Jodoh Si Gadis Miskin

Jodoh Si Gadis Miskin
part 128


__ADS_3

Pemakaman telah usai, kini hanya tinggal Anisa dan Naura berdua. Sampai saat ini hati Anisa belum bisa ikhlas dan menerima kepergian suaminya. Terlalu sakit yang dia rasakan. Baru saja dia bahagia karena suaminya sudah mulai mau berbicara, tapi pada kenyataannya mungkin itu hanya salam perpisahan.


"Ibu jangan nangis terus ya" kata Naura.


"Iya sayang, maafin ibu ya..." ucap Anisa lalu memeluk anaknya.


Kenangan hanyalah tinggal kenangan, untuk apa lagi ditangisi. Anisa akan terus tetap berjuang demi anaknya, meskipun kini hanya tinggallah dia sendiri, namun itu tak membuat dirinya putus asa. Dia masih mempunyai seorang anak yang harus tetap dia perjuangkan.


Hari demi hari telah berlalu.. Kenangan akan suaminya kini sedikit-sedikit bisa dia lupakan meskipun itu sangat sulit.


Pagi ini Anisa melakukan aktivitas seperti biasanya, setelah Naura berangkat ke sekolah, dirinya pun berangkat ke pasar untuk berjualan.


Semangat hidupnya kini tinggal Naura, anak semata wayangnya. Apapun akan Anisa lakukan untuk anaknya, karena sekarang hanya Naura yang ia punya.


15 Tahun telah berlalu, kini usia Naura sudah dewasa, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, pekerja keras dan mandiri.


Saat ini Naura bekerja sebagai pelayan kafe. Naura memang tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, sebab keterbatasan biaya. Apalagi kini ibunya, Anisa sudah sering sakit-sakitan.


Sudah hampir 2 tahun ini Anisa berhenti berjualan, sebab dia sering sakit. Naura lah yang memintanya untuk berhenti bekerja. Kini ganti Naura yang mencari uang untuk ini ibunya.


"Ibu tadi sudah minum obat belum?" tanya Naura yang baru saja pulang dari bekerja.


"Belum nak" jawab Anisa lemas.


"Yaudah kita makan dulu ya bu, habis itu baru minum obat. Nih aku beliin ibu nasi padang" kata Naura.


"Kamu harus berhemat nak, cukupilah kebutuhan kamu sendiri" kata Anisa.

__ADS_1


"Iya bu, Naura ngerti kok. Tapi Naura bekerja kan bukan cuma buat Naura sendiri tapi buat ibu juga. Lagian cuma nasi padang kok bu" jelas Naura.


Setelah makan dan membantu ibunya minum obat, Naura mengantarkan ibunya kembali ke kamar untuk istirahat. Karena hari sudah semakin malam.


Memang semenjak kepergian suaminya, kehidupan Anisa dan Naura tidak semakin membaik. Anisa hanya mampu menyekolahkan Naura sampai SMA saja.


Dan kini dirinya malah sering sakit-sakitan, dan tidak mampu untuk bekerja lagi.


Akhirnya mau tidak mau Naura lah yang menjadi tulang punggung keluarga.


Meskipun hanya sebagai pelayan kafe, Naura bekerja dengan sangat baik. Dan gaji yang didapatkannya memang tak seberapa, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membelikan obat untuk Anisa.


Tengah malam sekitar pukul 1, terdengar suara Anisa memanggil anaknya dengan suara yang terdengar lirih dan lemas.


Naura yang saat itu belum tidur, langsung beranjak menuju kamar ibunya.


"Ya Allah ibu, ibu kenapa, Naura disini bu" kata Naura panik, dan langsung menggenggam tangan ibunya.


"Naura anak ibu, maafin ibu ya nak, karena selama ini ibu belum bisa memberikan kebahagiaan buat kamu. Yang ada malah ibu selalu merepotkan kamu" kata Anisa lirih.


"Ibu jangan bicara seperti itu. Naura senang melakukan apapun untuk ibu, Naura juga udah bahagia bisa bersama ibu terus" kata Naura yang kini telah meneteskan air matanya.


"Naura, maafin ibu karena mungkin ibu tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Jadilah anak yang jujur dan baik ya. Ibu sayang sekali sama kamu nak" kata Anisa masih dengan mata yang terpejam.


"Ibu, jangan bicara seperti itu, Naura gak mau ditinggalin ibu. Naura masih butuh ibu Naura masih pengen terus ditemenin sama ibu" kata Naura dengan tangisan yang semakin pecah.


Terlihat sudah tidak ada lagi sahutan dari Anisa dan pergerakkan tubuhnya. Naura yang menyadari itupun semakin panik.

__ADS_1


Dia lalu menggoyang-goyangkan tubuh ibunya seraya memanggil nama ibu. Namun sia-sia, terlihat Anisa tak ada respon sama sekali.


"Ibu, ibu, ibuu bangun, jangan tinggalin Naura, ayo bu bangun, Naura mohon. Naura gak mau sendiri disini, Naura butuh ibu....... bangun bu, banguuuunn" teriak Anisa mencoba membangunkan ibunya yang telah meninggal.


Para tetangga yang mendengar teriakan dari rumah Naura langsung mendatangi rumah Naura.


"Ya Allah, Naura ada apa, kenapa dengan ibu kamu?" tanya salah satu tetangga yang datang.


"Tolongin ibu saya, saya tidak tahu, tolongg" tangis Naura.


Beberapa orang lalu mendekati tubuh Anisa lalu memeriksanya.


"Innalillahi wainailaihi rojiun.... ibu kamu sudah meninggal Naura... yang sabar ya nak" kata tetangga yang lain.


"Ibuuuuuuuu..... bangunn bu, tolong bangunn, Naura belum siap kalau harus kehilangan ibu. Ibuu.... bangun" tangis Naura yang semakin keras.


Hari ini adalah hari dimana Naura menjadi yatim piatu. Dia harus merelakan kepergian ibunya. Hidup sebatang kara. Mungkin masih ada beberapa sanak saudara dari ayahnya, namun Naura tidak pernah tau siapa mereka dan dimana mereka berada. Kini Naura harus siap menjalani kehidupan seorang diri...


***TERIMAKASIH BUAT TEMAN-TEMAN YANG MASIH SETIA BERADA DISINI.


KALI INI JALAN CERITANYA AGAK SAYA PERCEPAT YA.. DAN UNTUK VERSI RENDRA, SARI, ANDRA, DAN ANISA TELAH SELESAI YAA...


DAN UNTUK PART SELANJUTNYA BERGANTI DENGAN KISAH NAURA.


SEMOGA KALIAN SEMUA MASIH MENYUKAI ALUR CERITA YANG SAYA BUAT. DAN UNTUK TEMAN-TEMAN YANG TIDAK SUKA BOLEH MENINGGALKAN CERITANYA TANPA HARUS BERKOMENTAR NEGATIF YAAA.... 😊😊


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACAπŸ™πŸ™πŸ˜Š***

__ADS_1


__ADS_2