Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
part 124


__ADS_3

6 bulan kini telah berlalu. Pertumbuhan Naura pun begitu baik. Semakin terlihat kecantikannya pula. Anisa dan Rendra begitu menyayangi putri semata wayangnya. Mereka selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya.


Hari ini adalah hari minggu. Dimana Rendra bisa seharian di rumah bersama dengan anak dan istrinya. Tanpa sepengetahuan Anisa dan Rendra, ternyata Sari, Andra, dan Aira datang berkunjung ke rumah mereka.


Kedatangan mereka untuk menengok cucu sekaligus berpamitan, sebab lusa mereka akan mengantarkan Aira ke luar negri untuk melanjutkan pendidikan disana.


"Kok mendadak sekali pa ma kesananya? " tanya Rendra.


"Iya, habisnya adikmu ini tidak bisa menunggu lebih lama lagi" jawab Andra.


"Lalu setelah mengantar Aira, mama dan papa balik kesini lagi kan?" tanya Anisa.


"InsyaAllah sayang. Mungkin paling lama kami disana sekitar 1 bulan. Sampai Aira bisa benar-benar hidup mandiri" jawab Sari.


"Selama papa di luar negri, papa serahkan semua urusan perusahaan pada kamu Ren" pesan Andra.


"Iya pa, papa tenang saja. Rendra akan mengurus semuanya" kata Rendra.


"Jaga dan rawat Naura dengan baik ya Nis!" kata Sari.


"Itu udah pasti ma... semua yang pernah mama ajarkan ke Anisa akan selalu Anisa ingat" kata Anisa.


"Rasanya kok aku bakalan berpisah lamaaa bangett sama Naura" kata Aira yang sedang memangku Naura.

__ADS_1


"Ya iyalah, kan kamu mau sekolah di luar negri" kata Rendra.


Merekapun berlanjut mengobrol bersama lalu dilanjutkan makan malam juga.


"Kami pulang dulu ya... jaga diri kalian baik-baik, kami pasti akan selalu merindukan kalian disini!" kata Sari.


"Mama dan papa cepetan pulang yaa... kami pasti juga akan merindukan kalian, Naura juga" kata Anisa.


Entah kenapa perasaan Anisa menjadi lain setelah kepulangan mertuanya. Tiba-tiba saja hatinya terasa sangat sedih, seakan-akan hari ini adalah pertemuan terakhir mereka. Namun Anisa mencoba membuang perasaan itu jauh-jauh. Anisa berharap semoga tidak akan terjadi apa-apa.


"Mas aku nidurin Naura dulu yaa di kamar!" kata Anisa.


"Iya sayang" ucap Rendra.


"Kamu belum ngantuk mas?" tanya Anisa.


Namun tidak ada jawaban dari Rendra. Tatapannya terlihat ke layar televisi, namun fikirannya entah melayang kemana.


"Mas... mas Rendra" kata Anisa memanggil suaminya lagi.


"Eh, iya sayang... ada apa... kamu udah nidurin Naura nya?" tanya Rendra agak gugup karena kaget.


"Udah mas... mas Rendra kenapa kok melamun?" tanya Anisa penasaran.

__ADS_1


"Aku gak melamun kok sayang, nih aku lagi nonton TV" jawab Rendra.


"Aku tau kok mas, pasti ada hal yang lagi mas fikirin kan... cerita sama aku, jangan cuma disimpan sendiri mas" kata Anisa.


"Mas cuma kepikiran sama papa mama dan Aira sayang. Entah kenapa rasanya begitu berat melepaskan kepergian mereka" kata Rendra.


Anisa tidak langsung menanggapi ucapan suaminya, sebab dia sendiripun merasakan hal sama. Namun Anisa tidak akan mengutarakan hal tersebut kepada suaminya, sebab dia tidak mau menambah kekhawatiran yang sedang dirasakan suaminya.


"Apa mungkin ini cuma perasaanku aja ya" tambah Rendra.


"Iy.. iya mas, itu mungkin cuma perasaan mas Rendra saja. Kita berdoa saja ya mas, semoga Allah selalu melindungi keluarga kita" jelas Anisa mencoba menenangkan hati suaminya.


"Lagipula kenapa juga Aira harus meminta bersekolah di luar negri, padahal di sini banyak sekali sekolah yang lebih bagus dan elit" kata Rendra.


"Mungkin saja Aira ingin mencari pengalaman disana mas. Itukan juga untuk masa depan Aira" jelas Anisa.


"Yasudah kalau begitu kita tidur yuk, udah malam juga" ajak Rendra.


"Iya, mas Rendra duluan ke kamar ya, aku mau minum dulu" kata Aira.


"Ya Allah semoga Engkau selalu melindungi keluarga hamba dimanapun mereka berada" doa Anisa dalam hati seraya melihat suaminya berjalan menaiki tangga....


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA☺🙏

__ADS_1


__ADS_2