
Hai jumpa lagi kakak2 semuanya, semoga sehat selalu yaa..
Happy reading, jangan lupa tap like yaa 😀
______________________________________
Aurel mencoba mengolah kata dalam pikirannya. Ia bingung harus memulainya dari mana. Dan memang benar ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa di hatinya yang tengah berkecamuk. Ia tak mau berperang dengan pikirannya sendiri. Mungkin dengan berbagi cerita, akan mengurangi beban dalam hidupnya. Setidaknya pada orang yang bisa ia percaya, yaitu Aiko dan Flo.
Aurel menceritakan semua secara detail dari awal pertemuan kembali antara Tian dengan Vina. Entah itu sudah menjadi rencana Tuhan atau apa, yang jelas Aurel merasa sakit hati dan dilema.
Flo sedang memikirkan sesuatu, ia terdiam kemudian menatap dua sahabatnya dengan serius.
"Tunggu gue sebentar!" pinta Flo, ia segera masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian ia sudah siap dengan mini dress dan tas selempang kecil.
"Mau kemana lo, Flo?" tanya Aiko penasaran melihat Flo terlihat rapi dibandingkan tadi.
"Mau ketemu Tian!" jawab Flo spontan dan santai.
"Hah! Ngapain?" ganti Aurel yang bertanya.
"Gue mau bikin perhitungan sama dia!"
"Tunggu, Flo! Jangan!" cegah Aurel.
"Kenapa? Gue nih lagi belain lo, kok malah lo larang gue? Ada apa sih?" tanya Flo penuh selidik.
"Iya nih, Rel. Biar semuanya jelas! Flo begini pasti karena nggak mau ada salah paham di antara kalian berdua gara - gara datangnya itu mak lampir!" Aiko mendukung iparnya.
"Nggak boleh! Please..." Aurel mengatupkan kedua tangannya memohon supaya Flo membatalkan niatnya melabrak Tian.
"Dengerin gue kali ini, Rel! Gue cuma mau dia buat keputusan, dia lebih memilih lo atau Vina! Perhatian dia ke Vina itu bisa dianggap berlebihan dan secara nggak langsung ngajakin Vina buat balikan! Paham?" seru Flo, emosi ibu hamil ini sudah tak lagi dapat terbendung.
" Iya, lagipula ngapain juga sih dia lo belain? Cowok kayak dia mending lo putusin aja! Dulu aja nggak mau deket sama Vina, nah sekarang malah kayak dewa pelindung buat tuh cewek!" Aiko menimpali.
__ADS_1
"Gue juga pengen minta putus. Gue nggak kuat lihat kedekatan mereka. Tapi apa daya, gue nggak bisa mutusin dia! Nggak bisa!" teriak Aurel dengan histeris. Flo dan Aiko saling berpandangan.
"Tapi kenapa?" desak Flo sekali lagi mencari kepastian.
"Iya kenapa Rel? Lo cantik, lo pasti bisa dapat yang lebih dari Tian!" timpal Aiko. Ia ikut mengompori Aurel.
Aurel mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkan di atas meja kaca di depannya. Testpack dengan dua garis yang tercetak jelas tampil di dalamnya. Garis yang tak samar, amat kentara.
Aiko dan Flo melongo melihat benda itu. Flo memegangi testpack milik Aurel dengan tatapan bingung juga bimbang, begitu pula Aiko. Karena Flo tahu apa artinya hal itu, yang tak lain menjelaskan bahwa sahabatnya kini sedang berbadan dua alias hamil. Aurel?
Kapan bikinnya? Oopss, kapan mereka melakukan itu? Sejak kapan mereka jadi seberani ini dalam berpacaran?
"Gue juga pengen mutusin Tian asal kalian tahu! Tapi bayi di dalam perut gue minta dia sebagai bapaknya buat tanggung jawab!" ucap Aurel lirih.
* * *
Flo beserta Aiko dan Aurel sudah berada di kampus. Mereka berlima kecuali Flo merasakan bangku kuliah di tempat yang sama, berbeda dengan Lily dan Dinda yang memilih meneruskan kuliah di luar kota.
Hanya Flo sendiri yang tercatat bukan sebagai mahasiswa di kampus itu, namun ia acuh. Lagipula tak akan ada yang mengetahuinya. Dari jarak yang tidak begitu jauh, Flo dapat melihat sang suami yang tengah duduk sambil menyeruput minumannya di kantin siang itu. Kyo tak tahu kedatangan Flo.
"Sayang!" panggil Flo sedikit manja hingga ia diperhatikan beberapa mahasiswa yang berlalulalang. Flo tak peduli, yang ia lakukan saat ini hanya fokus pada sang suami yang belum juga menyadari keberadaannya.
Kyo mengira hanya perasaannya saja yang mendengar namanya dipanggil oleh Flo, karena yang ia tahu sang istri duduk manis di rumah sambil menunggunya pulang. Kyo sempat terkejut melihat sang istri yang sudah ada di hadapannya namun segera ia netralkan perasaannya sendiri. Kaget, senang dan bingung jadi satu dalam pikiran lelaki itu.
Kyo masih memperhatikan Flo yang semakin mendekat ke arahnya. Flo mendaratkan tubuhnya tepat di depan sang suami yang menatapnya bingung.
"Kamu ngapain disini, Sayang?" tanya Kyo.
"Kenapa? Nggak boleh?" Flo balik bertanya dengan sensi. Aiko dan Aurel ikut bergabung namun mereka memilih diam sambil menyimak obrolan sepasang suami istri yang tengah serius.
"Bukan nggak boleh, tapi kenapa nggak bilang kalau mau kesini? Bentar lagi aku mau ngerjain tugas bareng temen - temen satu kelompok disini. Makanya aku ngopi dulu biar nggak ngantuk," jelas Kyo. Flo menganggukkan kepalanya tanda mengerti saat mendengar penjelasan sang suami.
"Aku kesini bukan mau nyariin kamu kok, Yang. Aku ada urusan sama Tian!" ucap Flo membuat pandangan sang suami fokus padanya.
__ADS_1
"Tian? Ngapain nyariin dia?" tanya Kyo heran.
"Udah lama nggak ketemu Tian, jadi penasaran aja gimana bentukannya dia sekarang!" jawab Flo asal. Namun Aurel hanya diam saja mendengar ucapan Flo, padahal biasanya ia akan membantah atau nimbrung. Tapi apa yang terjadi, Aurel justru terlihat lesu dan... Layu.
Apa ini efek lagi hamil muda ya? Aurel tenang aja, gue pasti bantuin elo!
"Jangan bilang kalau kamu ngidam pengen ketemu Tian? Itu anak aku, Yang. Nanti kalau mirip Tian gimana? Nggak boleh pokoknya!" pekik Kyo posesif.
Pletakk
Aiko menyentil kening Kyo lumayan kencang hingga membuat saudara kembarnya meringis kesakitan.
"Aw, apaan sih lo?" tanya Kyo tak terima, ia memelototi Aiko.
"Pikiran lo rada gesrek emang! Kita lagi ada urusan sama itu anak, bukan karena bini lo ngidam. Mikir yang bener dikit dong! Asal ngomong aja bisanya!" Aiko sewot, gadis itu mengerucutkan bibirnya, Flo spontan terkekeh melihat pertengkaran anak kembar di depannya.
"Bener yang dibilang Aiko, Yang?" tanya Kyo memastikan. Flo mengangguk mantap tanpa ragu.
"Woy ada siapa nih, Kyo? Cewek baru lagi ya? Enak bener hidup elo, banyak cewek yang ngedeketin elo, mana cantik - cantik pula!" celetuk seseorang pada Kyo dan ikut nimbrung di meja yang sama. Lelaki itu memandang Flo dengan tatapan menggoda. Tak lama kemudian beberapa teman Kyo pun ikut bergabung. Dua laki - laki dan tiga perempuan asing menurut Flo karena ia tak mengenal satupun dari mereka.
"Cewek baru apaan? Kalau ngomong jangan sembarangan! Nanti bini gue bisa salah paham!" gerutu Kyo menahan kesal, ia takut sang istri menuduhnya bermain api di belakangnya.
"Beneran bini apa bini - binian?" goda seorang gadis yang Flo tak kenal. Salah satu dari tiga gadis yang sekelompok dengan Kyo. Ia terlihat tak suka dengan kehadiran Flo disana. Tampaknya ia memiliki perasaan pada Kyo, itu yang saat ini dirasakan Flo.
"Gue bininya, nih di dalam perut gue ada anaknya dia! Dan buat semua yang belum tahu, gue kasih tahu sekali lagi, Kyo udah nikah dan gue istrinya yang sah. Perlu bukti?" seru Flo berapi - api. "Nih buktinya!" Flo menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya dan menarik tangan Kyo hingga nampaklah bahwa lelaki itu juga memakai cincin yang sama.
Flo mendengus sebal, karena secara tidak langsung Kyo menyembunyikan statusnya bahwa ia sudah menikah. Flo mengepalkan tangan di bawah meja dan menopang dagu.
Kyo terlihat gugup dan menutupinya dengan menampilkan senyum manis yang dibuat - buat. Sebenarnya bukan karena menyembunyikan statusnya tapi ia memang tak pernah menceritakan pada siapapun tentang dirinya ataupun kehidupannya pada orang asing. Kyo merasa serba salah.
Flo masih terlihat kesal namun saat mangsa yang ia tunggu akhirnya melintas, senyum manisnya pun kini mengembang dengan sempurna.
"I got you. Girls, come on! Saatnya beraksi!" titah Flo sambil beranjak dari tempat duduknya, diikuti Aiko dan Aurel. Kyo hanya bisa menatap kepergian Flo dengan pikiran yang bertanya - tanya.
__ADS_1
* * *