
Hal yang paling berat adalah mengikhlaskan, dan hal yang paling sulit dilakukan adalah melupakan.....
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Tibalah hari yang di maksud oleh Kyo. Saat dimana Kyo mengatakan akan mengajak Randy supaya bisa bangkit dari keterpurukannya. Kyo bersama Tian mengajak Randy ke sebuah danau hijau yang disana terdapat banyak ikan di dalamnya. Air danau yang jernih menampakkan pemandangan ikan yang sedang berkejar - kejaran satu sama lain.
Flo tak lupa ikut serta, sepulang sekolah ke empat orang tersebut berada di tepi danau. Untung saja ini bukan weekend, kalau iya bisa dipastikan tempat ini akan penuh sesak ratusan bahkan ribuan orang.
Randy terdiam sejenak, ia melangkahkan kaki mendekat ke kursi panjang yang terbuat dari kayu dan mendaratkan tubuhnya disana. Pandangan lelaki itu kosong, Tian yang menyadari itu segera menepuk bahu Randy.
"Jangan ngelamun, bisa - bisa lo dibawa sama penunggu danau ini!" Tian mengingatkan dengan mimik wajah serius tapi santai.
Randy menoleh sekilas kemudian fokus menatap ke depan, lelaki itu berusaha menampilkan senyum manisnya.
"Teriak sepuasmu! Biar hati dan pikiran lo tenang! Lakuin sekarang, Ran!" titah Kyo seraya mendekat ke arah dimana Randy dan Tian duduk.
Randy masih mencoba mencerna maksud ucapan Kyo. Namun ia segera paham, Randy berjalan menjauhi kedua sahabatnya. Ia tersenyum kemudian berteriak sekencang - kencangnya pada takdir yang telah tega memisahkan dirinya dengan Aiko. Ia bahkan memungut beberapa batu dan melemparkannya ke tengah danau.
Tian melirik Kyo, begitu juga sebaliknya. Mereka berdua menghela nafas panjang melihat kacaunya Randy saat ini.
"Yan, kenapa lo nggak ngajak Aurel kesini?" tanya Flo yang sedari tadi hanya diam.
Tian menoleh ke arah gadis ayu itu berada, gadis yang pernah ia sukai dulu. Tian tersenyum penuh arti namun senyuman itu membuat Kyo salah paham.
"Kalau ngajakin Aurel bisa lain waktu, Flo. Tapi kalau untuk saat ini, prioritas gue adalah Randy. Mau gimana pun juga dia sahabat gue, sama seperti Kyo. Jadi saat dia merasakan sakit, secara nggak langsung gue ikut ngerasain juga," jawab Tian tulus.
"Tapi Aurel tahu kan lo kesini? Tadi kan lo langsung kabur dari itu anak, iya kan?" desak Flo. Karena Flo tahu Tian tadi meninggalkan Aurel seorang diri sewaktu di kelas karena biasanya Tian selalu mengantar jemput Aurel.
Tian menggeleng pelan namun tetap melengkungkan senyum di wajahnya hingga tercetak jelas lesung pipit di kedua sisi pipinya.
"Buat gue pacar adalah prioritas ketiga atau kesekian setelah sahabat, pacar masih bisa dicari, tapi kalau sahabat? Nggak semudah itu, Flo. Ibarat tangan yang sakit, pasti mulut yang mengaduh. Kayak ada ikatan batin gitu lah. Tapi gue yakin Aurel pasti ngertiin, toh gue perginya sama Randy bukan sama cewek lain. Hehehehe," lanjut Tian sambil menatap Kyo yang pasang muka cemberut melihat kedekatannya dengan Flo.
"Apa lo lihat - lihat gue? Mau nyari masalah sama gue?" tantang Kyo pada Tian.
"Deuh siapa juga yang nyari masalah sama mister posesif kayak elo. Cuma lihat doang keles! Nggak usah cemburu kali, lagian gue ngobrol sama Flo ngomongin cewek gue. Ampun dah, punya sahabat somplak semua..." Tian geleng - geleng kepala menghadapi tingkah Kyo yang tiba - tiba menjadi seperti anak kecil.
"Gue ngajakin bini gue kesini kan karena dia udah sah istri gue, jadi kemanapun dia berada ya harus ada gue. Dia kan tanggung jawab gue. Bukan maksud gue malah bikin kalian jadi obat nyamuk ya, gue pengen Randy meluapkan semua emosinya disini." jelas Kyo tanpa diminta.
"Laki lo sih kenapa, Flo? Gue aja nggak mempermasalahkan dia datang kesini sama siapa, aduh laki lo kayaknya mau pms deh, ngalahin cewek - cewek!" ucap Tian jengah.
"Biasa aja, Yan. Dia memang kayak gitu, lo kayak baru kenal sehari dua hari aja, jangankan elo yang ngajak gue ngobrol, Aiko mau curhat sama gue aja, nggak dibolehin sama dia. Posesif banget dia, Yan. Untung sayang..." ucap Flo sambil melirik Kyo.
"Hussss, perdebatan suami istri jangan disini, gue takut jadi kepengen juga! Udah ganti topik, semoga aja pulang dari sini Randy bisa lebih tenang, dan semoga laki lo bisa mengurangi sifat posesifnya yang amit - amit jabang bayi, moga besok anak kalian nggak ngikut sifat bapaknya." harap Tian sembari terkekeh melihat Kyo tanpa dosa.
__ADS_1
"Sembarangan kalau ngomong itu mulut! Iya maaf, gue sekarang jadi cemburuan banget, nggak tahu kenapa, ya wajar aja sih, punya bini secantik Flo, ya gue takut ada yang nikung," ucap Kyo sambil melirik Tian.
"Lo nuduh gue?" Tian mengerucutkan bibir, tak terima.
"Nggak! Pede amat lo bocah! Secara yang yang suka sama bini gue kan banyak, antisipasi dari sekarang dong, emang salah?," elak Kyo santai.
"Udah, udah, kita disini bukan mau berantem! Tapi nemenin Randy supaya dia bisa bangkit dari patah hatinya, meskipun gue juga nggak yakin seratus persen dia bisa melupakan sakitnya, tapi yang pasti kita udah berusaha dengan ngajak dia ke tempat ini. Semua butuh proses, nggak ada yang instant." ujar Flo bijak menengahi perdebatan tak masuk akal Tian dan Kyo.
"Lo harusnya bersyukur banget, Kyo. Punya bini nggak cuma cantik paras tapi juga hatinya. Gue sebenarnya sedikit iri, munafik kalau gue bilang nggak, tapi yang namanya jodoh itu Tuhan udah mengatur segalanya dengan baik. Semoga Aurel adalah jodoh gue," ucap Tian tulus seraya berharap.
"Aamiin yaa Rabbal alamin, sudah pak ustadz?" tanya Kyo setelah mengamini ucapan Tian.
"Sudah nak, bapak mau istirahat dulu, capek ini dari tadi ngasih wejangan sama anak labil kayak kalian...." jawab Tian dengan mode tengil seolah - olah telah menyelesaikan ceramahnya kemudian bersandar di kursi panjang tersebut sembari mengamati Randy dari jauh.
* * *
Keesokan hari di sekolah, pelajaran pertama diisi dengan mata pelajaran seni musik. Banyak dari para siswa yang membawa alat musik dan kebanyakan yang mereka bawa adalah gitar.
Bu Dita sebagai guru musik menyuruh para murid mempersiapkan diri untuk tampil di depan kelas untuk bernyanyi dengan diiringi alat musik.
Tiba giliran sang ketua kelas maju dan menyanyikan sebuah lagu.
*Aku terpaksa menangis
Aku terpaksa merintih
Kau masih bisa ku lihat
Suaramu masih ku dengar
Namun kenyataan ini mengharukan
Seseorang disana telah memilikimu
Aku kan berdosa bila merindukanmu
Oh mantan kekasihku
Jangan kau lupakan aku
Bila suatu saat nanti
Kau merindukanku
Datang datang padaku*...
__ADS_1
(Lyla - Mantan Kekasih)
Degg
Randy kesusahan menelan salivanya, lagu ini seperti menghujam jantungnya. Luka yang hanya ia sendiri yang merasakannya.
Berikutnya seorang murid perempuan yang sangat medhok logat bicaranya duduk di kursi yang disediakan sambil memainkan gitar miliknya.
Piye kabarmu saiki mantan?
(Bagaimana kabarmu sekarang mantan?)
Opo iseh kelingan aku?
(Apakah masih ingat aku?)
Aku sing tau ngukir cerito tresno ning atimu
(Aku yang pernah mengukir cerita cinta di hatimu)
Sakdurunge kowe lungo ninggalke aku
(Sebelum kamu pergi meninggalkan aku)
Hal sing paling abot kuwi pancen ngikhlaske
(Hal yang paling berat adalah mengikhlaskan)
Hal sing paling angel kuwi kudu nglalike
(ahal yang paling susah adalah harus melupakan)
(Happy Asmara - Piye kabarmu mantan?)
Lagu yang belum usai mengalun indah tersebut harus disudahi masuk ke dalam indera pendengar Randy. Randy meminta ijin pada bu Dita untuk ke toilet. Alasan sebenarnya adalah ia tak sanggup mendengar kelanjutan lagu tersebut. Sedikit banyak ia paham arti lagu itu.
Tanpa sadar Randy melewati kelas Aiko, dan mungkin takdir ingin membuat hati lelaki itu berkecamuk, karena saat yang sama Aiko dan Lily keluar dari kelas bersama semua teman sekelas hendak menuju ke perpustakaan. Randy sedikit terkesiap melihat penampilan Aiko yang sedikit berubah. Dengan rambut pendek menambah kesan manis pada gadis itu. Belum ada tiga hari putusnya hubungan mereka, gadis ini sudah memangkas rambut panjangnya menjadi pendek seperti ini.
Cantik batin Randy.
Aiko yang sadar diperhatikan Randy segera menyapa lelaki itu.
"Hai," sapa Aiko sambil berlalu.
Randy belum menjawab sapaan Aiko namun gadis itu sudah menghambur dengan semua teman - temannya meninggalkan Randy yang masih diam mematung di depan kelas Aiko.
__ADS_1
"Ran!" panggil seseorang mengagetkan Randy, mengembalikan jiwa Randy yang sempat melayang entah kemana. Ia kembali sadar akan lamunannya.
* * *