Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
part 153 (MARLINA)


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang tak ada pembicaraan apapun diantara mereka. Amar langsung mengantarkan Marlina pulang ke rumahnya. Setelahnya Amar langsung berpamitan untuk pulang.


Sesampainya di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Amar merasa tubuhnya sangat lelah dan letih. Amar langsung menuju ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya.


Keluarga Amar adalah keluarga terpandang dan dikenal sebagai keluarga kaya dan sukses di kota tersebut. Memiliki beberapa cabang perusahaan di dalam maupun di luar kota, ada juga di luar negri.


Amar adalah anak tunggal dari pasangan Pak Burhan dan Bu Ratih. Keluarga pak Burhan dikenal sebagai keluarga yang baik dan rendah hati. Mereka tidak pernah membeda-bedakan status keluarga manapun. Kekayaan yang mereka miliki tak membuat mereka menjadi sombong dan lupa diri.


Amar sebagai pewaris tunggal dan penerus semua bisnis keluarganya mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Papanya sangat mengharapkan anak tunggalnya tersebut sebagai penerusnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, terlihat pak Burhan dan Bu Ratih sedang makan malam bersama.


"Bi, tolong panggilkan Amar di kamarnya suruh dia makan malam" perintah Bu Ratih saat Bi Sumi sedang menuangkan air ke gelas.


"Baik nyonya" ucap Bi Sumi. Lalu beranjak pergi.


Tok...tok..tok...


"Den Amar" panggil Bi Sumi setelah mengetok pintu.


"Iya Bi" jawab Amar.


"Den sudah ditunggu tuan dan nyonya untuk makan malam" kata Bi Sumi.


"Iya, sebentar lagi aku turun" jawab Amar.


Amar yang sudah bangun dari tadi dan mandi segera turun untuk makan malam bersama dengan kedua orang tuanya.


"Amar, bagaimana dengan kuliahmu?" tanya pak Burhan ditengah makannya.

__ADS_1


"Lancar pah" jawab Amar.


"Papa ingin kamu berhenti kuliah saja Mar, dan fokus pada bisnis dan perusahaan-perusahaan kita" kata pak Burhan.


"Tapi pa, bukannya aku harus kuliah terlebih dulu, agar aku lebih mengerti dan mempunyai bekal untuk meneruskan bisnis keluarga kita" kata Amar.


"Kamu tidak perlu kuliah, papa yakin kamu bisa dan sanggup untuk mengelola dan meneruskan bisnis keluarga kita, papa percaya sama kamu" jelas pak Burhan dengan sungguh-sungguh.


"Iya nak, benar apa yang papa kamu bilang. Kalau bukan kamu mau siapa lagi yang nantinya menggantikan papa" tambah Bu Ratih.


"Aku pikir-pikir dulu pa ma" jawab Amar.


"Iya sayang" ucap Bu Ratih.


Setelah selesai makan, Amar kembali ke kamarnya. Dirinya merasa hari ini sangat malas untuk beraktifitas apapun. Amar pun hanya menonton televisi di dalam kamarnya.


"Amar, ada yang mencarimu" kata Bu Ratih menghampiri anaknya yang tengah tiduran sambil menonton tv.


"Siapa ma?" tanya Amar,tanpa menoleh ke arah mamanya.


"Veronika" jawab Bu Ratih.


"Veronika? ngapain dia kesini ma?" tanya Amar kaget seraya bangun dari tidurnya.


"Coba kamu tanyakan sendiri pada Veronika, dia sedang menunggumu di bawah" jawab Bu Ratih lembut.


"Enggak ma, aku gak mau ketemu sama dia, suruh aja di pulang" kata Amar.


"Jangan begitu Mar, Mama tau kamu dan Veronika tengah ada masalah, maka selesaikanlah secara baik-baik" kata Bu Ratih memberi nasehat.

__ADS_1


"Mama tau dari mana kalau aku dan Vero ada masalah?" tanya Amar penasaran.


"Tadi Veronika sempat cerita sedikit pada mama. Selesaikanlah Mar, mama tidak mau ada permusuhan diantara kamu dengan siapapun itu" pinta Bu Ratih.


Setelah berfikir 2 kali, akhirnya dengan rasa yang sangat terpaksa Amar pun menemui Veronika. Itu pun atas permintaan mamanya, jika tidak mungkin Amar sudah tidak akan Sudi bertemu dengan Veronika kembali.


Amar menuruni tangga, lalu menuju ruang tamu, dilihatnya Veronika yang tengah duduk sendiri disana.


"Ada apa?" tanya Amar datar.


"Amar, gue ingin bicara sama Lo, tolong dengerin gue" pinta Veronika dengan wajah memelas.


"Mau bicara apa, sepertinya diantara kita tidak ada hal yang harus dibicarakan" jawab Amar, tanpa menatap Veronika.


"Ada, ini menyangkut perasaan gue Mar. Apa Lo belum ngerti juga" kata Veronika.


"Gue gak akan ngerti dan gak akan mau ngerti. Karena apapun perasaan elo ke gue, gue gak akan pernah bisa membalas itu" jelas Amar.


"Kenapa Mar, kenapa, apa karena cewek kampungan itu hingga elo gak bisa Nerima perasaan gue, iya... sadar Amar, sadar, cewek kampungan seperti Marlina gak pantes buat elo, jangan tertipu dengan wajah polosnya" seru Veronika.


"Stop Vero. Kalau Lo kesini hanya untuk menghina Marlina, lebih baik Lo pergi dari sini. Dan gue gak ada waktu untuk ngeladenin elo" seru Amar dengan marah. Kemudian Amar beranjak pergi meninggalkan Veronika.


"Amar, tunggu, gue belum selesai bicara!" seru Veronika.


Amar tak menggubris teriakan Veronika sama sekali. Langkahnya semakin di percepat untuk menuju ke kamarnya.


Bu Ratih yang mendengar teriakan Veronika beranjak datang menghampirinya, takut terjadi apa-apa pada keduanya...


😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2