
Sesampainya di kampus, Veronika tak sengaja melihat Marlina turun dari mobil Amar.
Amarah pun langsung memuncak di dalam kepala Veronika.
"Kenapa cewek sialan itu bisa bareng sama Amar, bukannya tadi dia masih nangis dijalan sambil mungutin dagangannya" gerutu Veronika kesal.
Setelah mengucapkan terimakasih pada Amar, Marlina menuju kantin.
"Selamat pagi Bu Inah, maaf Bu hari ini saya tidak nitip nasi uduk dulu, karena tadi waktu di jalan ada yang borong nasi uduknya. Tapi Insyaallah besok saya nitip lagi Bu" kata Marlina berbohong.
Marlina tidak mau memberitahu kepada siapapun apa yang tadi sudah dialaminya.
"Tumben ada yang borong nasi uduk kamu Lin?" tanya Bu Inah penasaran.
"Iy...iya Bu, katanya mau dibagi-bagi buat saudaranya" jawab Marlina beralasan.
"Oh, yasudah kalau begitu, tapi besok kamu harus bawa ya buat ibu" kata Bu Inah.
"Iya Bu Insyaallah. Dan kalau boleh saya mau nitip keranjang ini Bu, nanti kalau sudah pulang saya ambil lagi" kata Marlina.
"Boleh Lin, sini biar ibu simpan didalam" kata Bu Inah.
"Terimakasih Bu Inah, kalau begitu saya permisi dulu masuk kelas"kata Marlina.
"Iya Lin" ucap Bu Inah.
Saat Marlina berjalan menuju kelas, tiba-tiba Mona dan Ria berlari menghampirinya.
"Lina ke kantin dulu yuk, aku mau sarapan nasi uduk kamu" ajak Ria.
"Maaf Ria, Mona tapi hari ini aku gak bawa nasi uduk ke kampus, soalnya tadi waktu di jalan nasi uduknya diborong sama orang"kata Marlina berbohong kepada sahabatnya.
"What, jadi hari ini kita gak bisa makan nasi uduk dong" sedih Mona.
"Besok ya, Insyaallah aku bawa" kata Marlina.
Ada perasaan sesal dan sedih dihatinya ketika Marlina harus berbohong kepada sahabatnya. Bukan ini yang sebenarnya Marlina inginkan. Namun dirinya hanya tidak ingin membuat sahabatnya merasa sedih dan khawatir.
"Yaudah deh kalau gitu, kita masuk ke kelas yuk" ajak Mona.
Setelah 2 jam kelaspun selesai. Hari ini Marlina dan sahabatnya hanya ada 1 kelas saja, sehingga mereka pulang lebih cepat.
Sebelum pulang, mereka duduk bersantai di taman kampus.
Disaat mereka tengah asyik mengobrol dan canda tawa bersama, tiba-tiba Veronika dan Sarah mendekati mereka.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Mona ketus.
"Terserah gue lah mau kemana, emang ini kampus punya nenek moyang elo" jawab Veronika tak kalah ketus.
__ADS_1
"Udah Mon, sabar, mungkin dia memang lagi ada perlu" kata Marlina menyela pembicaraan mereka agar tidak terjadi keributan.
"Nah ni si cewek nasi uduk tau kalau gue kesini memang ada perlu" kata Veronika.
"Nih, undangan buat kalian, Dateng ya ke pesta ulang tahun gue. Sebenarnya sih gue gak ada niat buat ngundang kalian, apalagi si cewek uduk ini, tapi mau gimana lagi gue terpaksa karena kasihan aja, dan gue gak mau sampe orang mengira kalau gue itu pilih-pilih temen" jelas Veronika
"Lagian siapa juga yang Dateng di pesta ulang tahun elo, buang-buang waktu" kata Mona dengan nada tinggi.
"Yee bukannya ngucapin terimakasih udah diundang, malah sewot" kata Sarah.
"Terserah kalian mau Dateng atau enggak, gak rugi juga kok buat gue. Yang penting gue udah ngasih undangan ke kalian" kata Veronika, kemudian beranjak pergi.
"Dasar nenek lampir. Pergi Sono yang jauh"teriak Mona kesal.
"Sudah Mona, orangnya juga udah pergi" kata Ria.
"Apa lagi ini, pake acara ngasih undangan segala. Gue gak bakalan Dateng ke acara tu nenek lampir" kata Mona kesal. Lalu membuang undangan kesembarang tempat.
"Jangan gitu Mon, diakan udah ngasih undangan buat kita" kata Marlina.
"Lina, jangan bilang kalau kamu mau Dateng ke acaranya Veronika" kata Ria.
"Apa salahnya kita Dateng, biar bagaimanapun dia kan temen kampus kita. Walau terkadang dia berbuat gak baik, kita gak boleh membalasnya dengan hal yang tidak baik juga. Kejahatan dibalas dengan kejahatan gak akan ada habisnya" jelas Marlina.
"Kamu yakin Lin mau Dateng?" tanya Mona.
"Iya, yakin kok, kalian juga Dateng kan" kata Marlina.
"Iya, kita Dateng" ucap Ria.
Saat mereka masih mengobrol, tiba-tiba Amar datang mendekat.
"Hai, ganggu gak?" tanya Amar.
"Enggak kok kak" jawab Ria.
"Kalian kok belum pada pulang, masih ada kelas emangnya?" tanya Amar.
"Enggak kak, kita cuma lagi ngobrol-ngobrol aja disini" jawab Marlina.
"Oh ya, kalian dapat undangan gak dari Veronika?" tanya Amar.
"Dapet kak, ini" jawab Marlina seraya memperlihatkan undangan yang masih berada ditangannya.
"Nanti malam kita berangkat bareng, mau gak, aku jemput kamu?" tanya Amar.
"Tapi kak, aku sudah ada rencana mau berangkat sama Mona dan Ria" jawab Marlina.
"Gak kak, bohong tuh si Lina, orang kita belum ada rencana apa-apa kok" kata Mona.
__ADS_1
"Tapi kan..." ucap Marlina terputus.
"Udah kamu berangkat aja sama kak Amar, lagian aku nanti udah berangkat berdua sama Mona" kata Ria menyela perkataan Marlina.
Marlina tak bisa berkata apa-apa lagi. Marlina tau bahwa kedua sahabatnya sengaja berbicara seperti itu agar dirinya dan Amar bisa pergi bersama.
Mona dan Ria tau bahwa Marlina dan Amar saling menyukai, namun keduanya masih menutupi perasaan masing-masing.
"Oke kalau gitu, nanti malam aku jemput kamu ya. Aku balik duluan, by semua" kata Amar, lalu beranjak pergi.
"by..by kak Amar" ucap Ria dan Mona bersamaan.
"Kalian pasti sengaja kan bicara seperti itu ke kak Amar?" tanya Marlina.
"Yaelah Lin, mau sengaja atau enggak akhirnya kamu bakalan tetap pergi sama kak Amar" jawab Mona.
"Kok bisa begitu?" tanya Marlina kembali.
"Ya bisa dong, selama ada kita semuanya pasti bisa,hehe" kata Ria.
"Eh Lin, kenapa sih kamu dan kak Amar gak jadian aja?" tanya Mona penasaran.
"Jadian gimana maksud kamu Mon?" tanya Marlina balik.
"Ya pacaran gitu"jawab Mona.
"Mana mungkin Mona. Aku sama kak Amar itu bagaikan langit dan bumi, tak bisa menyatu" jawab Marlina.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Lin. Kalau memang kalian berdua ditakdirkan berjodoh maka apapun itu tidak ada yang bisa menghalangi kalian" jelas Ria.
"Bener Lin apa yang Ria katakan. Kamu jangan mendahului takdir. Aku dan Ria tau bagaimana perasaan kamu ke kak Amar. Dan aku lihat kak Amar juga mempunyai perasaan yang sama denganmu" tambah Mona.
"Mungkin itu cuma perasaan kalian saja. Mana mungkin kak Amar menyukai gadis seperti ku" kata Marlina.
"Lina Lina, kita lihat saja nanti... pasti omongan kita bener" kata Ria.
Antara ingin percaya dan tidak Marlina tidak ingin berharap lebih dengan apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya. Marlina memang menyukai Amar, namun perasaan itu hanya dia, Tuhan dan kedua sahabatnya yang tau.
Apa lagi Marlina tau bahwa Veronika juga menyukai Amar, mana mungkin dirinya bersaing dengan wanita yang jauh lebih sempurna darinya. Pasti Amar pun juga akan lebih memilih wanita yang setara dengan kehidupannya, itulah yang ada dalam fikiran Marlina.
Namun tak bisa dia membohongi dirinya sendiri bahwa hari ini Marlina sangat bahagia karena Amar mengajaknya untuk pergi bersama, meskipun di dalam hatinya ada perasaan tidak enak jika Veronika mengetahuinya.
"Yaudah kita pulang yuk" ajak Marlina.
"Ayuk, eh tapi sebelum pulang kita makan dulu, aku laper nih, aku yang traktir deh" ajak Mona.
"Oke, dengan senang hati. kamu mau kan Lin" kata Ria.
Marlina menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
__ADS_1
Lalu mereka bertiga menuju ke rumah makan terlebih dahulu sebelum pulang.
😊😊😊