
Akhirnya Sari sampai juga di jakarta, setelah melewati perjalanan yang panjang dia sampai di rumah majikannya kembali.
Sari masuk melalui pintu garasi mobil setelah dibukakan pintu gerbang oleh mang ujang. Sari segera menuju kamar Asih terlebih dahulu.
"Assalamualaikum mbak Asih" seru Sari sambil melongokkan kepalanya dari balik pintu.
"Waalaikumsalam... Sariii!!... akhirnya kamu balik juga, aku nungguin kamu lho!" kata Asih yang langsung memeluk Sari.
"Pasti aku bakal balik mbak, gimana nih mbak kabar disini dan mbak selama aku dikampung, baik saja kan?" tanya Sari yang sudah duduk berdua di atas tempat tidur bersama Asih.
"Alhamdulillah, baik kok. Tapi cuma kemarin ada kejadian yang sedikit tidak mengenakan Sar" ucap Asih.
"Kejadian apa itu mbak?" tanya Asih penasaran.
"Biasa Sar, si Sherly....hehe,.. aku manggilnya Sherly aja deh depan kamu, soalnya orang angkuh dan sombong kayak dia gak pantes di panggil non ataupun mbak" kata Asih merendahkan suaranya.
"hehe... iya mbak, terserah mbak Asih saja.
memangnya mbak Sherly kenapa lagi?" tanya Sari.
"Aku gak tau pasti sih Sar kenapa. Tapi aku cuma denger ribut ribut aja di ruang makan, dan Den Rendra ngusir Sherly... udah cuma itu yang bisa aku denger" jelas Asih.
"Mbak Sherly masih aja buat masalah sama keluarganya den Rendra ya mbak, kasihan den Rendra mungki hidupnya jadi gak tenang gara gara itu. Saya pikir masalahnya udah selesai mbak, tapi ternyata masih berlanjut aja" resah Sari.
"Aku juga jadi gemes sendiri sama itu cewek, gak ada kapok dan malunya, padahal udah ditolak dan di usir den Rendra beberapa kali, tapi gak ada nyerahnya juga" seru Asih.
"Semoga aja masalah den Rendra dengan mbak Sherly cepat selesai mbak, biar den Rendra hidupnya bisa tenang" ucap Sari.
Sari merasa kasihan kepada Rendra, karna selama ini dia pikir masalah itu sudah selesai. Tapi ternyata Sherly masih saja terus mengejar Rendra. Sari ingin membantu, tapi apa daya dia hanyalah seorang pembantu. Sari hanya bisa mendoakan tuan mudanya saja.
"Semoga saja Sar. Oya kabar bapak dan ibu kamu gimana, sehat kan?" tanya Asih beralih topik pembicaraan
"Alhamdulillah baik sekali mbak. Oh iya mbak, saya boleh pinjam handphone tidak, saya mau mengabari orang tua kalau saya udah sampai jakarta" Sari hampir lupa untuk memberi kabar kepada orang tuanya.
Sari sudah membelikan hp baru untuk bapak dan ibunya, cuma hp jadul yang bisa dia beli, yang terpenting bisa untuk saling menghubungi dan memberi kabar sekedar untuk melepas rindu. Sari dan bapaknya sudah diajari oleh pemilik toko cara menggunakan handphone. Maklum Sari dan keluarganya sama sekali tidak mengerti cara menggunakan handphone, karna baru pertama kali ini bisa membeli itu pun hanya hp murahan.
__ADS_1
"Oh, boleh Sar ini" kata Asih seraya mengambil handphone disampingnya lalu menyerahkannya pada Sari.
"Maaf mbak, ini gimana yaa masukin nomer ini saya belum ngerti!" kata Sari sedikit malu.
"Sini aku ajarin, mana nomernya!" ucap Asih. Lalu Sari menyerahkan sepotong kertas kecil yang bertuliskan nomer orang tuanya. Kemudian Asih mengajari Sari cara cara untuk menyimpan dan melakukan panggilan dan mengirim pesan.
Setelah itu, Sari mencoba menelvon orangtuanya.
Setelah beberapa detik menunggu akhirnya sambungan televon terhubung.
"Assalamualaikum!" ucap Sari.
"Walaalaikumsalam!" jawab dari ujung telvon.
"Halo pak, ini Sari... Sari sudah sampai di jakarta!" seru Sari bahagia bisa mendengar suara bapaknya.
"Sari...!? Alhamdulillah nak kalau sudah sampai!" Kata Pak pardi.
"Iya pak, ibu dimana?" tanya Sari.
"Yasudah kalau gitu pak, salam yaa buat ibu, sampaikan sama ibu kalau Sari sudah sampai di jakarta dengan selamat. Bapak dan ibu jaga kesehatan ya!" Kata Sari dari saluran televon.
"Iya nak, kamu juga jaga kesehatan!" seru pak Pardi.
"Baik pak, yasudah Sari tutup ya telvonnya..assalamualaikum" kata Sari mengakhiri telvonnya.
"waalaikumsalam wr.wb."
Sari menutup telvonya dengan senyuman mengembang di bibirnya. Dia senang bisa mendengar suara orang tuanya.
"Ini mbak, terimakasih" ucap Sari seraya menyerahkan kembali handphone milik Asih.
"Sama sama Sar, kalau kamu butuh handphone lagi, jangan sungkan sungkan pinjam!" kata Asih.
Sari menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Lalu Sari pamit menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan merapikan pakaiannya yang dia bawa ke kampung.
__ADS_1
*****Malampun tiba, jam menunjukkan pukul 8 malam, Sari dan Asih sedang duduk didalam kamar Asih. Mereka menonton tv bersama. Dirumah hanya ada den Rendra. Sedangkan pak Yudi dan bu Lestari sedang keluar untuk makan malam. Rendra sengaja memang tidak mau ikut, karna hari ini dia merasa malas untuk keluar.
" Eh Sar itu ada suara tukang ketoprak, kita beli yuukk, laper nih, biar aku yang traktir kamu" Seru Asih,yang mendengar suara tukang ketoprak dari dalam.
"Ayuk mbak, sama saya juga lapar" kata Sari. Mereka kemudian langsung beranjak ke depan untuk membeli ketoprak.
Ketika mereka sudah keluar dan berada di depan. Rendra memanggil Asih untuk membuatkannya kopi. Tapi beberapa kali dipanggil tidak ada jawaban sama sekali. Karna penasaran akhirnya Rendra menuju dapur untuk melihat dan memanggil dari dekat. Namun tetap sama, tidak ada jawaban dan Rendra tidak menemukan keberadaan Asih.
Akhirnya Rendra menuju satpam dan bertanya kepada mang Udin.
"Mang, tau bi Asih gak, aku panggil panggil dari tadi gak ada" tanya Rendra.
"Itu den bi Asih ada di depan sama mbak Sari, lagi beli ketoprak!" jawab mang udin seraya menunjuk kearah luar gerbang.
Rendra kemudian langsung keluar dan melihat Sari dan Asih sedang makan ketoprak. Lalu Rendra mendekati mereka.
"Ternyata bi Asih disini to... aku panggil panggil gak ada!" seru Rendra yang membuat Asih dan Sari terkejut. Dan langsung menghentikan makannya dan beranjak berdiri.
"Ma maaf den, saya gak denger, saya baru aja keluar beli makan sama Sari, Maafkan kami den!" Kata Asih yang ketakutan. Saripun juga merasa takut.
"Kok pada berdiri sih, itu makanannya belum pada habis. Aku boleh gabung gak makan disini!" kata Rendra.
Sari dan Asih merasa bingung dan saling bertatap muka. Mereka berfikir akan kena marah, tapi justru Rendra malah ikut makan.
"Bo...boleh den, silahkan... tapi apa den Rendra tidak risih makan disini,dipinggir jalan, dan makan ketoprak" tanya Asih ragu.
"Ya enggaklah bi... tenang aja...
pak, pesen satu lagi yaa..." kata Rendra yang kemudian memesan ketoprak untuk dirinya.
Dia senang melihat Sari yang ternyata sudah pulang dari kampungnya. Tapi itu dia sembunyikan didalam hatinya.
Mereka bertigapun akhirnya makan bersama dipinggir jalan sambil sesekali mengobrol. tidak lupa juga mang Udin pun bergabung untuk makan ketoprak bersama.
...TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA...MAAF SEKALI JIKA UP **N**YA SEDIKIT LAMBAT....
__ADS_1
SEKALI LAGI TERIMAKASIH UNTUK DUKUNGANNYA, SEMOGA SELALU SETIA UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA...😊🙏