
Seminggu setelah pertemuan tak disengaja di toko kue Mama, saat ini Flo benar - benar menghindari segala macam kontak dengan lelaki yang bernama Keanu Perwira.
Flo tak mau membuat Kyo salah paham dan cemburu buta untuk kesekian kalinya. Karena buat dirinya saat ini, damai itu lebih indah. Tak mau membuat masalah dengan siapapun, akan jauh lebih menenangkan seperti merasakan massage di spa langganannya.
Flo menuruni anak tangga rumahnya seraya memikirkan sesuatu dalam pikirannya. Ia ingin berubah menjadi perempuan yang lebih dewasa dalam arti sebenarnya. Memasak. Itulah yang membuatnya mulai melangkahkan kaki menuju dapur. Bi Imah tengah sibuk menyiapkan bahan makanan untuk dimasaknya sore ini.
Ingin rasanya Flo mengagetkan Bi Imah tapi ia urungkan karena melihat asisten rumah tangga yang berstatus sebagai janda beranak dua itu terkadang latah. Repot urusannya kalau Flo membuat Bi Imah terkejut dengan mengucapkan banyak sumpah serapah yang akan keluar dari bibirnya.
Flo mengitari pandangannya ke arah dapur, melihat ke segala sisi. Kedua matanya fokus pada sayur yang akan diolah Bi Imah. Ia perlahan mendekat dan mengambil sayur tersebut seraya mengamati secara mendalam. Ia terkekeh sendiri, Bi Imah mengernyitkan dahi tanda tak mengerti akan sikap anak majikannya tersebut.
"Kenapa, Non? Kok bibi perhatiin, Non Flo senyam senyum sendiri?", tanya Bi Imah penasaran. Flo menoleh ke arahnya sembari tersenyum.
"Ini sayur apa namanya, Bi?" Flo bertanya balik pada Bi Imah, menimbulkan tanda tanya besar untuknya.
"Masa Non Flo nggak tahu?"
"Tahu kok, tanya aja. Boleh kan, Bi?"
"Ini namanya kacang panjang, Non."
"Aku mau tanya deh, Bi. Tolong kasih penjelasan yang masuk akal ya!"
Bi Imah hanya manggut - manggut bersiap menjawab pertanyaan dari nona mudanya.
"Kenapa kacang panjang meskipun udah dipatah - patahin jadi pendek namanya tetap kacang panjang? Padahal kalau dimakan pun udah nggak sepanjang awalnya kan? Hayo.."
Bi Imah melirik kesana kemari mencoba mencari jawaban, kemudian dijawab asal olehnya.
"Ya emang begitu, Non. Sudah kodratnya." jawab Bi Imah santai karena ia tak menemukan jawaban yang tepat.
"Harusnya kan jadi sayur kacang pendek atau apa gitu kan ya, Bi?"
"Iyain aja lah, Non. Saya mah yang penting Non Flo seneng, itu udah cukup buat Bibi."
"Aduh, Bi. Garing bener, kayak ikan nggak pernah kena air aja, kering dah! Hehehe."
"Lagian, Non tanya aneh - aneh aja kayak gitu. Mana bibi tahu, dari orok sampai setua ini, itu emang kacang panjang nggak akan berubah nama, Non."
__ADS_1
Mendengar penjelasan tak bermutu dan tak memiliki bobot pengetahuan tersebut, Flo terkekeh geli.
***
Kyo mengetuk pintu rumah pujaan hatinya, namun tak ada yang membukakan pintu. Ia membuka perlahan pintu tersebut dan menutupnya kembali.
Lelaki itu tengah celingak celinguk sembari tersenyum mencari seseorang yang amat ia rindukan. Padahal setiap hari sudah bertemu, tapi entah kenapa tak menyurutkan keinginannya untuk selalu menemui gadis cantik itu. Terakhir satu jam yang lalu, sewaktu mengantarkan Flo masuk ke dalam rumah.
"Halo, ada orang di rumah nggak ya? Sepi bener, ini rumah apa kuburan sih, " Kyo meracau tak jelas, mencari para penghuni rumah.
Sayup - sayup lelaki pemilik senyum manis itu mendengar suara yang datangnya dari arah dapur.
Kyo mencari sumber suara yang tengah asyik bercanda di dapur, Flo dan Bi Imah tak mengetahui kedatangannya.
"Pantesan, dipanggil dari tadi nggak ada yang jawab ternyata pada asyik disini. Berasa dicuekin nih aku." Kyo menggerutu, Bi Imah menggelengkan kepala melihat kelakuannya.
"Kayak tamu aja," Flo menimpali.
"Ogah ah, Bi. Saya mantu bukan anak. Kalau saya diangkat jadi anak, nanti pada rebutan laki - laki di luar sana buat jadi mantu!"
"Udah, Bi. Iyain aja, biar Kyo seneng. Kalau ditanggapi sampai ayam jantan bertelur pun nggak akan berhenti dia," bisik Flo sembari menepuk bahu Bi Imah. "Kyo, iya kamu itu tamu, tamu yang datang ke hati aku." lanjut Flo menggoda lelaki berkupluk di belakangnya.
"Nah itu apalagi, aku nggak mau cuma jadi tamu, kalau tamu kan bisa datang bisa pergi. Aku maunya jadi pemilik hati kamu." kini Kyo mengeluarkan jurus andalannya, menggoda Flo.
Blushing
"Apaan sih, hiks hiks...." Flo tiba - tiba terisak, Kyo bingung sekaligus heran.
"Kamu kenapa, Sayang?" Kyo memiringkan kepala mengamati Flo lebih dekat.
"Huwaaaaa, perih, Bi. Ini kenapa sih bawang merahnya bikin aku nangis? Padahal aku ngirisnya udah hati - hati, tapi tetap aja kayak gini hasilnya. Huft.." Flo mengerucutkan bibirnya.
"Jangan menangis sayang, ada kakanda disini.." Kyo mengatupkan kedua pipi Flo, melihat wajah gadisnya yang memerah menahan perih di mata.
Gerald keluar dari kamarnya, berjalan ke dapur berniat mengambil air minum. Pandangannya terhenti saat melihat pasangan muda - mudi di depannya.
__ADS_1
"Kyo, lo apain adek gue tuh?" tanya Gerald seraya berjalan mendekati Flo yang terisak.
"Ini, Bang...." belum sempat Kyo menjawab, Gerald sudah menarik kerah jaketnya.
"Gue tanya sekali lagi, lo apain adek gue? Lo bilang nggak akan buat dia nangis ataupun nyakitin dia kan?" Gerald terlihat geram.
"Bang, lepasin deh!" Pinta Flo pada abangnya, mencoba melepas cengkeraman pada kerah jaket Kyo namun kalah tenaga dengan Gerald.
"Non Flo kelilipan abis ngiris bawang merah, Den. Jangan salah paham dulu atuh," ucap Bi Imah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi agar tidak berbuntut panjang.
Gerald melepaskan cengkeramannya yang lumayan kencang secara perlahan sembari tersenyum malu.
"Hehehehe, gue kirain. Aduh maaf ya calon ipar abang, jaketnya keren ini. Beli dimana? Boleh dong satu buat abang. Hehehe." Gerald mundur perlahan sembari memberikan tanda finger heart. Ia mundur teratur sambil memasukkan tangan satunya ke dalam saku celana.
"Dasar abang abang posesif, tanya dulu dong, nggak usah pakai emosi!" seru Flo membela Kyo, Gerald segera masuk ke dalam kamarnya menahan malu dan gengsi untuk minta maaf.
"Aduh, pacar aku perhatian banget. Aku rela kok difitnah terus sama bang Gerald biar dibelain sama kamu. Hehehe." Kyo mencolek pipi Flo.
"Lah ini sama aja kayak abang, kalau nggak cemburu pasti posesif, kalian tuh ya sebelas dua belas. Sukanya nuduh kalau lihat sesuatu yang nggak bener. Bukannya ditanyain dulu biar jelas! Udah ah, aku mau bantu bi Imah masak lagi," seru Flo pada Kyo yang sedari tadi tak henti menggodanya.
"Aku kan lagi ngapel, Yang. Masa dicuekin sih! Lagian tumben di dapur, biasanya juga baca novel yang nggak kelar - kelar tiap hari."
"Kan aku cewek, makanya harus bisa masak, supaya bisa nyenengin diri sendiri dan suami nantinya."
"Aku nggak masalah kok kamu bisa masak apa nggak, yang penting bisa mencintai aku apa adanya. Itu udah lebih dari cukup." Kyo masih terus merayu Flo hingga membuat gadis itu berakting mual. Kyo terkekeh.
"Makan itu cinta!" Sahut Gerald yang berteriak di depan pintu kamarnya, ternyata sedari tadi ia menguping obrolan tak berfaedah Flo dan Kyo. Secepat kilat ia menutup pintu kamar setelah mendapat tatapan tajam dari Kyo.
"Dasar abang ipar durhaka!" Umpat Kyo.
Flo dan Bi Imah hanya bisa geleng - geleng kepala mendengarnya kemudian mereka berdua memilih melanjutkan kegiatan mereka untuk memasak. Kyo senyam - senyum memperhatikan Flo.
'Bahagia bener deh hidup gue, punya calon bini udah cantik mau belajar masak pula. Kenyang dah rohani dan jasmani gue...' Gumam Kyo dalam hati.
***
__ADS_1