
Vina masih bingung merangkai kata untuk membantah ucapan Tian. Padahal itu memang benar adanya, tapi itu dulu. Saat Tian masih berseragam putih biru, lelaki itu berusaha benar - benar mengejar dan membuktikan cintanya. Tapi karena godaan di luar lebih dari dugaan, ia melepaskan Tian yang begitu baik dan menyayanginya. Salahkah jika mengharapkan Tian menjadi miliknya lagi?
Tian menatap Vina dengan sorot mata yang tajam, seperti ingin menerkam atau bahkan menghilangkan perempuan yang kini berada di hadapannya.
Vina menggapai pergelangan tangan Tian dan menggenggamnya, dari jarak jauh pun pemandangan yang menyesakkan dada itu dapat disaksikan langsung oleh Aurel cs.
Aurel terlihat kecewa namun ia tutupi sebaik mungkin. Bukan Aiko namanya jika ia melewatkan hal itu, ia tidak bisa dibohongi. Kalau boleh bilang, mata nggak bisa bohong.
"Jangan salah paham dulu, Rel. Mereka cuma temen kok, yang sekarang pacarnya kan elo." hibur Randy yang juga ikut merasakan kecewa, karena ia mencoba memposisikan dirinya sebagai Aurel.
"Gue nggak apa - apa kok, Ran. Gue ke toilet dulu," Aurel mencari alasan yang sekiranya masuk akal, ia berlari kecil menuju toilet. Aiko menatap punggung Aurel hingga tubuh gadis manis itu menghilang dari pandangannya.
'Pasti mau mewek itu bocah! Ah... Kayaknya gue perlu turun tangan nih....'
Aiko berjalan mendekati Tian dan Vina yang saat ini berada di depan ruang kesenian, tak jauh dari lapangan basket. Gadis itu melemaskan jari - jarinya sampai berbunyi kretek kretek. Entahlah apa yang akan dilakukan Aiko. Randy harus mengikuti kekasihnya, karena ia takut terjadi hal yang tak diinginkan.
***
"Yan, kamu mau kan balikan lagi sama aku?" tanya Vina serius dengan penuh harap seraya menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Tadi aku udah jelas banget ngomongnya, kalau sekarang udah ada perempuan yang spesial di hati aku. Lagipula kamu hanya masa lalu, dan dia adalah masa depan aku. Kamu tuh lucu ya, dulu ninggalin aku buat cowok kuliahan yang kata kamu waktu itu dia lebih dewasa dari aku. Kok sekarang nyariin aku lagi? Apa kamu dicampakkan?"
" Yan, aku bisa jelasin."
"Nggak usah, Vin. Hubungan kita udah lama berakhir, jangan diungkit lagi. Daripada mengingat kenangan dulu, mending kita fokus menatap masa depan kita masing - masing yang masih panjang."
"Aku nyesel, Yan. Dan aku sadar cuma kamu yang bisa selalu ada buat aku."
"Selalu ada buat jadi driver kamu? Hah?" Tian tersenyum sinis, ia menopang dagu dan mengusapnya.
__ADS_1
"Yan..." ucapan Vina terhenti setelah mendengar teriakan yang mirip toa masjid mendekat ke arah mereka berdua.
"Woy, Lo!" seru Aiko yang berjalan semakin mendekat ke arah Tian dan Vina.
Tian dan Vina agak kaget dengan teriakan dari saudari kembar Kyo yang cukup memekakkan telinga.
"Gue?" tanya Tian sambil menunjuk jari telunjuknya ke dada bidangnya.
"Bukan lo!" jawab Aiko singkat.
Vina yang sadar diri bahwa selain Tian juga ada dirinya segera menatap lekat gadis manis yang tersenyum remeh padanya. Karena ia tahu bahwa dirinya lah yang dimaksud oleh gadis cantik itu.
"Lo ngomong sama gue?" tanya Vina angkuh sambil berkacak pinggang.
"Iya lah. Lo - vi - na! Lo!"
"Panggil gue Vina bukan Lo. Sok kenal banget sih lo sama gue."
"Berisik lo! Gue kesini bukannya mau ganggu temu kangen kalian berdua. Sebenarnya gue juga bukan orang yang suka ikut campur masalah orang lain. Tapi berhubung ini bunglon pacar temen gue, sekarang lo berurusan sama gue." tantang Aiko pada Vina.
'Astaga, Aiko. Mulut lo pedes amat, masa tega ngatain gue bunglon! Nggak sekalian komodo! Ini anak mau belain gue, apa mau ngejatuhin harga diri gue sebagai cowok?' Batin Tian.
Randy di belakang Aiko hanya mampu menahan tawa dan mengikuti ritme sang pacar yang sedang emosi.
"Lo cuma temen kan? Nggak usah mikirin hidup orang lain deh, urusin aja hidup lo sendiri. Lagipula gue kesini buat Tian kok. Bukan lagi cari masalah sama lo!"
"Lo kesini buat ganggu hubungan Tian sama ceweknya, jadi sekarang gue ikut bertindak dan secara nggak langsung cari masalah sama gue. Denger ya, Tian udah nggak punya perasaan apapun sama yang namanya Lovina. Puas lo? Mending lo balik, cuci muka terus melek, sadar diri masih punya muka nggak nemuin si bunglon!"
" Orang dia masih ada rasa sama gue kok!" dengan percaya diri yang tinggi, Vina seakan terbang dengan sombongnya.
__ADS_1
"Eh, lama - lama lo jadi songong banget ya, heran gue kenapa dulu Tian bisa suka sama titisan mak lampir kayak lo!"
"Maksud lo?" Vina ikut terbawa emosi.
"Kemana aja lo, beberapa tahun setelah mutusin Tian? Lo pernah mikir nggak setelah kejadian itu, masih hidup nggak tuh anak yang lo tinggalin gitu aja? Pernah mikir nggak? Dia lontang lantung nggak berbentuk, nemplok sana nemplok sini godain cewek, itu buat apa? Buat hibur dirinya yang lagi patah hati." celoteh Aiko panjang lebar.
"Maka dari itu gue kesini buat balikan lagi sama Tian, gue mau perbaiki semua yang pernah terjadi." Vina menjawab dengan santai pertanyaan Aiko.
"Enak bener lo ngomongnya, renyah kayak wafer berlapis - lapis! Bener - bener nggak tahu diri banget jadi cewek, untung ini masih di sekolah, coba kalau nggak! Habis lo sama gue!" ancam Aiko yang tak membuat Vina takut, justru semakin membuat gadis yang diancamnya semakin tertantang.
"Lo pikir gue takut?" tantang Vina seraya tersenyum remeh. Sudut bibirnya terangkat naik, Aiko mulai menunjukkan wujud aslinya.
"Denger gue baik - baik ya. Bunglon satu ini dulunya emang suka godain cewek - cewek tapi gue tahu dia bukan buaya darat. Dia cuma mau nyembuhin luka di hatinya bukan niat mainin perasaan cewek. Setelah dia sembuh dari patah hatinya, eh lo datang lagi dengan seenaknya ngajak balikan. Situ sehat? Hai ferguso, hidup nggak serenyah iklan wafer di tivi!"
'Kok dari tadi bahas wafer mulu ini cewek gue!' batin Randy.
'Perasaan dari tadi bukannya bikin nama gue baik malah membongkar aib gue semua! Mimpi apa gue semalam?' Batin Tian, sambil mengacak - acak rambut hitamnya.
Aiko berjalan mendekati tubuh Vina yang sedikit lebih pendek dari dirinya. Ia memelototi Vina dengan tatapan dingin, sampai mengepalkan kedua tangan dengan erat.
Tangan Aiko refleks terangkat naik hendak menyentuh rambut Vina.
"Beb!" Seru Randy.
"Kamu diam aja, Beb! Nggak usah ikut campur, ini urusan cewek!" bentak Aiko pada Randy. Nyali Randy menciut setelah mendengar bentakan yang datangnya dari sang pacar.
Aiko hendak memulai lagi aksinya, kedua tangannya sudah terangkat naik namun seruan dari jauh membuat ia mengurungkan niatnya. Vina masih santai dan tetap pada posisinya. Aiko menurunkan kedua tangannya dan menatap dingin seseorang yang datang menghampirinya.
__ADS_1
***