Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
part 157


__ADS_3

"Silahkan diminum dulu tehnya kak" kata Marlina


"Iya, makasih Lin" ucap Amar, lalu menyedu tehnya.


"Kak, bukanya kakak hari ini ada kuliah, kenapa malah kesini?" tanya Marlina.


"Iya Lin, memang ada kuliah hari ini, tapi aku sengaja bolos dan dateng kesini karena ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu" jawab Amar menjelaskan.


"Tanya tentang apa kak?" tanya Marlina sedikit panik karena melihat wajah Amar yang tampak serius.


"Aku ingin kamu jawab dengan jujur Lin, kenapa kamu berhenti kuliah?" tanya Amar dengan tatapan mata tajam ke arah Marlina.


Sontak Marlina terkejut mendengar pertanyaan dari Amar yang dengan tiba-tiba menanyakan hal tersebut kepadanya.


"A.... aku memang ingin berhenti kuliah kak, dan bantu ibu bekerja" jawab Marlina terbata.


"Jawab dengan jujur Lin, aku sudah tau semuanya kenapa kamu berhenti kuliah" kata Amar yang belum mengalihkan pandangannya ke arah Marlina yang terlihat tertunduk.


"Kak Amar tau dari mana?" tanya Marlina yang tidak berani menatap ke arah Amar.


"Itu tidak penting aku bisa tau dari mana Lin, tapi kenapa kamu tidak bicara jujur soal ini, kenapa kamu bohong?" tanya Amar.


"Maaf kak bukan maksud aku untuk bohongin kalian, tapi aku hanya tidak mau kalian ikut memikirkan masalahku" jelas Marlina dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan pernah punya fikiran seperti itu lagi, jika kamu butuh bantuan bilang sama aku, sama teman-teman kamu. Aku akan selalu ada buat bantu kamu setiap kamu butuh" jelas Amar.


Ingin sekali rasanya Amar memeluk Marlina yang tengah menangis dihadapannya.

__ADS_1


"Maafin aku kak" ucap Marlina tersedu.


"Sudah Lin jangan sedih, hapus air mata kamu, aku bisa bantu kamu agar kamu bisa kuliah kembali" kata Amar.


"Tidak usah kak, terimakasih sebelumnya. Tapi aku ingin berhenti kuliah saja dan membantu ibu bekerja" jelas Marlina seraya mengusap air matanya.


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Amar.


"Sangat yakin" jawab Marlina meyakinkan.


Amar tidak bisa memaksa Marlina untuk kembali berkuliah. Namun didalam hatinya, Amar merasa sangat sedih. Ingin sekali rasanya Amar membantu dan membahagiakannya, namun Amar sadar saat ini dia belum berhak untuk memberikan itu semua secara terang-terangan.


Amar berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dirinya akan membawa Marlina menuju kebahagiaan bersamanya.


Setelah kepulangan Amar, Marlina menghampiri ibunya yang tengah memasak di dapur.


"Lho ibu kok nangis, kenapa bu, cerita sama aku kenapa ibu nangis?" tanya Marlina yang tampak sangat khawatir yang tau bahwa ibunya tengah menangis.


"Gak papa Lin, ini mata ibu cuma kepedesan abis kupas bawang" jawab bu Harti beralasan.


"Enggak, ibu jangan bohong, aku tau ibu nangis bukan karena bawang, cerita bu, ada apa, jangan bikin aku khawatir" kata Marlina, lalu menggenggam tangan ibunya.


Bu Harti tidak menjawab pertanyaan dari anaknya, malah isak tangisnya bertambah keras. Rasanya bu Harti tidak bisa membendung kesedihan yang tengah ia rasakan saat ini.


Marlina semakin bingung dan khawatir melihat ibunya. Marlina pun langsung memeluk ibunya dan ikut menangis.


"Bu, ibu sebenarnya kenapa, kenapa ibu sampai menangis seperti ini.. Maafin aku bu kalau ibu menangis karena aku" kata Marlina tersedu.

__ADS_1


"Tidak nak, ibu menangis bukan karena kamu, ibu menangis karena ibu merasa tidak becus menjadi orang tua untuk kamu" jawab bu Harti, seraya mempererat pelukannya.


"kenapa ibu bilang seperti itu, aku gak suka ibu bilang kayak gitu, buat aku, ibu adalah orang tua paling baik paling sempurna buat aku, dan aku bangga punya orang tua seperti ibu.. jadi aku mohon ibu jangan bilang seperti itu lagi ya" jelas Marlina, lalu melepas pelukannya, dan menghapus sisa air mata dipipi ibunya.


"Maafin ibu Lin, karena ibu kamu berhenti kuliah, ibu minta maaf" kata bu Harti yang kembali menangis tersedu, seraya menggenggam erat kedua telapak tangan anaknya.


"bu dengerin aku, aku berhenti kuliah karena kemauan aku sendiri, karena aku ingin kerja biar bisa bantu ibu, jadi ibu jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu" jelas Marlina lembut.


"Nak, kamu jangan bohongin ibu,. ibu sudah tau yang sebenarnya.. kamu berhenti kuliah karena dikeluarkan dari kampus, karena kamu belum membayar uang kuliah kamu kan" kata bu Harti menatap anaknya dengan cucuran air mata yang terus mengalir dari matanya.


Marlina terkejut mendengar perkataan dari ibunya yang telah mengetahui alasan yang sebenarnya kenapa dirinya berhenti kuliah.


Sejenak Marlina terdiam, bingung harus mengatakan apa kepadanya ibunya.


"Ibu minta maaf" tambah bu Harti.


"Ibu... yang harusnya minta maaf itu aku, bukan ibu, karena aku sudah bohongin ibu soal kuliah. maafin aku bu, aku tidak bermaksud untuk bohongin ibu, aku hanya tidak ingin melihat ibu sedih karena aku dikeluarkan dari kampus" jelas Marlina yang merasa sangat bersalah kepada ibunya.


"Ibu tau dari mana soal ini?" tanya Marlina.


"Ibu tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan nak Amar, maafin ibu" jawab bu Harti.


"Sudah bu, jangan minta maaf terus, ibu gak salah" kata Marlina lalu memeluk ibunya kembali.


Terasa sakit hati Marlina melihat ibunya menangis di hadapannya. Namun saat ini hanya pelukan yang dapat ia berikan untuk ibunya. Dia berjanji didalam hatinya bahwa dia akan membuat ibunya bahagia dan bangga kepada dirinya.....


*Terimakasihh sudah membaca🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2