
Happy reading kakak - kakak, semoga terhibur, jangan lupa like dulu kakak, πππ€π€
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Flo mengikuti langkah kaki suaminya yang hendak menuju balkon di lantai atas. Tanpa suara, tanpa bicara. Mereka berdua seperti orang yang tak saling kenal.
Mungkin karena menurut Flo, kesabaran ada batasnya, akhirnya ia berinisiatif menarik ujung kaos Kyo dari belakang. Langkah kaki Kyo terhenti dan menoleh ke arah Flo tanpa membalikkan tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Kyo, Flo semakin keheranan dengan sikap suaminya yang aneh bin unik itu.
"Harusnya aku yang tanya gitu ke kamu!" seru Flo.
Kyo membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Flo. Lelaki itu melihat istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah marah, merajuk, sebal dan masih banyak lagi yang Flo sendiri pun tak tahu jawabnya.
"Kamu aneh, tahu nggak?"
"Aneh?" Kyo tersenyum sinis.
"Iya, kamu tadi denger kan Papi bilang apa. Kalau kita harus bisa menyelesaikan masalah kita dengan kepala dingin, jangan cuma pakai jurus ngambek! Aku kan bukan peramal yang bisa baca pikiran kamu. Tolong jujur sama aku!" pinta Flo dengan nada memelas.
"Ngambek buat apa? Lagi pengen diem aja," Kyo hendak melanjutkan niat awalnya menuju balkon namun baru beberapa langkah, Flo memeluknya dari belakang. Bahkan Kyo bisa merasakan dua benda kenyal favoritnya saat ini tengah menempel dengan nyaman di punggungnya. Dekapan Flo begitu erat membuat Kyo bingung, hendak melanjutkan acara merajuknya atau disudahi saja. Dilema.
Jangan lemah, Kyo! Tunjukkin kalau lo bisa menahan godaan iman ini, ayo berusaha kuat, kuat, kuat, mana itu mainan favorit nyender dengan santuy pula, aaargggghh...
Gejolak hati dan pikiran Kyo sedang berperang hebat, apa yang harus ia lakukan saat ini? Jujur tentang perasaannya atau diam terlebih dahulu supaya Flo tahu dan bisa belajar memahami isi hatinya?
Ah, sepertinya hati yang memenangkan peperangan itu. Kyo berbalik arah dan mengatupkan kedua tangannya membingkai jelas wajah istri cantiknya.
"Aku nggak tahu ini bisa disebut sebagai apa, entah cemburu? Posesif karena nggak mau kehilangan kamu? Atau aku yang terlalu berlebihan alias lebay? Tapi disini sakit, Yang." Kyo menarik tangan Flo dan meletakkan di dadanya.
"Tapi karena apa?"
"Aku takut kamu ninggalin aku atau lebih buruknya, kamu nggak bener - bener sayang sama aku." kini ucapan Kyo terdengar merajuk, lucu sekali, hingga membuat Flo menahan tawa.
"Kamu lucu, kok bisa - bisanya kamu mikirnya kayak gitu? Kalau aku nggak beneran sayang sama kamu, mungkin aja aku kabur dari pernikahan. Aku juga udah ngasih milik aku ke kamu! Semuanya! Hati aku, tubuh aku! Kurang bukti apa lagi?" ucap Flo tanpa filter, sepertinya efek terlalu lama menjadi sahabat Aurel, dia pun terkena imbasnya. Mulut tak terkontrol. Setelah itu malah dia malu sendiri karena ucapannya yang begitu terbuka, ia melirik kanan kiri takut ada yang mendengarnya.
Blushing
"Kamu ngomongnya vulgar banget, Yang!" Kyo terkekeh, sedikit bangga mendengar ucapan istrinya yang blak - blakan namun ia menyukainya.
"Kamu yang mulai kok. Makanya jangan ngambek nggak jelas kayak gini. Aku salah apa?"
"Ya udah yuk aku ceritain sambil lihat bintang di langit," ajak Kyo sembari menggandeng tangan istrinya menuju balkon.
Sesampainya di balkon, lelaki itu memeluk Flo dari belakang. Keduanya menengadahkan wajah masing - masing melihat langit luas di atas sana. Nampak bulan begitu cerah seolah sedang memandang kedua insan yang tengah di mabuk asmara di bawahnya.
"Bulannya cantik ya," puji Flo tanpa melepas pandangannya dari rembulan di langit malam.
Kyo menyandarkan kepala di bahu istrinya, menghirup aroma parfum yang dipakai Flo, bahkan itu saja bisa membuat dirinya mabuk, mabuk akan tubuh istrinya yang kini menjadi candu untuknya karena sudah halal hubungan mereka.
"Geli ah," ucap Flo karena merasakan rambut lelaki itu mengenai leher jenjangnya.
__ADS_1
"Tahan dong, nanti kita terusin di kamar." jawab Kyo asal.
Flo heran dengan balasan Kyo. Ia sampai geleng - geleng kepala, Kyo manja sekali berbeda jauh dengan dulu. Flo mengenang kembali sikap Kyo dulu padanya. Kyo yang ketus, suka marah - marah, nggak ramah sama sekali, dan kini berbanding 180 derajat, menjadi lelaki posesif, manja, mudah merajuk dan yang paling utama adalah pria bucin.
"Yang, jangan pernah tinggalin aku ya. Aku udah sayang banget sama kamu. Apapun yang terjadi tetaplah bersamaku." ucap Kyo serius. Ia masih tetap memeluk tubuh Flo dari belakang tanpa ada tanda - tanda akan melepaskan pelukannya.
Flo mengangguk dan membelai jemari suaminya yang melingkar di pinggangnya.
"Yang, kamu tahu nggak planet apa yang paling besar dalam tata surya?"
"Apa ya? Yang pasti bukan bumi kan?" Flo masih mencoba untuk menjawab namun tak juga menemukan jawabannya.
Kyo tersenyum penuh arti.
"Nyerah deh,"
"Jupiter, tapi sayang masih ada yang bisa ngalahin besarnya dia,"
"Apa?"
"Besarnya cintaku ke padamu, hehehe,"
"Apaan sih," Flo mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tahu nggak planet paling cantik?"
"Nggak," Flo menyerah, ia malas menerka - nerka karena dapat di pastikan akan berujung menjadi gombalan.
"Jangan bilang itu aku?" tebak Flo.
"Deuh, pede bener, Yang." elak Kyo meledek Flo.
"Terus siapa dong?"
"Bidadari dan itu adalah istri aku," jawab Kyo membuat Flo meliriknya tajam dan segera memberikan beberapa cubitan di pinggang dan perutnya. Kyo tertawa puas mengerjai kepolosan Flo.
"Ganti topik ah, dari tadi gombalin aku terus. Nggak capek apa?"
"Gombalin istri sendiri tuh seru, ibarat main game, nggak akan ada capeknya, nagih terus dan terus."
"Masa aku disamain sama game sih? Jahat bener!" Flo berpura - pura merajuk membuat Kyo gemas melihatnya, hingga tak sadar kini posisi keduanya telah berhadapan.
"Aku jadi inget, di hape aku masih ada game yang nggak pernah bosen aku mainin. Nama gamenya plants vs zombie." jelas Kyo.
"Terus?"
"Menurut kamu lebih seram zombie atau aku?"
"Bentar, skip dulu. Kamu nih dikit - dikit ngegombal. Belajar dari siapa sih? Jangan - jangan kamu berguru sama Tian ya?" tebak Flo.
"Iya, pas dia suka gombalin cewek terus aku hafalin deh. Eh ternyata efektif juga,"
__ADS_1
"Efektif buat godain cewek - cewek?" Flo mulai merasa sedikit jealous.
"Efektif bikin pipi kamu merah karena seneng digombalin aku, hehehe, kembali ke yang tadi, tolong dijawab dulu," pinta Kyo.
"Apa itu penting?"
"Pentinglah, itu harus dijawab sebagai hukuman buat kamu karena tadi kamu ngasih aku harapan palsu. Suami lagi pengen kok ditinggal bobok cantik," sindir Kyo.
"Oh jadi ini penyebab anehnya kamu sore ini. Iya deh, maaf ya Sayang..." rayu Flo mencoba menghibur sang suami.
"Jawab dulu!" paksa Kyo.
"Lebih seram zombie dong,"
"Salah!"
"Kok gitu?"
"Kalau zombie, dia pemakan otak manusia, jadi intinya lebih seram aku karena aku pemakan kamu, dan aku nggak akan biarin kamu bobok tenang malam ini," bisik Kyo memberi penjelasan di telinga Flo.
Flo seperti tersengat arus listrik, ia segera ambil langkah seribu menuju kamar takut suaminya akan mengajak berbuat mesum di balkon. Flo lari tunggang langgang namun dapat disusul Kyo. Flo sudah tak bisa lagi mengelak, pasrah.
Kyo tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menangkap Flo dan menggendong istrinya ala bridal style, tak perlu menunggu lama ia sudah merebahkan Flo di tempat tidur. Karena adik kecilnya ingin segera mencari tempat bersemayam yang selalu dirindukan, bukan berakhir di jemari lentik tuannya seperti tadi sore.
* * *
Selingan...
"Bunda, kok dari tadi Tian bersin - bersin mulu ya? Padahal ini lagi minum teh hangat bikinan bunda, nggak ada angin, nggak ada hujan," tanya Tian di teras rumah, duduk berhadapan dengan ibunya.
"Ada yang ngomongin kamu kali," jawab Bunda asal.
"Ngomongin kegantenganku yang nggak ada duanya ya, Bun. Ya maklum cowok ganteng emang banyak banget penggemarnya," ucap Tian narsis.
"Bukan salah ibu mengandung, tapi salah ayah lupa pakai sarung, jadinya lahirlah kamu si anak badung," jawab Bunda mendramatisir kemudian berlalu.
"Susah bener bilang kalau aku ganteng sih, Bun!" paksa Tian sembari memekik lumayan kencang karena ditinggal ibunya masuk ke dalam rumah.
"Iya ganteng, makanya mau dibikinin patung mirip kamu," seru Bunda dari dalam rumah.
Tian mengingat patung tokoh - tokoh besar dunia yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya, museum patung lilin madame tussauds.
"Jadi patung koleksi madame tussauds ya, Bun?" tebak Tian dengan mode tengil.
"Bukan, tapi patung artefak!" jawab Bunda pelan namun masih bisa didengar Tian.
"Astaghfirullah, Bun!" ucap Tian sembari mengelus dadanya berkali - kali.
Tega kau, Bunda. Huwaaaaa....
* * *
__ADS_1