
Siang itu di kantin sekolah, Flo dan keempat sahabatnya sedang menikmati bakso mang Ujang. Mereka melahap makanan berbentuk bulat itu diselingi canda tawa. Tak terlihat rasa sedih atau gundah pada diri Flo sejak kejadian tempo hari. Mungkin ia sudah benar - benar melupakan, tak mau mengingat kembali kenangan itu. Meskipun dalam hati kecilnya, masih ada terbersit rasa yang membuat dadanya sesak. Ada rasa yang diketahui bernama SAYANG di lubuk hatinya yang terdalam. Waktu beberapa bulan tak bisa dilupakan begitu saja dengan mudah, ada tahap - tahap yang harus dilalui Flo yaitu berkumpul lebih sering dengan sahabat - sahabatnya.
"Hai ciwi - ciwi, kita boleh gabung nggak?" Suara yang tak asing tertangkap gendang telinga Flo, lelaki yang memang handal merayu itu duduk sembari tersenyum ke arah Flo cs.
"Nggak usah minta ijin kalau ujung - ujungnya langsung duduk! Percuma basa - basi nya." Seru Dinda buka suara.
"Iya kayak cinta abang, yang udah masuk tanpa ijin ke hati adek ya." Jawab Tian sekenanya, ia memang terkenal sebagai lelaki bermulut manis, siapa saja pasti dirayunya. Terkadang tak sedikit membuat kaum hawa baper karenanya.
Kalau dilihat - lihat lebih dekat, trio somplak yang diketahui beranggotakan Kyo, Randy dan Tian ini memang memiliki wajah yang rupawan. Namun hanya satu yang bisa dikatakan normal diantara ketiganya, Randy. Hanya dia yang lempeng, lurus - lurus aja, nggak suka neko - neko. Randy suka sama satu cewek tapi nggak berani ngungkapin bahkan kadang sering mati gaya. Kyo, dia normal bahkan terlalu normal hanya saja mulut pedasnya saat menolak beberapa cewek yang mendekatinya dan terus terang mengejar dirinya, membuat dia terlihat sangat jauh untuk dijangkau. 'Perempuan seperti apa sih yang Kyo suka? Itu pertanyaan yang sangat umum dijumpai kalau mendengar nama Kyo, bahkan tak jarang ia mendapat sebutan Pria Penguasa Kutub Utara dan Selatan, saking dinginnya. Ah, yang benar saja. C' mon hidup tak sedrama itu....'
"Gimana kalau kita main game? Yang kalah harus traktir kita semua. Gimana - gimana?" Usul Tian memecah kesunyian beberapa saat.
"Game apaan tuh?" Sahut Aiko yang masih fokus mengunyah dan menandaskan bakso terakhir ke mulutnya.
"Truth or Dare. Gue penasaran pengen maen itu bareng ciwi - ciwi. Hehehe."
"Dasar itu mah lo nya aja yang mupeng pengen ditraktir kalau kita ada yang kalah. Huuuuu..." Umpat Aurel yang sibuk mengaduk - aduk es teh miliknya yang tinggal separuh.
"Lah segitu takutnya lo bakal kalah, Rel?" Tian tersenyum remeh.
"Nggaklah, ya udah ayo buruan maennya. Sebelum kita - kita berubah pikiran nih." Elak Aurel pada Tian, yang di pahami lelaki berlesung pipit itu sebagai tanda setuju.
"Ok, kita pakai botol soda ini ya, berhubung udah kosong jadi bisa dipakek." Tian tersenyum sembari menjelaskan.
"Cara maennya gimana nih?" Tanya Flo akhirnya setelah lama bungkam.
__ADS_1
"Eh Flo sayang, nih abang jelasin ya. Kalau Truth itu berarti kita ngasih pertanyaan harus dijawab dengan jujur, kalau bohong tandanya dia kalah dan hukumannya traktir kita semua. Kalau pilih Dare berarti harus mau kita kerjain. Seru pokoknya lah, kalau Flo nggak bisa ngelakuin itu, abang rela kok bantuin adek. Hehehe." Tian menjelaskan diselami dengan rayuan recehnya.
" Itu mah, dasar lo nya aja yang modus. Huuuu.... " Dinda menyoraki aksi Tian, yang ditanggapi lelaki itu dengan tawa terbahak - bahak.
Setelah dirasa semua setuju, permainan pun dimulai. Botol mengarah ke.... Aiko
"Yang mau tanya bisa 2 orang ya, lupa bilang gue tadi. Mau T or D?" Tanya Tian.
"T aja." Jawab Aiko singkat.
"Hal apa yang paling ngeselin seumur hidup lo?" Tanya Dinda pada Aiko.
"Nunggu seseorang nyatain perasaan ke gue, modal perhatian sih iya tapi cuma harapan palsu doang."
"Deuh, ini mah curhat, Ran. Lo kalau nggak gercep, Aiko bisa disamber orang loh." Bisik Tian ke telinga Randy. Randy yang sadar diri menahan malu karena jawaban Aiko memang disematkan untuknya.
"Ngapain juga takut, kalau gue juga suka sama lo terus mau digimanain? PHP doang nih..."
"Jadi lo nerima gue?" Randy seperti mendapat lampu hijau tak sadar bahwa mereka sedang bersama teman - temannya. 'Emang bener ya, kalau orang yang lagi jatuh cinta dunia serasa milik berdua. Yang lain cuma nyewa, numpang tinggal.'
"Eh, mohon maaf ini bukan ajang tembak menembak, kita lagi ngegame nih. Urusan pribadi jangan dibawa - bawa. Udah deh, kalian jadian aja. Bikin mata gue sakit aja ngelihat asmara kalian berdua. Kasihan dikit napa sama yang jomblo?" Goda Tian pada Aiko dan Randy yang keceplosan mengungkapkan perasaan masing - masing.
" Iya - iya maaf. Lo belum selesai urusannya sama gue ya, Ran. " Ancam Aiko pada Randy. Tian terkekeh geli, Kyo melengos sambil menghela nafas panjang.
Botol berikutnya mengarah pada Kyo. Kyo memilih Truth juga.
__ADS_1
"Ada cewek yang lo sayang nggak selama ini?" tanya Aurel.
"Selain nyokap, Aiko, Eyang putri, Nenek moyang lo ya bro, gue nggak mau denger yang kayak gini." Tian mendahului jawaban Kyo.
"Nggak ada. Gue nggak bisa jatuh cinta." jawab Kyo sambil tersenyum remeh pada Tian.
"Sini gue lihat, kaki lo masih napak apa kagak?" Tian melongok ke bawah pura - pura mengecek sesuatu di bawah sana. "Ah elah, lo masih manusia, bro. Bukan malaikat! Masih berpijak pada tanah yang sama, kampret lah jawaban lo kayak gitu."
"Ada lah, tapi cukup gue sama Tuhan aja yang tahu." Kyo menjawab dengan gaya tengilnya.
"Lo seneng ditembak apa nembak?" Giliran Aiko yang bertanya pada saudara kembarnya.
"Berhubung gue menghargai emansipasi wanita, jadi gue nggak masalah kalau ada yang nembak gue. Gue seneng, tapi sejujurnya malah gue pengen yang nembak cewek itu. Udah puas sama jawaban gue belum nih? LANJUT..."
Botol selanjutnya mengarah ke arah Flo. Tak butuh waktu lama, ia pun memilih Truth pada akhirnya.
"Lo masih sayang nggak sama mantan terakhir alias Judith?" Tanya Aurel dengan nada menggoda.
"Munafik kalau gue bilang nggak. Gue masih ada sedikit rasa sayang, wajarlah."
"Lo pengen punya pacar yang kayak gimana?" Tian memberi pertanyaan yang membuat wajah Flo merona.
"Gue nggak ada spesifikasi khusus untuk itu, yang gue mau tuh cowok bener - bener sayang tulus, baik, nggak suka bohong, ganteng relatif ya. Kayaknya ini udah mewakili semua deh." Flo malu - malu menjawabnya. Terlihat semburat merah di kedua pipinya.
"Berarti gue masuk kriteria lo dong, Flo. Hehehe." Tian menimpali jawaban Flo dan seketika membuat riuh teman - teman menyorakinya.
__ADS_1
Game pun bergulir sampai akhirnya terhenti saat jam istirahat selesai. Mereka kembali memasuki kelas masing - masing.
***