
Mama mendekati Flo yang nampak sedang berkasak kusuk seorang diri. Entah apa yang diucapkan anak gadisnya saat ini. Wanita berusia 45 tahun yang masih terlihat ayu dengan riasan alami itu menepuk bahu anak bungsunya pelan. Flo berjingkat sambil memegangi dadanya, seperti jantungnya akan loncat dari posisinya. Mama terkekeh pelan sembari melipat kedua tangannya mendekap dada.
"Mama sejak kapan disini?" Tanya Flo yang terkejut dengan keberadaan sang ibu di belakangnya.
"Sejak kamu belum lahir." Gurau Mama kemudian menarik kursi di hadapan Flo dan mendaratkan pantatnya dengan santai.
"Flo serius, Mah. Nggak lucu ah..." Mama menatap Flo di hadapannya yang terlihat lucu. Ekspresi si bungsu membuatnya gemas. Pipi Flo menjadi sasaran empuk untuk dicubitnya.
"Barusan kok. Memangnya anak Mama lagi ngomong apa sih, sampai takut ketahuan Mama?"
"Nggak apa - apa, Mah. Bukannya Mama lagi sibuk ngecek kue, kok kesini lagi?" Flo mengalihkan topik pembicaraan.
"Udah beres, nanti Mama kesana lagi. Mama lagi pengen ngobrol sama anak Mama yang lagi kesepian ini."
"Deuh, Mama.. Siapa juga yang kesepian?" Flo mengedarkan pandangan ke area dalam toko, melihat display kue yang terjejer rapi, suasana toko hingga pandangannya kembali pada sang ibu.
Ekspresi Mama tiba - tiba berubah, dari yang ceria akan senyuman yang melengkung indah dari bibirnya kini menjadi sendu. Flo memperhatikan dengan jelas perubahan mimik wajah Mama.
"Flo, Mama mau cerita tentang masa lalu. Kamu mau dengar nggak?" Tanya Mama dengan serius. Flo mengangguk pasti dengan memperlihatkan senyum manisnya.
Mama menghirup nafas dalam - dalam lalu menghempaskan perlahan. Dibelainya pipi anak gadisnya.
"Dulu Mama punya sahabat sejati, kemanapun kami berada pasti selalu bersama. Kami bertiga, Mama, Conchita dan Aira. Conchita itu maminya Kyo dan Aiko...."
"Loh kok nggak dilanjutkan, Mah?" Flo tak sabar menunggu kelanjutan cerita ibunya.
__ADS_1
"Mama kangen sama Aira..." Mama mendongakkan kepalanya, menahan cairan bening di kelopak matanya agar tak jatuh membasahi pipinya.
"Kalau kangen kita kesana aja, Mah. Emang tante Aira dimana rumahnya? Kok Mama baru bilang kalau punya temen namanya Aira, Flo nggak pernah tahu."
"Tante Aira sudah damai di sisi Tuhan, Sayang. Tepat sehari setelah kelahiranmu. Aira pergi meninggalkan kami karena kecelakaan yang merenggut nyawanya. Bahkan sebelum dia pergi, ia menitipkan pesan agar Mama dan Conchita selalu menjaga persahabatan ini hingga maut memisahkan...." Mama kembali diam, air matanya mulai merembes hingga pipi, Flo menyeka dengan ibu jarinya.
"Mah, jangan nangis. Nanti tante Aira disana jadi ikut sedih." Flo menggenggam jemari Mama dengan erat, menyalurkan kekuatan yang ia miliki. Mama tersenyum getir.
"Mama masih ingat permintaan Aira waktu itu, saat si kembar Aiko dan Kyo berumur tiga bulan, ia pernah meminang Aiko menjadi calon mantunya. Dan menjodohkan Kyo dengan kamu. Jadi kami bertiga bisa saling besanan. Lucu ya?" Mama memperlihatkan senyum sedihnya.
"Jadi maksud perjodohan Mama waktu itu karena ini alasannya?" Flo mulai paham ke arah mana Mama mengajaknya bercerita. Cerita Masa Lalu yang membuat Mama kembali teringat akan hal yang terjadi dulu.
"Iya, Sayang. Karena kami saling menyayangi dan tidak ingin berpisah. Ditambah lagi Conchita juga menyayangi kamu sejak bayi. Aira waktu itu sudah hamil dan di prediksi anaknya laki - laki. Dan akan dijodohkan dengan Aiko. Tapi sewaktu kecelakaan terjadi, Aira nggak terselamatkan. Bayinya masih bisa tertolong tapi entahlah dia dimana sekarang. Justin suami Aira membawa bayi itu pergi kembali ke kotanya, Surabaya. Mama nggak tahu bagaimana kabar mereka sekarang."
"Maka dari itu Mama dan Tante Conchita ingin merealisasikan keinginan terakhir Tante Aira. Mama juga berharap kalian memang dijodohkan oleh Tuhan bukan karena keinginan kami berdua. Kesannya kami egois sekali, tidak memikirkan perasaan kalian. Maafkan kami ya, Sayang."
"Mah, jangan bilang begitu. Yang terpenting saat ini, Flo dan Kyo yang menjalaninya berdua. Kalau kami memang ditakdirkan bersatu oleh Tuhan, maka kami pasti bisa bersama. Tapi kalau nggak, pasti ada aja aral merintangnya."
"Mama hanya ingin menceritakan yang sebenarnya aja ke kamu, karena kamu pasti kaget dengan perjodohan yang mendadak seperti ini. Sudah, sudah, Mama nggak mau larut dalam kenangan yang bikin sedih. Mama hanya berdoa yang terbaik untuk kalian."
"Mah, apa ada alasan lain menjodohkan Flo sama Kyo? Tolong jawab Flo, Mah."
"Nggak tahu kenapa, saat Kyo lahir Mama rasanya kayak jatuh cinta. Lucu banget lihat dia pas bayi. Pas tahu Mama hamil anak cewek, Mama sama Conchita sepakat buat jodohin kalian. Apalagi pas kita pindahan kesini, Kyo kecil seneng banget deket sama kamu. Rasanya nggak sabaran deh untuk segera nikahin kalian. Hehehe."
Mama mengingat kenangan sewaktu pindahan ke rumah, Kyo sangat lucu di matanya. Mama tersenyum sendiri membayangkannya.
__ADS_1
"Bahkan dia sampai nyari permen kapas buat dimakan berdua sama kamu. Tapi kamunya malu pura - pura nolak, jadinya dia marah. Ah lucu sekali. Hehehe." Mama melihat putrinya yang terdiam.
Flo tersenyum pada Mama, kemudian mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam tas. Membuka galeri foto dan menunjukkan pada ibunya yang penasaran apa yang dilakukan Flo.
"Mah, ternyata Kyo punya foto ini." Flo menunjukkan foto yang ada di dalam kamar Kyo. Foto saat Flo mengikuti acara lomba kecantikan dalam rangka merayakan hari Kartini.
"Tuh kan, bener tebakan Mama kalian itu memang cocok. Udah ada yang duluan suka kayak gitu, tinggal nunggu sah aja berarti. Tunggu kamu umur 18 tahun ya, kalian akan kami nikahkan." Raut wajah Mama tak terlihat bercanda, beliau sangat serius dengan ucapannya. Flo menutupi kegugupannya dengan senyum paksa, bahkan menelan ludah pun rasanya sulit.
"Mah, tapi aku masih pengen kuliah. Cita - cita Flo masih panjang. Biarkan kami berdua yang memberi keputusan ya, Mah." Ucap Flo penuh harap agar ibunya mengurungkan niat untuk menikahkan dirinya di usia semuda ini.
"Sudahlah, Mama nggak mau berdebat dan memaksa kamu. Lagipula kurang baik apa Kyo ke kamu? Dia juga anak yang baik, ganteng, sayang sama kamu."
"Barusan Mama bilang apa? Nggak memaksa? Mana ada orang nggak memaksa tapi malah nyomblangin kayak gitu, kayak SPG lagi promosiin barang. Deuh, Mama... Ck ck..." Flo mendengus sebal.
Mama tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Flo.
"Ya udah Mama mau ngecek kue lagi, kalau Kyo lama, mendingan minta jemput Gerald aja." Mama beranjak dari kursi menuju dapur pembuatan kue meninggalkan Flo seorang diri.
Flo menatap pemandangan luar sana dari dinding kaca di sampingnya. Menunggu Kyo datang sembari memikirkan ucapan Mama. Ternyata tak hanya dirinya saja yang akan dijodohkan, bahkan Aiko sahabatnya juga demikian.
'Senasib sepenanggungan, hahaha. Eh, tapi tunggu dulu. Kan anaknya tante Aira aja kita nggak tahu dimana. Aman lo, Aiko. Terhindar dari pernikahan dini. Nah gue... Ah sudahlah. Jalani aja dulu....'
***
__ADS_1