Jodoh Florence

Jodoh Florence
Heart to Heart


__ADS_3

"Flo, Papa dan Mama minta maaf...." ucap Papa tulus.


"Minta maaf untuk apa, Pah?"


Senyuman Papa penuh arti mengundang tanda tanya di benak Flo.


"Ada apa ini?" Flo menyipitkan sebelah matanya, fokus melihat Papa yang juga menatapnya dengan raut wajah serius namun lebih tenang daripada dirinya. Ucapan Papa terdengar ambigu baginya. Membuat tanda tanya besar dalam hati dan pikirannya.


Papa tak kunjung menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Pria paruh baya itu memandang sekeliling kemudian beralih kembali menatap Flo.


"Flo, tahukah kamu sayang, bahwa cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya?" Papa memberi jeda untuknya menghirup nafas sedalam - dalamnya. Tarikannya terasa berat, ada sesuatu yang membuatnya tercekat dan kelu.


Flo mengernyitkan keningnya, heran dan juga tak mengerti akan ucapan sang ayah. Akan dibawa kemana arah pembicaraan Papa?


"Tahukah kamu nak, saat kamu lahir ke dunia, Papa merasa bahagia sekali, seolah datang bidadari tak bersayap yang mengisi hidup Mama dan Papa. Papa masih ingat dengan jelas saat kamu menangis untuk pertama kalinya, setelah itu kamu menggenggam jari Papa sedemikian kencang seolah takut terlepas dari jangkauanmu," kenang Papa seraya mendongakkan kepalanya menatap ke atas.


Papa kembali tersenyum dan membelai lembut pipi putrinya.


"Maafkan Papa harus melepaskanmu begitu cepat. Kamu harus memenuhi perjodohan ini. Papa harap kamu tidak membenci kami. Rasanya waktu berlalu begitu cepat, sepertinya baru kemarin kamu terlahir ke dunia ini, tapi sebentar lagi Papa akan menyerahkanmu pada lelaki yang akan menjadi suamimu." air mata itu menggenang dengan secepat kilat di matanya.


"Pah? Papa kok ngomongnya gitu sih? Aku nggak akan kemana - mana kan, Pah? Aku akan tetap di rumah dan tinggal bersama kalian meskipun kami menikah. Aku belum bisa jauh dari Mama dan juga Papa," Flo berucap sambil menitikkan air mata.


"Setelah kamu menikah nanti, kamu harus tinggal bersama suamimu. Suka duka kalian jalani berdua. Tidak ada campur tangan kami sebagai orang tua. Kalau kamu membutuhkan saran atau nasihat, kami dengan sigap akan memberikannya."


"Pah.."


"Flo, anak gadis Papa yang cantik, kalau kamu merasa berat atau terpaksa untuk menikah dengan Kyo, bicaralah sekarang, Sayang! Mumpung belum terlambat, Papa akan membantu kamu bicara ke Mama. Kalau bukan karena permintaan almarhumah Aira, mungkin saat ini kamu masih bisa menikmati sekolahmu dengan tenang, berstatus single bukan sebagai calon istri,"


"Jangan, Pah!" pekik Flo spontan.

__ADS_1


"Maksud kamu gimana, Flo? Bicaralah, Sayang, jujur sama Papa," pinta Papa dengan wajah memelas.


"Boleh Flo tanya sama Papa sebelum menjawab pertanyaan dari Papa barusan?"


Papa tak mengeluarkan sepatah kata pun, beliau hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Jadi ini tujuan Papa dan Mama ngajakin Flo keluar? Papa dan Mama pengen tahu apa yang Flo rasakan karena perjodohan ini?"


"Iya, Sayang...."


"Maafin Flo ya, Pah. Nggak menceritakan dari awal apa yang Flo rasain. Awalnya Flo kaget, ada rasa yang campur aduk jadi satu secara bersamaan, bahkan sedikit emosi denger obrolan Mama sama Papa waktu itu. Tiba - tiba nyuruh Flo buat nikah semuda ini. Tapi yang perlu Papa tahu, Flo nggak menyesal, jadi.... "


Flo menghentikan ucapannya, digenggamnya jemari sang ayah, menatap lekat kedua manik mata pria paruh baya di hadapannya.


"Maksud kamu?" tanya Papa memastikan.


"Flo..."



"Sudah cukup Pah, nggak perlu merasa sedih atau bersalah dengan perjodohan ini. Flo dan Kyo awalnya juga kaget, tapi ternyata kami saling menyayangi, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih jauh. Apa ini ya Pah, yang dinamakan Heart to heart antara ayah dan anak? Papa dan Mama tenang aja ya, kami bahagia dengan perjodohan ini,"


"Terima kasih, Sayang. Kamu bisa bersikap bijak, dari awal Papa pun sudah merasa bahwa Kyo adalah lelaki yang pantas buat kamu,"


"Semoga kami bisa bahagia ya, Pah. Dan bener kata Papa tadi, bahwa cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya, karena itu yang Flo rasain. Flo sayang sama Papa," Flo menyeka air matanya yang refleks menetes hingga pipinya.


"Flo, di dunia ini Papa percaya bahwa Tuhan memberikan bidadari tak bersayap yang dikirimkanNya di hidup Papa, memberi warna dan jalan cerita yang penuh dengan teka - teki. Mereka adalah Nenekmu, Mamamu dan kamu. Kalian segalanya buat Papa. Papa akan memperjuangkan kalian agar kalian selalu bahagia,"


"Pah...."

__ADS_1


"Papa sebenarnya mengajak kamu kemari karena Papa kangen masa - masa kita bisa meluangkan waktu untuk jalan - jalan bersama. Karena sebentar lagi kamu sudah ada yang punya, maka dari itu Papa curi Start untuk menemanimu bersenang - senang. Kapan ya Sayang kita terakhir jalan-jalan?" tanya Papa tak enak hati.


"Udah lama banget, Pah. Tapi Flo seneng pakek banget, hari ini kalian meluangkan waktu buat menemani Flo. Flo tahu kalian sibuk, jadi Flo kadang sering kesal karena merasa nggak ada yang memperhatikan Flo, tapi Flo sadar nggak boleh egois. Kalian segalanya Pah buat Flo."


"Selamanya kamu akan selalu menjadi anak kecil Papa yang harus selalu disayang dan diperhatikan. Tapi sebentar lagi, Papa harus memberikan tugas ini pada Kyo. Jangan sampai ada masalah di antara kalian yang ujung - ujungnya nanti kabur dari rumah tiap berantem! Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin!"


" Dikasih es dong, Pah?" celetuk Mama saat menghampiri keduanya selepas keluar dari toilet.


"Ih, Mama apaan sih, ganggu aja nih obrolan hati ke hati antara Papa dan Flo!" Flo berpura - pura manyun.


"Mama sudah dengar semuanya," ucap Mama saat berhasil mendaratkan pantatnya tepat di kursi bersebelahan dengan Papa.


"Maksudnya?" Flo kebingungan dengan ucapan sang Mama.


Papa mengeluarkan ponsel dari balik saku celananya. Ternyata sedari tadi sambungan telepon dari Papa ke Mama sedang berlangsung. Jadi sewaktu Mama di toilet pun bisa mendengar dengan jelas obrolan anak dan ayah tersebut.


"Kalian menjebak Flo dong?" pekik Flo kemudian segera menutup mulutnya.


"Bukan menjebak namanya, Flo. Tapi mengajak kamu bercerita dengan santai tanpa ada yang harus ditutupi dari Mama. Karena Mama tahu kalau kamu lebih dekat dan bisa menceritakan segalanya sama Papa. Jadi terpaksa dengan cara seperti ini. Mama awalnya takut dan merasa bersalah, tapi setelah mendengar semuanya buat Mama jadi yakin bahwa pilihan kami nggak salah. Terima kasih, Sayang," ucap Mama penuh haru, ia tak lagi mampu menahan laju air matanya.


"Jangan nangis dong, Mah. Nanti cantiknya hilang loh," goda Flo.


"Nggak apa - apa, udah laku ini! Mana cantik pula!" sahut Mama bangga. Flo dan Papa kompak terkekeh.


"Udah tua, Mah! Masih narsis aja!" ledek Papa membuat Mama mencebik bibir, Flo tertawa lepas, ia tak lagi malu dilihat orang.


Peduli amat, masa bodoh! Orang aja nggak peduli dengan hidup kita, ngikutin omongan dan larangan orang terus menerus hanya akan membuat kita minder, buat apa? Jadilah diri sendiri. 🤭🤭


* * *

__ADS_1


__ADS_2