
Hari terus berganti. Tiba saat dimana hari yang diucapkan Judith. Hari dimana Mecca akan pergi dari Jakarta. Entahlah dia akan pergi kemana. Awalnya Flo tak mau tahu, namun ia masih punya hati.
Dan kini Flo berdiri sekarang, menatap pintu gerbang berwarna putih yang diberi gantungan papan kayu bertuliskan RUMAH DIJUAL. Flo menatap sayu pada bangunan yang berdiri kokoh di dalamnya. Ia membuka pintu gerbang perlahan. Kyo yang dengan setia menemaninya diminta oleh Flo menunggu di luar. Ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.
Kyo menatap kekasihnya sedikit heran, takutnya akan ada kejadian yang terulang sewaktu di uks tempo hari yang lalu. Dimana hari itu, Flo menjambak Mecca dengan brutal.
Namun, pelukan yang menenangkan dari Flo membuat Kyo mengerti. Ia membiarkan gadis itu masuk ke dalam sendirian.
Flo melihat garasi rumah yang dibiarkan terbuka. Ada sebuah mobil sedan putih diluar dan pada bagasi belakang terbuka, nampak pak Broto, supir pribadi Tante Mona. Tante Mona adalah ibunya Mecca.
"Pak!" Panggil Flo mengagetkan pak Broto yang serius mengemasi barang.
"Non Flo ya? Itu non Mecca masih ada di dalam. Masuk saja, Non." Jawab Pak Broto ramah pada teman nona mudanya.
"Tante Mona ada nggak, Pak? Kok nggak kelihatan?"
"Nyonya sudah di Bandung, hampir sebulan disana. Ini non Mecca mau menyusul."
"Loh, emang ada apa, Pak?"
"Nyonya sama Tuan sudah pisah, non Mecca ikut Nyonya. Ini kami lagi siap - siap berangkat. Bi Jumi juga diajak pindah kesana, saya juga. Kalau Tuan, saya nggak tahu."
"Jadi alasan rumah ini mau dijual karena mereka berpisah, Pak?"
"Kemungkinan begitu, Non. Nggak ada yang mau tinggal disini entah Nyonya atau Tuan. Rencana mau dijadikan harta gono gini, Non. Wah, saya keceplosan! Maaf, Non. Jangan bilang siapa - siapa ya."
"Iya, Pak. Bapak tenang aja. Saya masuk ke dalam dulu, Pak. Silakan diteruskan kerjaannya, maaf juga saya jadi ganggu." Flo beranjak menuju teras rumah. Namun, masih ragu untuk masuk ke dalam.
"Nggak apa - apa masuk saja, Non." Pak Broto tersenyum ramah, keringat di dahinya menetes di kemeja yang ia pakai. Ia seka dengan punggung tangannya. Flo mengangguk pelan.
__ADS_1
***
Flo masih termangu dan ragu, akan diketuk atau tidaknya pintu rumah Mecca padahal pak Broto sudah meminta dirinya masuk. Akhirnya diketuk juga pintu itu, Flo mundur dua langkah ke belakang. Ia menunggu pintu dibuka seseorang dari dalam.
"Siapa ya?" Tanya Mecca saat membuka pintu. Kedua matanya fokus menatap seseorang di depannya.
"Flo?" Ucap Mecca, saat tahu siapakah gerangan yang datang. Ia menatap serius Flo lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, kedua matanya mencoba berpaling agar tak bertemu pandang dengan Flo.
"Hai..." Sapa Flo seraya tersenyum manis seolah diantara mereka berdua tidak ada masalah yang terjadi. Flo menatap lekat - lekat pada Mecca. Ada rasa rindu yang membuncah dalam tatapan Flo kepada Mecca.
"Ada apa lo kesini? Belum puas jambak gue kemarin? Lo mau apa lagi?" Tanya Mecca menahan tangis. Ia berpura - pura kuat di hadapan Flo.
"Jangan Pergi! Tolong, jangan tinggalin gue dan temen - temen yang lain. Kita semua sayang sama lo. Kenapa harus lo pendam sendiri masalah yang begitu berat seorang diri? Kenapa harus pura - pura jadi orang jahat kalau sebenarnya lo nggak bisa?" Flo menahan air matanya supaya tak menetes, ia mendongakkan kepalanya namun tetap saja air bening itu dengan sukses tumpah dari muaranya.
"Flo, gue bukan orang baik. Gue jahat! Gue coba ngerebut Judith dari elo. Gue ganggu hubungan Banyu sama Gina. Banyak lagi kejahatan gue, Flo. Gue nggak pantes jadi temen lo. Lo terlalu baik buat gue. Gue udah bikin banyak orang kecewa, malu, benci sama gue.... " Mecca terisak, air matanya sudah membasahi bahu blouse yang dipakai Flo.
"Gue udah tahu semuanya, Ca. Waktu itu di uks, lo datang nemuin Judith, gue denger semua percakapan kalian berdua. Judith yang minta gue buat datang kesitu, jadi lo nggak usah nyalahin Judith juga." Flo terdiam beberapa saat. "Kenapa harus jadi kayak gini hubungan kita? Apa lo udah nggak anggap kita sahabat? Dan malah dengan sengaja mau lo buat pecah persahabatan diantara kita?" Flo melepaskan pelukannya, memberikan usapan halus di punggung Mecca.
"Waktu itu gue ngerasa nggak ada yang sayang sama gue, Flo. Gue baik pun hasilnya sama aja. Akhirnya gue gangguin hubungan Banyu sama Gina, gue coba merebut lelaki itu tapi nggak bisa karena gue sadar diri yang dia cinta bukan gue, tapi Gina. Cinta dia ke gue cuma nafsu. Dan Judith, dia sahabat gue dari kecil, gue sayang sama dia tapi sayangnya cinta dan hati dia cuma buat elo....
Maka dari itu gue coba misahin kalian. Biar gue bahagia, tapi apa yang terjadi? Gue jadi egois dengan cari perhatian yang sebenarnya bukan buat gue. Gue nyesel, Flo. Maafin gue.... " Tangisan Mecca membuat Flo terenyuh. Ada sakit luar biasa yang dirasakan Mecca, hingga isakannya pun terdengar memilukan.
"Keluarin semua beban lo, peluk gue sampe lo ngerasa beban lo berkurang. Jangan ditahan airmata lo yang mau keluar. Biar nggak sesek. Dan setelah itu, lo janji sama gue buat perbaiki semuanya. Jadi orang yang lebih baik lagi. Gue sayang sama elo." Flo memeluk dan menenangkan Mecca. Ia membelai rambut Mecca dengan lembut dan tulus. Kemudian ia tangkupkan kedua pipi gadis itu, hingga tatapan mereka saling intens satu sama lain. Mecca mengangguk. Flo tersenyum.
"Maafin gue ya, Flo. Gue harap kalian masih mau kenal sama gue. Gue janji meskipun udah nggak disini lagi, kita tetap bisa komunikasi satu sama lain. Lo udah tahu kalau bokap sama nyokap....." Sesal Mecca, ia melihat Flo dengan tatapan sayu. Jari telunjuk Flo membungkam bibir Mecca.
__ADS_1
"Stop! Gue udah tahu, Ca. Meskipun nggak semuanya gue tahu, tapi garis besarnya gue udah paham. Kalau lo tetep harus milih ninggalin kita. Gue percaya ini udah jadi jalan yang terbaik buat kita semua. Tuhan nggak akan ngasih cobaan melebihi kemampuan umatNya. Yakinlah, pasti akan ada kebahagiaan di luar sana buat lo..."
"Makasih, Flo. Makasih banget, lo mau kenal dan sayang sama gue... Makasih..." Mecca menundukkan kepalanya, mencoba menyeka air matanya dan tersenyum pada Flo.
***
Dan diluar Kyo masih setia menunggu Flo. Kyo mendongakkan kepalanya, menatap langit dan awan diatas sana. Mendung.
"Udah kelar?" Tanya Kyo pada Flo yang sudah berdiri di pintu gerbang bersama Mecca. Mecca nampak terkejut, ternyata Kyo yang datang menemani Flo.
"Gue kirain Judith yang nemenin lo, Flo! Ternyata Kyo!" Ujar Mecca membuat telinga Kyo panas, karena semua orang nampaknya masih senang menyangkut pautkan hubungan Flo dengan Judith.
"Flo pacar gue, Ca. Asal lo tahu ya, jadi jangan lo comblangin lagi Flo sama Judith!" Ancam Kyo pada Mecca, dan membuat Mecca menahan tawa. Flo menundukkan kepalanya menahan malu dengan aksi terus terang dari Kyo.
"Deuh, si bucin..." Ledek Mecca.
"Biarin, wekk..." Kyo menjulurkan lidahnya. Ia seperti anak kecil jika ada sangkut pautnya dengan Flo yang kini menjadi kekasihnya. 'Maju terus pantang mundur, malu kesekian pokoknya lah...'
***
Mohon dukungannya ya...
Yang sudah membaca karyaku..
Jangan lupakan like, koment dan vote
Hatur nuhun 🙏🙏🤗🤗
__ADS_1