
Aiko merasa menjadi seorang terdakwa dengan dua hakim di hadapannya, yang tengah bersiap mengetuk palu untuk dirinya. Divonis apakah dia nanti? Ia masih harap - harap cemas.
Mami dan Papi beradu pandang untuk beberapa saat. Dan akhirnya, kata - kata itu keluar seperti petir menggelegar di langit yang cerah. Aneh? Memang. Ucapan yang saklek, tidak bisa dibantah.
"Mau nggak mau, siap nggak siap kalian akan kami nikahkan. Kami percaya anak om Justin pasti bisa membahagiakanmu. Ini sudah kami pikirkan jauh - jauh hari. Tolong, demi kebaikan bersama." titah Papi dengan raut wajah serius menatap putrinya.
"Tapi, Pi...." Aiko mengajukan pembelaan.
"Kalian pasti bisa bahagia, Mami yakin, Sayang. Nggak ada orang tua yang ingin membuat anaknya menderita, jikalau ada itu pasti orang tua yang gila." ucap Mami memberikan pengertian.
"Bagaimana perasaan Randy kalau tahu tentang hal ini, Mi? Pi?" tanya Aiko menahan sesak di dadanya, memaksa orang tuanya untuk memikirkan perasaan Randy.
"Dia pasti bisa mengerti, Randy orang yang baik pasti akan menemukan jodohnya suatu saat nanti. Tolong penuhi permintaan tante Aira. Kalian bertemu dulu, saling kenal satu sama lain. Pasti akan tumbuh cinta, seperti kata pepatah jawa mengatakan witing tresno soko kulino (tumbuh cinta karena terbiasa) karena Mami yakin kalian berdua pasti belum siap dengan keputusan ini. Mami yakin cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Mami sama Papi jahat!" Aiko tak tahan mendengar permintaan kedua orang tuanya yang semakin menyudutkan tanpa memberi pilihan. Tidak ada yang bisa mengertikannya.
Aiko berlari keluar dari ruang keluarga dan membanting pintu lumayan kencang hingga membuat Mami terkejut tidak dengan Papi, mungkin Papi sudah bisa memprediksi akan terjadi hal seperti ini.
* * *
Aiko masuk ke dalam kamarnya, meraih ponsel dan memasukkannya di sling bag berwarna hitam miliknya. Ia berjalan mondar mandir memikirkan banyak hal.
Apa harus kabur? Tapi kemana? Ke rumah Flo? Lucu! Sama aja tukeran anak dong, secara Flo aja tinggal di rumah ini dan di hak milik oleh Kyo tidak bisa diganggu gugat, padahal saat ini ia membutuhkan bahu sang sahabat yang selalu ada untuk mensupport dirinya.
Alternatif lain? Ke rumah Aurel? Ah, semakin merepotkan! Disana bukannya aman malah diinterogasi sepanjang malam dan berakhir ngobrol sehari semalam tanpa bisa istirahat.
Ayo cari ide lain, Aiko! Pura - pura mau kabur? Biar Papi Mami iba terus batalin perjodohan? Ah gila, bisa - bisa di cap jadi anak durhaka gue!
Aiko berlari menuju pintu keluar, ia sudah memesan taksi online dan segera masuk saat sang driver berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya.
__ADS_1
Dan jawabannya kali ini adalah ia akan menuju ke rumah seseorang.
* * *
Degg
Jantung Aiko berdetak begitu cepat, ia melihat pemandangan yang tak mengenakkan untuk dilihat. Andai ia memiliki sayap, pasti dengan segera ia akan terbang mencari tempat untuk menenangkan diri.
Aiko berdiri tepat di depan pintu gerbang rumah Randy yang kala itu terbuka lumayan lebar, hingga dari jauh pun ia bisa melihat Randy yang tengah memeluk seorang perempuan. Perempuan asing, siapa dia? Dan kenapa perempuan itu menangis? Aiko tak mau tahu penyebab perempuan itu menangis karena apa, yang ia pikirkan saat ini adalah kenapa harus memeluk Randy?
Pelukan itu terlihat begitu erat, bahkan kini tangan Randy mengelus punggung si perempuan dengan hangat. Pandangan yang menyesakkan dada.
Niat hati ingin mencurahkan isi hati yang sedang dialaminya kini malah ia harus memupus semuanya tanpa memulai terlebih dahulu. Tak perlu lagi dibicarakan, entahlah semuanya begitu tiba - tiba. Aiko berlari sekencang - kencangnya namun ia berhenti saat seseorang memanggilnya.
"Aiko!" panggil seseorang yang tak asing di telinga Aiko.
"Bang..."ucap Aiko saat melihat Gerald menatapnya.
"Gue pikir tadi salah lihat, ternyata emang elo. Lo ngapain lari - lari di daerah sini? Kalau mau jogging mending besok pagi," kelakar Gerald yang membuat Aiko tersenyum tipis.
Aiko sedang berusaha memperlihatkan bahwa ia baik - baik saja. Tidak boleh ada yang tahu akan perasaannya yang hancur ketika melihat kekasihnya tengah memeluk gadis lain dan itu bukan dirinya.
"Ada kali, Bang, cewek malam - malam lari disini buat olahraga? Tadi Aiko abis ke rumah temen, ini lagi mau nyari taksi buat pulang." jelas Aiko sedikit berbohong, karena memang kenyataannya ia memang dari rumah teman, teman hati lebih tepatnya.
"Oh.." jawab Gerald singkat, lalu memberikan helm cadangan pada Aiko. Aiko menatap helm itu dengan penuh keheranan.
"Maksudnya apa ya, Bang?"
"Yuk balik, udah malam, nggak baik cewek malam - malam sendirian. Untung ketemunya sama gue, coba kalau ada orang yang punya niat jahat sama elo. Bisa habis lo, pulang tinggal nama." ucap Gerald sedikit menakuti Aiko, dengan segera ia membonceng sang kakak ipar.
__ADS_1
"Iya, Bang. Makasih ya," jawab Aiko. Tak kuasa lagi gadis itu menahan laju air mata yang telah menggenang, ia biarkan membasahi kedua pipinya tanpa sepengetahuan Gerald.
* * *
Aiko memasuki rumah dengan langkah gontai, bi Inah yang membukakan pintu hanya bisa diam sembari memperhatikan anak majikannya yang terlihat lesu.
Kedua kaki Aiko menuntunnya menuju ruang keluarga, Aiko berharap Papi dan Mami masih berada di ruangan itu. Dan sepertinya Tuhan mengabulkan keinginan Aiko, Papi dan Mami masih berada di ruangan itu seperti terakhir kali Aiko menemui mereka.
Aiko merasakan sesak di dadanya kala melihat Mami menangis teesedu - sedu di pelukan Papi. Ia heran kenapa dalam semalam bisa melihat adegan yang sama. Dari dua lelaki yang sangat ia sayang namun berbeda pemeran perempuan. Satu lagi Mami yang menangis sedangkan satunya lagi, ah Aiko tak ambil pusing.
Pintu ruangan itu masih memberikan celah hingga membuat Aiko bisa melihat kedua orang tuanya dan bisa mendengarkan percakapan mereka. Aiko memasang telinganya lebih mendekat.
"Mi, sudah dong nangisnya. Malu kalau ada yang denger,"
"Mami sedih, Pi. Karena nggak bisa mengabulkan keinginan terakhir Aira. Aku yakin dia nggak bahagia disana kalau tahu anak kita nggak mau menikah sama anaknya. Tadi Justin juga bilang kalau anaknya menolak perjodohan itu. Kita harus gimana, Pi?" dengan sesenggukan Mami mengeluarkan uneg - unegnya pada Papi.
Papi membelai rambut istrinya dengan lembut dan tatapan penuh cinta. Aiko terenyuh melihat kasih sayang Papi pada Mami.
Andai suatu saat gue bisa dapatin itu dari suami gue! Tapi Randy juga baik, apa iya calon suami gue bisa membahagiakan gue? Mami jangan nangis dong, hati Aiko sakit ngelihat hal ini! Aiko nggak mau Mami nangis lagi...
Aiko membuka pintu lebih lebar hingga menampakkan tubuhnya yang segera disambut tatapan heran Papi dan Mami.
"Sejak kapan kamu berdiri disana, Aiko?" tanya Mami seraya menyeka air mata yang masih membasahi pipinya.
"Sepuluh menit yang lalu, Mi. Aiko menerima perjodohan ini, Mi. Temukan Aiko sama anak Om Justin secepatnya...."
"Apa?" seru Papi dan Mami bersamaan. Ada tanda tanya besar meliputi pikiran sepasang suami istri itu.
* * *
__ADS_1