Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
Bab 112


__ADS_3

Setibanya di rumah,Andra langsung mandi dan Anisa menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


Saat Anisa sibuk mengambil baju di dalam lemari,ponsel milik suaminya berbunyi. Anisa mengambil ponsel suaminya dan melihat ke arah layar. Ternyata pesan dari Sari, mertuanya.


"Ma., Mama ngirim pesan nih di hp nya Mas Andra," Seru Anisa seraya meletakkan kembali ponsel suaminya di tempat semula. Anisa tidak mau membuka pesan tersebut tanpa seijin suaminya.


"Pesan apa? kamu buka aja sayang," Perintah Andra.


Mendengar perintah dari suaminya, Anisa pun lalu meraih ponsel itu lagi,kemudian membuka pesan dari mertuanya itu dan membacanya.


"Andra sayang lagi ngapain nak?


ini Mama cuma mau ngingetin aja. Kamu sama Anisa cepat-cepat program hamil ya sayang. Mama sama papa bener-bener sudah ke pengen banget nimang cucu dari kalian. Semua temen-temen Mama sudah punya cucu semua. Setiap kumpul arisan mereka selalu ceritain cucu mereka masing-masing. Dan Mama hanya bisa mendengarkan saja. Lagi pula, kamu juga harus ada pewaris untuk melanjutkan semua bisnismu kelak sayang. Kalian berdua sudah lama menikah,Mama harap kalian tidak menundanya," Isi pesan tersebut.


Hati Anisa langsung sangat sedih membaca pesan dari mertuanya itu. Betapa mereka sangat ingin segera memiliki cucu. Namun sampai saat ini ia belum bisa membahagiakan suami dan mertuanya.


Air mata Anisa sudah tak terbendung lagi. Ia terduduk di tepi tempat tidur nya,ke dua matanya memandang kosong dengan air mata yang terus saja mengalir di pipinya.Ponsel suaminya pun masih ia genggam.


"Sayang.....Mana baju ganti ku?," Tanya Andra yang baru saja selesai mandi.


Anisa hanya diam saja,tak menjawab pertanyaan suaminya. Pandangannya tetap kosong.

__ADS_1


Andra yang heran karena istrinya hanya diam saja,langsung berjalan mendekatinya.


Di lihat istrinya itu yang ternyata sedang menangis.


"Sayang, kamu kenapa nangis?" Tanya Andra,namun tetap saja Anisa diam.


Andra langsung melihat ke arah ponsel yang di genggam Anisa. Dengan cepat ia langsung mengambil ponsel nya.


Andra sekarang tau kenapa istrinya itu menangis. Ia menyesal kenapa tadi ia menyuruh Anisa untuk membukanya.


Dengan lembut,Andra menggenggam ke dua tangan Anisa. Kemudian di usapnya air mata yang membasahi pipi istrinya itu.


"Mana bisa nggak aku pikirin Mas? ini menyangkut masa depan, menyangkut penerus keluarga kamu juga," Sanggah Anisa. Ia sedikit emosi dengan perkataan suaminya. Karena dengan gampang untuk menyuruhnya tidak memikirkan hal itu. Mana mungkin dirinya bisa untuk tidak memikirkannya. Setiap kali mertuanya menuntut untuk segera mempunyai anak, semakin membuat beban Anisa bertambah.


"Iya aku tau. Selama ini kan kita juga selalu berdoa dan ikhtiar, tapi kalau yang di Atas belum ngasih mau gimana sayang. Kita harus sabar," Andra menatap wajah istrinya sayu. Ia bingung harus berbuat apa untuk istrinya jika sudah menyangkut masalah anak.


"Memang kita berdua bisa sabar Mas. Tapi orang tua kamu, keluarga kamu? Mereka semua sudah sangat menginginkan kedatangan cucu dan keponakan," Ratap Anisa dengan terus bercucuran air mata. Anisa merasa dirinya tidak sempurna. Kata-kata itu terus saja menghantuinya. Padahal tidak ada satu orang pun yang mengatakan hal itu secara langsung padanya. Ia merasa semua orang mengatakan bahwa ini adalah kesalahannya. Seoalah-olah jika dalam sebuah pernikahan itu tak kunjung datang sang buah hati,maka itu akan mutlak menjadi salah pihak perempuan. Entah dari mana lebel tersebut berawal.


Andra tampak terdiam membisu dengan kepala tertunduk. Ia sebenarnya juga sudah sangat ingin memiliki buah hati. Tapi karena memang Tuhan belum memberikannya kepercayaan untuk menjadi orang tua, ia hanya bisa sabar dan menunggu.


"Kenapa kamu diam saja Mas?," Tanya Anisa yang menunggu jawaban dari suaminya.

__ADS_1


Jauh di dalam lubuk hati nya, Anisa begitu salut dengan suaminya. Sosok laki-laki yang sudah bertahun-tahun menjadi pendamping hidupnya dengan penuh cinta dan kasih sayang, tak pernah sekalipun berubah. Meskipun dirinya belum bisa menjadi wanita sempurna. Suaminya lah yang selama ini menjadi penyemangat nya, yang juga membuatnya bertahan menghadapi kenyataan hidup yang kejam.


Sosok suami yang tak pernah menuntut hadirnya sang buah hati. Bagi suaminya, asal bisa selalu bersamaku itu sudah membuatnya bahagia.


"Cukup ada kamu di sisiku,itu sudah membuat ku bahagia sayang. Masalah anak itu hanyalah bonus saja. Jangan dengarkan apa kata orang lain. Yang menjalaninya adalah kita,bukan mereka. Kita hadapi sama -sama sayang. Jangan pernah merasa sendiri. Tersenyumlah," Andra membelai pipi Anisa dengan penuh kasih sayang. Wanita yang sangat ia cintai. Andra tidak ingin istrinya terus berpikir macam-macam. Ada atau pun tanpa anak, dirinya berjanji tidak akan pernah meninggalkan Anisa. Ia sudah merasa bahagia jika seumur hidupnya dihabiskan hanya berdua saja.


"Itu sangat tidak cukup Mas. Jangan hanya memikirkan kebahagiaan kita saja. Tapi juga pikirkanlah kebahagiaan orang-orang terdekat kita, orang tua dan keluarga kita Mas," Cecar Anisa yang tidak setuju dengan pendapat suaminya yang menurutnya sangat tidak benar.


"Kalau begitu, kita coba bayi tabung. Bagaimana?," Tanya Andra yang sudah tidak tau lagi harus bagaimana. Yang ia inginkan hanya istrinya stop membahas masalah anak. Namun itu sangat tidak mungkin. Karena hampir setiap hari ia selalu berdebat dengan Anisa hanya karena masalah yang sama.


"Bayi tabung?," Tanya Anisa. Apa dengan cara ini maka ia akan segera bisa mempunyai keturunan. Ia pun berpikir sejenak. Mungkin ini lah jalan satu-satunya dia bisa hamil.


"Iya bayi tabung. Besok kita pergi ke rumah sakit untuk konsultasi terlebih dahulu," Ucap Andra, berharap istrinya setuju dengan usulannya.


"Baiklah, kita coba cara ini Mas. Semoga ini jalan buat kita supaya bisa segera mendapatkan buah hati," Anisa menatap wajah suaminya dengan yakin. Raut wajahnya pun juga sudah mulai berubah. Hatinya agak mulai tenang karena menemukan titik terang untuk harapannya.


"Ya semoga saja. Jadi, jangan sedih lagi ya?," Kata Andra,lalu memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan istrinya.


Terimakasih sudah membaca...


Jangan lupa LIKE nya ya kak...

__ADS_1


__ADS_2