Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
Bab 102 (part 2)


__ADS_3

Sejak kejadian dikampus waktu itu, Dona sudah tidak nampak lagi melabrak Anisa. Tapi dia masih saja terus mendekati Andra. Dona tidak akan menyerah begitu saja, baginya Anisa bukanlah saingannya. Di lihat dari cara penampilan, dan dandanannya pun Anisa tidak ada apa apanya.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Anisa sudah akan beranjak pulang bekerja. Kebetulan Andra masih stay di restoran mamanya, sebab hari ini mamanya tidak datang ke restoran. Tanpa basa basi Andra mengajak Anisa untuk pulang bersama.


Dan Anisa pun langsung menyetujuinya.


"Gimana, lo betah kan kerja direstoran mama gue?" tanya Andra ditengah perjalanan.


"Alhamdulillah, saya betah kak!" jawab Anisa tersenyum.


"Gue manggil aku kamu aja yaa, biar gak terlalu formal manggilnya!" kata Andra


"Terserah kak Andra, saya nurut...eh aku maksudnya!" kata Anisa agak gugup.


Sesampainya dirumah, Anisa langsung menuruni mobil Andra, dan mengajak Andra untuk mampir ke rumahnya..


"Kak, mampir dulu kerumah!" ajak Anisa


"Kapan kapan aja yaa aku mampir, udah malem juga, kamu buruan istirahat, dan salam buat ibu kamu!" kata Andra.


"Yaudah kalau gitu kak, terimakasih sudah anter saya pulang... hati hati dijalan kak!" kata Anisa.


"Sama sama... yaudah kamu buruan masuk dulu, sampai jumpa besok!" kata Andra.


Lalu Anisa beranjak masuk kedalam,seraya tersenyum dan melambaikan tangan. Andra masih melihat Anisa sampai dia masuk ke dalam rumah. Saat Andra akan menyalakan mesin mobilnya, terdengar teriakan Anisa dari dalam, tiba tiba Anisa berlari keluar dari pintu.

__ADS_1


"Kak, tolong, ibu aku gak sadarkan diri dikamar!" kata Anisa dengan terisak.


Andra pun langsung turun dari mobilnya, dan beranjak masuk kedalam mengikuti Anisa. Sampainya dikamar, Andra melihat ibu Anisa tergeletak dilantai. Tanpa berfikir panjang Andra langsung mengangkat tubuh ibu Anisa menuju mobilnya. Andra terlihat begitu panik dan khawatir, sedangkan Anisa tak berhenti menangis melihat keadaan ibunya. Merekapun langsung menuju ke rumah sakit terdekat. Andra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Andra sangat khawatir dengan keadaan ibu Anisa, karena wajahnya sudah terlihat sangat pucat, dan tubuhnya dingin.


Sesampainya dirumah sakit, Bu Tini langsung dibawa ke UGD, dan diperiksa oleh dokter. Setelah menunggu 30 menit pemeriksaan, dokter yang menangani bu Tini pun keluar dari ruangan.


"Gimana dok keadaan ibu saya?" tanya Anisa masih dengan air mata yang terus mengalir.


"Ibu anda kondisinya sangat kritis, kemungkinan ibu anda pingsan dalam waktu yang lama, beliau memanggil nama Anisa, apakan itu anda?" tanya dokter.


"Iyaa dok, itu saya anaknya!" kata Anisa.


"Silahkan menemui ibu anda!" kata dokter.


Anisa langsung masuk kedalam ruangan diikuti Andra dibelakangnya. Terlihat Bu Tini terbaring lemas dengan infus dan selang yang terpasang dihidungnya.


"Ibuu....!" kata Anisa seraya menggenggam tangan ibunya.


Terlihat bu Tini membuka matanya perlahan, dan menatap anaknya...


"Nisa, maafin ibu yaa, ibu sudah banyak merepotkan kamu, bikin susah kamu, dan maafin ibu juga karena ibu belum bisa membahagiakan kamu!" ucap bu Tini dengan suara yang terdengar sangat lemas.


"Ibu jangan bilang seperti itu, Anisa gak pernah merasa direpotkan apalagi disusahkan oleh ibu. Anisa juga udah bahagia karena ada ibu yang selalu dekat dengan Anisa!" kata Anisa terisak.


"Nak, ibu sudah tidak kuat lagi, kamu harus janji sama ibu yaa, kalau kamu suatu saat bisa jadi orang yang sukses, ibu tidak bisa menemani kamu lebih lama lagi... Jaga diri baik baik nak, ibu sayang sekali sama Anisa!" kata Bu Tini.

__ADS_1


Setelah berbicara seperti itu, mata bu Tini langsung terpejam dengan perlahan, genggaman tangannya pun terlepas dari tangan Anisa.


"Bu.... ibu..... bangun... ibu, kenapa.....!" seru Anisa yang terlihat sangat panik.


Andra pun langsung beranjak memanggil dokter.


"Maaf, ibu anda sudah dipanggil oleh Allah SWT, ikhlaskan ibu anda yaa mbak!" kata dokter dengan raut wajah sedih.


"Gak mungkin dok, dokter pasti salah, ibu saya gak mungkin meninggal, ibu saya masih hidup, tolong dokter periksa yang bener!" seru Anisa histeris


"Maaf mbak, tapi ibu anda memang sudah meninggal...Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah berkehendak lain!" kata dokter tersebut


"Ibuuuuuuuuu...... jangan tinggalin Anisa, Anisa masih butuh ibu, Anisa cuma punya ibu... bangun bu, Anisa mohon buka mata ibu!" Teriak Anisa seraya memeluk tubuh ibunya.


"Anisa, ikhlaskan ibu kamu... beliau sudah tidak ada, mungkin Allah lebih sayang sama ibu kamu!" kata Andra mencoba menenangkan Anisa, seraya memegang pundak Anisa dari belakang.


"Ibu..... kenapa secepat ini ninggalin Anisa.. Anisa pengen sama ibu, bangun bu bangun..!" kata Anisa, kali ini suara nya terdengar pelan,meski masih terisak.


"Sabar ya Nis, mungkin ini yang sudah jalan takdir ibu kamu, insyaallah jika kamu ikhlas, ibu kamu juga akan tenang disana!" kata Andra, lalu dia mengangkat tubuh Anisa yang masih memeluk ibunya, dia membawanya kedalam pelukannya, memberi ketenangan untuk dirinya.


Setelah merasa agak tenang, Anisa dan Andra mengurusi kematian bu Tini. Setelah urusan dirumah sakit, mereka langsung membawa bu Tini pulang kerumah dengan menggunakan ambulans.


Andra langsung menelevon keluarganya dirumah mengabari tentang kematian ibu Anisa.


Andra mengikuti mobil ambulans dari belakang, dia akan membantu Anisa dalam mengurus kematian ibunya sampai selesai. Karena Andra sudah mengetahui bahwa Anisa sudah tidak memiliki siapa siapa lagi....

__ADS_1


...TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA😊🙏...


__ADS_2