
Gerald menekan bel apartemen Keanu , namun tak kunjung dibukakan. Hati kecilnya mengatakan bahwa Keanu ada disini. Di tempat inilah Keanu akan menumpahkan segala rasa yang ia rasakan tanpa diganggu siapapun.
Gerald menghela nafas kasar, kembali ia mengacak - acak rambut hitamnya. Berjalan mondar mandir dengan pikiran tak karuan.
Pintu terbuka memberikan celah kecil untuknya. Benar dugaannya, Keanu ada disini. Gerald membuka pintu lebih lebar hingga ia bisa dengan mudah mengikuti Keanu, kemudian menutup pintu perlahan.
Keanu menoleh ke belakang, tanpa membalikkan badannya, ia hanya menyeringai. Ia berjalan gontai dan ambruk di sofa panjang, dan sesaat kemudian merebahkan tubuhnya. Salah satu tangannya menutupi kedua matanya.
Gerald menggelengkan kepalanya melihat kondisi apartemen Keanu yang jauh dari kata rapi, bahkan lebih mendekati kapal pecah porak poranda diterjang badai. Entahlah apa yang terjadi pada Keanu beberapa hari ini. Itu yang mengganggu pikiran Gerald.
"Lo kenapa, Bro?" Gerald mulai memberikan pertanyaan, ia berharap Keanu mau menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.
"Emang ada apa sama gue?" balas Keanu bingung, ia kembali memejamkan matanya untuk sesaat, kemudian mengerjap menatap Gerald.
"Lo aneh...."
"Aneh?" potong Keanu sembari tertawa menyeringai. Seakan tawa yang tersungging di wajahnya menampakkan kesedihan. Matanya sendu dan sayu, ada kilatan di dalamnya.
"Gue tahu lo balik ke apartemen ini cuma kalau ada masalah aja, bener nggak tebakan gue? Atau prediksi seorang Gerald salah?" tanya Gerald angkuh.
"Hah? Lo ngomong apaan sih? Gue cuma pengen nyari ketenangan disini." ucap Keanu santai.
Gerald lalai memperhatikan meja di hadapannya yang masih terdapat sisa sisa puntung rokok di asbak bahkan tercecer hingga keluar dari tempatnya. Keanu duduk dan meneguk satu sloki red wine dengan sekali teguk.
Keanu terlihat kacau, wajah tampannya kini sirna bahkan bisa dinilai seperti seorang bad boy. Tak ada kesan lelaki cool dan matang, yang ada hanya seperti seseorang pengembara yang sedang mencari dimana ia akan berteduh dan tinggal. Tak tentu arah dan tujuan.
"Apa dengan minum, masalah lo bakal selesai? Justru semakin membuat lo tambah pusing, Kean. Gue nggak tahu apa yang sedang lo alami saat ini. Tapi percayalah, kalau selalu ada sahabat yang siap untuk dengerin cerita lo! Keanu yang gue kenal nggak akan pernah tumbang seperti ini!" Gerald memutuskan pergi dari apartemen.
Keanu melihat gerak gerik Gerald yang akan pergi dari apartemennya. Ia memekik lumayan kencang memanggil nama Gerald. Gerald menoleh ke belakang, melihat betapa absurdnya Keanu saat ini. Tak ada wajah tampan yang digilai banyak gadis, entahlah apa yang membuatnya jadi seperti ini.
Keanu melemparkan barang - barang yang ada di dekatnya, hingga menambah pemandangan yang semakin tak layak dipandang sama sekali.
__ADS_1
"Keanu, are you mad?" teriak Gerald mencoba menyadarkannya.
"Iya, aku gila! Aku gila, Rald! Aarggghhh.. Brengsek! Lo tahu, Rald? Hidup gue saat ini seperti pepatah hidup enggan mati pun tak mau. Gue nggak pernah bisa memilih jalan hidup gue sendiri, Rald!" Keanu memukul dinding dengan kepalan tangannya beberapa kali, berniat membenturkan kepalanya namun segera di cegah oleh Gerald. Hati Gerald terasa sakit mendapati hal tersebut. Tak pernah terlintas di benak Gerald bahwa seorang Keanu Perwira bisa segila ini.
"Kean, please, jangan kayak gini....." Gerald memohon.
"Kenapa hidup gue selalu dikendaliin sama mereka? Apa gue terlahir sebagai robot? Gue juga manusia, Rald! Manusia!" Keanu meninggikan suaranya, dan menekankan kalimat terakhir.
Senyum sedih terukir jelas di wajah Keanu. Ada yang sedang dipikirkan Keanu, ia mendaratkan kasar tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di sofa. Tatapan matanya penuh lekat ke arah Gerald namun tidak dengan pikirannya. Keringatnya mulai bercucuran membasahi dari pelipisnya, nafasnya tersengal - sengal, lelaki itu mengusap kasar wajahnya, Gerald refleks memeluk sang sahabat.
"Kean...."
Gerald mengurungkan niatnya untuk memberitahu kabar bahwa Flo akan segera menikah dan meminta Keanu untuk melupakan sang adik.
Saat ini bukan waktu yang tepat! Semua butuh waktu, pasti akan tiba saatnya Gerald membuka segalanya. Melihat situasi dan kondisi Keanu seperti ini justru akan memperkeruh suasana.
* * *
Mama dan Papa sedang duduk di ruang tamu, tak seperti biasanya keduanya tengah mengobrol. Papa pulang lebih awal dari rumah sakit, usai memeriksa pasien pasca operasi. Mama juga memilih segera pulang dari toko kue karena ada yang ingin dibicarakan dengan suaminya.
"Pah, gimana kalau Gerald kita jodohin sama anak temen Mama. Berkali - kali dia nolak dijodohin, ya siapa tahu sama gadis ini dia mau. Asal Papa mendukung ide Mama, pasti Gerald mau mempertimbangkan," Mama memulai obrolan sesaat setelah menyeruput secangkir teh hijau buatan bi Imah. Mencium aroma teh yang menyeruak masuk ke indera penciumannya, harum dan menenangkan.
"Mah, pernah nggak sekali aja memikirkan perasaan anak - anak kita? Sebenarnya Papa belum rela Flo dinikahkan sedini ini. Bagi Papa, anak - anak kita masih kecil, masih membutuhkan kita sebagai orang tuanya...."
"Kita tetap orang tuanya, Pah!" potong Mama.
"Dengar Papa dulu, Mah. Papa belum selesai bicara. Sebagai kepala keluarga di rumah ini, tolong dengarkan permintaan Papa!"
"Ah, baiklah. Apa yang Papa mau bicarakan? Langsung ke intinya aja," pinta Mama.
Papa belum menjawab pertanyaan Mama, Flo sudah ada di depan keduanya.
__ADS_1
"Pah, Mah, Flo udah siap," Flo sudah menuruni anak tangga dan langsung mencari keberadaan orang tuanya.
Papa yang melihat anak bungsunya sudah siap dan rapi, segera menyudahi obrolan mereka. Papa mengerlingkan matanya memberi kode pada Mama untuk segera bersiap.
Flo memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang yang ia sampirkan di bahu kanannya. Memberitahu Kyo bahwa dirinya akan pergi bersama Mama dan Papa ke Mall terdekat untuk berjalan - jalan. Wajib lapor pada sang calon suami posesif. ðŸ¤
* * *
Sesampainya di Mall dan puas berjalan - jalan serta tak lupa shopping, mereka bertiga menuju food court. Sedari tadi ketiganya menahan lapar karena sibuk membeli ini itu, lebih tepatnya didominasi keperluan Mama. Flo dan Papa kompak menggelengkan kepala melihat kalapnya Mama saat berbelanja ria dan itu menguras waktu juga tenaga.
Flo dan Papa memilih makanan apa yang akan dinikmati, Mama bertugas mencari tempat duduk.
Papa mengajak Flo untuk duduk setelah memesan beberapa menu pilihan, Mama melambaikan tangan ke arah mereka berdua. Papa dan Flo segera duduk.
Mama menatap Flo dan Papa silih berganti, tak ada bosannya melengkungkan senyum di wajahnya yang masih terlihat awet muda.
"Tumben Mama dan Papa ngajakin Flo keluar," ucap Flo polos.
Mama dan Papa saling melirik satu sama lain. Papa tersenyum melihat anak gadisnya, kemudian Mama beranjak dari tempat duduknya.
"Mama ke toilet dulu ya," pamit Mama. Flo mengangguk mengiyakan.
Flo melihat Mama hingga tak terjangkau lagi dalam pengawasannya. Papa menggenggam erat jemari Flo.
"Flo, Papa dan Mama minta maaf...." ucap Papa tulus.
"Minta maaf untuk apa, Pah?"
Senyuman Papa penuh arti mengundang tanda tanya di benak Flo.
"Ada apa ini?"
__ADS_1
* * *