jengah.


"Mentang - mentang udah halal, bermesraan di tempat umum kayak di kamar! Hargai yang lain dong!" ledek Aiko.


"Papi, Aiko udah ngebet minta di nikahin nih! Pengen cepet nyusul katanya!" celetuk Gerald yang memanggil Papi Yuta, mulai hari ini Gerald juga dianggap sebagai anak oleh Papi. Jadi dia juga bisa memanggil dengan sebutan yang sama.


Degg


Jantung Aiko berdegub kencang, seketika ia menoleh ke meja belakang yang disana ada Randy cs. Mereka duduk di meja yang terpisah. Hanya berjarak beberapa langkah saja.


Barusan Randy denger nggak ya? Aduh bang Gerald pake rempong segala sih! Ya Tuhan, tolong aku... Batin Aiko.


Kyo menginjak kaki Aiko, karena mereka berdua duduk berhadapan.


"Awww...." pekik Aiko mengagetkan semua orang yang ada di resto tersebut. Semua pandangan tertuju pada gadis manis itu. Kyo menahan tawanya.


"Kamu kenapa, Aiko?" tanya Papi seraya mengelap bibirnya dengan tisu yang ada di meja makan.


"Ada, ada semut, Pi. Gigitnya kenceng banget!" jawab Aiko asal sembari memelototkan matanya ke arah Kyo. Kyo mengedikkan bahu.


"Emangnya semut punya gigi?" bantah Gerald.


"Punya bang, giginya banyak, punya rambut pula. Bibirnya juga biasa buat nyium!" balas Aiko.


"Wah keren dong! Kok abang nggak tahu ya? Semutnya ganteng apa cantik tuh? Kalau cantik kenalin dong sama abang!"


"Wiss, jangan dong bang! Semutnya laki pokoknya, awas kalau kegigit, deketan atau disengat sama itu semut, nanti bisa hamil loh!" sindir Aiko.


"Apaan? Orang baru semalam masa udah hamil?" Kyo keceplosan. Flo menyikut lengan Kyo karena malu.


"Nah tuh semutnya ngaku!" Aiko tersenyum penuh kemenangan.


"Sudah, sudah. Bercanda nggak di meja makan. Sana Aiko ajak teman - temanmu yang lain jalan - jalan sekitar resort. Pemandangannya bagus banget, siapa tahu kalian mau ber selfie ria," ujar Papi menengahi.


"Siap, Papi!" jawab Aiko penuh semangat sembari melirik Randy yang sudah menyelesaikan sarapannya.


* * *


Kirei duduk di gazebo sambil menikmati panorama alam yang indah. Pepohonan yang tumbuh hijau, hamparan sawah yang luas, meskipun jarang ia temui saat di Osaka namun bisa membuatnya sedikit lupa akan sesak dan kecewa dalam hatinya.


Kenangan masa lalu kembali mengingatkannya pada Kyo. Dimana dulu ia bisa tertawa dan bercanda bersamanya tanpa harus sungkan seperti sekarang. Dulunya ia gadis yang tomboy, mungkin itulah alasan mengapa Kyo dulu mau berteman dengan dirinya.


Saat itu Kyo kecil sangat ketus diajak berbicara pada orang asing, apalagi perempuan yang feminim, entah kenapa saat berkenalan dengan Kirei yang saat itu terlihat tomboy, Kyo justru mau menjadikannya teman.


Semenjak mereka berkenalan, Kirei menaruh harapan pada Kyo. Karena melihat kebaikan dan betapa kerennya Kyo saat itu hingga membuatnya jatuh cinta. Hingga pada suatu hari ia berusaha menjauhkan Kyo dan Aiko. Karena setiap mereka berkumpul, Aiko selalu ada di dalam lingkungan yang sama. Saat itu ia memiliki obsesi untuk selalu bersama Kyo sepanjang waktu. Aneh, tapi itu nyata.


"Kyo, andai waktu dapat diulang lagi. Aku kangen kebersamaan kita dan janji nggak akan mengikuti obsesiku hingga menjauhkan aku dan kamu. Aku menyesal kalau akan jadi seperti ini." gumam Kirei pelan namun dapat didengar Richard yang baru saja datang dan tak sengaja mendengarkan ucapannya.


"Ehem..." dehem Richard tepat di samping Kirei seraya menyentuh bahu gadis berwajah sendu tersebut.


"Kak Richard!" Kirei sedikit terkejut dengan kedatangan Richard. Ia memaksakan bibirnya untuk mengulas senyum tipis. Berusaha membuat lelaki itu mengira bahwa dirinya baik - baik saja. Sepintar - pintar tupai melompat, pasti akan jatuh juga dan perumpamaan itu tepat untuk menggambarkan situasinya saat ini.


"Jangan melamun sendirian disini!" ucap Richard bijak, ia duduk di samping Kirei.


"Kakak kok ikut keluar? Nanti dicari Oma Hideko sama paman Yuki loh." tanya Kirei penasaran.

__ADS_1


"Nggak akan, oh iya sebentar lagi ada yang mau ketemu kamu. Tunggu dulu ya, aku mau telepon temanku." ujar Richard segera beranjak dari kursinya dan meninggalkan Kirei seorang diri.


Richard sengaja meninggalkan Kirei supaya bisa bertemu Kyo yang telah dipaksanya tadi. Meskipun kini perasaannya tengah galau, namun ia mencoba menepisnya.


Dan benar saja, Kyo berjalan ke arah gazebo tempat Kirei duduk. Dari jarak yang tidak begitu jauh, Richard masih bisa melihat wajah Kirei yang tengah tersenyum melihat kedatangan Kyo. Namun senyum itu seketika memudar dari wajah cantiknya ketika tak berlangsung lama Flo datang menyusul. Kyo yang berhenti kemudian mengulurkan tangannya menggenggam jemari Flo dan mengajaknya menemui Kirei.


* * *


"Maaf menunggu lama," ucap Kyo basa - basi.


"Pasti Richard yang menyuruhmu datang menemuiku?" tebak Kirei.


"Ya, begitulah. Seharusnya kamu yang jauh lebih mengerti dia. Dia kan tipe pemaksa. Dan jujur aku nggak suka dengan tipe seperti itu." jawab Kyo santai.


Flo yang berada di antara ketiganya hanya bisa diam. Muncul ide di kepala Flo, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, namun segera ia matikan panggilan tersebut dan menggantinya dengan memberinya chat via wa.


✉️ Jemput gue di gazebo samping resort. Ajak gue pergi kemana kek. Jalan - jalan juga boleh! Sekarang ya, please..


Lima menit kemudian...


✉️ Iya, tunggu....


Aiko datang tak lama setelah mengirimi pesan pada Flo. Gadis itu sepertinya tak senang melihat adanya Kirei. Tanpa basa basi Aiko segera mengajak Flo meninggalkan gazebo dan mencari alasan di depan Kyo.


Sepeninggal Flo dan Aiko. Kini Kirei mulai berani menatap wajah Kyo. Ditatapnya lekat - lekat lelaki di hadapannya. Ia amat merindukan Kyo dengan canda tawanya dulu.


"Kyo, maaf...."


"Udah, sekarang kamu mau ngomong apa? Jangan buang waktuku terlalu lama untuk obrolan yang nggak penting. Aku nggak mau istriku salah paham atau bahkan berpikir yang bukan - bukan." hardik Kyo.


Tanpa berpikir panjang, ia meraih tangan Kyo, namun dengan cepat lelaki itu menepisnya. Kirei rela mengesampingkan harga dirinya demi mengungkapkan perasaannya selama ini.


"Daisuki dayo. Anata no koto ga wasurerarenai. (Aku mencintaimu. Aku nggak bisa melupakanmu)" ucap Kirei jujur.


"Sekali lagi maafkan perasaanku ke kamu yang nggak bisa berbalas. Karena entah dulu maupun sekarang, hatiku hanya untuk Flo. Dulu aku berteman denganmu karena aku pikir kamu memang berniat menjadi sahabatku nggak lebih. Tapi mendengar kenyataan bahwa kamu menyukaiku waktu itu dan bahkan ingin memisahkan aku dengan Aiko, ku kira menyudahi pertemanan denganmu adalah pilihan tepat." jawab Kyo pasti.


"Begitukah? Seburuk itukah aku di mata kamu, Kyo?" tanya Kirei menahan laju air matanya supaya tak menganak sungai.


"Kamu nggak seburuk itu, jangan berpikir negatif terus. Kamu adalah perempuan yang baik, tapi obsesi kamu yang membuatmu menjadi terlihat nggak baik. Oh iya kamu ingin aku menepati Janji kan? Jadi?" jelas Kyo.


"Janji?"


"Bukannya kamu ingin aku mengajak kamu jalan - jalan kalau sudah berada di Indonesia?"


"Bolehkah?" tanya Kirei penuh harap.


"Boleh, tapi aku mengajak istriku." jawab Kyo mantap membuat raut wajah Kirei berubah drastis.


Seketika Kirei menundukkan kepalanya dan mencoba mendongak melihat langit biru di atas sana yang begitu cerah tak seperti hatinya yang kini terluka.


"Terkadang kita sibuk mengejar cinta lain yang rumit dan bahkan bisa saja itu adalah jodoh orang lain, tanpa kita menyadari bahwa jodoh kita ada di sekitar kita." ucap Kyo penuh arti, ia menatap wajah Kirei yang sedikit bingung mencerna ucapannya.


Kyo tersenyum sembari mengedarkan pandangan ke segala penjuru, menghirup udara segar yang berhembus.


"Kamu tahu nggak kenapa Richard mengajakmu datang ke pernikahanku?" tanya Kyo dengan lembut.

__ADS_1


Kirei menggelengkan kepalanya.


"Dia ingin membuatmu sadar, bahwa kamu harus menyudahi perasaanmu kepadaku. Bukan berniat membuatmu sedih ataupun terluka. Karena pada kenyataannya aku nggak pernah menganggapmu perempuan yang spesial di hatiku, aku hanya menganggap kamu sebagai seorang sahabat."


"Maksud kamu apa?"


"Masa iya harus aku jelasin?"


"Aku memang nggak paham, Kyo."


"Buka hati dan pikiranmu, bahwa ada seorang lelaki yang selalu menganggapmu spesial di hatinya sampai detik ini. Kasihan dia, kalau kamu nggak juga sadar akan perasaannya. Nanti dia keburu diambil orang loh."


"Richard maksud kamu?"


"Aku nggak perlu sebut nama. Kamu yang bisa merasakan itu sendiri."


"Bukannya selama ini dia hanya menganggap aku adiknya?"


"Aku sama Aiko yang jelas adiknya karena ikatan darah aja dia nggak pernah sebaik denganmu. Dia selalu ada buat kamu kan? Jawab!"


"Iya,"


"Karena dia memiliki perasaan terhadapmu, perasaan yang lebih dari seorang adik. Yaitu rasa cinta. Kejar dia, jangan ragu!"


"Kenapa dia nggak pernah bilang sama aku?"


"Dia nggak mau nanti ditolak sama kamu! Bisa - bisa nanti hubungan kalian merenggang. Btw, jadi kita jalan - jalan? Aku kan harus menepati janji."


"Emm, terima kasih sebelumnya. Kamu sudah menepati janji, hanya aku saja yang menolaknya. Jadi kamu sudah nggak punya hutang lagi sama aku. Cepat susul istrimu, jelaskan padanya supaya dia nggak berpikir macam - macam."


"Hemm, iya. Aku tinggal dulu ya," pamit Kyo.


Kyo beranjak dari tempat duduknya dan segera merogoh ponsel di saku jaketnya untuk menghubungi Flo.


Kirei memanggil namanya lumayan kencang, Kyo menoleh ke arahnya.


"Terima kasih," ucap Kirei sembari tersenyum simpul.


Kyo mengacungkan ibu jarinya dan segera berlalu.


* * *


Terimakasih yang sudah membaca karya pertamaku,


Jangan lupa ritualnya ya kakak kakak yang baik...


Like


Koment


Vote


Rate 5


Jadikan Favorit yaaa....

__ADS_1


Semoga terhibur... ☺️☺️☺️🙏🙏🙏


__ADS_2