Jodoh Florence

Jodoh Florence
Mama Florence


__ADS_3

Flo yang sudah memakai piyama segera berdiri dari tempat tidur dan memberikan baju tidur untuk Kyo.


"Ngapain pakai ini? Kalau ujung - ujungnya nanti nggak usah pakai baju!" celetuk Kyo dengan senyum nakalnya.


"Makin kesini kok makin mesum sih pikiran kamu!" seru Flo sedikit heran.


"Ya normal dong, Yang. Namanya juga suami istri. Itu hal yang wajar. Nanti kalau aku nggak kayak gini dikiranya aku nggak normal atau nggak bisa gituin kamu!"


"Gituin apa? Yang jelas dong!"


"Itu loh, yang tidurnya berduaan."


"Cuma tidur kan?" ucap Flo tenang.


"Ya ampun, Yang. Percuma dong udah baca buku panduan istri idaman kalau ujung - ujungnya nggak paham, hadeh..." Kyo sedikit kesal diambilnya baju tidur yang dipegang Flo dengan malas.


"Ih, suami aku ganteng banget deh, apalagi kalau lagi ngambek!" goda Flo.


"Nggak usah ngerayu, kayak Aiko aja ngerayu kalau ada maunya. Huh..." dengus Kyo. Flo terkekeh dibuatnya.


Tok Tok Tok


Pintu kamar mereka diketuk seseorang dari luar. Kyo segera masuk ke kamar mandi untuk memakai baju tidurnya. Flo berjalan mendekati pintu kemudian membukanya.


"Flo!" panggil Aiko, kemudian memeluk Flo dengan sedikit terisak.


"Eh, eh, eh ada apaan ini? Lo kenapa, Aiko?" tanya Flo keheranan.


"Gue boleh minta waktu lo sebentar aja? Please, gue janji nggak akan lama." pinta Aiko sembari mengatupkan kedua tangannya, memohon dan memelas. Flo tak enak hati, ia menoleh ke belakang menunggu Kyo keluar dari kamar mandi.


Ceklekk


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok yang Flo tunggu. Senyuman gadis itu muncul saat melihat suaminya yang telah berganti baju.

__ADS_1


"Aiko! Lo ngapain disini?" tanya Kyo saat melihat saudara kembarnya tengah berpelukan dengan istrinya dan kini antusias melihat dirinya.


"Kyo, gue pinjem bini lo bentar ya, please...." Aiko mengulang sikap yang sama dengan mengatupkan kedua tangannya.


Panjang umur tuh anak, tahu gitu tadi nggak usah disebut namanya! Huh...


Kyo mendengus kesal, rasanya ia benar - benar gemas dengan kejadian beberapa saat yang lalu ditambah lagi datangnya Aiko ke kamarnya.


"Jangan lama - lama, ini udah malam. Gue nggak mau bini gue meriang!" ucap Kyo kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur menahan kesal yang ia tahan setengah mati.


Aiko tersenyum lega.


"Makasih abangku tersayang, gue janji setelah urusan gue kelar, dia gue balikin ke lo tanpa kurang suatu apapun. Dadah..." ucap Aiko mencoba terlihat tegar dan ceria di depan Kyo. Kyo hanya melirik sekilas tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Aiko menarik pergelangan tangan Flo dan mengajaknya ke suatu tempat yang setidaknya jauh lebih aman.


* * *


Dirasa situasi dan kondisi aman, Aiko mulai menceritakan apa masalah yang kini ia rasakan. Mereka duduk berdampingan di bangku panjang taman belakang resort. Pandangan Aiko menyapu setiap sudut sekali lagi memastikan tak ada yang menguping obrolan mereka malam ini.


"Iya,"


"Janji?" Aiko menyodorkan jari kelingkingnya pada Flo. Flo menggelengkan kepalanya.


"Gue nggak mau pakai janji - janjian kayak gini! Kayak anak kecil tahu nggak! Kalau lo nggak percaya sama gue, mending nggak usah lo ceritain. Lo pendam sendiri aja, okay?" Flo beranjak dari tempat duduknya hendak meninggalkan Aiko


"Jangan pergi! Iya, gue percaya sama lo. Gue cuma takut sekaligus bingung," cegah Aiko.


Flo yang masih berdiri hanya bisa menghela nafas panjang kemudian kembali duduk di samping gadis yang kini menjadi iparnya. Tatapan Aiko begitu sendu, kelopak matanya kini mulai basah. Flo menyeka dengan ibu jarinya dan mengatupkan kedua pipi Aiko hingga mengarah pada dirinya.


"Lo kalau mau cerita, cerita aja, jangan di pendam sendiri. Yang ada lo bisa stres sendiri, kan kasihan anak Mami yang cewek cuma lo doang," Flo mencoba mengajaknya bergurau.


"Maksudnya? Kalau gue cerita ke lo, berarti lo juga ikut ketularan stres gitu? Gue kalau stres juga nggak mau ngajakin orang, Flo. Dan gue begini juga karena masalah ini nggak sepele. Menyangkut banyak pihak. Gue bener - bener kalut dan nggak habis pikir sama pemikiran orang tua jaman dulu yang pakai acara perjodohan buat anaknya.... "ucap Aiko dengan getir, bahkan guyonan dari Flo yang biasanya selalu dibalas Aiko hanya mengambang bagai angin berhembus begitu saja.

__ADS_1


Flo paham kini sahabat sekaligus iparnya tersebut sedang memikirkan masalah perjodohan yang sama dengan dirinya. Flo penasaran seperti apa anak Om Justin dan Tante Aira yang akan dijodohkan dengan Aiko. Bagaimana nasib Randy?


"Gue paham apa yang lo rasain sekarang, lo pasti bingung ngejelasin sama Randy kan? Mau putus atau lanjut sama Randy! Terus gimana perjodohan lo sama anak Om Justin yang mukanya aja lo nggak tahu? Benar nggak?" tebak Flo dengan argumennya sendiri namun membuat kedua mata Aiko membulat sempurna.


" Keren banget lo! Gue nggak nyangka kita sepaham senasib sepemikiran. Kayaknya besok lo bisa ikutan casting jadi mama Florence deh yang bau - baunya jadi peramal!" celetuk Aiko mencoba ceria dan tertawa yang dibuat - buat.


"Jelek tahu nggak! Kalau mau nangis mending nangis aja, nggak usah pura - pura ketawa, lagian yang gue omongin barusan kan berdasarkan argumen gue doang. Kalau sama sih syukur, kalau salah ya maaf.."


"Nggak salah, Flo. Itu yang gue pikirin dari beberapa hari yang lalu. Gue nggak mungkin dong ngomong sama Mami kalau gue nolak. Pasti nanti ujung - ujungnya bandingin lo sama gue."


"Kok gue juga kena? Emang gue salah apa?" tanya Flo tak mau ikut disalahkan.


"Pakek tanya lagi, ya iyalah, lo sama Kyo kan hasil perjodohan juga. Kalian awalnya juga nggak saling suka. Eh ralat, Kyo doang yang suka abis itu untungnya perasaan dia terbalas. Nah gue? Gue nggak tahu bentukan itu calon laki gue kayak gimana?"


"Oh gitu, kalau menurut gue nih ya, mending lo temuin dulu calon suami lo. Kalian saling kenal, dan kalau kalian emang ngerasa nggak cocok tinggal ngomong aja sama orang tua masing - masing. Beres kan?"


"Wah otak lo sebelas dua belas sama laki lo! Tapi gue tetep mau pertahanin hubungan gue sama Randy. Gue sayang sama dia. Hiks, hiks," Aiko mulai terisak, suasana seketika sendu. Flo tak bisa berkata apa - apa lagi karena kali ini yang diperdebatkan adalah masalah hati. Flo memilih diam dan memeluk Aiko.


* * *


Flo mengajak Aiko kembali ke kamarnya karena angin malam tak baik untuk keduanya. Apalagi melihat Aiko yang belum mengganti gaunnya.


"Gue minta dengan sangat, lo yakini dan pahami ucapan gue tadi. Nggak ada salahnya kok, kalau lo mau merenung dulu. Gue akan dukung apapun keputusan lo. Yang perlu lo ingat, gue cuma pengen lo bahagia dan nggak menyesali yang bakal terjadi. Ke depannya kita nggak akan tahu tentang rencana Tuhan. Satu sisi Randy adalah pacar lo. Dan satu sisi lagi Mami lo adalah orang yang melahirkan lo ke dunia. Ambil keputusan yang terbaik. Pikirkan dengan matang."


Flo membukakan pintu kamar Aiko cs, menyuruh Aiko masuk ke dalam. Aiko masih enggan masuk ke kamarnya, ditatapnya Flo dengan mata sayu dan sembab sisa - sisa air mata yang belum sepenuhnya mengering.


Aiko memeluk Flo. Melepaskan kegundahan hatinya untuk sesaat sebelum akhirnya ia melepaskan pelukannya.


"Makasih ya, Flo. Lo selalu ada buat gue, dulu gue pernah bermimpi dan berharap lo jadi saudara gue. Dan mimpi itu menjadi nyata. Gue bahagia ternyata itu nggak berakhir menjadi harapan semu. Tuhan maha baik, mengabulkan doa gue. Gue sayang sama lo, Flo. Coba kalau gue cowok, udah gue rebut lo dari Kyo. Hehehe," Aiko mulai bisa tersenyum dan bercanda.


"Ogah gue! Garing ah, udah jangan nangis - nangisan kayak gini. Entar dikiranya gue yang bikin lo nangis. Sekarang lo masuk, mandi pakek air hangat terus bobok cantik deh. Gue balik ke kamar ya, Bye..." Flo berjalan menuju kamarnya setelah menyudahi obrolan mereka di depan pintu kamar Aiko.


"Iya, makasih ya, oh iya jangan lupa, buka kado dari gue..." pekik Aiko. Flo mengangguk sembari tersenyum.

__ADS_1


Kado?


* * *


__ADS_2