
Lanjuuuttt lagi, detik - detik mau END..
Gimana yaaa...
Jangan lupa tap like kakak ❤️❤️🤗🤗
______________________________________
Aurel mendekati Tian dengan wajah yang sendu namun pergelangan tangannya ditarik paksa oleh Aiko.
"Aurel, lo sini dulu! Kita harus selesaikan masalah ini, jangan deketin nih anak kalau dia belum sadar sama kesalahannya!" titah Aiko seperti ibu yang melindungi anaknya.
Tian terdiam mematung sambil mengedarkan pandangan menatap empat perempuan satu per satu di sekelilingnya.
Flashback On
"Tiaaaaannnn!!!" pekik Aurel melihat muntahan di baju yang dikenakan Tian. Ia dengan susah payah melepaskan baju itu dari tubuh Tian.
Mau tak mau karena di rumah hanya ada dirinya dan Tian yang saat ini tak sadarkan diri, gadis itu masuk ke dalam kamar Tian. Memapah tubuh Tian sekuat tenaga dan merebahkan laki - laki itu di atas tempat tidur.
Aurel masuk ke dalam kamar mandi. Dengan telaten ia mencuci dan mengucek hingga bersih baju milik kekasihnya yang terkena noda, meskipun awalnya ia merasa jijik dan enggan. Ia mengabaikan rasa jijik dan kasihan jika sewaktu - waktu orang tua Tian kembali dan menangkap basah kelakuan anaknya seperti ini. Hanya itu pikiran Aurel.
Entah kesadaran sudah dirasakan oleh Tian, atau lelaki itu tengah berada di alam bawah sadarnya. Ia bertelanjang dada dan menarik Aurel yang saat itu telah menyelesaikan mencuci baju miliknya dan keluar dari kamar mandi. Tian tersenyum sambil meracau tak jelas, namun Aurel tegas dan menyuruh lelaki itu kembali ke tempat tidur.
Aurel berlari ke dapur untuk membuat sup anti pengar yang berguna menghilangkan efek mabuk, namun sebelumnya ia mengetahui itu lewat aplikasi google.
__ADS_1
Tak perlu menunggu lama, ternyata banyak bahan yang tersedia di kulkas. Sup sudah tersaji di atas nampan, Aurel membawanya ke kamar Tian dan menyuruh lelaki itu untuk segera menghabiskannya.
Usai menandaskan sup pereda mabuk dari mangkuk, Tian menarik pergelangan tangan Aurel dan tiba - tiba memgecup bibir mungil berwarna merah muda milik Aurel. Hingga terjadilah hal yang tak pernah diduga. Tian melakukan hubungan suami istri dengan Aurel dengan kesadaran yang dipertanyakan. Awalnya Aurel menolak mati - matian demi menjaga mahkota berharga miliknya namun tenaga Tian jauh lebih besar.
Dan akhirnya seprei berwarna putih menjadi saksi bisu kisah dua manusia di atasnya. Yang awalnya putih dan rapi kini tampak berantakan juga meninggalkan bercak berwarna merah mengotorinya, darah kesucian milik Aurel terpampang nyata disana. Dan akhirnya Tian dan Aurel terlelap sesudah melakukan pertarungan hebat yang melelahkan untuk pertama kalinya. Saat Tian membuka kedua matanya, Aurel sudah tak lagi berada di sampingnya.
Flashback Off
Sesudah kejadian itu, Aurel dan Tian menganggap itu tak pernah terjadi. Sebenarnya mereka hanya tak menyangka akan kejadian yang benar - benar baru pertama kali mereka lakukan. Menyesal sudah pasti, karena belum ada ikatan pernikahan di antara keduanya.
Tian memandangi wajah kekasihnya dengan rasa bersalah yang semakin menjadi. Apalagi ditambah pula penegasan kata hamil dan tanggung jawab, seolah itu seperti kalimat mematikan dan menyeramkan untuknya.
"Stop! Iya Vin, Aurel hamil anak aku! Kamu jangan menuduh Aurel yang nggak - nggak. Kamu nggak mengenal dia melebihi aku. Jangan pernah kamu menghina ibu dari anakku!" hardik Tian.
Vina menahan kesal lalu menggelayuti lengan sang mantan kekasih dengan posesif di hadapan Aurel.
Aurel mengepalkan tangan menahan kesal dan sakit hatinya. Ia geram mendengar tuduhan yang dilemparkan padanya. Ia menatap dingin seolah menusuk jantung pada Tian dan Vina bergantian.
"Hey, cukup! Asal lo tahu ya, Vin! Gue udah tahu semua kedok elo. Daripada lo nuduh Aurel macam - macam, mendingan lo introspeksi diri sendiri dulu!" hardik Flo, ia mendekati Vina dan menarik tangannya hingga menjauh dari tubuh Tian.
Aiko dan Aurel saling berpandangan. Tian hanya bisa mendengar perdebatan para perempuan di depannya.
" Apa maksud kata - kata lo barusan? Memangnya apa yang gue lakuin sampai gue harus introspeksi diri? Aneh!" tanya Vina penuh keheranan.
"Dengar ini baik - baik ya, karena gue nggak akan mengulanginya lagi. Gue tahu lo bohongi Tian dengan memanfaatkan Aby mantan lo kan? Lo dengan sengaja namparin muka lo sendiri, yah meskipun memang awalnya Aby nampar lo sekali. Biar kelihatan menyedihkan lo namparin muka lo supaya Tian iba ngelihat lo kan? Ini tebakan gue dari cerita yang tadi gue denger, ngaku lo!" hardik Flo, ia kesal setengah mati melihat sikap Vina yang pura - pura lugu di depan Tian dan tidak merasa bersalah.
__ADS_1
Vina masih diam tak membantah. Flo semakin kesal.
"Lo mau pakai dempulan bedak berapa centi biar tambah pucat?" seru Flo kembali membuka trik Vina.
Glek
Vina terkesiap menyadari kedoknya terbuka.
"Vin, Aurel emang hamil anak aku. Dan dia hamil gara - gara aku, aku yang memaksa dia. Jadi cowok brengsek inilah yang bikin dia seperti ini. Dan semakin kesini aku juga merasa ada yang aneh sama kamu. Kamu nggak ketemu Aby tapi wajahmu selalu pucat dan ada bekas tamparan. Jangan - jangan kamu sengaja melakukan ini?" tanya Tian membuat Vina tak berkutik.
Vina mencoba meraih pergelangan tangan Tian namun segera ditepis lelaki itu. Tian melihat kekasihnya dan langsung melingkarkan tangannya di bahu Aurel.
"Maafin aku, Rel. Kamu jadi kayak gini gara - gara aku. Ayo kita menikah!" ucap Tian memelas dan memeluk Aurel di hadapan Vina. Vina merasa kesal, ia menatap dingin Aurel. Aurel mengabaikan tatapan Vina kepadanya.
"Yan…" panggil Vina berusaha membuat lelaki menatapnya. Tian hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus pada Aurel. Tian menyentuh perut Aurel dan menahan cairan bening di kelopak matanya agar tak terjatuh.
"Yan, aku nggak percaya kamu sama Aurel seperti itu! Dia bukan perempuan yang baik buat kamu. Yakin sama aku, Yan!" pinta Vina memohon dan terus memojokkan posisi Aurel.
"Diam lo! Gue nggak kayak lo, suka gangguin laki orang! Main trik murahan demi menarik perhatian Tian. Lo itu yang sengaja memanfaatkan kebaikan dan kepolosan Tian, bukan gue! Lo harus ingat posisi lo, lo cuma mantan dan gue adalah ibu dari anaknya Tian. Paham!" hardik Aurel, ia sudah tak bisa menahan emosinya. Ia luapkan semua yang ada di pikirannya, yang ia pikirkan saat ini adalah anak di dalam perutnya. Hanya itu saja.
Aurel segera meninggalkan mereka semua dengan rasa sakit di hati. Tian mengejar kekasihnya namun sebelum ia pergi, ia melihat Vina yang masih berharap padanya dan memasang wajah sedih.
"Aku nggak tahu itu benar apa nggak tentang apa yang kamu lakuin, tapi aku nggak pernah menyangka kalau ternyata kebaikanku akan dimanfaatin sama kamu, Vina!" seru Tian.
"Tian, itu aku lakukan supaya kita bisa bersama lagi. Aku butuh kamu, Yan. Cuma kamu yang benar - benar bisa memahami aku. Aku udah mutusin Aby dan aku mendapat tamparan itu karena aku bilang sama dia bahwa aku menyukai laki - laki lain. Aku ngelakuin semua ini biar kita bisa balikan lagi, Yan…" sesal Vina.
__ADS_1
"Aku kecewa sama kamu, Vina. Maaf aku sama sekali nggak pernah berpikir untuk balikan sama kamu. Aku harus ngejar calon istriku! Dan aku akan bertanggung jawab dengan apa yang udah aku lakuin!" ucap Tian tegas pada Vina lalu bergegas menyusul Aurel.
* * *