
Pagi yang cerah, metahari bersinar dengan terangnya.. Hiruk pikuk kesibukan kota mulai terdengar. Seperti hari ini, dikediaman pak Yudi. Mereka sekeluarga sibuk menyiapkan diri untuk kembali bekerja, setelah kemarin menghabiskan waktu dirumah.
Sarapan sudah tersedia di meja makan. Pak Yudi, bu Lestari dan Rendra juga sudah siap untuk sarapan bersama.
"Eh Sari sudah kembali ya dari kampung!" kata bu Lestari yang baru melihat Sari hari ini.
"Iya Nya, sudah kemarin siang sampai sini!" jawab Sari Seraya meletakkan buah buahan di atas meja setelah dicucinya tadi.
"Wahh, ada yang seneng nih, yang ditunggu tunggu akhirnya balik juga!" kata bu Lestari meledek Rendra seraya meliriknya.
"Sari, ayo sarapan sama kami!" kata pak Yudi menyela.
"Sa...saya sarapan di belakang saja tuan sama mbak Asih" kata Sari agak terkejut karna disuruh makan bersama.
"Jangan panggil saya tuan, panggil saya Pak" Ucap pak Yudi.
"Tapi tuan...." kata Sari belum selesai berkata bu Lestari langsung memotongnya.
"Udah Sar, ini perintah...dan panggil saja saya ibu, jangan protes" kata Bu Lestari.
Rendra hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa berkata apa apa.. Dia bingung harus berkata apa. Apalagi mama dan papanya,malah berbicara seperti itu, dan itu membuat Rendra jadi salah tingkah.
"I...iya Nyo...maksud ya bu, pak...
kalau begitu saya permisi ke belakang dulu!" ucap Sari membungkukkan badannya,kemudian berjalan menuju dapur. Dia sangat bingung dengan apa yang dibilang oleh majikannya. Banyak pertanyaan yang ada difikiran Sari kenapa majikannya menyuruhnya untuk mengubah panggilan menjadi pak dan ibu.
Sari mencoba melupakan itu, dan kembali melanjutkan pekerjaannya dibelakang.
"Kenapa Rend, kok kamu cuma diem aja?" tanya pak Yudi.
"Gak apa pa, kan Rendra lagi makan, jadi gak boleh sambil ngomong!" jawab Rendra mencoba membela diri.
__ADS_1
"Aduhh,, anak mama yang satu ini sekarang pinter banget bikin alesan yaa... bilang aja kalau malu" ledek mamanya.
"Apaan sih ma, mana ada Rendra malu..orang emang begitu kok!" bela Rendra kembali.
Muka Rendra langsung berubah menjadi merah karena malu diledekin oleh mamanya terus. Pak Yudi dan bu Lestari yang melihatnya, langsung menertawakan anaknya.
Pak Yudi dan bu Lestari adalah orang tua yang penuh kasih dan sayang, apapun keinginan Rendra pasti mereka turuti asalkan itu masih dalam hal kebaikan dan kewajaran. Seperti saat inipun, jika memang Rendra mencintai Sari, mereka tidak akan melarangnya meskipun setatus Sari adalah seorang pembantu. Keluarga Rendra tidak pernah memandang orang lain dari kedudukan dan hartanya. Tapi yang terpenting buat mereka adalah keimanan,kebaikan,dan ketulusan hatinya.
Setelah selesai makan, mereka kemudian langsung berangkat menuju kantor masing masing dengan mengendarai mobil mewah mereka.
Dalam perjalanan menuju Kantor, tiba tiba suara handphone bu Lestari berbunyi. Dilihat dilayar handphone nya ternyata nama Sherly yang memanggil. Bu Lestari sebenarnya tidak ingin mengangkat telvon dari Sari. Tapi hatinya merasa tidak enak, akhirnya telvonpun diangkat oleh bu Lestari.
"Halo, assalamualaikum" kata Bu Lestari.
"Hallo tante.. tante lagi dimana?" tanya Sherly dari seberang televon
"Tante lagi dalam perjalanan ke kantor, ada apa Sher, tumben telvon?" tanya bu Lestari penasaran.
"Tante nanti bisa ketemuan gak, ada hal penting yang mau aku omongin!" jawab Sherly.
"Nanti aja tante, aku ceritain... tante bisa kan kalau kita ketemu?" tanya Sherly kembali.
"Oke, nanti siang kita ketemu, di cafe deket kantor tante aja. Nanti kalau tante udah free, tante hubungin kamu!" kata bu Lestari.
"Oke tan, thanks...," ucap Sherly setelah itu langsung menutup panggilannya.
Bu Lestari menjadi penasaran, sebenarnya hal apa yang akan dibilang Sherly. Dia takut jika hal itu menyangkut anaknya.
Bu Lestari mencoba membuang jauh fikiran jelek yang ada dikepalanya. Sampai akhirnya tiba di kantor miliknya. Bu Lestari sengera masuk dan menuju ruangannya dan kembali bekerja seperti biasa.
Jam menunjukkan pukul 12.30 siang, Bu Lestari mengirim pesan kepada Sherly, bahwa dia sudah free dan bisa bertemu dengannya.
__ADS_1
Setelah 30 menit kemudian mereka sudah bertemu di cafe dekat kantor bu Lestari.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan sama saya Sher?" tanya bu Lestari to the point setelah mereka duduk bersama dan memesan minum.
Sherly tidak menjawab tapi malah menangis. Dan itu membuat bu Lestari menjadi bingung.
"Kenapa kamu malah menangis Sher, sebenarnya ada apa ini?" resah bu Lestari yang tadinya penasaran sekarang malah menjadi panik.
"Tante, maafin aku,. aku bingung harus bagaimana.. cuma tante yang mau dengerin aku" kata Sherly dengan tangisnya.
"Bingung kenapa Sher, katakan sama tante, jangan buat tante bingung juga" ucap bu Lestari.
"Aku..... aku hamil tante.... anak Rendra!" kata Sherly diikuti dengan tangisnya yang makin pecah.
Bagai tersambar petir di siang bolong bu Lestari mendengar perkataan Sherly. Dia belum bisa berkata apa apa.. Hatinya terasa sesak, dan syok. Dia belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang Sherly bilang. Setelah kemarin mendengar cerita dari Rendra tentang Sherly, bu Lestari sudah tidak mempercayainya lagi.
"Tidak mungkin itu Sher, kalian bukannya sudah lama putus.. jadi tidak mungkin Rendra melakukan itu sama kamu" Seru bu Lestari.
"Iya tante, memang kita sudah putus, tapi sebelum putus kita pernah melakukan itu, waktu itu Rendra tidak sadar tan, karena pengaruh minuman keras. Dan akhirnya Rendra memaksa saya untuk melayaninya" cerita Sherly.
"Tidak mungkin Sher, kamu jangan mengarang cerita, tidak mungkin Rendra melakukan itu apalagi sampai minum..itu lebih tidak mungkin lagi" seru bu Lestari.
"Tapi saya beneran hamil tan, apa perlu kita pergi ke dokter untuk membuktikannya" kata Sherly tak mau kalah.
"Bagaimana bisa, tante belum bisa percaya sepenuhnya dengan cerita kamu. Tante harus bertanya dulu sama Rendra!" kata bu Lestari mulai resah.
"Tante harus percaya sama aku... aku gak mungkin bohong tan.. aku mohon, cuma tante yang mau dengerin aku!" ucap Sherly seraya memeganga tangan bu Lestari.
"Tante masih bingung Sher. Tante harus bertanya dulu sama Rendra. Kalau memang benar itu anaknya Rendra, dia pasti akan tanggung jawab, kamu jangan khawatir.
Sekarang tante harus kembali ke kantor karna ada meeting mendadak" kata Bu Lestari kemudian langsung beranjak pergi.
__ADS_1
Bu Lestari berjalan menuju kantornya dengan perasaan tak menentu. Dia sangat resah, takut dan juga bingung. Bu Lestari belum bisa mempercayai Sherly sepenuhnya, dia harus menanyakan kebenarannya kepada Rendra. Dia takut jika ini hanya jebakan Sherly untuk mendapatkan Rendra kembali. Tapi jika memang apa yang dibilang Sherly itu benar, mau tidak mau, Rendra harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
*TERIMAKASIH SEMUANYA SUDAH MEMBACA*🙏😊