
Kyo dan Flo memperlihatkan kemesraan keduanya di hadapan banyak orang. Hingga saat ini seseorang mendekati mereka berdua. Dia lah Kirei Yahagi, teman masa kecil Kyo dan Aiko sewaktu di Osaka. Mereka seumuran. Gadis itu semakin berisi daripada dulu, ia juga semakin manis.
Kirei hendak menyalami Flo dan Kyo, namun pandangan gadis itu tetap melekat pada wajah tampan Kyo. Sebelum mendekat ke arah kedua mempelai, ia sudah menghilangkan air mata yang tadi membasahi kelopak matanya.
Kini kirei beradu pandang dengan Flo. Ia menyalami sang mempelai wanita dengan tatapan sendu namun tetap menyunggingkan senyum manisnya.
"Hajimemashite, Watashi wa Kirei desu. Douzo yoroshiku. (Halo, namaku Kirei. Senang berkenalan denganmu)" ucap Kirei memperkenalkan diri.
"Namanya Florence, dia istriku." balasan keluar dari bibir Kyo yang berada di samping Flo dan menekankan statusnya di depan Kirei.
Kirei tersenyum tipis kemudian beralih hendak menyalami Kyo, namun Kyo menepis tangan Kirei dengan berpura - pura menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ogenki Desuka? (Apa kabar?)" tanya Kirei basa - basi.
Flo celingak celinguk sendiri karena tidak paham dengan arti ucapan Kirei.
"Hai, genki desu. Anata wa? (Hai, baik sekali. Bagaimana denganmu?)" jawab Kyo terdengar malas namun tetap membalas pertanyaan. Ia menghargai tamunya yang sudah jauh - jauh datang dari Osaka untuk menemuinya.
"Okagesamade, watashi mo genki desu (Berkat doamu, aku juga baik sekali). 5 - nen buri ni desune (ini perjumpaan kita yang pertama sejak lima tahun nggak ketemu),"
"Hai (Iya),"
"Mata ome kakarete ureshii desu (aku sangat senang bisa ketemu kamu lagi)," senyum mengembang terbit dari wajah oriental Kirei.
"Bukannya kamu sudah bisa berbahasa indonesia dengan baik dan benar?" tanya Kyo mengalihkan topik.
"Iya..."
"Tolong bicaralah dengan bahasa indonesia, aku takut istriku salah paham dengan obrolan kita tadi. Karena dia belum aku ajari mother tongue (bahasa ibu) dari keluarga Papi. Bisa kan? Oh iya, nikmati pestanya, kami mau jalan - jalan lagi menyapa tamu yang lain," pamit Kyo namun sebelumnya ia memberi sedikit 'peringatan' pada gadis itu.
Kyo tahu Kirei memiliki perasaan dengan dirinya sejak kecil, meskipun Kyo dan keluarganya hanya beberapa kali pulang ke Osaka untuk menjenguk Oma Hideko, Kirei pasti akan menemuinya disana. Dan itu alasan Kyo menghindari Kirei karena tak mau membuat Flo cemburu atau salah paham padanya.
* * *
Aiko dan Randy kembali bergabung dengan Kyo dan yang lainnya. Pandangan mata Aiko fokus pada gadis yang datang bersama Richard.
__ADS_1
Kirei? Ngapain dia kesini? Apa jangan - jangan dia mau ngejar Kyo lagi? Wah tuh anak pesonanya keren banget apa ya, nggak cuma gadis dalam negeri, luar negeri pun ikut antre suka sama tuh anak. Gue acungi jempol buat pesona lo brader.. Diam - diam Aiko mengagumi saudara kembarnya yang banyak digilai para gadis.
"Kok ngelamun? Mikirin apa?" tanya Randy menyadarkan Aiko dari alam bawah sadarnya membuat gadis itu sedikit terjingkat.
"Eh, eh, nggak apa - apa kok. Ya udah yuk gabung sama mereka," ajak Aiko.
Aiko mendekati Richard yang terlihat tengah bersenda gurau dengan Kirei. Entah kapan datangnya emosi yang kini merasuki Aiko. Aiko mencengkeram lengan putih Kirei hingga menimbulkan jejak kemerahan bekas tangannya. Kirei hanya diam saja dan mengikuti kemana Aiko membawanya. Randy hendak mengikuti Aiko, namun tatapan dingin ia berikan pada sang kekasih menyurutkan niatnya. Kedua manik mata elang Randy tak sedikitpun beralih dari gadisnya hingga tak terlihat lagi.
"Ngapain kamu kesini?" hardik Aiko seraya melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Kirei saat suasana agak sepi.
"Hanya ingin mengucapkan selamat pada Kyo, apa itu salah?" jawab Kirei meringis kesakitan sembari mengelus lengannya yang kini berwarna merah bekas tangan Aiko.
"Salah!" tatapan dingin menusuk bagaikan ribuan jarum terpancar di kedua mata Aiko.
"Kenapa kamu benci sekali sama aku?" tanya Kirei dengan logat Osaka yang kental.
"Karena kedatangan kamu disini mengusik hidupku dan Kyo. Kamu sudah lihat sendiri kan, Kyo sudah menikah! Jangan harap kamu bisa mendekatinya atau berpikir untuk merebutnya! Kalau hidupmu ingin tetap tenang!" ancam Aiko.
"Kenapa kamu sebenci ini sama aku? Sebenarnya aku salah apa sama kamu?"
"Banyak! Nggak bisa aku sebut satu per satu. Kesalahan kamu sama aku sudah fatal, dan aku pun nggak tahu bisa memaafkan kamu atau nggak!"
"Jangan berpura - pura bodoh. Dulu aku kira kamu orang baik. Ternyata kamu begitu munafik, dan bodohnya aku percaya dengan semua ucapan kamu. Bahkan kamu berniat menjauhkan aku sama Kyo. GILA!"
"Aku semakin nggak paham," elak Kirei.
"Asal kamu tahu, kamu yang buat aku punya sifat seperti ini. Aku jadi nggak bisa percaya sama yang namanya percaya, dan itu gara - gara kamu. Kukira kamu beda dari kebanyakan gadis lain yang mendekatiku karena benar - benar ingin bersahabat denganku, ternyata oh ternyata pendekatanmu sebagai sahabat itu palsu,"
" Palsu?"
"Iya P - A - L - S - U. Sayangnya rencana kamu belum berhasil, karena aku udah tahu semuanya. Kamu deketin aku karena kamu suka sama Kyo. Dan berniat menjauhkan aku dari saudaraku sendiri. Kamu GILA! GILA!" pekik Aiko, menahan emosi. Tak sadar tangannya sudah mengepal.
"Maafkan aku," ucap Kirei lirih.
"Nggak ada yang perlu dimaafin. Cukup kamu jangan mengganggu keluargaku, itu permintaanku. Jangan sekali - kali kamu berniat mengganggu ketenangan hidup kami. Jalani aja hubungan kamu sama kak Richard. Meskipun dia bukan Kyo yang bisa membalas perasaanmu. Kyo sudah bahagia dengan Flo."
__ADS_1
"Tunggu dulu, bukannya dia juga bersahabat dengan kamu. Ternyata dia deketin kamu juga karena Kyo kan?" tuduh Kirei karena ia sedikit mengorek informasi tentang persahabatan mereka meskipun tak sepenuhnya akurat.
"Jangan samakan Flo dengan kamu! Kalian pribadi yang sangat jauh berbeda. Asal kamu tahu, Flo tulus bersahabat denganku. Dan Kyo yang duluan suka sama Flo. Apa salah kalau Flo membalas perasaan saudaraku? Bahkan kamu pun nggak punya hak mengurusi urusan mereka. Kamu hanya orang asing. Ingat itu baik - baik!" Aiko meninggalkan Kirei seorang diri setelah puas menuntaskan kekesalannya.
"Aiko, tunggu!" teriak Kirei.
"Talk to my hand!" tanpa menoleh Aiko menunjukkan kepalan tangannya ke atas dan berlalu dari tempat mereka berdua bercakap - cakap. Ada rasa puas telah meluapkan emosinya pada Kirei. Aiko berjalan dengan tenang seolah bebannya berkurang sedikit demi sedikit.
* * *
Kyo dan Flo sudah berada di kamar pengantin. Kamar yang sudah di sulap sedemikian rupa hingga membuat keduanya terpukau atau bisa dibilang takjub. Bunga - bunga yang bertebaran di lantai hingga berhenti di tempat tidur berukuran king size menambah kesan romantis.
"Waw, amazing," ucap Kyo saat pertama kali membuka pintu kamar mereka di resort Papi Yuta.
"Tuh, iler kamu mau netes!" goda Flo.
"Isshh, apaan sih, Yang. Aku baru kali ini masuk kamar didekor kayak gini," jawab Kyo.
"Emang cuma kamu aja, aku juga baru kali ini! Udah ah, aku mau mandi, gerah banget, Yang!" Flo melepaskan genggaman Kyo. Ia mendahului Kyo masuk ke dalam kamar. Ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan koper miliknya namun tak kunjung ia temukan.
Flo duduk di tepi tempat tidur. Menatap Kyo sesaat kemudian beranjak dari posisinya. Flo melihat pantulan dirinya di depan cermin besar di hadapannya.
"Cantik kok, tapi sayang udah punya suami!" celetuk Kyo seraya melihat bayangan dirinya dari cermin, ia tepat berdiri di samping Flo.
"Kok gitu?"
"Ya iyalah, karena udah nggak ada yang boleh memiliki kamu selain aku..." goda Kyo sembari menarik dagu Flo, kemudian membelai lembut pipi gadis yang hari ini telah sah menjadi istrinya. Senyum Kyo mengandung arti tertentu. Dan itu disadari Flo.
Mau ngapain nih laki gue! Kok gue deg - degan banget saat ini! Batin Flo.
Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan cinta yang halal? Tak sabar rasanya ingin mengecup wajahnya yang menyejukkan hatiku, bolehkah aku menyentuhmu, istriku? Batin Kyo sembari tersenyum menyeringai.
"Ka, ka, kamu mau ngapain?" tanya Flo terbata - bata serasa lidahnya kelu. Tanpa sadar Flo semakin melangkah mundur hingga terjatuh di tempat tidur.
__ADS_1
"Hehehe, aku mau kamu....."
* * *