
Kyo melajukan motornya tak seberapa kencang, ia ingin menikmati momen bersama Flo malam ini. Harapannya kali ini adalah berharap sang pacar memeluk dirinya lebih lama. Hawa dingin terasa seolah menusuk tulang.
Jaket berbahan jeans yang membalut tubuh bagian atasnya seperti tak mampu menahan laju angin yang bertiup ke arahnya. Namun ia merasa bangga karena bisa melindungi gadisnya dari terpaan angin yang berlomba - lomba menyerang keduanya.
Tangan kiri Kyo membelai punggung tangan Flo yang melingkar indah di pinggangnya. Sesekali senyuman simpul tercetak jelas di wajahnya, andai saja Flo tahu mungkin ia pun ikut menertawakan Kyo. Hal sederhana apapun yang dilalui bersama Flo akan terasa istimewa untuk dirinya.
Penantian panjang selama hampir sembilan tahun berbuah manis, dimana saat ini Flo bisa menjadi kekasihnya. Entah karena memang rencana Tuhan yang tak bisa di prediksi umatNya atau ada hal lain, Kyo tak mau ambil pusing. Dirinya hanya berusaha mengikuti jalannya hidup yang terkadang memberinya kejutan tak terduga.
"Ban motor kamu gembos apa, Yang?" tanya Flo yang sebenarnya merasa penasaran sedari tadi.
"Nggak kok, Yang! Kenapa?" ganti Kyo yang bertanya, ia bingung dengan pertanyaan Flo pada dirinya.
"Kok jalannya lama banget? Nggak sampai - sampai dari tadi. Ini ada setengah jam loh, Yang. Biasanya juga lima belas menit udah sampai rumah. Kamu cek lagi deh!" pinta Flo pada Kyo. Kyo menahan tawanya.
"Sengaja, Yang. Biar bisa romantisan sama kamu. Kan jarang - jarang kita bisa pulang malam kayak gini," alasan tak masuk akal keluar dari bibir tipis Kyo.
"Astaga! Aku tuh udah ngantuk banget, Yang. Kalau aku tidur di punggung kamu gimana coba?"
"Jangankan punggung, seluruh tubuhku aja bisa kok ku berikan buat kamu," Kyo tergelak, suara tawanya terdengar nyaring tercampur suara angin berhembus, karena kaca helmnya sengaja dibuka.
"Nggak jelas ah kamu nih, buruan deh. Aku juga ada janji sama Aiko."
Kyo mencebik bibir, ia mulai merasa dinomor duakan oleh Flo yang selalu memberikan banyak waktunya untuk mendengar keluh kesah Aiko, saudara kembarnya. Aneh ya, padahal hanya pada saudaranya sendiri saja ia bisa merasa cemburu, apalagi dengan yang lain.
***
Tok Tok Tok
Kyo mengetuk pintu rumah, beberapa saat kemudian pintu dibukakan oleh Bi Inah.
__ADS_1
"Kok sepi, Bi? Pada kemana yang lain?" tanya Kyo sembari melepas tas ransel dan jaketnya kemudian menaruhnya di atas sofa ruang tamu.
"Ada kok, den Kyo. Bapak sama ibu di kamar, non Aiko sepertinya sedang mandi. Kalau begitu bibi tinggal dulu nyiapin makan malam ya, Den. Belum selesai soalnya." jelas bi Inah sembari tersenyum ramah pada anak majikannya tersebut.
"Iya, Bi." jawab Kyo sambil menganggukkan kepalanya.
Kyo melangkahkan kaki menapaki anak tangga satu persatu menuju kamarnya. Sebelum sampai di depan kamar, ia bersitatap dengan Aiko yang baru saja keluar dari kamarnya. Kamar mereka memang berdekatan, hanya dipisahkan ruang baca keluarga. Aiko segera memalingkan wajahnya.
"Lo kenapa? Aneh bener!" tanya Kyo pada Aiko yang terlihat tak seperti biasanya.
"Nggak kenapa - napa..." jawab Aiko singkat, gadis itu segera menuruni anak tangga dan berkumpul dengan Mami dan Papi untuk menikmati makan malam bersama.
Kyo mengedikan bahu, tak mau berpikiran negatif. Segera ia masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian.
***
"Makan yang banyak ya, Sayang. Badan kamu kurusan tuh. Lagi mikirin apa sih anak gadis Mami?" tanya Mami pada Aiko sembari mengambilkan nasi beserta lauk dan sayur yang tersedia di meja makan. Kemudian diberikannya piring yang sudah terisi menu makanan empat sehat lima sempurna kecuali susu tentunya pada Aiko.
"Tapi bujangnya Mami kok biasa - biasa aja ya, kayak nggak banyak pikiran gitu!" ucap Mami yang seketika mendapat sorotan tajam dari Papi.
"Ya wajar lah, Mi. Anak Mami yang satu itu kan terlahir cerdas nggak kayak aku yang harus banyak belajar. Dulu gimana sih Mi, apa Aiko pas bayi tertukar waktu di rumah sakit? Kok pembagian otaknya beda jauh! Dia nggak usah belajar udah pinter, nah Aiko harus belajar mati - matian buat dapat nilai standart," ucap Aiko sendu.
Degg Degg
Hati ibu mana yang tak sedih jika salah satu dari anaknya membanding - bandingkan antara dirinya dengan saudaranya sendiri. Padahal mereka kembar.
Mami menjadi dilema, ditatapnya kedua anaknya silih berganti. Papi hanya bisa menggelengkan kepala.
"Sudah, sudah buruan makan! Lekas beristirahat, besok kalian juga harus sekolah. Siapkan tubuh kalian supaya lebih fit untuk esok, tapi tunggu dulu. Nanti Papi minta kalian berkumpul di ruang keluarga," Papi memberi wejangan pada kedua anaknya dengan logat Osaka yang masih begitu kental, namun tata cara berbahasanya sudah jauh lebih baik setelah bertemu dengan Mami.
__ADS_1
" Iya, Pi." jawab si kembar kompak.
Tak ada obrolan saat mereka makan. Usai menikmati menu makan malam yang menggugah selera, mereka meneruskan berbicara dari hati ke hati di ruang keluarga yang berada tak jauh dari ruang tamu sesuai permintaan Papi.
"Ada masalah apa dengan kalian berdua?" tanya Papi sambil membenarkan letak kacamata yang dipakainya saat ini. Menatap jelas Aiko dan Kyo secara bergantian.
Sedangkan kedua anaknya yang belum tahu ke arah mana pertanyaan Papinya hanya saling melirik.
"Papi tanya sama kalian? Apa kalian tidak mendengar jelas pertanyaan Papi?" tanya Papi serius hingga tercetak jelas kerutan halus di keningnya.
"Dengar, Pi." jawab si kembar kompak.
"Kalau dengar kenapa tidak dijawab?"
"Nggak ada apa - apa kok, Pi." Aiko berusaha menutupi.
Kyo dengan terbukanya justru menjawab sang Papi dengan tegas.
"Kami sedang ada masalah, Pi. Salah paham aja kok, Pi. Biar kami berdua yang menyelesaikannya. Papi nggak perlu khawatir ya," ucap Kyo tenang. Dilihatnya raut wajah Papi yang masih bertanya - tanya akan penyebab kedua anaknya menjadi saling diam tak bertegur sapa sejak pulang sekolah. Mami hanya diam tak mau ikut nimbrung. Hanya sebagai penonton saja.
"Papi nggak tahu apa yang sedang kalian permasalahkan. Hanya saja, akan lebih baik kalau kalian segera menyelesaikannya. Pertengkaran kakak adik itu wajar asal tidak berlebihan."
"Kyo kamu ngomong apa sih?" mencoba menyalahkan Kyo. "Papi bisa menebak dari mana? Padahal kami nggak sekalipun memperlihatkan bahwa ada masalah loh! Bisa saja itu hanya kesimpulan Papi sendiri." elak Aiko. Gadis ini masih mencari alasan untuk mengelak dari kejaran sang Papi.
"Kalau kalian baik - baik saja, nggak mungkin saling diam. Kalian berdua kan selalu membuat suasana rumah jadi ramai. Kalian itu dua - duanya anak Papi dan Mami. Dan asal kamu tahu ya, Aiko. Kamu itu darah daging Papi dan Mami. Jadi jangan sembarangan ngomong kalau kamu bayi yang tertukar. Ini bukan sinetron!" Papi mulai mengeluarkan tanduk tak kasat mata, Aiko menunduk tak berani menatap wajah Papi. Ada rasa bersalah yang membuatnya tak berkutik.
Aiko mulai ketakutan, karena sebenarnya diamnya kali ini pada Kyo hanya untuk menunjukkan rasa kesal akibat dilerai waktu di sekolah. Rasanya kedua tangan Aiko panas dan gatal jika tak memberi pelajaran pada Vina. Namun, Kyo justru memisahkan mereka. Masalah berbuntut panjang. Harap - harap cemas mulai melanda hati dan pikiran Aiko. Papi masih menatapnya tajam seakan menusuk kedua matanya.
__ADS_1
***