
Seminggu kemudian...
Kyo duduk di ruang tamu bersama Gerald. Abang iparnya datang ke rumah mereka dengan wajah sendu. Kyo menyeruput teh hijau buatan sang istri perlahan dari cangkir hingga menyisakan separuh. Flo yang tahu kedatangan Gerald segera berbaur dengan dua lelaki yang amat ia sayangi dalam hidupnya.
Gerald memainkan game yang ada di ponselnya dengan lesu.
"Lo kenapa sih, Bang? Gue perhatiin sejak abang datang sampai sekarang itu muka ditekuk mulu, ada apa sih?" tanya Kyo mulai penasaran.
"Nggak apa - apa, lagi bete aja," kilah Gerald yang semakin membuat Kyo merasa ada yang tak beres dengan kakak iparnya.
"Oh gitu, oh iya Bang gimana hubungan abang sama kak Ayu?"tanya Kyo mengalihkan topik.
"Dia?"
"Apapun namanya lah, mau Ayu mau Dia, yang penting orangnya sama! Gimana kelanjutannya itu? Kok nggak ada cerita lagi ke gue, Bang?"
"Dia nggak merespon perasaan gue, Kyo!" ucap Gerald dengan senyum kecut namun tak mengurangi kadar ketampanannya.
"Masa iya, Bang? Lo kan ganteng, Bang. Masa dia nolak abang?" Kyo tak percaya.
Flo melirik dua lelaki itu bergantian kemudian beranjak dari sofa. Ia melangkahkan kaki menuju dapur memilih belajar memasak dengan bi Imas daripada mencampuri urusan mereka.
* * *
Di dapur..
"Bibi, Flo bantuin masak ya," pinta Flo saat mendekat ke arah bi Imas yang sibuk mengolah potongan ayam masuk ke dalam bumbunya.
"Nggak usah, Non. Sebentar lagi selesai kok, tinggal bikin sambal tomat. Ayamnya juga tinggal di goreng setelah bumbu merasuk," jelas bi Imas.
"Flo aja ya, yang bikin sambalnya. Hitung - hitung biar Flo pinter bikin sambal gitu, Bi. Nggak apa - apa ya? Hehehe,"
"Ya sudah, Non. Terserah non Flo aja," bi Imas lebih memilih mengalah pada majikan mudanya.
Flo mengambil bumbu - bumbu yang akan dia olah menjadi sambal dengan penuh semangat.
__ADS_1
* * *
Sementara itu, pembicaraan dua lelaki di ruang tamu masih berlangsung. Kyo melirik pada Gerald yang nampak tak bersemangat.
"Udah nggak ada bini gue, Bang. Cerita aja, ada apa sih? Biasanya juga abang cerita sama gue. Pasti ada apa - apa, jangan sok nutup - nutupin deh, Bang. Siapa tahu gue bisa bantuin," tawar Kyo.
"Kayaknya Dia tahu kalau gue ada perasaan sama dia, dan sekarang dia seperti menghindari gue," ucap Gerald pada akhirnya tetap dengan wajah yang lesu.
"Oh jadi ini yang bikin abang lemah lesu lunglai tak bertenaga, kenapa susah banget sih tinggal ngomong begini ke gue, Bang? Kan jadinya enak gue ngasih saran ke abang kalau udah tahu penyebabnya," ucap Kyo santai.
"Lo ada saran gitu buat bantuin gue?"
Kyo mengangguk mantap mengiyakan pertanyaan sang abang ipar yang mukanya ditekuk seperti penjepit pakaian.
"Pepet terus Bang, jangan kasih kendor. Buktiin kalau abang suka sama dia. Kalau abang tuh sungguh - sungguh sama perasaan abang ke dia. Jadi bukan maen - maen atau niat nyakitin dia doang! Kalau perlu lamar sekalian, gimana tuh? Hehehe," saran Kyo membuat Gerald menganggukkan kepalanya berkali - kali kemudian toyoran pelan mendarat di kepala Kyo. Kyo cengengesan.
"Bukannya lo terkenal jenius ya? Kenapa omongan lo gurih bener, kayak kuah soto, bening bener, rasanya pengen gue masukin museum juga loh! Lo kalau ngasih ide yang bener dikit napa?" Gerald geregetan dengan ucapan Kyo yang seenaknya sendiri.
"Loh yang gue bilang itu bener, Bang. Abang aja belum coba, jadi gimana bisa terlaksana niatan abang? Kenapa gue bilang lamar? Itu karena cewek tuh minta bukti keseriusan, bukan cuma niat pacaran doang! Abang niatnya mau menjadikan dia pacar atau istri abang?"
"Bener juga omongan lo barusan, tapi entar dia mau gue kasih makan apa coba? Secara gua aja belum kerja, belum punya penghasilan, emang cinta bisa bikin dia kenyang?"
"Waduh, mohon maaf ye, nggak niat gue buat nyindir lo, Kyo. Tapi syukur kalau lo merasa. Hahaha," kini Gerald mulai bisa tertawa lepas setelah mendengar ucapan Kyo.
"Wah, tega lo bang! Tapi nggak apa - apa deh dikatain sama abang, jadi bikin gue makin semangat buat bahagiain Flo. Gue juga pengen kerja tapi kalau udah kuliah, jadi bisa meringankan beban dua keluarga, secara gue sekarang adalah kepala keluarga," ucap Kyo bijak membuat Gerald yakin bahwa Kyo adalah jodoh terbaik untuk adiknya.
* * *
Flo masih berkutat di dapur membuat sambal buatan tangannya sendiri. Ia menguleg dengan perlahan supaya tak menyiprat kemana - mana. Tanpa ia sadari, dua tangan melingkar di pinggang rampingnya. Dengan manja si pemeluk meletakkan kepalanya di ceruk leher Flo, mencium wangi khas tubuh Flo. Bahkan kini meninggalkan jejak kepemilikan di ceruk leher Flo.
Flo tahu bahwa orang yang tengah memeluknya memiliki niat terselubung. Ia sudah bisa menduganya. Tak jauh dari kamar dan kamar. Apalagi kalau bukan bercinta?
Mengingat keduanya masih berada di dapur, Flo membuyarkan keinginan suaminya.
"Aku lagi bikin sambal. Kamu mau sekalian aku uleg?"
__ADS_1
"Apa sih, Yang? Aku kan lagi pengen manja - manjaan sama kamu," ucap Kyo santai tanpa melihat di sekeliling bahwa keduanya masih berada di dapur dan ada bi Imas disana.
"Nanti aja ah, aku lagi nguleg, biar cepet selesai. Jadi bisa langsung makan siang, udah sana kamu temenin abang dulu!" titah Flo pada Kyo.
Kyo menurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak bisa membantah perintah nyonya muda di depannya alias istri tercinta.
* * *
Usai drama di dapur, kini mereka bertiga menikmati makan siangnya di meja makan. Bahkan Flo dan Kyo sudah mengajak bi Imas dan pak Sami untuk makan siang bersama dalam satu meja, namun kedua asisten rumah tangganya memilih menolak secara halus dan meneruskan pekerjaannya terlebih dahulu baru nanti mereka akan makan.
Kyo dan Flo tak pernah menganggap bi Imas dan pak Sami orang lain, mereka berdua sudah dianggap saudara oleh pasutri muda tersebut. Bi Imas masih sibuk di dapur dan pak Sami menyirami tanaman yang ada di taman depan.
"Wah asin bener ini sambal," celetuk Gerald membuat Flo seketika menoleh padanya. Kyo mengambil sesendok kecil sambal dan mencicipinya.
"Iya ini, asin, Yang," Kyo menimpali ucapan Gerald.
"Yang bener ah?" Flo tak percaya kemudian ikut mencicipi. Ia tersenyum malu - malu kemudian terkekeh. "Maaf ya, tadi aku takut kepedasan jadi nggak sengaja salah ngasih takaran garam dan gula. Kebanyakan garam ini, hehehe," lanjut Flo.
Bi Imas yang mendengar percakapan ketiga orang tersebut ikut nimbrung.
"Ada mitos kalau masak keasinan tuh karena kebelet kawin, Non. Tapi berhubung non Flo udah nikah bisa aja itu tandanya non minta diperhatikan dan dimengerti sama pasangan," jelas bi Imas kemudian berlalu kembali ke dapur setelah menjelaskan perihal mitos tersebut.
"Waw, aku malah baru tahu arti kawin loh, Yang. Sabar, Yang, nanti kita juga akan ke kamar, kita tuntaskan yang tadi. Hehehe," Kyo yang menganggap itu sebagai kode, kini tersenyum penuh kemenangan membuat Gerald yang ada disana terlihat jengah dengan ucapan Kyo yang tak disaring terlebih dahulu.
Flo hanya bisa menghela nafas kasar mendengar ucapan suaminya yang blak - blakan.
"Wah ini anak kalau ngomong nggak ada faedahnya ya, ngomongin kawin di depan gue. Inget gue juga dong, gue masih ada disini malah mau ditinggal perang sama kalian berdua! Ah..." ucap Gerald seolah - olah frustasi padahal dalam hatinya ia ikut bahagia jika sampai benar itu terjadi hari ini, ia akan menjadi seorang om.
Dengan santainya Kyo menggandeng tangan istrinya menuju kamar, padahal Flo sudah berusaha menepis keinginan sang suami mengingat masih ada Gerald di rumah mereka.
Tapi yang namanya Kyo kalau sudah memiliki keinginan harus tercapai. Mau tak mau Flo mengalah demi membahagiakan suami tercinta.
Wah ini sih namanya tragedi sambal pembawa kenikmatan bukan pembawa petaka, ah kampret itu Kyo ngajakin adek gue ke kamar! Tapi nggak apa - apa deh, moga cepetan gue bisa punya ponakan... Batin Gerald.
"Woy Kyo, Flo, gue minta satu ya, yang pipinya tembem jadi enak kalau dicium. Mau cewek atau cowok yang penting sehat!" teriak Gerald di meja makan yang melihat Kyo dan Flo hendak masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
Kyo mengacungkan ibu jarinya dari pembatas yang ada di lantai dua sambil tersenyum senang kemudian melambaikan tangan pada Gerald seolah menyindir sang kakak ipar yang masih melajang di usianya yang sebentar lagi menginjak usia dua puluh dua tahun.
* * *