Jodoh Florence

Jodoh Florence
Bukti


__ADS_3

FLO'S CAKE & CAFE


Flo sudah sampai di toko kue Mama ditemani Kyo. Kyo menggandeng tangan Flo dan sebelah tangannya lagi membawa totte bag berisi dua boneka sapi. Mama yang melihat kedatangan mereka berdua segera mendekat. Tersenyum ramah pada calon mantunya, Flo melirik sekilas sang ibu.


'Apa istimewanya Kyo di mata Mama? Sampai tatapan hangat beliau berikan kepada lelaki yang akan dijodohkannya denganku? Ya Tuhan, tunjukkanlah mana jalan yang terbaik untukku? Di saat seseorang dari masa lalu kembali hadir dan satu lagi lelaki yang menyukaiku sejak kecil. Manakah yang harus kupilih?'


Kyo menyalami sang calon mertua dengan lembut dan sopan. Mama menepuk bahu Kyo dan tersenyum. Flo merasa diacuhkan.


"Yang anaknya Mama itu aku atau Kyo sih? Kok malah Flo dicuekin?" Flo mencebik bibir, manyun seketika. Mama menoleh pada anak gadisnya kemudian merangkul penuh kasih sayang.


"Ya wajar dong, kan jarang - jarang calon mantu Mama main kesini. Kyo diajak duduk dulu disana ya, Flo." Pinta mama seraya menunjukkan tempat duduk kosong yang berada paling ujung.


"Hemm..." Deheman pelan dari Flo membuat Mama paham akan sikap Flo yang sedang cemburu. Mama menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau kue coklat nggak, Sayang?" Tanya Mama pada Flo yang terlihat lesu dan seketika merubah mood malas Flo menjadi bersemangat. Mama berjalan mengikuti keduanya hingga tempat duduk yang telah ditunjuknya. Kyo dan Flo segera menduduki kursi yang tersedia.



"Mau dong, Mah. Dua ya, buat Kyo juga." Flo sumringah, Kyo senang melihat ekspresi kekasihnya. Flo membayangkan kue coklat sambil senyam senyum sendiri.


"Iya, sebentar ya. Kamu tunggu disini dulu, Mama bilang sama mbak Gita biar nanti diantar kesini. Mama mau ngecek kue lagi." Mama beranjak pergi kembali pada kesibukannya. Flo mengangguk senang.


Tak berapa lama, karyawan Mama yang bernama mbak Gita membawakan pesanan Flo dan dua botol air mineral. Menatanya di meja kaca tepat di hadapan Flo dan Kyo. Flo terlihat antusias dengan kudapan kesukaan yang ada di depan mata.



"Ayo dimakan. Ini enak banget loh, oh iya aku belum bilang ya. Ini kue kesukaan aku. Hemm delicious...." Flo memakai garpu kecil untuk mengambil kue dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"Buat kamu aja, kan katanya itu kesukaan kamu. Nanti kamu nggak kenyang kalau cuma makan satu, ambil aja bagianku. Aku rela kok." Ucap Kyo sembari menggeser piring kecil berisi kue coklat di samping piring milik Flo.


"Deuh, gitu banget deh. Kita harus selalu berbagi. Lagian ya, mau makan satu atau dua nggak ngaruh di perut aku. Nanti pasti laper lagi. Hehehe. Kamu juga makan dong."

__ADS_1


"Berarti boleh dong kalau aku berpikir kita juga bisa berbagi semua yang kita rasakan? Berbagi suka dan duka?"


"Selama kita menjalani semua dengan bahagia tanpa beban, kenapa nggak?" Flo tak membantah, justru mengiyakan.


"Bener nih? Aku boleh nggak tanya sesuatu sama kamu?" Kyo menatap serius Flo yang sedang asyik menikmati kudapannya.


Flo meletakkan garpu tepat di ujung piring kecilnya. Menghentikan aktifitasnya mengunyah kue, dan merespon Kyo. Mereka saling bertatapan.


"Kamu mau tanya apa?" Tanya Flo sembari meletakkan kedua tangan di meja kaca dan menautkan jemarinya.


"Sampai detik ini, apakah sudah ada aku di dalam hati kamu Flo?" Kyo dalam mode serius, tak nampak ada candaan dalam kalimatnya.


"Kamu mau aku jawab gimana? Yang selama ini kita jalani bukankah sudah selayaknya orang membina sebuah hubungan? Kalau kamu nggak ada di hati aku, mana mau aku dipeluk, dirangkul, dicium atau apapun sama kamu." Flo berusaha menjelaskan pada Kyo yang masih terus menunggu jawaban darinya.


" Tapi aku belum yakin, karena yang aku takutkan kamu hanya memainkan peran selama tiga bulan demi perjanjian konyol itu. Sekarang aku cuma ingin kamu melakukan apapun sama aku tanpa terpaksa. Ok?"


"Aku melakukan apapun sama kamu dengan sadar, tanpa paksaan sama sekali. Kita jalani aja dulu, seperti yang kamu bilang dulu. Besok pas tiga bulan pasti akan ada jawaban dari semua yang telah kita jalani. Karena jujur aku juga masih bingung dengan perasaanku sendiri."


"Tolong lihat kesungguhanku ya, aku nggak ada niat sedikitpun untuk menyakitimu. Aku benar - benar sayang sama kamu. Aku nggak mau obral janji, karena yang ku tahu janji itu bisa dibuat untuk dilanggar. Aku hanya mau membuktikan keseriusanku sama kamu. Bukti."


"Duh, romantis banget sih kamu. Jadi gemes deh, pengen aku apain ya?" Flo mengubah topik dengan sedikit godaan darinya.


"Kamu nih ya, kalau aku lagi serius malah ganti topik. Ya udah, aku minta kamu beneran sayang sama aku juga. Tapi kalau kamu lagi pengen cium aku sih boleh aja, aku nggak nolak kok. Hehehe."


"Ih, pede amat kamu. Aku mau cubit itu mulut kamu pakai tangan aku. Gemes banget denger gombalan kamu. Wekk..." Flo menjulurkan lidahnya membuat Kyo tergelak melihat ekspresi konyol gadisnya.


Drrt Drrt Drrt


Ponsel Kyo yang ditaruh di atas meja bergetar. Kyo sengaja membuat ponselnya dalam mode getar. Ada panggilan seseorang dari sana, membuatnya seketika menepuk pelan keningnya.


"Halo, Sorry bro, gue lupa mau ke bengkel lo. Belum tutup kan? Iya, bentar. Ini lagi nyampe tempat camer. Hehehe. Iya, gue kalau udah sama calon bini suka lupa. Ok, tunggu gue." Kyo berbicara dengan seseorang di seberang sana, sepertinya cowok juga. Flo menerka nerka dalam hati dengan siapa Kyo berbicara.

__ADS_1


Kyo menatap heran pada Flo. Sejenak ia berpikir kemudian tersenyum. Ia beranjak dari kursi bermaksud memberikan penjelasan.



"Barusan yang telepon si Boim, nanyain aku jadi ke bengkelnya apa nggak? Aku lupa kalau hari ini jadwal servis si hitam."


Seperti mendapat jawaban dari pertanyaan yang menghinggapi kepalanya, Flo mengangguk pelan.


"Si hitam?" Tanya Flo bingung.


"Itu nama motor aku. Hehehe."


"Tadi boneka, sekarang motor, semuanya dikasih nama. Kamu ada - ada aja."


"Tadi kan aku udah bilang, karena kita belum punya anak makanya aku ngasih nama buat barang - barang di sekitarku. Hehehe."


"Kyo, ngomongin soal anak sekali lagi, aku cubit loh!" Ancam Flo, Kyo terkekeh.


"Daripada di cubit mending juga dicium!" Timpal Kyo membuat pipi Flo merona.


"Kamu tuh ya, mesum! Nggak lihat tempat, suka ngomong ngaco!"


"Biarin, yang penting jujur. Nggak ada yang ditutupin. Ini namanya keterbukaan. Hehehe." Kyo mengelak dengan memberi penjelasan menurut dirinya, ujung bibirnya terangkat naik kemudian terkekeh geli.


"Idih, ya udah sana. Kalau kamu mau servis, buruan sana kasihan temen kamu nanti kelamaan nunggunya."


"Tenang aja, Sayang. Dia juga kok yang punya bengkelnya. Aku keluar dulu ya, kalau kangen telpon aja. Dah.." Kyo segera berjalan menuju pintu keluar namun sebelumnya lelaki ini mengerlingkan mata pada Flo. Flo geli melihatnya.


'Ini cinta atau bukan ya? Kok aku deg - degan kayak gini!' Gumam Flo pelan. Tiba - tiba seseorang menepuk bahunya pelan. Mama!


***

__ADS_1


__ADS_2