Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
part 125


__ADS_3

Tepat pada hari ini, Sari serta suami dan anaknya akan berangkat ke luar negri. Anisa dan Rendra sudah berada di rumah mereka. Anisa dan Rendra akan mengantarkan kedua orang tua beserta adiknya ke bandara.


"Pa, ma apa keberangkatan kalian tidak bisa ditunda dulu?" tanya Rendra seraya mengemudikan mobilnya.


"Tidak bisa donk sayang. Jadwal keberangkatan kita kan sudah hari ini. Memangnya kenapa?" tanya Sari.


"Tidak apa-apa ma, hanya saja Rendra masih ingin kalian disini" jawab Rendra.


"Ada apa denganmu Ren, tidak biasanya kamu seperti ini. Lagian kami juga akan kembali lagi ke sini" kata Andra heran dengan sikap anaknya.


"Iya nih kak, mama sama papa lagian cuma anterin Aira kok, malah nanti Aira yang bakalan lebih lama gak ketemu mama sama papa, udah yaa kak jangan baperan gitu donk, malu nih sama Naura" sela Aira.


Entah apa yang ada di benak Rendra. Hatinya merasa sangat berat untuk melepaskan kepergian keluarganya. Untuk melarang kepergiannya pun percuma. Rendra hanya bisa berdoa semoga perasaan buruk yang dia rasakan beberapa hari ini tidak menjadi kenyataan.


Anisa hanya diam saja mendengar obrolan mereka. Anisa tau apa yang sedang dirasakan suaminya. Sebab perasaannya pun sebenarnya sama, ada rasa berat untuk melepaskan kepergian mereka.


"Perasaan apa ini sebenarnya ya Allah. Kenapa perasaan tidak enak ini selalu ada dihati hamba. Tolong jagalah keluarga hamba, beri keselamatan kepada keluarga hamba sampai ditempat tujuan, hanya kepadaMu kami berserah diri.... amin"


doa Anisa dalam hati.


Sesampainya di bandara, mereka akan langsung chek in, sebab waktu keberangkatan mereka sudah mepet.


"Kami berangkat dulu ya,kalian jaga diri baik-baik" kata Andra.


"Jika ada masalah dengan Naura telepon mama yaa sayang" tambah Sari.


"Iya ma, pasti. Mama, papa, Aira kalian hati-hati ya... kalau sudah sampai jangan lupa hubungi kami" kata Anisa.


"Mama dan papa harus janji kalau kalian bakal balik ke sini lagi secepatnya"kata Rendra, lalu memeluk kedua orang tua serta adiknya bergantian.

__ADS_1


Mereka pun berjalan masuk ke dalam bandara. Lambaian tangan tak henti mereka lambaikan kepada Anisa dan Rendra sampai tak terlihat lagi.


Terlihat Anisa dan Rendra menatap sedih kepergian mereka. Hingga tak terasa air mata Rendra sudah jatuh mengalir di pipinya.


"Kita pulang mas. Mereka pasti akan baik-baik saja" kata Anisa mencoba menenangkan hati suaminya meskipun sebenarnya perasaannya sendiri tidak tenang.


Rendra menganggukkan kepalanya, lalu menggandeng tangan istrinya untuk pulang.


Malam ini terlihat Anisa, Rendra dan Naura sedang bersama diruang keluarga seraya menonton televisi.


Saat mereka sedang mengajak Naura bermain, acara TV yang sedang mereka tonton sedang menanyangkan berita mengenai kecelakaan pesawat yang baru saja hilang kontak dan dinyatakan mengalami kecelakaan.


"Astaghfirullah, bukannya nama pesawat itu adalah nama pesawat yang ditumpangi mama dan papa!" Kata Rendra panik, seraya masih terus fokus mendengarkan berita di televisi.


"Sabar dulu mas, belum tentu itu pesawat yang mereka naiki, siapa tau nama pesawatnya yang sama" kata Anisa.


Lalu Rendra mencoba menghubungi ponsel mama, papa serta adiknya, namun satupun tidak ada yang aktif. Perasaannya sekarang sudah tidak karuan lagi. Rendra tidak bisa membayangkan jika kedua orang tua dan adiknya adalah korban dari pesawat tersebut.


"Sabar mas, kita berdoa sama-sama, semoga ada keajaiban dari Allah untuk keluarga kita" kata Anisa, seraya memeluk suaminya. Sedangkan Naura dia serahkan kepada asisten rumah tangganya terlebih dulu.


"Ya Allah, mama papa Aira.... kenapa harus kalian....!!" seru Rendra.


Tiba-tiba terdengar suara telepon rumah berdering. Anisa langsung beranjak untuk mengangkatnya.


Setelah berbicara ditelepon, Anisa kembali mendekati Rendra. Kali ini Anisa sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dengan suara yang berat Anisa mencoba berbicara kepada suaminya.


"Mas, ayo kita ke bandara sekarang. Disana sudah ada informasi mengenai keluarga kita. Tidak ada salahnya mas kita berharap, semoga masih ada keajaiban untuk kita" kata Anisa.


Tanpa menunggu waktu lama, mereka langsung berangkat menuju bandara diantar oleh sopir. Sebab dalam keadaan seperti ini tidak memungkinkan Rendra untuk membawa mobil sendiri.

__ADS_1


Sesampainya di bandara, sudah sangat banyak orang berdatangan, dan juga banyak sekali wartawan yang berada disana. Terlihat banyak sekali yang menangis setelah mengetahui kabar dari keluarganya yang menaiki pesawat tersebut.


Anisa dan Rendra langsung menuju ke papan pengumuman. Disana sudah tertulis lengkap nama-nama korban yang tidak selamat dari kecelakaan pesawat tersebut.


Dalam kecelakaan pesawat tersebut semua penumpang dan awak tidak ada yang selamat, sebab kemungkinan besar pesawat terjatuh dan meledak di lautan, sehingga mustahil bagi mereka yang bisa selamat.


Saat Anisa dan Rendra melihat papan tersebut. Mereka pun menemukan nama orang tua dan adik mereka. Ternyata memang benar, pesawat tersebut adalah pesawat yang Sari, Rendra dan Aira tumpangi.


Tangis Anisa dan Rendra pun pecah. Mereka tidak bisa menahan kepedihan dan rasa sakit atas kehilangan kedua orang tua beserta adiknya seperti ini.


Beberapa orang pun mencoba menenangkan mereka, dan membantu mereka untuk duduk ditempat yang lebih nyaman.


"Sabar mas, ikhlaskan kepergian mereka. Mungkin ini sudah menjadi takdir dari Allah untuk kita, dan kita harus bisa menerimanya" kata Anisa di sela tangisnya. Anisa mencoba menenangkan hati suaminya meskipun hatinya sendiri juga hancur.


"Kenapa ini semua harus terjadi, kenapa harus mereka yang Engkau jadikan korban ya Allah. Ini nggak adil, aku mau mereka kembali, kembalikan mereka padaku ya Allah!"seru Rendra. Dia merasa tidak bisa menerima kenyataan ini. Terlalu berat baginya untuk mempercayai semua apa yang telah terjadi.


"Mas gak boleh ngomong kayak gitu. Sadar mas, jangan seperti ini. Ini sudah jalan yang terbaik yang diberikan Allah kepada kita" kata Anisa.


"Jalan terbaik apa hah ini jalan terburuk yang pernah dikasih Tuhan buat aku. Apa salah ku apa salah keluargaku Tuhan sehingga Engkau mengambil semuanya!" seru Rendra kembali sambil menangis sejadi-jadinya.


"Istighfar mas, jangan menyalahkan Tuhan, semua yang hidup pasti akan kembali padaNya" lirih Anisa.


"Mama, papaa, Airaaa... jangan tinggalin aku... tolong kembali" lirih Rendra.


Tiba-tiba saja Rendra tak sadarkan diri, Anisa langsung memanggil sopirnya untuk membawa Rendra pulang ke rumah.


Anisa bingung, hatinya begitu sakit dan hancur menerima kenyataan ini. Dia masih belum bisa percaya bahwa kedua mertua dan adik iparnya akan pergi dengan cara seperti ini. Perasaan tidak enak dan mimpi buruk suaminya semua itu adalah sebagai tanda akan adanya hal buruk seperti ini....


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA🙂🙏

__ADS_1


__ADS_2