Jodoh Florence

Jodoh Florence
Bukan Wonder Woman


__ADS_3

Aiko tak berani menatap wajah sang Papi yang terlihat menciutkan nyalinya. Mimik wajah Papi berbeda dari biasanya, karena jarang sekali Papi akan menginterogasi kedua anaknya seperti malam ini. Padahal ini malam minggu. Malam yang romantis menurut Kyo tapi tidak dengan Aiko.


Papi memang tampan di usianya yang sudah tak lagi muda, menginjak 42 tahun tapi ketampanannya tak memudar justru semakin bertambah. Ingin rasanya Aiko memuji sang Papi tapi ini bukan waktu yang tepat. Aiko meremas ujung baju tidurnya, keringat dingin membasahi telapak tangannya.


"Kamu kenapa masih diam aja, Aiko? Apa Papi mengajarimu jika ada yang bertanya jawabannya hanya diam?" tanya Papi serius, kali ini sudah habis kesabarannya, nada bicaranya mulai meninggi. Papi hanya tidak mau ada masalah, jika ada sesuatu yang sekiranya bisa di selesaikan saat itu juga maka Papi akan menyelesaikannya dengan segala cara. Saklek memang. Tak dapat dibantah.


"Be - begini, Pi. Tadi di sekolah Aiko mau mukul orang. Terus sama Kyo dipisah pakai ngancam mau dilaporin ke Papi, jadi Aiko kesal deh sama Kyo. Bete, Pi." jawab Aiko yang masih menundukkan kepala, menatap lantai yang ia pijak.


"Kalau ngomong sama orang tatap wajahnya! Kamu pikir Papi ada di lantai?" nada suara Papi terdengar melunak.


Aiko memberanikan diri menatap wajah Papi. Papi tersenyum ke arahnya.


Ganteng juga ya Papi gue... Batin Aiko.


"Kamu kenapa kok senyam senyum?" giliran Mami yang bertanya melihat anak gadisnya.


"Papi ganteng ya, Mi. Hehehe." jawab Aiko sambil memuji sang Papi dengan santainya. Nggak nyambung dengan pertanyaan Mami.


Papi berdehem menahan malu dipuji anak sendiri.


"Jangan coba merayu ya kamu, Aiko! Papi nggak akan tergoda dengan rayuan kamu, nggak mempan, dan Papi tetap akan ngasih nasehat buat kalian berdua."


"Masih pinter Mami kan ya, Pi, kalau bidang rayu merayu?" Mami menyela ucapan Papi dengan candaan yang seketika membuat Papi malu.


"Kok kebalik ya? Malah Papi yang dirayu Mami! Kayaknya Aiko harus berguru sama Mami deh," goda Aiko. Kyo mengedikan bahu kemudian menggelengkan kepalanya.


"Sudah, sudah! Papi serius ini. Kalian berdua kan anak Mami dan Papi. Kalau ada masalah sebisa mungkin selesaikan dengan baik - baik. Jangan pakai acara saling ngambek. Nggak pantas! Ingat umur kalian, sudah bukan anak kecil lagi yang harus selalu diawasi kesana - sini. Kalian udah gede. Papi nggak mau lihat kalian seperti ini lagi, okay? "


"Iya, Papi." jawab Kyo tegas melebihi Aiko yang masih ragu untuk menjawab pertanyaan Papi.


"Lagian kamu juga ngapain mau mukul segala? Mau jadi anak bandel? Merasa paling jago? Paling kuat? Apa Mami sama Papi pernah ngajarin kamu seperti itu, Sayang?" tanya Mami memberondong yang membuat Aiko kesulitan menelan ludahnya sendiri. Sesuatu tercekat di tenggorokannya.


" Tapi, Mi. Dengerin penjelasan Aiko dulu dong. Jangan underestimate dengan tindakan Aiko tadi, karena cewek itu memang harus dikasih pelajaran biar kapok. Salah siapa dia mau gangguin hubungan Tian dan Aurel!" Aiko masih berusaha mengelak, tak merasa bersalah.


"Terus kalau kamu mukulin dia, kamu merasa puas?" saat ini Papi yang bertanya.


"Nggak, Pi. Tapi kan.... " jawab Aiko seraya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Nggak ada tapi - tapian mulai saat ini, kalau kamu salah ya bilang salah. Jangan beralasan ini itu! Papi heran, kamu itu anak cewek, tapi kok kelakuanmu nggak mencerminkan itu semua. Kamu belajar dari siapa?" Papi masih tak habis pikir dengan kelakuan anak gadisnya yang agak sembrono.


"Kata Kak Richard, Aiko sebagai cewek nggak boleh lemah, nanti bisa dengan gampangnya disakitin orang. Makanya Aiko marah dan mau mukul Vina."


Sekedar informasi saja, Richard adalah sepupu Aiko dan Kyo, dia adalah anak dari om Yuki, kakak kandung Papi yang tinggal di Jepang. Lelaki itu memang jago bela diri dan mengajari si kembar agar bisa menjaga dirinya suatu hari nanti.


"Oh, jadi namanya Vina. Dari tadi Mami penasaran. Tapi yang Mami mau bilang saat ini adalah, kamu ini cewek. Bukan Wonder Woman. Kamu pasti juga tahu dong, memukul juga masuk ranah kekerasan secara fisik dan bisa dipidana. Apa kamu nggak menyesal kalau nanti orang tua Vina melaporkan ke pihak berwajib tentang tindakan semaumu itu? Bersyukurlah saudaramu masih mau mengingatkan, " jelas Mami sembari menghela nafas kasar.


" Dan satu lagi, Richard ngajarin kamu bela diri bukan untuk tindakan brutal kayak gitu. Tapi untuk menjaga diri dari hal - hal yang tidak terduga. Buat kebaikan bukan kejahatan. Mengerti?" Papi menjelaskan pada kedua anaknya secara bijak.


"Sekarang kalian berdua baikan!" pinta Mami mendamaikan kedua anaknya yang sedang berseteru. Sebenarnya hanya Aiko yang kesal, tidak dengan Kyo. Kyo santai menanggapi kelakuan Aiko.


Aiko mengulurkan tangan untuk meminta maaf pada Kyo. Kyo hanya melirik sesekali tak juga membalas uluran tangan saudaranya. Lelaki itu justru terkekeh. Sedetik kemudian ia beranjak dan segera memeluk Aiko.


"Lo kalau ngambek jelek tahu!" ledek Kyo. Aiko mencibir.


"Biarin, udah laku ini," jawab Aiko asal.


"Emang Randy bakal nikahin lo? Yakin? Lo nya aja masih bar - bar kayak gini. Feminim dikit dong!" Kyo mengajak berdebat.


"Yang namanya cinta itu harus menerima apa adanya, bukan ada apanya." jawab Aiko dengan yakin.


"Randy yang mana nih? Kok udah bahas nikah aja. Lamar dulu ke Mami dan Papi. Dapat restu dulu dari kami baru boleh nikah," ucap Mami serius.


"Direstuin kan, Pi?" tanya Aiko yang berbinar - binar sumringah terpampang jelas di wajahnya.


"Tergantung," sahut Papi ambigu. Aiko mendengus sebal.


"Randy temen Kyo, Mi." Kyo santai menjawab pertanyaan dari Mami.


"Hah? Astaga, kirain ada Randy yang lain lagi! Pantesan, itu anak kalau kesini yang dicari bukan Kyo lagi tapi Aiko. Mami ketinggalan berita rupanya." Mami mulai bersikap seperti ibu - ibu rempong sekompleks. Papi yang tanggap situasi segera mengajak Mami masuk ke dalam kamar.


"Sudah ya, jangan berantem lagi. Nggak ada faedahnya, apalagi kalian saudara. Mami sama Papi masuk kamar dulu, mau malam mingguan, nggak kayak kalian!" ucap papi sembari tersenyum remeh. Papi sengaja meledek karena interogasi dadakan itu membuat mereka membatalkan janji kencan dengan pasangan masing - masing.


Kyo dan Aiko hanya saling melirik satu sama lain mendengarkan ucapan Papi yang sengaja menyindir keduanya, ditambah jam dinding menunjukkan pukul 21.00 wib, sangat amat tidak mungkin mereka bisa menikmati acara malam mingguan.


Aiko menghentakkan kedua kakinya bergantian ke lantai. Sebal jengkel emosi iri dengki jadi satu. Semoga project baru Papi dan Mami menambah satu anggota baru lagi ke rumah tidak terlaksana alias GAGAL.

__ADS_1


Papi jaaaahhaaaaaaatttttt!!!!! umpat Aiko dalam hati. Kyo menggelengkan kepalanya sesekali melihat ekpresi Aiko.



***


Hari ini adalah hari minggu. Rasanya waktu bergulir begitu cepat. Flo terbangun dari tidur lelap dan mimpi indahnya. Matanya menatap silau akan cahaya matahari yang memaksa masuk ke dalam kamarnya.


Untung saja ia sudah melaksanakan sembahyang meskipun sesudahnya ia kembali melanjutkan tidur yang baru beberapa jam. Semalam ia begadang menghabiskan satu buah novel kesukaannya hingga lupa waktu, karena Kyo tak jadi datang ke rumah.


Flo bergegas mandi agar terlihat fresh. Usai mandi dan berganti pakaian santai, ia berjalan mendekati nakas samping tempat tidurnya. Mengambil ponsel yang sengaja ia matikan dari tadi malam.


Ada beberapa notifikasi chat dari Kyo, Aiko dan teman - teman yang lain. Flo terkekeh.


Wah pada nyariin gue, hahaha... Emang enak gue tinggal tidur?


Flo menuruni tangga, mengedarkan pandangan ke bawah, hanya Bi Imah yang mondar mandir kesana kemari. Gerald mungkin jogging pikirnya. Ia berjalan menuju taman belakang kemudian duduk di lantai menikmati aroma hujan yang masih tertinggal, karena dari subuh hujan sudah mengguyur bumi.


Ah segarnya....



"Non! Non!" Panggil bi Imah tergopoh - gopoh mencari Flo.


"Ada apa, Bi?" jawab Flo kemudian beranjak dari posisi nyamannya segera mendekati bi Imah.


"Ada yang nyariin non Flo, orangnya ganteng pisan."


"Siapa?" tanya Flo penasaran, bi Imah hanya bisa mengedikan bahu.


***


Hai, dukung author satu ini ya..


Dengan Like


Koment yang membangun,

__ADS_1


Rate 5 🤭🤭🤭


Monggo yang mau Vote, tidak ada paksaan loh ya... 👌👌👌🤗🤗


__ADS_2