
Akhirnya kemenangan berpihak pada tim yang beranggotakan Kyo cs. Strategi yang mereka susun terbukti sukses dan membawa kebanggaan mengharumkan nama sekolah.
Flo terkesima melihat perjuangan Kyo dan kawan - kawan. Ditambah lagi ada Judith di dalamnya, mau tak mau nanti Flo tetap akan memberi selamat. Lupakan sejenak istilah mantan.
Aiko menyikut lengan Flo yang sedari tadi masih sibuk mengamati Kyo.
"Ada apa?" tanya Flo merasa risih.
"Noh, lihat arah jam satu, ada dua cewek yang lagi sama Boim." bisik Aiko seraya mengarahkan jari telunjuknya ke lelaki yang bernama Boim.
"Kenapa emangnya?" Flo masih cuek.
"Itu cewek yang dulu pernah dekat sama Kyo waktu smp. Manis sih gue akuin, tapi masih cantikan elo. Tenang aja. Ya gue nggak mau aja ada bau pelakor disini." jelas Aiko menepuk bahu Flo kemudian beranjak mengambil tas ransel miliknya dan menenteng plastik berisi beberapa air mineral botol menuju Kyo cs berada.
"Tunggu, gue ikut, jangan ditinggal dong!" pekik Aurel kemudian mengekor di belakang Aiko. Disusul kemudian Flo, Lily dan Dinda.
Belum sampai pada tujuannya mendekati Kyo cs, datanglah seorang perempuan lain lagi yang penampilannya agak berbeda tidak memakai seragam. Perempuan yang baru saja datang memakai dress putih dan terlihat dewasa. Entahlah siapa dia. Ia berjalan mendekati Tian, langkah Aurel terhenti.
"Eits, siapa dia?" tanya Aurel, Aiko yang berjalan di depannya terpaksa menoleh ke belakang saat ia mendengar pertanyaan itu.
"Gue juga nggak tahu. Udah yuk samperin aja," ajak Aiko lalu menarik paksa tangan Aurel supaya berjalan lebih cepat.
***
"Selamat ya, Kyo, tim lo menang. Kita terima kekalahan kita dengan lapang dada." ucap Boim seraya mengulurkan tangannya pada Kyo dan dibalas pelukan antar lelaki.
"Tim lo juga keren kok, Im. Lain kali kita maen bareng lagi ya, " jawab Kyo sembari tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Siap! Oh iya ini Mayang sama Dewi pada pengen ikut, udah lama nggak ketemu sama lo gitu. Kangen katanya." jelas Boim pada Kyo dan disambut senyum malu - malu dari dua gadis di belakangnya. Flo memperhatikan itu dan sempat mendengarnya.
__ADS_1
"Ehem, ehem." Aiko berdehem tepat di depan Kyo cs dan Boim, mengalihkan suasana temu kangen di antara mereka.
"Eh ada Aiko, tambah cantik aja nih." goda Bian, teman Boim yang dulunya juga satu smp dengan Kyo.
"Basi lo! Dari lahir gue emang udah cantik." jiwa songong Aiko pun muncul.
Flo memutar kedua bola matanya, ia merasa jengah dan entahlah apa yang membuatnya merasa tidak nyaman. Di tambah lagi pemandangan dua gadis di depannya yang sedari tadi tak henti tersenyum ke arah Kyo. Mungkinkah ia cemburu? Siapa mereka? Banyak pertanyaan memenuhi kepala Flo.
Judith dan Kenzi yang tadinya berkumpul bersama Kyo cs sudah pergi meninggalkan lapangan basket. Yang tersisa disana tinggal Kyo, Randy, Tian bersama Boim dan Bian, tak lupa tiga gadis yang belum Flo kenal sebelumnya.
"Oh iya kenalin ini Flo, cewek gue." Kyo memperkenalkan Flo di depan teman - teman lamanya. Dua gadis berpakaian seragam yang tadi melihat Kyo beralih pada Flo dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Entah tak suka atau apalah, Flo jujur tak menyukai tatapan itu.
Mereka saling berkenalan dan menyapa. Namun tatapan tiga gadis asing itu membuat Flo sejujurnya malas menanggapinya. Tersirat rasa cemburu di benak Flo. Siapa tiga cewek ini?
"Hai Tian," sapa si gadis yang memakai dress putih menyunggingkan senyum manisnya, yang penampilannya berbeda diantara dua gadis lainnya.
"Oh, ini Vina gue yang ajakin kesini, Yan. Gue ngasih tahu kalau lo tanding sama tim gue. Jadi dia bela - belain kesini pulang kuliah buat ketemu lo. Hehehe." jelas Bian.
Hanya sekedar info, Lovina atau biasa dipanggil Vina adalah mantan pacar Tian saat dirinya masih smp dan putus saat Tian menginjak kelas X. Dan Vina juga kakak kelas Bian dan Boim di sekolah mereka. Vina lebih tua setahun dari Tian, meskipun mereka berbeda sekolah, tapi dulunya Tian rajin mengantar jemput Vina yang sekolahnya searah dengan dirinya. Vina memutuskan hubungan secara sepihak dan memakai alasan bahwa Tian masih kekanak - kanakan, belum dewasa dalam berpikir dan bersikap. Klise memang.
"Hawa - hawanya gue nyium bau orang mau balikan deh," sindir Boim secara halus sembari terkekeh, Bian pun mengangguk mantap.
Aurel yang mendengarnya hanya bisa menatap Tian dan Vina bergantian.
"Wah, lo kena azab, Rel. Tadi lo godain pak Keanu sekarang lo gantian lihat Tian digodain cewek lain. Mana cakep pula." Sebenarnya Dinda hanya bermaksud menggoda, tapi tanggapan Aurel begitu dingin melalui tatapannya. Menciutkan nyali Dinda yang awalnya terkekeh menjadi takut dan memilih diam.
Tian menatap Aurel yang saat ini sedang menahan cemburu, ingin rasanya ia menggodanya namun segera ia urungkan niatan itu. Apalagi Vina pernah menorehkan luka yang tak nampak di hatinya dan masih berbekas hingga saat ini.
__ADS_1
Tian yang saat ini hanya memakai kaos dalam berwarna hitam, terlihat dewasa di mata Vina. Sudah jauh berbeda dari tiga tahun lalu. Seperti bukan anak kecil lagi, Tian nampak dewasa dan semakin tampan.
"Bisa kita bicara sebentar, Yan?" tanya Vina to the point.
Tian meminta persetujuan dari Aurel dengan kode yang ia berikan. Aurel mengangguk pelan.
"Oke, jangan lama - lama ya. Aku capek soalnya." jawab Tian dan segera berjalan meninggalkan teman - temannya, diikuti Vina di belakangnya.
Kedua mata Aurel tak lepas memandangi Tian dan Vina yang berjalan semakin menjauh dari mereka semua. Jantung Aurel berdetak kencang, ada ketakutan dalam hati dan pikirannya.
***
"To the point aja, mau apa kamu kesini?" tanya Tian saat mereka sudah cukup jauh dari pandangan teman - temannya.
"Aku kangen sama kamu, Yan. Aku tahu kamu masih punya perasaan sama aku kan? Makanya aku datang kesini." Vina berbangga diri seolah ia tak pernah melakukan kesalahan pada Tian.
"Kata siapa?"
"Bian yang cerita, beberapa bulan lalu kamu nanyain aku."
"Oh itu, nanyain kabar mantan nggak salah dong. Toh aku juga udah nggak ada perasaan lagi ke kamu."
"Nyatanya sampai sekarang kamu belum punya pacar kan? Bian juga cerita kamu cuma suka mainin perasaan cewek, itu semua karena kamu masih ingat aku. Kita bisa perbaiki lagi kok, Yan."
"Wah, drama apa lagi nih? Nggak nyangka aja aku, seorang Vina nyelidikin tentang Sebastian Wijaya. Harusnya aku bangga ya, tapi kok malah jadi horor? Kayaknya ada info yang kurang deh, saat ini udah ada perempuan di hati aku. Eits, tunggu dulu. Bukannya waktu itu kamu mutusin hubungan kita karena aku masih anak kecil. Kok sekarang kamu ngejar anak kecil ini lagi?" sindir Tian yang cukup menohok pada Vina, hingga membuat gadis itu bingung harus menjawab apa.
***
__ADS_1