Jodoh Florence

Jodoh Florence
Merajuk


__ADS_3

Flo terbangun dari tidur lelapnya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.10 wib. Lama juga ia merasakan mimpi indah, sekitar dua jam ia bisa melepaskan penat. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa ada yang berbeda. Ini dimana?


Kamar yang ia lihat berbeda dengan kamar miliknya, ia mengucek kedua mata indahnya, menajamkan penglihatannya.


Flo menepuk keningnya, sesaat ia melupakan bahwa kini dirinya telah menjadi seorang istri. Istri lelaki bernama Kyo. Dan ia benar - benar tersadar, ini kamar Kyo. Tapi dimana lelaki itu saat ini?


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka hingga menimbulkan derit membuat pandangan Flo refleks tertuju ke arahnya. Kyo keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit sempurna di pinggangnya. Rambutnya yang basah masih meneteskan bulir - bulir air. Untuk beberapa waktu, Flo terpesona dengan pemandangan itu.


Bukankah normal mengagumi tubuh lelaki di hadapannya saat ini? Flo memalingkan wajahnya, pipinya merona. Kenapa justru dirinya yang malu? Padahal ia sudah melihat semuanya bahkan menyatu dengan adik kecil Kyo.


Blushing


Flo menepuk kedua pipinya berkali - kali menyadarkan pikirannya agar kembali normal. Kyo berjalan menuju lemarinya, mengambil kaos dan celana pendek yang biasa ia pakai jika berada di rumah tanpa mengindahkan istrinya yang sudah terbangun dari tidur.


Usai melekatkan baju yang kini menutupi tubuhnya, Kyo mengambil ponselnya yang ia letakkan di nakas samping tempat tidur. Tanpa berkata sepatah katapun, Kyo keluar dari kamarnya. Flo menatap kepergian Kyo dengan tatapan heran.


Ada yang aneh? Nggak biasanya Kyo diemin gue! Apa dia lagi merajuk? Ngambek tapi karena apa?


Pertanyaan Flo yang hanya akan terjawab jika ia bisa berbicara dengan Kyo. Flo bangun dari tempat tidur dan melipat kembali selimut seperti semula. Dengan segera ia mandi dan menyusul kemana suaminya kini berada.


* * *

__ADS_1


Hanya suara dentingan sendok yang bersatu dengan piring tanpa ada obrolan di meja makan. Hingga kemudian Papi membuka obrolan sesaat setelah beliau menyelesaikan makan malamnya.


"Temui Papi dan Mami di ruang keluarga, ada yang mau kami bicarakan dengan kalian," titah Papi kemudian beranjak dari kursinya, diikuti Mami yang juga sudah menyelesaikan makannya.


Flo bertanya dalam hati, ia melirik ke arah Aiko yang duduk berhadapan dengannya. Aiko tahu bahwa gadis itu bertanya padanya dari tatapan mata yang penuh ingin tahu, ia hanya bisa mengedikkan bahu.


Kyo mengakhiri makan malamnya, meneguk segelas air putih hingga tandas. Ia berjalan menuju ruang keluarga tanpa mengajak Flo. Kening Aiko berkerut dalam, ia memandang saudara kembarnya dengan penuh selidik. Merasa ada yang aneh dengan tingkah Kyo yang mendiamkan istrinya.


Sepeninggal Kyo, kini di meja makan hanya ada Aiko dan Flo. Keduanya menyelesaikan makannya tanpa berbicara sepatah katapun. Setelah makan, mereka berjalan beriringan menuju ruang keluarga.


Dada Aiko terasa tak nyaman. Ia menggelayuti lengan Flo untuk menenangkan perasaannya yang tiba - tiba tak enak bahkan bisa dikatakan gelisah.


Sampai di ruang keluarga, kelima orang tersebut duduk melingkar memenuhi sofa dan hanya dipisahkan meja kotak sebagai pembatas. Flo duduk di samping suaminya. Aiko duduk di samping Mami. Papi mulai memperhatikan anak - anaknya begitu pula Flo yang tak luput dari pandangan sang Papi mertua.


"Maksudnya apa ya, Pi?" tanya Flo yang masih mencerna ucapan Papi.


Papi tersenyum kemudian melirik Mami lalu menatap kembali sang menantu cantiknya.


"Jangan dikira Mami dan Papi baru nikah kemarin sore, kami sudah menikah hampir dua puluh tahun. Kalian diem - dieman kayak gini juga kami tahu. Kami tidak tahu apa masalah kalian, tapi yang pasti kami percaya kalian bisa menyelesaikannya dengan pikiran dingin. Kalian sudah menikah loh, jangan ikutin emosi, nanti yang rugi kalian sendiri." wejangan Papi membuat Flo dan Kyo seketika itu langsung beradu pandang.


Aiko melihat interaksi keduanya hanya bisa tersenyum, namun di hatinya mulai merasa tak nyaman kembali. Perasaan gundahnya datang lagi meskipun ia sudah menghalaunya sekuat mungkin.


"Terima kasih ya, Flo dan Kyo. Kalian sudah memenuhi permintaan tante Aira. Mungkin di surga, dia sudah bahagia. Karena keinginannya sudah tercapai. Tinggal sekarang bagaimana dengan Aiko. Aiko, kamu mau kan memenuhi permintaan tante Aira? Semasa hidupnya, dia ingin sekali menjadikan kamu menantunya...." ucapan Mami yang terhenti saat Aiko menyela.

__ADS_1


"Mami tahu nggak perasaan Aiko?" Aiko menahan sesak di dadanya.


Ternyata benar firasatnya tadi yang tiba - tiba tak nyaman, orang tuanya membahas perjodohan untuk dirinya. Aiko tanpa sadar berdiri dari duduknya.


"Intinya, Papi dan Mami mau membahas masalah perjodohan buat Aiko, gitu kan? Tapi, Aiko udah punya pacar, terus dia mau ditaruh dimana? Aiko sayang sama dia. Papi dan Mami jahat!"


"Aiko! Jaga ucapan kamu! Justru karena kami sayang sama kamu, makanya kami jodohkan kamu dengan anak Om Justin. Dan masih ingat kan kamu, kalian dijodohkan dari bayi. Apalagi itu adalah permintaan tante Aira sebelum meninggal. Lihat saudara kamu, dia juga menikah karena dijodohkan!" pekik Mami tak terima, wanita yang biasanya bertutur kata lembut dan jarang emosi, tiba - tiba menjadi pribadi yang lain di mata Aiko hari ini.


Kini Aiko hanya bisa menatap sendu kedua orang tuanya silih berganti. Sesak di dadanya tak dapat ditahan lagi, air mata pun mulai menggenangi kelopak matanya menunggu sekali kedip untuk menetes.


"Minggu depan kita akan ke makam tante Aira! Kita akan kesana semua, dan jangan lupa setelah itu kamu akan bertemu dengan calon suami kamu!" ucap Mami terdengar memaksa. Aiko hanya menggelengkan kepala dan air matanya pun kini menetes membasahi kedua pipinya tanpa bisa dicegah lagi.


"Mami dan Papi nggak sayang sama Aiko!" pekik Aiko.


"Kami sayang sama kamu, Aiko!" jawab Mami tak kalah kencang dengan ucapan putrinya.


"Aku bukan Kyo, Mi! Dia mencintai Flo makanya dia nggak keberatan menikah sama Flo. Sedangkan aku gimana, Mi? Aku nggak kenal sama calon suami aku apalagi cinta?" jerit Aiko yang sudah tak bisa membwndung amarahnya.


"Tak ada penolakan. Ini semua buat kebaikan kamu. Kalau kamu masih ingin menjadi anak kami, maka turuti permintaan kami. Sekarang Mami minta kamu duduk!" seru Mami, Papi hanya diam.


"Kyo dan Flo kalian boleh kembali ke dalam kamar kalian, dan jangan lupa pesan Papi tadi. Setiap ada masalah, selesaikan masalah itu sesegera mungkin jangan ada tunda menunda. Jangan pakai acara merajuk, nggak pantes! Kalian sudah bukan anak kecil lagi, kalian sudah kami restui dan jalani sebaik mungkin. Paham?" ucap Papi bijak.


Flo dan Kyo kompak mengangguk dan segera meninggalkan ruang keluarga. Meninggalkan Aiko bersama Papi dan Mami. Entahlah apa yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


* * *


__ADS_2