
"Tapi aku hari ini pengen balik bareng kalian aja. gak papa kan kak Amar?" tanya Marlina pada Amar.
Sebenarnya Marlina tidak enak menolak ajakan Amar, tapi di sisi lain Marlina ingin pulang dengan Mona dan Ria......
"Oke, gak papa kok, tapi next time kamu mau kan?" tanya Amar.
"Insyaallah kak" jawab Marlina tersenyum.
Tanpa di duga dan di sangka tiba-tiba Veronika datang mendekat.
"Hai Amar, ngapain kamu disini, bukanya tadi kamu bilang mau balik ya, dan lagi ini kenapa ada mereka disini" kata Veronika seraya menunjuk ke arah Marlina dan yang lainnya.
"Ini juga mau balik kok. Dan aku juga lagi ngobrol aja sama mereka" jelas Amar.
"Astaga Amar, aku bilangi ya, kamu itu gak pantes ngobrol sama mereka, apalagi sama ini gadis nasi uduk. Lebih baik kamu ngobrolnya sama aku aja" kata Veronika.
Sangat jelas terlihat bahwa Veronika tidak suka jika Amar mendekati Marlina.
"Ya ampun, Veronika yang sombong dan sok cantik ini, sadar diri dong kalau Amar itu lebih suka ngobrol sama Marlina ketimbang sama Lo" kata Mona yang membela Marlina.
"Udah Mona gak usah ditanggapin, biarin aja nanti malah bikin ribut" kata Marlina. Dirinya tidak ingin ada keributan lagi hanya karena Mona membelanya dihadapan Veronika. Bagi Marlina meladeni Veronika tidak akan ada habisnya.
"Ngomong apa Lo barusan!" seru Veronika melorotkan matanya pada Mona.
"Kalau begitu kami permisi pulang duluan ya kak" kata Marlina pada Amar. Sengaja Marlina mengajak Mona dan Ria pergi agar tidak terjadi keributan untuk kesekian kalinya.
"Iya hati-hati kalian" ucap Amar.
"Eh, eh Amar, kamu mau kemana?" tanya Veronika ketika Amar hendak melangkah pergi.
"Mau baliklah" jawab Amar singkat
"Gimana kalau kita makan siang bareng dulu" ajak Veronika.
"Sorry, aku gak bisa, by.." Kat Amar, kemudian berlalu pergi.
"Soal, kenapa sih selalu aja dia nolak ajakan gue, kurang apa coba gue, cantik udah, seksi udah, kaya juga udah, dasar cowok gak tau diuntung" gerutu Veronika kesal.
***
Sesampainya di rumah, ternyata ibunya sudah berada di rumah. Hari ini nasi uduk yang Bu Harti jual di pasar juga habis. Marlina sangat bahagia dan bersyukur karena Allah begitu sayang padanya dan keluarganya. Meskipun hidup dalam kemiskinan, Marlina dan Bu Harti tidak pernah mengeluh dengan keadaan.
Marlina selalu yakin, disetial kesulitan pasti ada kemudahan.
__ADS_1
"Alhamdulillah Bu, tadi nasi uduk yang aku bawa langsung habis" kata Marlina, setelah selesai sholat dan ganti baju.
"Alhamdulillah, hari ini Allah mempermudah jalan rejeki kita nak" kata Bu Harti.
"Besok aku mau bawa lebih banyak lagi Bu, soalnya ibu kantin minta bawa lebih banyak" kata Marlina.
"Iya, besok kita buat lebih banyak" kata Bu Harti.
****
Keesokan harinya seperti biasa, selesai membantu ibunya membuat nasi uduk, Marlina bersiap untuk pergi kuliah. Hari ini Marlina membawa lebih banyak nasi uduk.
Keuntungan yang kemarin mereka dapatkan , sudah habis untuk modal membuat nasi uduk lebih banyak, berharap bisa balik modal.
Sudah 10 menit lamanya Marlina berdiri di pinggir jalan untuk menunggu angkutan umum, namun tak kunjung datang juga. Akhirnya Marlina memutuskan untuk berjalan kaki pelan-pelan sambil menunggu angkutan umum lewat.
Sebuah mobil sedan mobil hitam terlihat berjalan pelan tepat di belakang Marlina.
Ternyata di dalam mobil tersebut adalah Veronika dan temannya. Veronika tau bahwa orang yang sedang berjalan di depan adalah Marlina. Hingga niat jahatpun muncul dalam pikiran Veronika.
"Lihat tuh si cewek nasi uduk, kita kerjain yuk" ajak Veronika dengan senyuman jahat.
"Wiwi, bakalan seru nih" kata Sarah, teman Veronika.
"Astaghfirullah" teriak Marlina kaget. Keranjang yang dia bawa terpelentang dengan keras, hingga nasi uduk yang sudah terbungkus rapi berhamburan dan hancur semua tak ada yang tersisa.
Marlina memandangi nasi uduknya yang sudah pada hancur dengan perasaan sedih dan bingung. Lalu Marlina segera memungutinya.
"UPS, sorry gue gak sengaja, makanya kalau jalan itu di pinggir bukan ditengah-tengah, Lo pikir ini jalan nenek moyang Lo apa" kata Veronika dari dalam mobil dengan senyuman penuh Kemenangan.
"Veronika?" kata Marlina. Terkejut melihat Veronika.
"Iya ini gue, kenapa, kaget ya. Aduh kasihan sekali nasi uduknya udah gak bisa dijual lagi ya" ejek Veronika.
"Udah Ver, cabut yuk, biarin aja itu cewek uduk" ajak Sarah.
"Oke, by cewek uduk,hahahaha!" kata Veronika dengan tawa kemenangannya.
"Ya Allah ini gimana, semua jadi hancur dan berantakan, mana bisa dijual lagi" kata Marlina dengan air mata yang sudah menetes dipipinya.
Begitu sedih hatinya melihat dagangannya hancur berantakan. Padahal uang yang dia dan ibunya punya sudah habis untuk modal jualan hari ini. Marlina mengambil nasi uduk yang berserakan dengan air mata yang terus menetes.
Pada saat Marlina sedang membereskan nasi uduknya, tiba-tiba sebuah mobil Pajero hitam berhenti. Ternyata itu adalah Amar.
__ADS_1
Amar segera turun dari mobilnya dan menghampiri Marlina.
"Marlina... kamu kenapa, kenapa jualan kamu hancur semua kayak gini?" tanya Amar panik.
" Gak apa-apa kok kak, tadi gak sengaja jatuh" jawab Marlina berbohong.
"Gak mungkin kalau jatuh sampai sehancur ini dan berserakan di mana-mana. Dan kamu kenapa menangis. Sebenarnya ada apa Lin" kata Amar yang tidak percaya dengan pengakuan Marlina.
Marlina hanya diam, dia tidak mau menceritakan yang sebenarnya pada Amar. Marlina takut jika nanti Amar bertanya pada Veronika.
"Yaudah kalau kamu belum mau cerita. Sini aku bantuin kamu" kata Amar. Lalu memunguti nasi yang berserakan.
Setelah selesai memunguti. Amar mengajak Marlina untuk berangkat ke kampus bersama.
Dalam perjalanan menuju kampus pun Marlina tidak berbicara sepatah katapun. Tatapannya hanya fokus pada jendela.
"Lin, kamu gak apa-apa kan?" tanya Amar khawatir.
"Aku gak apa-apa kok kak" jawab Marlina dengan tersenyum.
"Aku tau Lin, pasti tadi ada yang sengaja ngehancurin dagangan kamu kan" kata Amar.
"Gak ada kak, itu tadi cuma jatuh aja" jawab Marlina.
"Berapa semua nasi uduknya Lin, biar aku yang bayarin" tanya Amar.
"Tidak perlu kak. Lagian kakak mau beli apa, nasi uduknya kan udah gak bisa dijual lagi" jawab Marlina.
"Udah anggap saja aku yang beli. Berapa?" tanya Amar kembali.
"Tidak perlu kak" ucap Marlina.
"Ya udah gini aja. Aku mau pesen nasi uduk 100 bungkus buat besok. Dan ini uangnya aku bayar di awal" kata Amar, membuka laci mobil lalu mengambil uang 800 ribu kemudian Amar menyerahkannya pada Marlina.
"Tapi kak, ini terlalu banyak" kata Marlina.
"Udah gak papa, jangan lupa besok bawain nasi uduknya ya" kata Amar.
"Makasih ya kak" ucap Marlina.
"Iya sama-sama" kata Amar tersenyum...
😊😊😊
__ADS_1