
Flo melepaskan seal belt yang melingkar di tubuhnya hampir satu jam, karena Gerald membuatnya harus menunggu di dalam mobil untuk mengejar seseorang yang dilihatnya di kafe. Dengan langkah gontai, Flo membuka pintu utama. Ada bi Imah dan pak Hendro (suami bi Inah yang juga bekerja di rumah sebagai tukang kebun dan membantu pekerjaan istrinya) yang tengah berbincang di dapur.
"Eh, Non Flo udah pulang, tadi dicari den Kyo." ucap bi Imah sesaat setelah melihat anak majikannya memasuki dapur untuk mengambil segelas air putih.
"Iya, Bi. Makasih infonya, Flo capek. Mau tidur dulu. Nanti semisal ada yang nyariin, bilang aja lagi tidur. Kecuali Flo sendiri yang keluar dari kamar, " pinta Flo pada bi Imah, dan dibalas anggukan dari lawan bicaranya.
Dahaganya sekejab hilang usai meneguk segelas air putih, kemudian Flo menaiki anak tangga menuju kamarnya. Gerald yang baru masuk ke rumah setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, melihat Flo yang masih sebal padanya.
Gerald menggelengkan kepalanya seraya mengedikan bahu. Sulung dari dua bersaudara ini mengingat kembali pengintaian yang ia lakukan sewaktu di kafe.
Flashback On
Sesaat setelah meletakkan ponsel di dashboard, Gerald fokus menatap jalan menuju pintu gerbang keluar dari kafe.
Pandangannya teralihkan saat melihat seseorang yang pernah ia kenal sebelumnya. Ada rasa ingin tahu yang membuncah di pikirannya. Ia membuka pintu mobil dan hendak keluar namun teriakan dari gadis yang duduk di sampingnya membuat Gerald kikuk dan mencari alasan ke toilet.
Setengah jam berlalu, Gerald kembali ke mobil dengan hati berbunga - bunga. Berbanding terbalik dengan Flo. Tatapan gadis itu seolah akan menerkam seseorang yang duduk di belakang kemudi. Siapa lagi kalau bukan abangnya.
"Toiletnya pindah ke samudra pasifik apa, Bang?" sindir Flo pada Gerald.
"Maafin abang ya, tadi ketemu Dia di kafe. Abang cuma memastikan itu Dia apa bukan? Ternyata bener, nggak sia - sia abang ngikutin ke dalam kayak stalker. Hehehe.." Gerald terlihat puas akan tujuannya yang terlaksana.
"Oh, ternyata tujuannya kayak gitu! Kenapa nggak bilang dari awal. Sampai lumutan Flo nunggu disini. Emang dia siapa sih, Bang?" Flo terdengar antusias, Gerald mengedipkan sebelah matanya.
"Rahasia! Kalau udah saatnya pasti abang cerita," Gerald terkekeh.
"Bodo!"
"Jangan ngambek dong, adek abang yang paling cantik!"
"Nggak mempan rayuannya ke Flo, diem aja deh, Bang!"
"Kan pamali dek, kalau belum terlaksana terus diceritain ke orang," alasan Gerald membuat Flo jengah.
"Bodo amat! Udah buruan balik!" pinta Flo mulai suntuk.
Flashback Off
__ADS_1
* * *
Kyo duduk berhadapan dengan Flo di taman belakang rumah Flo. Kyo mengamati dengan jelas wajah cantik Flo yang kala itu terlihat mempesona. Entahlah apa yang sedang dipikirkan lelaki itu. Ia menyibakkan rambutnya sendiri. Kemudian beralih ke anak rambut Flo yang terurai dan menyingkapnya ke belakang daun telinga gadis itu.
"Nggak nyangka ya, hari ini kita udah tiga bulan," ucap Kyo sembari menatap lekat setiap inci yang tersaji di wajah gadisnya.
"Apa iya? Astaga! Aku lupa," spontan Flo menepuk keningnya membuat Kyo tersenyum padanya.
"Nggak apa - apa, yang penting sekarang kan udah tahu. Terus gimana?"
"Gimana apanya?"
"Hubungan kita!"
"Tunggu bentar, ngobrolnya paling enak kalau sambil minum. Kamu tunggu disini dulu ya," pinta Flo kemudian berjalan menuju dapur.
Beberapa menit berlalu, Flo datang membawa nampan kayu berisi dua gelas es lemontea dan segera ia sajikan di atas meja.
"Silakan dinikmati, hehehe." pinta Flo seraya menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Ampun deh, pikiran kamu kayak gitu banget. Jangan parno ah!"
Kyo terkekeh kemudian membelai pipi Flo dengan lembut.
"Aku selalu jatuh cinta tiap lihat senyum kamu. Rasanya adem banget, pengen lihat setiap hari."
"Kamu nggak capek ngegombalin aku terus?"
"Aku serius, bukan gombal. Oh iya kamu bikinin aku minuman apa ini?" tanya Kyo pura - pura lupa.
"Es lemontea, masa kayak gini aja kamu nggak tahu sih, Yang?"
"Kayaknya besok harus ganti nama deh,"
"Kok gitu? Ganti jadi apa?"
__ADS_1
"Ramuan Cinta!"
Flo mengerutkan keningnya tanda heran pada ucapan lelaki di depannya saat ini. Terbukti ucapan abangnya bahwa Kyo adalah manusia langka yang jarang ditemukan. Kata - katanya sangat sulit ditebak.
"Baiklah, baiklah. Maksudnya gimana itu? Can you explain about it?"
"Sini aku jelasin, dengerin ya, Sayang! Kenapa aku bilang ini ramuan cinta yaitu karena pertama teh yang dipilih adalah daun teh pilihan, kedua lemon yang dipetik dari pohon pilihan, ketiga air yang diseduh dengan cinta dan disajikan bersama es batu yang membuat dahagaku hilang dan berganti menjadi menyejukkan buat aku. Dan yang membuatnya istimewa adalah seseorang yang aku cinta. Ribet ya, Yang? Hehehe,"
" Suka - suka kamu ajalah, sebenarnya gaje juga maksud ucapan kamu barusan. Tapi berhubung aku sayang jadi ya nggak apa - apa dengerin omongan nggak masuk di akal ini!"
"Lah kamu kok gitu sih, Yang! Aku kan lagi belajar bikin gombalan yang lain dari yang lain. Hargai dikit dong!"
"Mau dihargai berapa? Goceng? Hehehe,"
"Astaga! Untung sayang!"
Flo geli mendengar ucapan sayang dari Kyo, entahlah hari ini lelaki itu sedang membuat banyak gombalan untuk dirinya. Bahkan dalan hatinya pun ia tak menampik justru menikmatinya.
Hening sesaat.
Kyo menggapai kedua tangan Flo kemudian ia genggam lumayan erat. Ditatapnya kedua manik mata dengan bulu mata yang tumbuh dengan lentik di atasnya, yang menambah kesan indah setiap ia melihat mata gadis itu. Beautiful eyes.
"Cantik!" gumam Kyo pelan.
"Gimana?" tanya Flo mencoba memastikan ucapan yang keluar dari bibir tipis Kyo.
"Kamu cantik!"
"Makasih, ya wajar dong kan aku cewek! Kalau aku cowok pasti ganteng, " jawab Flo santai tak merasa bahwa dirinya sedang dipuji oleh Kyo.
"To the point aja, Yang. Aku mau tanya tentang hubungan kita saat ini. Bukankah perjanjian kita sudah berjalan selama tiga bulan? Mau dibawa kemana hubungan ini?" tanya Kyo dengan mimik wajah serius yang pastinya ia ingin mendapatkan kepastian dari Flo.
"Aku --...." sesuatu mengganjal di tenggorokannya, membuat Flo bingung untuk menjawab pertanyaan dari Kyo. Ia harus mengolah kata secepat kilat dan memberikan kepastian pada lelaki yang kini tak juga memalingkan wajah darinya.
"Apapun jawaban kamu, aku akan menerimanya. Karena aku nggak mau jatuh cinta sendiri, capek! Bukan karena aku nggak serius atau bosan, tapi karena aku nggak mau ada paksaan dalam hubungan kita. Kalau ternyata di hati kamu emang nggak ada aku di dalamnya, kita bisa ngomong baik - baik sama orang tua kita. Mereka pasti bisa mengerti." ucap Kyo sendu.
Flo menatap lekat lelaki di hadapannya, ekspresi Kyo saat ini sangat serius. Apa yang harus ia jawab? Ini terlihat seperti sebuah lamaran secara tidak langsung untuknya.
__ADS_1
Yes or No?
* * *