
Cinta itu ibarat menanam tumbuhan, jika kita merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang, maka akan tumbuh sesuai harapan, karena yang namanya hasil tidak akan mengkhianati proses....
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen kalian... πππ Tengkiu βοΈβοΈππ
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Randy memalingkan wajahnya mencari sumber suara yang memanggil namanya. Tian berjalan santai dan mendekat ke arahnya.
"Lo bukannya mau ke toilet? Ngapain disini? Ayo, gue temenin, toilet ada di ujung sono," Tian menunjuk ke arah tulisan besar toilet.
"Gue tahu!"
"Kalau lo tahu ngapain masih santuy disini? Gue kira lo amnesia," ledek Tian sambil menarik lengan baju Randy.
"Yang sakit tuh hati gue, bukan otak gue!" Randy bersungut - sungut, namun mau tak mau tetap mengikuti Tian.
Mereka berjalan menuju toilet bersama, namun pandangan Randy tetap fokus pada Aiko yang berjalan memasuki perpustakaan hingga bayangan tubuh gadis itu hilang dari jangkauan kedua manik mata elangnya.
* * *
Jam istirahat pertama, Flo cs yang otomatis di dalamnya ada Aiko sedang berkumpul di kantin. Mereka menikmati bakso mang Udin dengan diiringi guyonan ringan.
Kyo cs duduk menghampiri meja Flo dan teman - temannya. Kyo mengusir paksa Aurel yang saat itu duduk di samping Flo dengan lirikan matanya. Untung lah Aurel paham dengan kode yang diberikan Kyo. Aurel bergeser dan menciptakan celah hingga tubuh Kyo bisa masuk kesana.
Kyo dengan posesif duduk di samping Flo dan merangkul bahu istrinya. Pandangan itu membuat Tian dan Randy jengah. Tak hanya kedua lelaki itu saja yang memberikan tatapan jengah, begitu juga Aiko yang tak habis pikir dengan posesifnya Kyo.
"Flo, lo pakek lem apaan sih kok Kyo nempel mulu ngalahin cicak?" sindir Aiko sambil mengaduk - aduk es jeruk miliknya.
"Lem tikus!" celetuk Tian kemudian terkekeh tanpa dosa.
"Sirik lo pada, makanya buruan kawin nyusul gue!" jawab Kyo santai, namun tanpa disadarinya ada dua hati yang kesusahan mencerna guyonan Kyo.
Ya tepat sekali, kedua orang tersebut adalah Aiko dan Randy. Seketika Aiko dan Randy saling melirik satu sama lain kemudian membuang muka menutupi rasa yang berkecamuk di hati mereka.
Drrrt Drrrt Drrrt
Ponsel Kyo dalam mode getar membuat tangannya refleks menyentuh tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo, iya Mi. Ok, nanti sepulang sekolah ya. Bye..."
__ADS_1
Kyo menoleh ke arah Flo dan Aiko silih berganti.
"Sayang, nanti kata Mami sepulang sekolah kita kumpul di toko kue Mama. Aiko juga harus ikut," Kyo menjelaskan tanpa diminta. Aiko dan Flo mengangguk paham.
Randy beberapa kali mencuri pandang pada sang mantan kekasih, dan Aiko pun tahu bahwa dirinya tengah diperhatikan oleh Randy namun gadis itu menahan sekuat tenaga untuk tidak membalas perhatian Randy padanya.
* * *
Benar saja, sepulang sekolah, Kyo bersama Flo dan Aiko sudah berada di toko kue Mama. Tak hanya mereka saja, Gerald yang tadi menjemput Aiko juga berada di sana.
"Ada apa sih, Mi, kok kita dikumpulin disini?" tanya Kyo tak sabar.
"Kalian santai aja dulu, baru juga sampai udah nggak sabar aja," ledek Mami.
"Tadi kan Mami yang bilang penting banget makanya kita buru - buru kesini," jawab Kyo.
Mereka duduk di meja yang cukup besar dengan banyak kursi di sebuah ruangan yang biasanya digunakan untuk meeting karyawan toko kue Mama. Papi dan Mami yang biasanya sibuk juga lengkap berada disana bersama Papa dan Mama. Paket komplit bersama anak masing - masing.
"Kami mau memberikan hadiah buat pengantin baru...." jelas Mama kemudian menjeda ucapannya.
"Hadiah?" Kyo dan Flo penasaran, kening mereka kompak berkerut dalam sembari menerka hadiah apa yang akan diberikan oleh kedua orang tua mereka.
* * *
Kyo dan Flo menatap bangunan di depan matanya dengan tatapan antara bingung, takjub bercampur bahagia. Mereka tidak pernah memimpikan hal ini terjadi.
"Serius, Mi?" Kyo masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Mami.
"Masa kayak gini dibilang ngeprank sih? Mami serius, sayangku. Ini rumah buat kalian berdua dari kami berempat. Semoga kalian suka ya," harap Mami seraya meraih tangan anak menantunya, Flo.
"Apa nggak terlalu besar, Mi? Maksud Flo, rumah ini terlalu besar untuk kami berdua. Lagipula kami juga masih sekolah. Lalu siapa yang akan mengurus rumah ini?" tanya Flo polos.
"Tenang saja, Flo. Kami sudah mencarikan asisten rumah tangga yang akan mengurus rumah ini. Jadi, tidak akan mengganggu waktu kalian. Nggak mungkin Mami membiarkan kalian mengurus pekerjaan rumah. Kalian sudah memenuhi permintaan kami dengan menikah saja itu sudah bisa membahagiakan kami, Mami tidak menuntut kalian ini itu,"jelas Mami.
"Tapi, Mah?" pertanyaan Flo kini fokus pada ibunya, mencari jawaban dari wanita yang telah melahirkannya.
"Nggak ada tapi - tapian. Kami berempat memang sudah menyiapkannya jauh - jauh hari. Kalau kalian merasa sepi, ya tinggal ditambah anggota baru aja disini! Gitu kok repot!" ucap Mama membuat Flo dan Kyo saling beradu pandang.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Flo penuh selidik.
"Anggota keluarga baru sayang, masa gitu aja nggak paham, aku aja langsung nangkep kok maksud Mama barusan. Hehehe," Kyo menimpali ucapan ibu mertuanya dan menjelaskan pada sang istri yang kepekaannya dipertanyakan.
"Hemm?" Flo mengerutkan alisnya, mempertajam pandangannya ke arah sang suami yang terkekeh tanpa dosa. Kini gadis itu paham.
"Tapi kan Flo masih sekolah, Mah." bantah Flo.
"Nggak masalah, Sayang. Nanti Mama dan Mami bisa gantian ngurusnya. Kebahagiaan di hari tua kami, Sayang." jelas Mami.
"Mi, ini sih bukan lagi rumahku tapi ini istanaku," celetuk Kyo mengubah topik pembicaraan kedua wanita dewasa di hadapannya.
"Kok gitu? Istana dari mana? Kalau ngehalu jangan ketinggian ah lo, Kyo," Gerald menimpali ucapan Kyo.
"Ya iyalah, gue rajanya dan Flo ratunya. Di istana ini akan semakin ramai nanti kalau ada tambahan pangeran dan putri. Iya kan ratuku?" imajinasi Kyo melanglang buana ke negeri antah berantah. Kedua pipi Flo merona karena kata - kata gombal suaminya.
Rumah baru kok yang dibahas malah masalah anak sih? Malu ih... Batin Flo sembari menatap rumah baru mereka.
Aiko yang masih berada di dalam mobil asyik memainkan game di ponselnya segera berlari menyusul Flo dan Kyo yang masih saja memperhatikan rumah baru mereka.
"Berarti Flo dan Kyo bakal tinggal disini, Mi?" pertanyaan konyol keluar dari bibir tipis Aiko. Mami mengangguk mantap. Aiko seketika menunduk lesu.
"Emang kenapa, Aiko? Kok mukanya ditekuk gitu?" tanya Papi yang melihat perubahan raut wajah putrinya yang tadinya ceria menjadi sendu.
"Terus Aiko gimana? Kalau mau curhat sama siapa dong? Kan kalau ada apa - apa Aiko selalu curhat sama Flo. Hiks..." rajuk Aiko dengan tambahan puppy eyes membuat Papi harus menjelaskan dengan baik pada Aiko.
"Kalau sudah menikah, Flo sudah jadi tanggung jawab suaminya. Jadi mereka lebih baik tinggal terpisah dari keluarga masing - masing. Kalau kamu pengen curhat kan bisa lewat hape atau kalau nggak tinggal maen kesini. Pasti Kyo nggak akan melarang, iya kan Kyo?" ucap Papi menenangkan anak gadisnya sembari menanyakan pada Kyo.
"Iya, boleh kok. Nginep sini juga boleh. Tapi jangan harap tidur sama bini gue. Dia udah hak paten milik gue," ucap Kyo dengan posesif. Aiko refleks mengerucutkan bibirnya.
"Bukan maksud Mama dan Mami menjauhkan kamu dari sahabat sekaligus ipar kamu, tapi ini kami lakukan semata - mata agar mereka bisa lebih dewasa dalam bersikap dan berperilaku. Karena mereka sudah menikah jadi sudah bukan ikatan yang main - main. Jadi kalau ada masalah ya biar mereka menyelesaikan dengan cara mereka tanpa campur tangan kami, kecuali..." gantung Mama.
"Kecuali apa, Mah?" gantian Kyo yang bertanya pada Mama.
"Kecuali, mereka berdua memang meminta nasehat pada kami. Dengan senang hati kami akan memberikannya. Besok kalau Aiko menikah, tanggung jawab kami sebagai orang tua seketika pindah ke suami Aiko..." Mami yang menjelaskan pada Aiko dan di setujui oleh Mama.
Suami?
* * *
__ADS_1