
Sudah 3 hari setelah pernikahan mereka. Dan besok pagi rencananya Rendra, Sari dan kedua orang tuanya akan pergi ke jakarta untuk persiapan acara resepsi pernikahan. Dan tak lupa toko kelontong yang dijanjikan oleh Rendra pun akhirnya sudah jadi... Rendra memang sengaja mempercepatnya dengan membayar beberapa orang tukang untuk membangun sebuah toko kelontong di depan rumah mereka.
"Bapak dan ibu, tidak perlu khawatir masalah baju yang akan dipakai diacara resepsi nanti. Karena mama dan asisten saya sudah mengatur segala sesuatunya disana. Jadi kita semua tinggal terima beres" jelas Rendra.
"Alhamdulillah.... terimakasih yaa nak... bapak dan ibu sangat bersyukur sekali atas semua pemberian ini. Allah telah mengirimkan suami dan menantu yang baik untuk kami!" kata bu Siti.
"Iya bu ,sama sama, sudah sewajarnya saya seperti ini. Yang penting buat saya, keluarga saya semua bahagia!" kata Rendra.
"Yaa sudah kalau gitu kalian tidurlah, besok pagi pagi kita kan harus berangkat ke jakarta!" kata pak Pardi.
"Iya pak, bapak dan ibu juga tidur" kata Sari, kemudian mereka beranjak ke kamar tidur.
Tak seperti malam pertama kemarin yang masih saling malu dan gugup. Sekarang mereka sudah mulai terbiasa,tak ada lagi rasa canggung dan malu diantara mereka berdua.
Malam ini pun Rendra Sari bertaut kasih bersama. Hampir setiap malam Rendra meminta jatahnya, terkadang Sari merasa kewalahan meladeni suaminya tersebut.
Tapi sudah kewajiban sebagai seorang istri Sari harus melayani suaminya dengan baik.
Malam pun berganti pagi. Udara pagi di desa sangatlah sejuk dan segar, tidak seperti di Jakarta, Rendra hampir tidak bisa menghirup udara segar alami seperti ini. Selesai sholat subuh Rendra mengajak Sari untuk berjalan jalan di kampungnya sebelum mereka berangkat ke Jakarta.
"Kamu betah yaa mas berada disini?" tanya Sari sambil berjalan pelan menikmati suasana pagi.
"Iya sayang, aku betah disini.. rasanya disini begitu damai,tenang, dan udaranya sangat segar!" jawab Rendra.
"Mulai sekarang mas bisa dateng kesini kapan aja mas mau... karena disini juga rumah mas!" kata Sari.
"Iya sayang... aku sangat bahagia bisa menemukanmu!" kata Rendra seraya menggandeng tangan Sari erat.
__ADS_1
Merekapun melanjutkan dengan jalan jalan mengelilingi kampung Sari. Setelah 1 jam berjalan jalan, Sari dan Rendra memutuskan untuk segera pulang.
Saat mereka sudah sampai dirumah ternyata pak Pardi dan bu Siti sudah siap dengan menunggu mereka untuk sarapan bersama.
"Kalian dari mana saja, ibu cari cari tadi!" tanya bu Siti khawatir. Karena sebelum pergi mereka memang tidak pamit dengan bu siti ataupun pak Pardi.
"Maaf bu, kami tadi gak sempat pamit. Mas Rendra ngajakin jalan jalan!" jawab Sari.
"Ibu bu, udara disini begitu segar jadi saya mengajak Sari untuk pergi jalan jalan!" tambah Rendra.
"Ya sudah, sekarang kalian mandilah.. lalu kita sarapan bersama!" kata pak Pardi.
Kemudian Sari dan Rendra bergegas untuk mandi. Setelah selesai mandi mereka langsung menyusul pak Pardi dan bu Siti untuk sarapan. Hari ini bu Siti memasak Opor ayam.
Rendra begitu menikmati makanannya, karena masakan bu Siti sangatlah enak.. dibandingkan dengan masakan Asih ataupun Sari. Tapi baginya tumis kangkung buatan Sari tetaplah paling enak.
Selesai makan, merekapun bersiap untuk pergi ke jakarta. Setelah siap, mereka langsung berangkat menuju Jakarta dengan mobil Rendra.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya merekapun sampai di jakarta dengan selamat dan tanpa halangan apapun.
Sesampainya di rumah Rendra... mereka telah disambut oleh pak Yudi dan bu Lestari. Mereka sudah mengetahui sebelumnya bahwa menantu dan besannya akan datang hari ini.
Pak Yudi dan bu Lestari langsung mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
Pak Pardi dan bu Siti merasa sangat takjub melihat rumah Rendra yang begitu besar dan megah. Rasanya seperti mimpi bisa berada di rumah tersebut.
"Mari silahkan duduk pak Pardi bu Siti, selamat datang dirumah kami!" kata pak Yudi dengan sopan seraya mempersilahkan mereka untuk duduk.
__ADS_1
"Iya terimakasih pak... ternyata jauh juga yaa perjalanan untuk sampai kemari!" kata Pak Pardi.
"Iya pak... tapi nanti kalau sering bolak bali kesini jadi dekat kok pak Pardi!" kata pak Yudi seraya tertawa.
Kemudian Sari dan Rendra menuju ke kamarnya terlebih dahulu untuk menaruh barang bawaannya dari kampungnya. Kemudian kembali ke ruang tamu, tapi tidak dengan Sari, dia menuju dapur untuk menemui mbak Sari, dan membantunya untuk menyiapkan makan siang.
"Mbak Asih!" seru Sari yang langsung memeluk Asih
"Sari... yaa Allah kamu sudah datang ternyata, kamu tambah cantik aja, dan makin gemuk!" kata Asih seraya melepaskan pelukannya.
"Sudah mbak,baru aja dateng. Mbak Asih juga makin gemuk nih!" godak Sari balik.
"Bisa aja kamu... oh ya Sar, ini kenalin saudara mbak namanya Sri, dia yang sekarang bantu aku disini!" kata Asih mengenalkan saudaranya yang menjadi pembantu baru di rumah Rendra.
"Hai, bi Sri... kenalkan saya Sari... semoga betah ya kerja disini!" kata Sari memperkenalkan diri, seraya menjabat tangan bi Sri.
"Saya Sri non... oh jadi ini ya yang namanya non Sari... Saya sudah dengar semua cerita tentang non dari Asih. Ternyata non Sari orangnya memang sangat cantik ya!" kata bi Sri.
"Bibi bisa saja. Semua perempuan didunia ini cantik bi.... yaudah kalau gitu aku bantuin masak yuk!" kata Sari.
"Tidak usah Sar, kamu itu sekarang udah jadi majikan kami.. jadi kalau kamu butuh apapun tinggal perintah kami... sekarang kamu kedepan saja, biar kami yang selesain pekerjaan kami!" jelas Sari.
"Mbak Asih, biarpun sekarang aku jadi majikan mbak, tapi aku nganggep mbak itu tetep kakak aku. Jadi aku gak mau ada yang beda diantara kita. Tetep seperti dulu yaa mbak, meskipun setatusnya udah berbeda!" jelas Sari.
"Masyaallah Sar... hati kamu sebenarnya terbuat dari apa sihh... baiknya kebangetan!" kata Asih yang merasa terharu dengan sikap Sari.
"Mbak Asih ini kalau ngomong suka berlebihan deh.. Yaudah kalau gitu aku tinggal kedepan dulu ya mbak, bi Sri!" kata Sari, kemudian beranjak menuju ruang tamu.
__ADS_1
Asih dan bi Sri sangat mengagumi hati Sari. Begitu baik dan tulus. Meskipun sekarang Sari sudah menjadi orang kaya, tapi sikapnya sama sekali tidak pernah menyombongkan diri, apalagi merendahkan orang lain. Mereka merasa beruntung karena mempunyai majikan yang semuanya memiliki hati yang sangat baik....
...TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA😊🙏🙏...