Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
part 151 (MARLINA)


__ADS_3

Sesampainya di kampus, Veronika kembali melihat Marlina turun dari mobil Amar.


Kali ini amarah Veronika benar-benar telah memuncak. Semakin lama Veronika merasa bahwa Marlina sangat dekat dengan Amar. Dan hal itu tidak bisa di terima oleh Veronika.


Dengan hati yang sudah dibakar api amarah dan cemburu, Veronika berjalan mendekati Marlina dan Amar. Tangannya mengepal sangat keras, seakan-akan sudah siap untuk memukul Marlina.


Dan ternyata benar, sebuah tamparan mendarat cukup keras di pipi Marlina.


Plaaakkkk!!!!!!


Marlina memegangi pipinya yang terasa sangat sakit dan panas.


"Apa-apaan lo Vero!" seru Amar.


"Cewek ini pantes dapetin itu Amar. Dari kemarin dia udah ngehancurin semuanya!" seru Veronika dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Jaga sikap elo, gak seharusnya lo lakuin itu ke Marlina" seru Amar marah.


"Kenapa sih Lo selalu belain ini cewek, apa istimewanya dari dia sih sampe-sampe Lo begitu peduli dan perhatian dengan cewek seperti ini" kata Veronika.


"Karena dia lebih baik dari Lo. Dia lebih punya hati dan fikiran, tidak seperti Lo yang selalu berbuat tanpa hati dan fikiran" seru Amar.


"Apa... hahaha, Amar-Amar, yang ada hati sama fikiran Lo itu udah ketutup sama kepolosan dia. Cewek seperti ini gak pantes ada di Deket Lo, gak sebanding dengan kehidupan Lo. Sadar Amar, dia cuma anak orang miskin, yang tidak punya apa-apa. Gak ada yang bisa Lo harepin dari dia" celoteh Veronika tanpa henti memaki Marlina.


"Sebenarnya apa salah aku sama kamu Ver, kenapa kamu selalu saja berbuat buruk ke aku. Apa karena aku orang miskin sehingga kamu selalu memperlakukan aku dengan buruk. Aku ini juga manusia sama seperti kamu, aku juga punya hati punya perasaan" kata Marlina dengan tetesan air mata yang membanjiri pipinya.


"Jangan pernah elo samain gue dengan hidup Lo. Hidup gue dan Lo itu jauh berbeda, sangat-sangat berbeda.

__ADS_1


Harusnya Lo sadar diri gue yang lebih pantes dengan Amar, bukan elo. Tapi kenapa Lo selalu aja deketin Amar, kenapa!" seru Veronika.


"Aku sama sekali gak pernah deketin kak Amar. Dan aku selalu sadar diri aku ini siapa. Jangan pernah kamu memandang orang lain hanya dari fisiknya saja, karena kebaikan dan ketulusan seseorang itu tidak dilihat dari fisiknya, tapi dari hatinya. Terserah kamu mau menghina aku sesuka hatimu. Tapi aku minta kamu berhenti untuk memperlakukan aku dengan buruk. Karena sedikitpun aku tidak pernah menyentuh kehidupan kamu sama sekali" jelas Marlina. Lalu beranjak pergi meninggalkan Amar dan Veronika.


"Marlina, Marlina...tunggu!" seru Amar.


"Amar, sudahlah, ngapain sih kamu ngejar itu cewek, gak penting" kata Veronika menahan lengan Amar.


"Lepasin, dia lebih penting dari pada nanggepin orang macem Lo!" seru Amar lalu membuang tangan Veronika dari lengannya.


"Apa .... Amar, Amar!!!" seru Veronika.


"Bre***k, sialan semuanya!" teriak Veronika. Dirinya tidak peduli dengan orang-orang sekitar yang memperhatikannya. Hatinya benar-benar sudah diselimuti dengan amarah dan dendam.


Marlina berjalan menuju kantin. Dia akan menitipkan nasi uduknya di kantin Bu Inah.


"Hai Lin" teriak Ria seraya melambaikan tangannya.


"Hai, kalian udah Dateng" kata Marlina, berjalan mendekat.


"Eh, kamu kenapa Lin, kok kamu kayak habis nangis.. dan ini kenapa pipi Lo merah, kayak habis ditampar?" tanya Mona penasaran melihat mata bengkak dan pipi merah Marlina.


"Oh...enggak papa kok, ini efek tidur tadi malem" jawab Marlina sekenanya.


"Jangan bohong Lin, jujur sama kita.. kita kan sahabat kamu" kata Ria.


"Beneran gak apa-apq kok. Udah gak usah difikiran ya.. Oh iya, ini aku bawa nasi uduk banyak, kalian nungguin ini kan" kata Marlina mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Oke, kalau memang kamu gak mau cerita gak apa-apa. Cepat atau lambat kita bakalan tau kok alasannya" kata Mona.


Marlina tak menjawab apa-apa. Dirinya hanya tidak ingin menambah masalah dengan dirinya bercerita pada kedua sahabatnya. Sebab Marlina tau betul jika dirinya menceritakan yang sebenarnya maka kedua sahabatnya tidak akan tinggal diam.


Amar tengah mencari keberadaan Marlina, namu dirinya tidak menemukannya. Amar tidak tahu jika Marlina pergi ke kantin.


Selesai kelas, Marlina di panggil oleh pihak administrasi kampus. Marlina sudah paham apa yang akan dibicarakan. Dirinya pun sudah pasrah apapun yang akan terjadi nanti.


Sebelum masuk ke sebuah ruangan, Marlina mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, petugas administrasi memulai pembicaraan perihal Marlina dipanggil.


"Marlina, sudah 2 bulan lebih kamu belum membayar biaya kuliah, bagaimana ini, jika kamu belum bisa membayarnya hari ini maka pihak kampus terpaksa memberhentikan kuliah kamu" jelas Sukma, tertera nama yang tercantum di dada kanannya, seorang petugas administrasi kampus.


"Maaf Bu, saya memang belum bisa membayar uang kuliah saya, dikarenakan belum ada biaya untuk membayarnya. Kalau boleh saya minta di beri waktu Bu" pinta Marlina sedih.


"Maaf Marlina, tapi kita sudah memberi kebijakan kepada kamu selama 2 bulan ini, namun selama itu, kamu belum membayarnya sama sekali. Saya tau Lin, kamu mahasiswi pintar, namun saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu. Saya hanya mengikuti peraturan dari kampus ini" jelas Sukma.


"Iya Bu, saya mengerti. Kalau memang saya harus berhenti kuliah, tidak apa-apa Bu, saya akan berhenti. Karena ini juga kesalahan saya karena tidak bisa membayar kewajiban saya sebagai seorang mahasiswi disini" kata Marlina dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.


"Saya minta maaf Lin, saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu. Semoga secepatnya kamu bisa kembali lagi berkuliah disini" kata Sukma ikut sedih.


"Tidak apa-apa Bu. Insyaallah, setelah ada rejeki saya akan kembali lagi Bu. Terimakasih banyak" kata Marlina.


"Sama-sama Lin.. Kalau begitu kamu boleh pergi.. Hati-hati ya" kata Sukma.


"Iya Bu, saya permisi" ucap Marlina, lalu menyalami Sukma untuk yang terakhir kalinya....


😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2