Jodoh Florence

Jodoh Florence
Apa harus putus dulu?


__ADS_3

Aiko terkesiap mendapati kedua tangannya yang kini tengah menggenggam sebuket bunga yang dilemparkan Flo. Ya dialah orang yang beruntung itu.


Aiko bingung dan celingak celinguk sendirian sembari mencari keberadaan sang kekasih yang tadi bersamanya. Randy segera menghampiri Aiko, setelah keluar dari toilet.


Randy tersenyum simpul menatap Aiko. Tidak dengan Aiko, wajahnya terlihat sayu. Entahlah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Aiko menarik tangan Gerald dan memberikan buket bunga itu padanya.


"Nih, bunganya buat abang! Buruan nikah ya, Bang!" ucap Aiko kemudian berlalu meninggalkan Gerald yang keheranan.


Gerald mengernyitkan dahi, bingung iya, sebal iya, campur aduk menjadi satu. Pacar pun tak punya, gimana mau nikah? Itulah kegelisahannya, sembari mengedikkan bahu dan menghela nafas sedalam - dalamnya.


Aiko berlari meninggalkan ballroom dan mencari tempat untuknya menyendiri sejenak melepas kegelisahannya. Randy mengikuti kemana Aiko pergi.



"Kamu ngapain kesini?" tanya Randy keheranan.


"Pengen menyendiri aja, disana rame, engap, gerah, berebut oksigen, mending disini, adem...." jawab Aiko sembari mengibaskan kedua tangannya untuk menyejukkan wajahnya.


"Kamu aneh, beb!" seru Randy.


"Aneh?" Aiko menyatukan alisnya menatap Randy sekilas kemudian memalingkan wajahnya.


"Heem.." jawab Randy pasti.


"Perasaan kamu aja kali!" elak Aiko.


"Aku ngerasa belum bisa jadi pacar kamu yang baik!"


"Huss, kamu jangan ngomong sembarangan! Aku nggak suka dengernya!" Aiko sedikit kesal.


"Iya, aku harus bilang seperti itu, karena aku ngerasa ada yang ditutupin kamu selama ini dari aku. Apa harus putus dulu biar kamu tahu rasa cintaku ini tulus ke kamu?"


"Kayak judul lagu aja! Nggak mau! Kamu jangan ngomong seperti itu, ada sesuatu hal yang saat ini belum bisa aku ceritain ke kamu. Tapi saat itu tiba, pasti aku akan cerita semuanya. Untuk saat ini, tolong kasih aku waktu dulu. Please..."


"Heem," Randy membentangkan kedua tangannya dan Aiko pun segera menghambur ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Keduanya tengah terjebak dengan pikiran masing - masing. Saling menerka dalam hati tanpa tahu kebenarannya.


Aiko merasa tenang dalam pelukan sang kekasih, tapi tidak dengan pikirannya sejak menerima buket bunga. Harusnya ia beruntung tapi entah kenapa ia justru merasakan hal yang sebaliknya.


Randy tidak mau memaksa Aiko untuk menceritakan apa yang saat ini ia rasakan. Mungkin inilah jalan yang terbaik. Suatu saat Aiko pasti akan jujur padanya.


* * *


Kembali ke Gerald...


Lelaki ini tengah bingung saat menerima buket bunga pemberian Aiko. Mau diapakan? Kalau mau dikasih ke orang, tapi kepada siapa?


Gerald mengambil secangkir teh hangat yang disediakan di atas meja, banyak sekali pilihan makanan dan minuman yang berjejer rapi, namun ia hanya memilih teh sebagai teman mengusir rasa sepi dan gundah. Tapi gundah untuk apa?


Sejenak ia menghirup aroma teh yang menenangkan, disesapnya sedikit demi sedikit seraya mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Kedua matanya menyapu setiap sudut di ballroom mewah di resort tersebut.


Sedikit menceritakan sifat Gerald, ia adalah lelaki yang sulit jatuh cinta, tapi sekalinya ia menyukai seseorang, ia akan berjuang untuk mendapatkan gadis itu. Mungkin lebih tepatnya dia pengikut organisasi kaum adam yang setia pada satu cinta. Bukan lebay tapi itu kenyataannya. Apalagi di saat ia merasakan patah hati saat dirinya diduakan oleh Yolanda, mantan terakhirnya. Ia masih sulit untuk membuka hatinya.


Namun kali ini dia sudah bisa membuka hatinya untuk seorang wanita. Wanita yang membuatnya lupa akan rasa sakitnya disakiti oleh orang yang ia cintai. Tapi, mungkinkah perasaannya berbalas?


Kedua tangan Gerald penuh membawa beban pada masing - masing tangannya. Satu tangan membawa secangkir teh yang masih ia nikmati dan tangan lainnya menggenggam buket bunga mawar merah muda. Tak ada kesan macho sama sekali. Bahkan bisa dibilang seperti emak - emak habis belanja. Rempong sekali kelihatannya.


Kedua manik mata tajam miliknya menatap seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Seseorang yang mengalihkan dunianya. Sesekali ia mengerjapkan matanya, mengucek perlahan, mencoba meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat nyata adanya, bukan khayalan semata.


Dengan pelan ia meletakkan cangkir di meja, mengejar seseorang yang membuat hatinya kalang kabut tak karuan. Terbayang senyum manisnya, rambut panjang yang terurai indah dan suara merdunya saat bertukar kata.


Gerald memantapkan jiwa dan raganya mengejar gadis itu. Hilang sesaat. Ia kembali mengedarkan pandangannya sedetail mungkin menyapu setiap sudut dalam ruangan nan megah itu.


"Dimana Dia? Jangan - jangan gue lagi mimpi? Tapi dia napak lantai kok! Nggak, nggak, gue nggak salah lihat! Itu beneran Dia! Cepet banget ilangnya," gumamnya pada diri sendiri.


"Nak Gerald!" panggil seseorang yang kini berada di belakangnya. Gerald menoleh ke sumber suara.


Oma Silvia?


Gerald menatap Oma Silvia dengan penuh tanda tanya. Adakah yang menemaninya saat ini? Jika iya, dimana Keanu? Ia memutuskan bertanya secara langsung pada beliau. Meskipun awalnya ia sedikit curi - curi pandang mencari gadis yang sedari tadi ia cari.

__ADS_1


"Hai, Oma, sama siapa kesininya?" tanya Gerald basa - basi.


"Sama supir, dia malu diajak masuk, jadinya nunggu di mobil. Maaf ya, Oma datangnya terlambat," ucap Oma Silvia ramah.


"Oh, nggak apa - apa kok, Oma."


"Nak Gerald bisa temani Oma ke tempat mempelai? Oma jalannya semakin lambat,"


Gerald yang paham dengan maksud ucapan nenek dari Keanu pun mengulurkan lengan kekarnya untuk dijadikan penumpu Oma Silvia berjalan. Langkah beliau memang lambat, maklum usia yang sudah tak lagi muda dan ditambah lagi pasca operasi sakitnya.


Sesampainya di depan kedua mempelai yang sudah berbaur dengan para tamu, Oma Silvia segera menyapa mereka berdua.


"Selamat ya, Nak Florence. Niat hati ingin menjadikan kamu cucu menantu Oma, tapi takdir berkehendak lain. Tapi yang pasti Oma berada disini saat ini hanya mau mengucapkan selamat untuk kalian berdua, semoga pernikahan kalian selalu diberikan kebahagiaan dan hanya maut lah yang memisahkan." doa tulus keluar dari bibir Oma Silvia.


Flo tersenyum kepada nenek dari Keanu tersebut dengan senyum lega. Akhirnya Oma Silvia bisa menerima bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungan apapun dengan Keanu. Karena sebelumnya Oma Silvia berharap lebih Flo bisa kembali pada Keanu.


Kyo memperhatikan interaksi keduanya, begitu pula Gerald yang kini kehilangan jejak sang wanita pujaan. Kyo melirik kakak iparnya yang sedari tadi masih fokus mengamati kanan kiri.


"Bang, lo nyari siapa? Serius bener!" seru Kyo menyadarkan Gerald dan dibalas dengan senyuman.


"Lagi nyari malaikat tak bersayap yang tadi ada disini!" jawab Gerald asal, tapi itu memang kenyataannya.


"Bucin sama siapa sekarang, Bang? Seneng gue dengernya, akhirnya abang gue bisa luluh juga sama cewek! Kenalin dong, Bang!" ucap Kyo serius. Gantian Gerald yang keheranan.


Flo dan Oma Silvia fokus mendengar obrolan para pria di depan mereka.


"Boro - boro dikenalin ke kalian, jadian aja belum!" celetuk Gerald.


"Jangan sampai abang suka sama jodoh orang, Bang! Nggak keren dong nanti nama abang, Gerald Permadi Pebinor, hehehe, peace," Kyo menunjukkan dua jari membentuk V. Sedikit garing guyonan yang ia ucapkan, namun sukses membuat Gerald mencebik bibir.


"Lo kalau ngomong yang bener dong, doain abang lo ini biar cepet dapat pendamping hidup! Gue capek pacaran mulu, kalau ujung - ujungnya cuma ditinggalin atau disakiti, mending gue nyari yang mau diajak susah seneng sama gue sampai maut memisahkan," ucap Gerald panjang kali lebar.


Curhat dia! Batin Flo dan Kyo kompak sembari menahan tawa. Sedikit jahat memang!


Kyo melirik Flo begitu juga sebaliknya, dan pandangan mereka seketika berhenti tepat saat seorang wanita berjalan ke arah mereka dengan anggun. Hingga membuat Gerald sedikit melongo, tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Flo dan Kyo heran melihat ekspresi sang abang.

__ADS_1


To be continue....


* * *


__ADS_2